<?xml version="1.0" encoding="iso-8859-1" ?>
<rss version="2.0"
xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
>
<channel>

<title>www.apokalip.com</title>
<link>http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/index.php</link>
<description>www.apokalip.com</description>
<language>id</language>
<generator>Apokalip 1.1.1</generator>

<item>
<title>HITAM DAN PUTIH AKAN KUTEMPUH BAHAGIA</title>
<description>
&lt;img style=&quot;MARGIN-BOTTOM: 10px; MARGIN-LEFT: 10px; MARGIN-RIGHT: 15px&quot; height=&quot;169&quot; alt=&quot;&quot; src=&quot;/webzine/aset/asetzine/asetgambar/esai-koil1.jpg&quot; width=&quot;175&quot; align=&quot;left&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;span style=&quot;FONT-STYLE: italic&quot;&gt;Saya kenal Koil sekitar tahun 1999, masih kuliah, belum punya albumnya. Saya diantar kakak saya sedang menonton satu pertunjukan kecil di Bandung. Di panggung ada latar kain hitam bertuliskan huruf K dilingkari 12 bintang. Setelah beberapa band main, muncullah 4 orang laki-laki di panggung, mereka masih manggung memakai baju kotak-kotak, belum memakai atribut khasnya seperti sekarang. Saat itu cuma tahu nama band-nya koil, vokalisnya di panggung tampak cakep, drummer-nya badannya belum sebesar sekarang, gitarisnya dua. Lagi tengah nonton, diajak pulang oleh kakak saya. Sesudah itu, saya tidak pernah lagi menonton mereka manggung, tidak pernah berusaha mencari tahu itu apa dan siapa, bahkan saya ingat, saat sedang berada di satu toko kaset sekitar tahun 2000, saya lebih memilih untuk membeli kaset Puppen &quot;Not A Pup&quot; daripada kaset Koil bercover hijau.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sampai kemudian akhir tahun 2001 atau awal tahun 2002. Saat itu saya sudah hampir lulus kuliah, Trie, pacar saya yang sekarang jadi partner saya untuk seumur hidup, mengajak saya nonton event di SMUN 8 Bandung, nonton Koil katanya. Diajak ke backstage, bengong liat dandanan mereka yang berubah dan berbeda dari waktu pertama kali nonton, bengong liat rambut gimbal vokalis Koil yang kemudian saya tau dipanggil Otong, berkenalan dengan Doni, Leon, Bobi, juga beberapa teman yang lain yang saat itu ada di sana, nonton dan terpesona. Tidak lama dari situ, Februari 2002,&amp;nbsp;&lt;span style=&quot;FONT-STYLE: italic&quot;&gt;Megaloblast&lt;/span&gt;&amp;nbsp;dirilis. Saya minta kasetnya, jatuh cinta saat membaca liriknya dan sejak saat itu, telinga saya tidak bisa lepas dari lagunya Koil.&amp;nbsp;&lt;span lang=&quot;SV&quot;&gt;Kenal dan berteman baik dengan seluruh anggota band dan bahkan bekerja bersama mereka, adalah bonus.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span lang=&quot;SV&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
Sekarang, pertengahan tahun 2009. Terlalu banyak untuk ditulis jika saya harus bercerita tentang pengalaman saya pribadi dengan Koil. Yang saya mau singgung justru adalah sisi lain dari pertemanan saya dengan band ini, yaitu berkenalan dan berteman dengan banyak fans loyal dari band ini. Salah satunya adalah Jaka Kandaga, yang justru baru bertemu ketika album&amp;nbsp;&lt;span style=&quot;FONT-STYLE: italic&quot;&gt;Blacklight Shines On&lt;/span&gt;&amp;nbsp;rilis medio tahun lalu, padahal sudah bertahun-tahun yang lalu dia sering mengunjungi Omuniuum, toko kecil yang saya kelola sampai saat ini...</description>
<pubDate>Wed, 24 Feb 2010 23:49:35 +0700</pubDate>
<dc:creator>admin</dc:creator>
<guid isPermaLink="false">http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/hitam-dan-putih-akan-kutempuh-bahagia-www.apokalip.com.html</guid>
<link>http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/hitam-dan-putih-akan-kutempuh-bahagia-www.apokalip.com.html</link>

<category>Esai &amp; Opini</category>
</item><item>
<title>SEPULUH KEMASAN ALBUM TERBAIK</title>
<description>
&lt;img style=&quot;MARGIN-BOTTOM: 10px; MARGIN-LEFT: 10px; MARGIN-RIGHT: 15px&quot; height=&quot;169&quot; alt=&quot;&quot; src=&quot;/webzine/aset/asetzine/asetgambar/esai-10kemasan.jpg&quot; width=&quot;175&quot; align=&quot;left&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;em&gt;Ini adalah &lt;b&gt;Sepuluh Kemasan Album Terbaik&lt;/b&gt; versi saya sebagai kolektor rilisan musik [baca; kolektor pemula]. Jadi bukan sepuluh album terbaik berdasarkan aliran musik atau artwork cover-nya. List ini saya pilih berdasarkan koleksi yang saya punya, jadi tidak mungkin saya memasukkan kemasan album yang tidak saya miliki atau tidak pernah saya lihat lalu sok tahu dimasukkan ke dalam list...&lt;br /&gt;
	&lt;br /&gt;
	&lt;br /&gt;
	&lt;/em&gt;&lt;b&gt;TOOL - 10000 DAYS [CD]&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Tool Dissectional / Volcano Entertainment [2006]&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rilisan ini memiliki segalanya yang saya butuhkan sebagai penikmat musik, yaitu musik art/prog metal yang bagus, kemasan album yang luar biasa tidak umum, video klip yang artistik walaupun selalu bertema gelap dan mistik. Bayangkan saja ada sebuah kaca mata tiga dimensi menempel pada kemasan CD-nya. Pada awalnya saya tidak mengerti mengapa ada dua kaca cembung menempel pada kemasan CD-nya. Lalu setelah saya teliti lebih jauh, ternyata ada efek tiga dimensi ketika kita melihat teks, gambar, foto, dan artwork di dalamnya. Saya benar-benar terheran-heran. Sebenarnya saya terlebih dahulu membeli album ini dalam versi kasetnya dan sempat kecewa dengan album ini karena ada foto para personel Tool yang nampang - padahal Tool dikenal sebagai band dengan imej personil yang misterius pada saat itu. Kini saya mengerti mengapa ada foto-foto tersebut, dengan kaca mata 3D kita dapat melihat background foto para pesonel dengan karakter mereka masing-masing. Memuaskan!...</description>
<pubDate>Fri, 12 Feb 2010 11:58:38 +0700</pubDate>
<dc:creator>admin</dc:creator>
<guid isPermaLink="false">http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/sepuluh-kemasan-album-terbaik-www.apokalip.com.html</guid>
<link>http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/sepuluh-kemasan-album-terbaik-www.apokalip.com.html</link>

<category>Esai &amp; Opini</category>
</item><item>
<title>DARI KOTA KEMBANG MENUJU KOTA BUNGA</title>
<description>
&lt;img style=&quot;MARGIN-BOTTOM: 10px; MARGIN-LEFT: 10px; MARGIN-RIGHT: 15px&quot; height=&quot;169&quot; alt=&quot;&quot; src=&quot;http://127.0.0.1/webzine/aset/asetzine/asetgambar/esai-bdgmlg1.jpg&quot; width=&quot;175&quot; align=&quot;left&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;em&gt;Ini adalah kepergian saya untuk kesekian kalinya ke kota Malang. Masih ingat betul pada tahun 1996 untuk pertama kalinya saya datang ke kota Malang. Pada waktu itu saya bersama Forgotten dan Burgerkill pergi ke Malang untuk urusan manggung. Kali ini saya datang bersama rombongan band Ujungberung yang terdiri dari Bleeding Corpse, Jasad dan Disinfected. Tujuannya manggung di acara ulang tahun sebuah distro kolektif kepunyaan kawan saya di Malang... &lt;br /&gt;
	&lt;br /&gt;
	&lt;/em&gt;Sebelumnya, saya pergi ke Malang selalu menggunakan jalur kereta api ekonomi Bandung-Surabaya yang tarifnya masih 15 ribu perak, lalu disambung dengan bis jurusan ke Malang. Sekarang kami berangkat menuju Kediri dengan harga tiket 35 ribu lalu disambung dengan bis ke Malang dengan ongkos 13 ribu. Perjalanan kereta ekonomi dimulai dari stasiun Kiaracondong Bandung pada jam 8 malam. Jumlah rombongan yang berangkat ada 20 orang lengkap dengan pemain band, crew dan pedagang merchandise. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kondisi kereta ekonomi ternyata sama saja. Kusam, kumuh, reyot dengan kondisi WC yang audubillahimindalik. Malam itu kami pergi meninggalkan Bandung menuju Kediri. Sepanjang jalan gerbong yang kami tempati begitu riuh oleh obrolan dari yang mulai serius curhat sampe bercanda dengan gaya yang keterlaluan. Menjelang tengah malam seksi konsumsi mulai bertugas menjadi bartender. Gelas-gelas plastik berputar berpindah ke setiap bangku. Sajian penghilang penat dan anti masuk angin. Begitulah rayuan mereka untuk sekedar meyakinkan bahwa apa yang kami konsumsi mempunyai manfaat untuk perjalanan panjang ini. Entah berapa botol yang sudah dihabiskan karena setiap kali saya minta makanan justru malah minuman lagi yang diberikan. Paduan wiski dan coke atau kadang rasanya gahar mirip arak cap Orang Tua...</description>
<pubDate>Sat, 09 Jan 2010 11:00:31 +0700</pubDate>
<dc:creator>admin</dc:creator>
<guid isPermaLink="false">http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/dari-kota-kembang-menuju-kota-bunga-www.apokalip.com.html</guid>
<link>http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/dari-kota-kembang-menuju-kota-bunga-www.apokalip.com.html</link>

<category>Esai &amp; Opini</category>
</item><item>
<title>REVOLUSI MUSIK ROCK DI MALANG</title>
<description>
&lt;img style=&quot;MARGIN-BOTTOM: 10px; MARGIN-LEFT: 10px; MARGIN-RIGHT: 15px&quot; height=&quot;169&quot; alt=&quot;&quot; src=&quot;/webzine/aset/asetzine/asetgambar/esai-revolusirockmlg.jpg&quot; width=&quot;175&quot; align=&quot;left&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;em&gt;Perkembangan musik rock sejak tahun 1960 sampai dengan era 1980-an di Malang, sebenarnya tidak jauh berbeda dengan perkembangan musik rock di kota-kota besar lainnya. Namun, ada perbedaan yang mendasar yang sebenarnya tidak dimiliki oleh pemusik-pemusik kota lain. Yaitu apresiasi dan kreativitas seniman musik rock kota ini yang luar biasa. Terbukti individu-individu seniman musik rock Malang mampu menjadi pioner dalam perkembangan musik rock Indonesia. Sebut saja, dedengkot musik rock Indonesia seperti Ian Antono, Abadi Soesman, Ucok Harahap, Teddy Sudjaya, Totok Tewel, Noldiek, Wiwie Gang Voice, Silvia Sartje dan masih banyak yang lainnya...&lt;br /&gt;
	&lt;br /&gt;
	&lt;/em&gt;Pada era tahun 1960-an, musik aliran Barat [Inggris dan Amerika] dianggap haram oleh pemerintahan Presiden Soekarno. Musik dari negara kapitalis itu disebutnya tidak mencerminkan 'nation and character building'. Tetapi di Malang, pada era tahun itu justru banyak seniman musik bermunculan. Biasanya mereka berkumpul di Sarinah [sekarang Sarinah Plaza] yang terletak di alun-alun kota.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Band pertama yang muncul di Malang, setelah pemberontakan PKI adalah Eka Dasa Taruna yang didirikan oleh Letkol Sudarji [Pendiri Univeristas Merdeka Malang]. Band ini sering melantunkan lagu-lagu Nat King Cole dan Elvis Presley. Artisnya yang terkenal di band ini kala itu adalah Sujarwo, pemetik melodi gitar yang punya speed skill dan harmoni yang belum ada tandingannya di masa itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari band Eka Dasa Taruna inilah, muncul band dan artis-artis lain yang juga tidak kalah hebatnya pada waktu itu. Seperti Jaguar yang dimotori oleh Intan dan Mickey Cs, kemudian diikuti group band lainnya ; El Vera, Avia Nada, Brahma, Mageta, Moonstair, Sakuntala, Suara Ria dan lain-lain. Bahkan ada pula band cewek yang tidak kalah populernya dengan Dara Puspita pada waktu itu, yaitu Dara Ria yang dimotori oleh Elsi dan Pipit cs. Band-band tersebut rata-rata mendendangkan lagu-lagu The Beatles, The Comets dan Rolling Stones...</description>
<pubDate>Sun, 13 Dec 2009 08:17:27 +0700</pubDate>
<dc:creator>admin</dc:creator>
<guid isPermaLink="false">http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/revolusi-musik-rock-di-malang-www.apokalip.com.html</guid>
<link>http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/revolusi-musik-rock-di-malang-www.apokalip.com.html</link>

<category>Esai &amp; Opini</category>
</item><item>
<title>DIARI TUR METAL &amp; LOYALITAS CADAS</title>
<description>
&lt;img style=&quot;MARGIN-BOTTOM: 10px; MARGIN-LEFT: 10px; MARGIN-RIGHT: 15px&quot; height=&quot;169&quot; alt=&quot;&quot; src=&quot;/webzine/aset/asetzine/asetgambar/esai-allegiance-1.jpg&quot; width=&quot;175&quot; align=&quot;left&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;em&gt;Sebuah catatan perjalanan dari kontributor Apokalip yang tiba-tiba ikut dan berada dalam bis rombongan &lt;b&gt;Allegiance To Metal Tour&lt;/b&gt;. Kisah singkat mulai dari Bandung, Solo, hingga memasuki pintu gerbang kota Malang. Sekilas pandangan mata dari suasana venue, hotel, dan rute perjalanan yang melibatkan orang-orang berjiwa metal dari Psycroptic, Burgerkill, Nemesis, dan Solucites Metal Concert selaku penyelenggara. It's a true metal tour, and they keep metal alive!... &lt;br /&gt;
	&lt;br /&gt;
	&lt;/em&gt;&lt;b&gt;Score Ciwalk Bandung, 29 0ktober 2009&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika memasuki area Score Ciwalk Bandung, di atas panggung sudah ada &lt;b&gt;Burgerkill&lt;/b&gt; sedang melantunkan &lt;i&gt;Darah Hitam Kebencian&lt;/i&gt; yang langsung dilanjutkan dengan &lt;i&gt;We Will Bleed, Penjara Batin, Shadow of Sorror, Anjing Tanah, Under The Scars &lt;/i&gt;dan&lt;i&gt; &lt;/i&gt;diakhiri dengan &lt;i&gt;Atur Aku&lt;/i&gt;. Burgerkill yang malam itu bermain di 'rumahnya' sendiri serasa tidak percaya bahwa mereka bisa tampil lagi setelah sekian lama 'dipersulit' untuk show di kotanya sendiri. Bagi mereka malam itu mungkin cukup melankolik dan menyentuh. Apalagi konser ini juga merupakan kembalinya drummer mereka, Andris Darwis, pasca cedera lengan beberapa lama. Sayang, saya melewatkan penampilan dari &lt;b&gt;Insuline Coma&lt;/b&gt; dan &lt;b&gt;Nemesis&lt;/b&gt; yang sudah beraksi sebelumnya. Dengan kemegahan sound system yang dihadirkan, &lt;b&gt;Psycroptic&lt;/b&gt; kemudian meningkatkan adrenalin bagi sekitar 300-an penonton yang hadir. Mereka mengusung sembilan lagu, di antaranya &lt;i&gt;Calculator, Isle, Ob(Servant), Harde, Sword, Cleansing, Carnival, Colour,&lt;/i&gt; dan ditutup dengan &lt;i&gt;Initiate. &lt;/i&gt;Tazmanian tech/death metal group ini tampil cukup solid hingga tengah malam dan menutup rangkaian pertama dari &lt;i&gt;Allegiance To Metal Tour&lt;/i&gt;...</description>
<pubDate>Fri, 13 Nov 2009 00:06:21 +0700</pubDate>
<dc:creator>admin</dc:creator>
<guid isPermaLink="false">http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/diari-tur-metal-loyalitas-cadas-www.apokalip.com.html</guid>
<link>http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/diari-tur-metal-loyalitas-cadas-www.apokalip.com.html</link>

<category>Esai &amp; Opini</category>
</item><item>
<title>BERHARAP BANYAK, TERLALU BANYAK</title>
<description>
&lt;img style=&quot;MARGIN-BOTTOM: 10px; MARGIN-LEFT: 10px; MARGIN-RIGHT: 15px&quot; height=&quot;169&quot; alt=&quot;&quot; src=&quot;/webzine/aset/asetzine/asetgambar/esai-berharap-1.jpg&quot; width=&quot;175&quot; align=&quot;left&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;em&gt;Tinggal sebelas tahun di sebuah pulau yang masih anti terhadap cara berfikir yang kritis, membuatku banyak belajar, belajar memanfaatkan situasi yang justru memerangi kamu, yang menjegal langkahku, membuatku memutar otak dan terus mencari solusi. Berikut ini hasil telaahku bersama kaum muda dalam dan luar negeri. Karena kamu tak cukup menggali di tanahmu sendiri...&lt;br /&gt;
	&lt;br /&gt;
	&lt;/em&gt;Kamu yang selalu berharap banyak dari kerja yang sudah 'menurutmu' cukup menguras tenaga, pikiran dan uang. belajarlah dari situasi ini... &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Banyak sekali kawan-kawan yang sudah tahunan membuat sebuah karya, promosi dan membekali dirinya dengan segudang ilmu performance di atas panggung, tapi semua masih merasa kurang dalam penjualannya. Beberapa memaksakan diri dan banyak juga yang kecewa dari respon yang didapat, sisanya pasrah saja dan menunggu ajal tiba.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menggali dari pengalamanku di masa silam, mari kita lihat... Scene Ujungberung di masa lampau tak ubahnya kuburan dari para pemimpi. Belum ada geliat yang kuat bagaimana cara survive di dunia kerasnya musik sekeras yang mereka mainkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertama keluar dari dunia mimpi, exist adalah solusinya, Sonic Torment yang kudirikan di tahun 1995 adalah project untuk menunjukan bahwa berkarya tidak memerlukan rasa percaya diri keahlian dan kemampuan material sebesar band idaman kita. Dengan peralatan, uang dan keinginan yang seadanya semua bisa dilakukan. Lahirlah kemudian album &lt;i&gt;Haatzaai Artikelen&lt;/i&gt;...</description>
<pubDate>Sat, 19 Sep 2009 20:41:34 +0700</pubDate>
<dc:creator>admin</dc:creator>
<guid isPermaLink="false">http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/berharap-banyak-terlalu-banyak-www.apokalip.com.html</guid>
<link>http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/berharap-banyak-terlalu-banyak-www.apokalip.com.html</link>

<category>Esai &amp; Opini</category>
</item><item>
<title>INJAK BALIK!</title>
<description>
&lt;img style=&quot;MARGIN-BOTTOM: 10px; MARGIN-LEFT: 10px; MARGIN-RIGHT: 15px&quot; height=&quot;169&quot; alt=&quot;&quot; src=&quot;/webzine/aset/asetzine/asetgambar/esai-injakbalik-1.jpg&quot; width=&quot;175&quot; align=&quot;left&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Injak Balik! ; A Bandung Punk/HC Comp [Tian An Men 89 Records]&lt;/strong&gt; with Puppen, Closeminded, Savor Of Filth, Deadly Ground, Piece Of Cake, Runtah, Jeruji, Turtles Jr, All Stupid. Released on August 1997, 7&quot; vinyl, SOLD OUT!... &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Injak Balik means sort of kick 'em back in Indonesian Language. The title was originally found by our vocalist. It was our band's expression to military repressive acts during the last days of our former President Soeharto.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu sepenggal keterangan yang aku temukan di situs Robin Malau, gitaris Puppen, beberapa waktu lalu. Dan kalau membaca sekilas nama label yang merilis kompilasi ini, Tian An Men 89 Records, kita mungkin membayangkan kalau ini adalah sebuah record label dari Cina, padahal nyatanya berasal dari Perancis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekedar gambaran, kompilasi yang berisi 9 cult-bands dari punk/hardcore scene di Bandung [tapi dirilis di Perancis] ini dibagi menjadi dua sisi : Muka Satu dan Muka Dua, di mana single &quot;Freedom to Defecate&quot;-nya PUPPEN didaulat menjadi single pembuka di Muka Satu. Cukup pantas, karena kualitas suara dan rekaman single ini terdengar sama dengan yang ada di Not a Pup EP. Gebrakan selanjutnya datang dari CLOSEMINDED, sebuah band yang juga cukup familiar di era 90-an. Di sini mereka menyuguhkan single &quot;Born Bad&quot; yang lumayan berisik tapi tetap bertenaga. Tak berapa lama SAVOR OF FILTH hadir menghembuskan nafas NYHC yang kental dan memuntahkan &quot;My Own Hate&quot;, sampai akhirnya Muka Satu ditutup oleh DEADLY GROUND, band yang sempat merilis mini album dan mengisi beberapa album kompilasi. Sekilas terdengar pengaruh NAILBOMB di single &quot;Fear&quot; yang mereka hentakkan...</description>
<pubDate>Mon, 24 Aug 2009 22:24:38 +0700</pubDate>
<dc:creator>admin</dc:creator>
<guid isPermaLink="false">http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/injak-balik-www.apokalip.com.html</guid>
<link>http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/injak-balik-www.apokalip.com.html</link>

<category>Esai &amp; Opini</category>
</item><item>
<title>REBEL MEETS REBEL</title>
<description>
&lt;img style=&quot;MARGIN-BOTTOM: 10px; MARGIN-LEFT: 10px; MARGIN-RIGHT: 15px&quot; height=&quot;169&quot; alt=&quot;&quot; src=&quot;/webzine/aset/asetzine/asetgambar/esai-rebelmeetsrebel-1.jpg&quot; width=&quot;175&quot; align=&quot;left&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;em&gt;Vokalis grup band Forgotten, &lt;b&gt;Addy Gembel&lt;/b&gt;, membagi cawan cerita tentang proses selebrasi karya bukunya yang berjudul &lt;b&gt;&quot;Tiga Angka Enam&quot;&lt;/b&gt;. Termasuk juga kegiatannya membantu penerbit Minor Books dan sindikat musik Sonic Torment, sejak dari masa persiapan sampai pada malam launching dan bedah buku di Common Room Bandung, 25 April 2009 lalu - yang kemudian dia akui sebagai 'Malam ter-Anjing dengan Nuansa Kutukan Tiga Angka Enam'. Hell Fukken Yeah...&lt;br /&gt;
	&lt;br /&gt;
	&lt;/em&gt;Hari itu tubuh saya nyaris rubuh. Empat hari terakhir berkejaran dengan agenda yang padat dan serba mepet.,dipusingkan oleh rencana launching dan bedah buku &lt;i&gt;Tiga Angka Enam&lt;/i&gt;. Setahun yang lalu, Kimung mengutarakan rencana reuni band Sonic Torment. Berhubung Dinan [vokalis] sekarang hidup dan tinggal di Bali, maka Kimung ngajakin saya untuk menjadi vokalisnya Sonic Torment. Dengan senang hati saya menyanggupi, karena Sonic Torment adalah band idola saya, dan rencana setahun yang lalu itu akan diwujudkan dalam bentuk penampilan perdana di acara launching dan bedah buku &lt;i&gt;Tiga Angka Enam&lt;/i&gt;. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berhubung Minor Books adalah tipe single-fighter dan tidak punya tim, maka saya juga memutuskan untuk menjadi tim kerja serabutan Minor Books. Kondisi keuangan saya yang morat-marit karena deposit tabungan habis ludes tandas tak bersisa, maka saya hanya mengandalkan semangat dan keajaiban saja. Beruntung Kimung punya motor, hingga selama tiga hari pra launching kami berdua selalu mesra berboncengan kesana-kemari menyelesaikan setiap agenda. Dari mulai latihan bareng Sonic Torment, hingga mengejar waktu memenuhi berbagai undangan jadi pembicara...</description>
<pubDate>Mon, 08 Jun 2009 20:38:55 +0700</pubDate>
<dc:creator>admin</dc:creator>
<guid isPermaLink="false">http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/rebel-meets-rebel-www.apokalip.com.html</guid>
<link>http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/rebel-meets-rebel-www.apokalip.com.html</link>

<category>Esai &amp; Opini</category>
</item><item>
<title>KILL OR BE KILLED!</title>
<description>  
&lt;img style=&quot;MARGIN-BOTTOM: 10px; MARGIN-LEFT: 10px; MARGIN-RIGHT: 15px&quot; height=&quot;169&quot; alt=&quot;&quot; src=&quot;/webzine/aset/asetzine/asetgambar/esai-bk-ausi-1.jpg&quot; width=&quot;175&quot; align=&quot;left&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;em&gt;&quot;So, are you guys ready for Burgerkill Western Australia Tour next year?!&quot; Masih melekat di ingatan saya saat pertama kali mendengar pertanyaan ini dilontarkan kepada kami melalui loud speaker telpon genggam saya di awal November 2008 lalu. Kebetulan sore itu selepas latihan kami semua berkumpul di studio Burgerkill dan mendengarkan seluruh percakapan saya dengan teman kami Jason dari Xenophobic Distributions mengenai rencana untuk menggelar &lt;b&gt;Burgerkill &quot;The Invasion of Noise&quot; Western Australia Tour 2009&lt;/b&gt;. Serentak kami berteriak kesenangan sambil berjoget ria mendengarnya...&lt;br /&gt;
	&lt;br /&gt;
	&lt;/em&gt;Ini benar-benar seperti mimpi bisa terbang ke benua lain bersama teman-teman satu band dan bermain musik sekeras-kerasnya di negara orang, haha. Yah, syukurlah sedikit demi sedikit doa-doa kami mulai dikabulkan. Mimpi-mimpi kami di Burgerkill untuk bisa bertempur di medan perang dunia metal internasional dan juga bisa membawa nama tanah air tercinta tempat di mana Burgerkill lahir, merangkak, berdiri, dan berjalan bersama selama 14 tahun ini mulai terwujud. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun tentunya tawaran tour di Australia ini tidak datang begitu saja. Pada awal Agustus 2008 lalu album ketiga kami, &lt;i&gt;Beyond Coma and Despair,&lt;/i&gt; telah resmi dirilis dan beredar di seluruh Australia atas kerjasama Revolt! Records dengan Xenophobic Distributions, yang dikelola oleh Jason Hutagalung, seorang metalhead Indonesia yang sehari-harinya berprofesi sebagai tattoo artist dan dibantu oleh istrinya Lauren Wilson. Semenjak itu respon dan antusiasme komunitas metal Australia akan Burgerkill mulai terasa. Lagu-lagu kami mulai menjadi high-rating di beberapa stasiun radio metal di sana, serta berhasil masuk chart bersama band-band metal internasional lainnya. Video klip single pertama kami, &lt;i&gt;Shadow Of Sorrow,&lt;/i&gt; juga mulai sering diputar di RAGE TV, sebuah channel TV musik rock yang disiarkan secara nasional...</description>
<pubDate>Wed, 20 May 2009 21:07:41 +0700</pubDate>
<dc:creator>admin</dc:creator>
<guid isPermaLink="false">http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/burgerkill-aussie-journey-www.apokalip.com.html</guid>
<link>http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/burgerkill-aussie-journey-www.apokalip.com.html</link>

<category>Esai &amp; Opini</category>
</item><item>
<title>BEDAH LIRIK ; SURGA DI BAWAH TELAPAK KAKI ANJING</title>
<description>
&lt;img style=&quot;MARGIN-BOTTOM: 10px; MARGIN-LEFT: 10px; MARGIN-RIGHT: 15px&quot; height=&quot;169&quot; alt=&quot;&quot; src=&quot;/webzine/aset/asetzine/asetgambar/esai-surga-anjing-1.jpg&quot; width=&quot;175&quot; align=&quot;left&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;em&gt;Melihat banyaknya respon dari berbagai pihak, dan sepertinya ada celah untuk terperosok lebih dalam ke arah pemahaman yang buta akan lirik dari lagu &lt;b&gt;&quot;Surga Di Bawah Telapak Kaki Anjing&quot; [Funeral Inception, H.A.T.E]&lt;/b&gt;. Saya sebagai penulis lirik lagu tersebut, tergerak untuk menceritakan apa sebenarnya maksud dari lirik lagu tersebut, dan ini adalah pertama kalinya dalam hidup saya, saya harus menjelaskan lirik dari lagu yang saya buat. Di sini saya akan mengangkat beberapa kutipan pembahasan tentang hadits yang saya temukan, dan sedikit artikel dari kawan saya, Riki Paramitha. Hmm, let's get it started... &lt;br /&gt;
	&lt;br /&gt;
	&lt;/em&gt;Ada yang mengangkat lirik ini menjadi bahasan di salah satu milis, yang pada intinya mereka yang berdebat dalam milis ini setuju dengan inti lirik ini, tapi ada yang sedikit gusar karena dihubungkan dengan hadis nabi yang berbunyi, &quot;al-jannatu tahta a'damil umahat&quot; artinya surga di bawah telapak kaki ibu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berikut kutipan yang saya dapat dari internet : &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;#1575;&amp;#1604;&amp;#1580;&amp;#1606;&amp;#1577; &amp;#1578;&amp;#1581;&amp;#1578; &amp;#1571;&amp;#1602;&amp;#1583;&amp;#1575;&amp;#1605; &amp;#1575;&amp;#1604;&amp;#1571;&amp;#1605;&amp;#1607;&amp;#1575;&amp;#1578; &amp;#1548; &amp;#1605;&amp;#1606; &amp;#1588;&amp;#1574;&amp;#1606; &amp;#1571;&amp;#1583;&amp;#1582;&amp;#1604;&amp;#1606; &amp;#1548; &amp;#1608; &amp;#1605;&amp;#1606; &amp;#1588;&amp;#1574;&amp;#1606; &amp;#1571;&amp;#1582;&amp;#1585;&amp;#1580;&amp;#1606; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;&quot;Surga berada di bawah telapak kaum ibu. Barangsiapa dikehendakinya maka dimasukannya, dan barangsiapa dikehendaki maka dikeluarkan darinya.&quot;...&lt;/i&gt;</description>
<pubDate>Sat, 09 May 2009 16:12:36 +0700</pubDate>
<dc:creator>admin</dc:creator>
<guid isPermaLink="false">http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/bedah-lirik-surga-di-bawah-telapak-kaki-anjing-www.apokalip.com.html</guid>
<link>http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/bedah-lirik-surga-di-bawah-telapak-kaki-anjing-www.apokalip.com.html</link>

<category>Esai &amp; Opini</category>
</item><item>
<title>SEPULUH ALASAN KENAPA BANYAK BAND GAGAL</title>
<description>
&lt;img style=&quot;MARGIN-BOTTOM: 10px; MARGIN-LEFT: 10px; MARGIN-RIGHT: 15px&quot; height=&quot;169&quot; alt=&quot;&quot; src=&quot;/webzine/aset/asetzine/asetgambar/esai-band-gagal-1.jpg&quot; width=&quot;175&quot; align=&quot;left&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;em&gt;Segala keluh kesah dari musisi yang merasa band-nya gitu-gitu aja tentu sudah sering kita dengar. Tidak usah jauh-jauh, kemungkinan malah dialami oleh band teman anda, atau justru band anda sendiri?! Curhat panjang tentang iklim daerah yang tidak kondusif, hubungan antar personil yang dis-harmonis, atau kesempatan emas yang seakan tidak pernah datang. Semua ini tentu pernah dirasakan oleh band yang sedang mencoba 'menaklukkan' industri musik yang dikenal kejam. Ending yang biasa terjadi adalah kebanyakan band merasa menthok, lalu bubar atau menghilang. Untuk memperbesar kemungkinan 'happy-ending', kami coba membuka manuskrip lama tentang &lt;b&gt;Sepuluh Alasan Kenapa Banyak Band Gagal&lt;/b&gt; karya Jeffrey A Macak yang kami rasa masih relevan. Ini sangat mendasar, dan mungkin bisa mencerahkan peluang karir band anda selanjutnya. Tidak percaya, silahkan cermati satu-persatu 'ayat-ayat cinta' yang ada di bawah ini... &lt;br /&gt;
	&lt;br /&gt;
	&lt;/em&gt;&lt;b&gt;Satu ; Mereka Tidak Memiliki Tujuan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Jika Anda tidak memiliki tujuan dalam mengembangkan karier, bagaimana Anda bisa mendeteksi sebuah kemajuan? Bisnis musik adalah bisnis yang keras, apalagi jika Anda tidak memiliki panduan yang jelas. Kebanyakan label rekaman, penerbit musik, manajer, produser, pengacara hiburan dan bahkan agensi booking tidak akan mau bekerjasama dengan artis yang belum jelas menentukan arah dan tujuan bagi bandnya. Mereka lebih memilih untuk bekerjasama dengan musisi yang memiliki tujuan jelas dan cekatan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Dua ; Mereka Tidak Memiliki Perangkat Menuju Kesuksesan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Berlawanan dengan kepercayaan orang banyak, sebenarnya memang ada sebuah &quot;proses&quot; untuk menjadi musisi professional dan mendapatkan sebuah kontrak rekaman. Industri musik dipenuhi dengan rumor, mitos dan misinformasi yang membuatnya sulit untuk menggoreskan kesuksesan di atasnya. Dengan memahami bagaimana industri musik ini bekerja tentunya dapat menjadi aset yang sangat berharga. Bagian dari &quot;proses&quot; yang dimaksud ini termasuk di antaranya adalah penggunaan &quot;perangkat&quot; khusus yang telah menjadi standar dalam ruang lingkup industri musik!...</description>
<pubDate>Thu, 05 Feb 2009 07:49:01 +0700</pubDate>
<dc:creator>admin</dc:creator>
<guid isPermaLink="false">http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/sepuluh-alasan-kenapa-banyak-band-gagal-www.apokalip.com.html</guid>
<link>http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/sepuluh-alasan-kenapa-banyak-band-gagal-www.apokalip.com.html</link>

<category>Esai &amp; Opini</category>
</item><item>
<title>SERBUAN TAKTIS STUDIO GIGS</title>
<description>
&lt;img style=&quot;MARGIN-BOTTOM: 10px; MARGIN-LEFT: 10px; MARGIN-RIGHT: 15px&quot; height=&quot;169&quot; alt=&quot;&quot; src=&quot;/webzine/aset/asetzine/asetgambar/esai-studiogigs-1.jpg&quot; width=&quot;175&quot; align=&quot;left&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;em&gt;Akhir-akhir ini, scene musik kota Malang dimeriahkan oleh fenomena &lt;b&gt;Studio Gigs&lt;/b&gt;. Itu loh, gigs sederhana yang digelar di dalam studio musik. Di mana band beragam genre tampil langsung disaksikan oleh teman-teman dekat atau fans-nya. Acara ini sudah sering digelar, bahkan nyaris rutin hampir dua minggu sekali. Band yang tampil pun cukup beragam, mulai dari punk, hardcore, metal, sampai grindcore. Mulai dari band lokal Malang, sampai guest band dari Jakarta, Bandung, bahkan pernah ada band dari Australia segala!...&lt;br /&gt;
	&lt;br /&gt;
	&lt;/em&gt;Konon acara studio gigs ini berawal dari inisiatif para band itu sendiri yang lalu digarap oleh organiser kolektif serta pengelola studio musik selaku sang pemilik 'venue'. Mungkin awalnya sebagai alternatif ketika venue biasa sudah mulai ditutup, dipersulit ijinnya, atau kelewat mahal sewanya. Juga menjadi 'showcase' bagi band-band baru [new-comer] untuk unjuk gigi - karena mungkin peluang mereka untuk tampil dalam konser bersama band-band cadas yang lebih 'populer' itu terbilang susah dan butuh proses. Sebuah bukti eksistensi rasanya. It's a good thing!...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Studio gigs?! Sebenarnya ini bukan barang baru. Di luar negeri sana sudah eksis sejak lama dan relatif sering digelar. Konsepnya hampir sama. Tampil live di dalam studio musik. Ditonton langsung oleh fans, kerabat, pers atau undangan khusus...</description>
<pubDate>Thu, 18 Dec 2008 22:15:02 +0700</pubDate>
<dc:creator>admin</dc:creator>
<guid isPermaLink="false">http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/serbuan-taktis-studio-gigs-www.apokalip.com.html</guid>
<link>http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/serbuan-taktis-studio-gigs-www.apokalip.com.html</link>

<category>Esai &amp; Opini</category>
</item>
</channel>
</rss>