"Perkenalkan saya Fariz RM, pemain keyboard Koil" ujar lelaki matang berperawakan kurus yang bernama lengkap Fariz Rustam Munaf, sang arsitek musik pop indonesia - setidaknya begitu salah satu tabloid musik lokal menyebutnya. Sebenarnya kalimat tersebut tidak akan janggal terdengar seandainya diucapkan orang lain. Tetapi, malam itu adalah malam milik Fariz. Apapun yang diucapkannya adalah nyata. Seperti yang terjadi pada gelaran Fariz RM ; The Anthology Live Concert di Rolling Stone Live Venue, Jakarta [25/07]. Saat arsitek pop Indonesia bertemu dengan sekelompok arsitek kegelapan...
Beberapa jam setelah kalimat tersebut terucap, semuanya terjadi. Setelah melewati sejumlah hits, kolaborasi dengan sang keponakan, Sherina, serta White Shoes and The Couples Company, sang arsitek pop berbagi panggung dengan salah satu band yang pernah melahirkan lirik
Aku Adalah Arsitek. Sesaat sebelum kolaborasi tersebut dimulai, Fariz menjelaskan bahwa sesungguhnya ia adalah pecinta musik rock. Ia kemudian merunut lima album yang paling disukainya dan beberapa di antaranya adalah album rock legendaris -
Led Zeppelin II, Dark Side of The Moon dan
Sgt Pepper's Lonely Heart Club. Jelas, ia adalah pecinta rock walau tetap saja ada yang mengganjal ; Mengapa Koil?!...
"Koil menurut aku bukan sebuah band rock tapi sekelompok orang yang filosofinya mengingatkan saya pada Fariz RM era Simphony [sebuah rock-oriented band yang dibentuk Fariz dengan Jimmy Pais, Ekky Soekarno, Herman Gelly dan Tony Wenas]. Apa yang aku nggak bisa dapatkan di album solo, kebandelan dan keradikalan, katarsis, ada di sana untuk mendapatkan kegilaan yang sama seperti dulu dengan Simphony. Maka aku perlu band yang totally different dan Koil adalah pilihan yang tepat," jelas Fariz dalam press release-nya. Pernyataan tertulis tersebut kembali dilisankan sesaat sebelum Koil naik panggung. Sejurus kemudian J.A.V langsung menimpalinya dengan mengatakan bahwa Fariz adalah salah satu musisi yang karyanya banyak ia dengarkan.

Retorika singkat selesai, Koil dan Fariz langsung menggeber
Lensa Kamar Putih. Selalu muncul pertanyaan saat dua ego bertemu ; siapa yang akan berkompromi. Dalam kasus Jum'at malam lalu, siapa yang akan berkompromi, Fariz atau Koil?! Malam itu, kentara terlihat siapa yang memegang kendali, Fariz sang empunya acara. Namun, tak dapat disangkal, lagu tersebut terdengar lebih modern dengan Koil di atas panggung. Sementara, tetap saja susah untuk tidak mengakui bahwa ini adalah salah satu nomor yang terdengar 'terang benderang' yang pernah dibawakan J.A.V dkk.
Memasuki lagu kedua [dan terakhir bagi Koil], segala kecanggungan lagi di atas panggung.
Sirkus Optik dan Video Game tereksekusi dengan lebih baik. Sayang, kendala teknis kembali muncul. Memang sejak lagu
Lensa Kamar Putih kualitas output mendadak menurun. Padahal saat Donny Suhendra, Adri Dharmawan, Edy Syahroni dan Iwan Miraz serta Irsa Destiwi masih mengiringi Fariz, kualitas sound terbilang masih prima. Hal ini diperparah dengan matinya mike di ujung lagu
Sirkus Optik dan Video Game. Walhasil, untuk beberapa saat Otong terlihat kebingungan bergeser dari satu mike ke mike yang lain, sampai akhirnya mike kembali berfungsi sesaat sebelum lagu kolaborasi tersebut rampung. Sungguh sangat disayangkan!...
Rupanya, gangguan tersebut dirasakan juga oleh beberapa penonton. Cholil, frontman Efek Rumah Kaca, yang ada di depan saya salah satunya. Sesaat setelah Koil turun panggung, ia mengomentari menurunnya output sound malam itu. Ia berceloteh tentang kurang sempurnanya output bass Adam malam itu. Lucunya, celoteh itu ditanggapi dengan singkat oleh rekannya, "Seniorisme!...". Lalu, terdengarlah gelak tawa kecil di antara mereka. Sementara saya yang terpaksa mendengar percakapan tersebut hanya bisa tersenyum saja.

Terlepas dari sempurna atau tidak, kolaborasi Fariz RM tersebut sudah lewat beberapa hari saat tulisan ini dituangkan. Gerutu tentang menurunnya kualitas sound sudah tak berarti lagi. Yang pasti, Fariz RM telah kembali dan menunjukkan kecintaannya pada musik yang pernah dijuluki 'gutter phenomenon'.
Ngomong-ngomong soal kembali, saya teringat kisah kembalinya sang maestro catur modern, Bobby Fischer. Kala Bobby Fischer kembali ke kancah catur di era 90-an, Gary Kasparov mengeluarkan statement yang merendahkan sang pecatur eksentrik tersebut,
"Bobby is playing okay, nothing more. Maybe his strength is around 2600 or 2650. It wouldn't be close between us." Namun, Jum'at lalu, seandainya Fariz RM adalah Fischer, maka nampaknya tak terlintas di pikiran kami untuk menjadi Kasparov...
[Innerciatic Manneken]
Foto diambil dari netz & kapanlagi.com
Liputan konser di atas memang lebih fokus kepada aksi Fariz RM dan Koil. Terima kasih kepada seluruh staff Rolling Stone atas kesempatannya. Semoga tetap setia menggelar konser-konser musik yang 'tidak biasa'...