<?xml version="1.0" encoding="iso-8859-1" ?>
<rss version="2.0"
xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
>
<channel>

<title>www.apokalip.com</title>
<link>http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/index.php</link>
<description>www.apokalip.com</description>
<language>id</language>
<generator>Apokalip 1.1.1</generator>

<item>
<title>KIAMAT 2012</title>
<description>
&lt;img style=&quot;MARGIN-BOTTOM: 10px; MARGIN-LEFT: 10px; MARGIN-RIGHT: 15px&quot; height=&quot;169&quot; alt=&quot;&quot; src=&quot;/webzine/aset/asetzine/asetgambar/resbuku-kiamat2012.jpg&quot; width=&quot;175&quot; align=&quot;left&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;strong&gt;KIAMAT 2012&lt;br /&gt;
	Lawrence E Joseph&lt;br /&gt;
	Gramedia Pustaka Utama&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

&lt;img height=&quot;11&quot; alt=&quot;&quot; src=&quot;/webzine/aset/asetzine/asetgambar/rating-4.gif&quot; width=&quot;79&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya akui aktifitas menulis kali ini agak konyol. Saya merasa harus me-review buku ini setelah gembar-gembor film &lt;i&gt;2012&lt;/i&gt; di seluruh dunia. Terus terang saya juga agak kesal dengan film tersebut. Antri tiket dua kali di bioskop, tapi tetap saja kehabisan. Lalu saya nekat membeli DVD versi bajakannya dan ternyata ceritanya biasa saja. Jauh dari ekspektasi yang saya harapkan setelah membaca buku ini delapan bulan yang lalu. Film itu menjadi adaptasi yang gagal, tanpa meninggalkan pesan yang bermakna. &quot;Iya, itu film 'sampah' bagi orang-orang yang pernah membaca versi bukunya,&quot; kata teman saya dengan geram. Buku &lt;i&gt;Kiamat 2012&lt;/i&gt; adalah versi terjemahan dari &lt;i&gt;Apocalypse 2012&lt;/i&gt; karya ilmuwan bernama Lawrence E Joseph. Seperti yang anda tahu, semua ini berawal dari ramalan suku Indian Maya yang mengatakan bahwa dunia akan berakhir pada 12 Desember 2012 - sesuai dengan akhir masa kalender mereka. Buku ini menggambarkan kondisi dunia dalam 'kode merah'. Presentasi bermacam bencana sejak tempo doeloe sampai kemungkinan 'kiamat' di masa depan. Tentang medan magnet yang retak, radiasi nuklir, letusan supervulkan, erupsi, hingga datangnya sang dajjal di akhir zaman. Buku ini bisa dibilang sangat ilmiah, penuh teori [dan juga konspirasi?!]. Tapi bagusnya dibungkus dalam bahasa yang cukup ringan dan populer. Meski banyak istilah-istilah asing yang 'eksakta' tapi setidaknya bisa kita pahami garis besarnya. Di buku ini anda mendapatkan teori apokaliptik dari para ilmuwan dan ahli agama, nujum, rohaniawan, astronomi, biologi, fisika, kimia, geologi, bahkan metafisika. Intinya, ada beragam teori dari berbagai ahli yang pada akhirnya sepakat dan menyimpulkan bahwa tahun 2012 bakal terjadi 'bencana' di muka bumi seperti yang telah diramalkan sebelumnya. Ini bukan buku sesat seperti yang dikhawatirkan para fanatik. Karena saya rasa semua teori di buku ini masih bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Pesan-pesan yang disampaikan juga cukup berbobot. Jadi tak perlu curiga, apalagi tiba-tiba kuatir dan ketakutan. Nikmati saja 'kekacauan' ini karena toh semua bencana tersebut akibat ulah manusia. Seperti pesan terakhir yang termuat di sampul buku ini, &lt;i&gt;&quot;Tidak ada yang bisa anda lakukan, jadi sebaiknya anda duduk santai serta menikmati pertunjukan ini.&quot;&lt;/i&gt; Saya tambahkan, lupakan film &lt;i&gt;2012&lt;/i&gt; yang sedang diputar di bioskop-bioskop itu. Karena sebaiknya anda segera menarik tangan pacar anda dan masuk ke Gramedia untuk membeli buku ini. Saya yakin, membaca bersama bisa jadi lebih menarik daripada nonton bareng. Menonton film-nya mungkin bisa membuat anda tampak cool, tapi dengan membaca buku ini justru akan menambah wawasan dan bikin anda lebih 'smart' di hadapan kekasih anda itu. Well, mari kita hitung mundur sampai tahun 2012 dan semoga kita semua baik-baik saja... &lt;b&gt;[samack]&lt;/b&gt;</description>
<pubDate>Sun, 13 Dec 2009 08:34:11 +0700</pubDate>
<dc:creator>admin</dc:creator>
<guid isPermaLink="false">http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/kiamat-2012-www.apokalip.com.html</guid>
<link>http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/kiamat-2012-www.apokalip.com.html</link>

<category>Resensi</category>
<category>Resensi Buku</category>
</item><item>
<title>MANAGING ARTISTS IN POP MUSIC</title>
<description>
&lt;img style=&quot;MARGIN-BOTTOM: 10px; MARGIN-LEFT: 10px; MARGIN-RIGHT: 15px&quot; height=&quot;169&quot; alt=&quot;&quot; src=&quot;/webzine/aset/asetzine/asetgambar/resbuku-managing.jpg&quot; width=&quot;175&quot; align=&quot;left&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;strong&gt;MANAGING ARTISTS IN POP MUSIC&lt;br /&gt;
	Mitch Weiss &amp;amp; Perri Gaffney&lt;br /&gt;
	Gramedia Pustaka Utama&lt;br /&gt;
	&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;

&lt;img height=&quot;11&quot; alt=&quot;&quot; src=&quot;/webzine/aset/asetzine/asetgambar/rating-4.gif&quot; width=&quot;79&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Anda sudah lama merasa gagal dalam bermain musik? Tergabung dalam dalam band yang tidak berkembang dan jauh dari kata sukses? Pernah bikin label rekaman dan lalu bangkrut? Tidak becus juga mengelola bisnis clothing atau distro? Jadi promotor dan membangun bisnis event organizer yang selalu merugi dan diuber-uber polisi? Well, sepertinya anda perlu segera banting setir kalau ingin tetap bertahan aktif di industri musik yang kejam seperti sekarang. Kenapa tidak mencoba ke belakang layar dan menjadi seorang manajer band?! Siapa tahu, mungkin peruntungan anda ada di sana. Buku ini bisa jadi panduannya. Setiap bab cukup untuk memenuhi kebutuhan anda untuk menjadi seorang manajer handal. Mulai dari soal perencanaan karir musik, mengorbitkan band baru, manajemen artis, sampai pada masalah kontrak hukum, pajak, dan keuangan. Buku berjudul &lt;i&gt;Managing Artists In Pop Music ; Kunci Sukses Artis dan Manajer&lt;/i&gt; ini ditulis oleh Mitch Weiss dan Perri Gaffney, praktisi bisnis musik asal Amerika Serikat yang telah puluhan tahun berkecimpung di bidangnya. Bagusnya, buku ini tidak membosankan. Ditulis secara ringan dan tepat dalam alur kalimat yang bercerita. Seperti membagi pengalaman kedua penulis di saat mereka sedang mengelola artis atau menghadapi berbagai kendala yang biasa terjadi dalam bisnis musik. Lengkap disertai berbagai contoh perjanjian dan kontrak dalam berbagai versi - yang selalu dibandingkan kelebihan serta kelemahannya. Juga bermacam studi kasus dan trik ketika menghadapi pers yang usil, promotor yang egois, atau artis yang bandel. Anda bisa simak bahwa manajemen adalah masalah bakat, seni dan keterampilan. Sebenarnya tidak ada rumus atau formula yang baku. Setidaknya, jika anda cukup memahami bagaimana industri hiburan dan bisnis musik ini berjalan, niscaya anda sudah semakin dekat dengan kesuksesan. Jelas menjadi manajer band bukan hanya sekedar mencarikan job manggung, mengurus booking, terima fee, atau membawakan peralatan musik yang seabrek itu. Buku ini sudah cukup menjelaskan banyak hal tentang seluk-beluk manajemen musik. Semua kalangan yang bergerak di dalam bidang bisnis hiburan dan industri musik perlu membacanya. Ada banyak pengalaman dan pelajaran berharga di balik setiap tahap pengelolaan bisnis musik. Well, masih bersikeras menjadi rockstar jika band anda selalu gagal dan selalu ditangani oleh orang yang salah? Coba pikirkan lagi. Mungkin takdir anda bukan menjadi seorang rockstar, melainkan jadi 'the next great manager' seperti Dhani Pete [Gigi], Wendi Putranto [The Upstairs], Rudolf Dethu [eks SID], Santi [Koil], Jemi [Burgerkill], Bin Harlan [Efek Rumah Kaca], atau bahkan Rod Smallwood [Iron Maiden]. Terkadang cita-cita seperti itu lebih terpuji dan nyaris mendekati surga. Saya rasa masih banyak artis dan band pendatang baru di luar sana yang butuh sentuhan tangan dingin anda. Oke, baca baik-baik buku ini, terapkan sesuai kondisi, jadilah kreatif, dan lupakan dulu mimpi-mimpi anda untuk menjadi rockstar!... &lt;b&gt;[samack]&lt;/b&gt;</description>
<pubDate>Mon, 24 Aug 2009 22:46:34 +0700</pubDate>
<dc:creator>admin</dc:creator>
<guid isPermaLink="false">http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/managing-artists-in-pop-music-www.apokalip.com.html</guid>
<link>http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/managing-artists-in-pop-music-www.apokalip.com.html</link>

<category>Resensi</category>
<category>Resensi Buku</category>
</item><item>
<title>GRUNGE INDONESIA</title>
<description>
&lt;img style=&quot;MARGIN-BOTTOM: 10px; MARGIN-LEFT: 10px; MARGIN-RIGHT: 15px&quot; height=&quot;169&quot; alt=&quot;&quot; src=&quot;/webzine/aset/asetzine/asetgambar/resbuku-grunge.jpg&quot; width=&quot;175&quot; align=&quot;left&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;strong&gt;GRUNGE INDONESIA&lt;br /&gt;
	YY&lt;br /&gt;
	Gnoisetcsm.Lab&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

&lt;img height=&quot;11&quot; alt=&quot;&quot; src=&quot;/webzine/aset/asetzine/asetgambar/rating-4.gif&quot; width=&quot;79&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sangat menyenangkan ada karya buku yang coba mendokumentasikan komunitas musik di tanah air. Kali ini yang dibahas adalah [komunitas] musik grunge. Sang penulis itu adalah YY, pentolan dari grup band Klepto Opera dan Ballerina's Killer. Draft tulisan yang memiliki judul panjang &lt;i&gt;Grunge Indonesia ; Subkultur Para Pecundang&lt;/i&gt; ini mengalir dalam 248 halaman. Komunitas grunge di negeri ini memang kalah besar dan kurang mengkilap dibandingkan dengan komunitas punk, hardcore, metal, atau bahkan indie-pop sekalipun. Namun selalu menarik untuk menyimak sepak terjang mereka di tengah arus musik independen yang cukup kompetitif. Buku ini mengingatkan saya, bahwa komunitas grunge sangatlah minoritas dan entah kenapa agak terpinggirkan. Apakah ini euphoria dari arus trend Seatle Sound dengan 'tuhan'-nya yang bernama Kurt Cobain dalam jubah Nirvana?! Sejujurnya iya. Kenyataannya memang begitu, meski banyak ditepis oleh sebagian kalangan. Tampaknya komunitas ini juga banyak menghabiskan enerjinya hanya untuk memahami apa itu grunge - mulai dari sejarah, budaya, life style, dandanan, sampai pada trik mengimitasi para pahlawan atau musisi idolanya. Kesannya komunitas grunge itu terlalu ribet mengurusi dirinya sendiri. Terlampau mendasar dalam membangun citra scene musiknya. Dulu, saya memang sering menemui anak grunge yang hafal luar kepala tentang sejarah dan budaya musiknya. Mereka bisa bercerita banyak soal Seatle seakan-akan itu adalah kampung halamannya. Mendongeng panjang tentang Sub Pop, Nirvana, atau kemeja Flanel. Mereka memang fasih kalau disuruh bercerita soal grunge mulai dari A sampai Z. Luar biasa. Saya musti memberi aplaus untuk wawasan mereka di bidang 'grunge-o-logi'. Anak punk, hardcore atau metal aja tidak sampai segitunya dalam memaknai genre-nya. Entah siapa yang memulai 'pembelajaran' seperti itu. Tapi ironisnya, scene grunge di Indonesia masih jauh di level mapan dibandingkan dengan genre lainnya. Tampak stagnan dan tertinggal, terutama dalam industri. Apakah karena terlalu sibuk menghayati perannya sebagai anak grunge?! Larut dalam dimensi keterasingan dan psikologis?! Berupaya terlalu keras menjadi 'kurt cobain' dibanding Kurt Cobain sendiri?! Terlalu sibuk mabuk dan membanting gitar di setiap konser?! Atau memang grunge sudah menthok dan tamat sejak 'tuhan'-nya memilih untuk bunuh diri?! Well, ini pekerjaan rumah yang cukup besar bagi komunitas grunge di Indonesia. Sayangnya buku ini kadang ikut larut dalam diskursus seperti itu, dan kurang banyak mengupas pergerakan atau prestasi band-band grunge lokal. Kalaupun ada, itu cuma sekilas dan agak kurang mendalam. Atau memang begitu keadaannya?! Hanya mereka yang terlibat aktif yang tahu. Terlepas dari baik-buruknya suatu komunitas, dokumentasi tulisan seperti ini sangatlah penting dan bermanfaat. Karya ini bakal lebih keren lagi kalau dikasih semacam album soundtrack atau sampler dari band-band grunge lokal. Saya berharap ada juga yang mau menulis tentang komunitas musik lain, entah itu punk, hardcore atau metal. Sang penulis buku ini memang cukup jujur menelanjangi scene-nya sendiri. Kalau pun ada kontroversi, bukankah itu fungsi suatu wacana yang memang bertujuan membuka kran dialektika. Bahkan kitab suci sekalipun masih punya celah untuk diperdebatkan. Karena memang sebenarnya tidak ada pecundang di dalam motivasi belajar dan proses mengapresiasi... &lt;b&gt;[samack]&lt;/b&gt;</description>
<pubDate>Mon, 08 Jun 2009 20:33:40 +0700</pubDate>
<dc:creator>admin</dc:creator>
<guid isPermaLink="false">http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/grunge-indonesia-www.apokalip.com.html</guid>
<link>http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/grunge-indonesia-www.apokalip.com.html</link>

<category>Resensi</category>
<category>Resensi Buku</category>
</item><item>
<title>THE STORY OF CRASS</title>
<description>
&lt;img style=&quot;MARGIN-BOTTOM: 10px; MARGIN-LEFT: 10px; MARGIN-RIGHT: 15px&quot; height=&quot;169&quot; alt=&quot;&quot; src=&quot;/webzine/aset/asetzine/asetgambar/resbuku-crass.jpg&quot; width=&quot;175&quot; align=&quot;left&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;strong&gt;THE STORY OF CRASS&lt;br /&gt;
	George Berger&lt;br /&gt;
	Amazon&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

&lt;img height=&quot;11&quot; alt=&quot;&quot; src=&quot;/webzine/aset/asetzine/asetgambar/rating-4.gif&quot; width=&quot;79&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Punk became a fashion just like hippy used to be and it ain't got a thing to do with you or me.&quot; Ada pemandangan aneh ketika saya mengunjungi Kinokuniya Grand Indonesia beberapa waktu lalu. Di bagian musik, di antara buku-buku soal musisi mainstream, terselip sebuah buku dengan logo yang lumayan familiar dengan saya ; &lt;i&gt;The Story of Crass&lt;/i&gt;. Oke, Crass memang bukan musisi yang populer di Indonesia, terus kenapa mereka punya buku ini dalam katalognya ya?! Jarang-jarang ada naskah mengenai sejarah punk Inggris tanpa menyertakan kontribusi Sex Pistols seperti dalam buku ini. Ketika Johnny Rotten meneriakan slogan &quot;Anarchy!&quot; hanya demi sensasi subversif dalam musiknya sekaligus marketing gimmick bagi sex shop milik pasangan Malcolm McLaren dan Viviene Westwood, Crass sudah terlebih dulu membawa realisasi kata itu ke tingkat lebih lanjut. Cikal bakal Crass diawali dengan sebuah komune anarkis bernama Dial House yang terdiri atas sekelompok mahasiswa seni, musisi, sastrawan dan aktivis perdamaian yang menyabot sebuah lahan tidur di wilayah Essex, Inggris, sebagai basis gerakan di tahun 1960-an. Mereka sudah terlebih dulu mempraktekkan prinsip esensial dalam teori anarkisme, seperti membangun pertanian mandiri untuk memperkuat basis ekonomi di tingkatan akar rumput. Seperti layaknya tren gerakan sosial paska era Baader-Meinhoff, mereka juga mengadopsi prinsip-prinsip anti-kekerasan dalam ruang geraknya. Para aktivis Dial House ini kemudian menemukan bentuk ekspresi artistiknya ketika punk gelombang pertama mulai menunjukkan embrionya. Musik-musik eksperimental avant garde yang selama ini mereka geluti dirasakan tidak bisa menyuarakan ide-ide revolusioner sudah mereka jalani. Jadilah Penny Rimbaud, Steve Ignorant, dan kawan-kawannya membentuk Crass, dengan dibantu seniman muda Gee Vaucher untuk divisi artistiknya. Yang membedakannya dengan band punk lain pada masa itu adalah mereka kerap menyertakan aksi panggungnya dengan orasi budaya, pembacaan puisi, dan diskusi. Ketika tren punk membuat banyak anak muda Inggris berkeliaran dengan kostum yang aneh dan berantakan, Crass malah tampil rapi dengan gabungan pakaian kasual dan seragam militer yang serba hitam. Tak berapa lama, Sex Pistols merilis singel &lt;i&gt;Anarchy in the UK&lt;/i&gt; dan mengangkat punk menjadi fenomena nasional. Dalam waktu singkat punk menjadi perhatian media massa, meme pemberontakan yang menyebar membuatnya jadi fenomena kultural, tak terkecuali beberapa pihak yang mencoba bermain mata dengan industri. Pada saat itulah Crass menyatakan kematian punk, sama seperti ketika Nietzsche membunuh Tuhan. Crass memanifestasikan pernyataan mematikan tersebut dalam lagunya, &lt;i&gt;Punk is Dead&lt;/i&gt;. Tentu saja hal ini membuat Crass jadi band yang dibenci. Berbagai pihak menyatakan Crass adalah kaum hippy, bukan punk. Bahkan Sex Pistols sendiri membuat slogan &quot;Never Trust A Hippy!&quot; dalam lagu &lt;i&gt;Who Killed Bambi?&lt;/i&gt; yang secara implisit ditujukan kepada Crass. Wattie Buchan dan The Exploited mencoba menegasikannya dengan lagunya &lt;i&gt;Punk Not Dead&lt;/i&gt;, si mulut besar Jello Biafra dan Dead Kennedys mengeluarkan kritik dalam lagu &lt;i&gt;Anarchy For Sale&lt;/i&gt;. Tapi semua itu tidak menghentikan langkah Crass. Mereka malah semakin kritis dalam perjuangannya. Tidak hanya bersuara keras untuk masalah internal punk saja, mereka juga kerap bikin gerah pemerintah Inggris. Crass pernah menggelar aksi massa dan pemutaran film untuk menentang invasi tentara Inggris ke pulau Falklands. Di tingkatan ideologi, anarkisme bukan satu-satunya keyakinan mereka. Masalah feminisme, hak azasi binatang, perang, globalisasi, dan lingkungan hidup juga tidak luput dari perhatian mereka. Crass adalah salah satu band yang juga mempraktekan direct action dalam sepak terjangnya, tidak hanya sekedar bersuara melalui lagu. Selain dibenci, Crass juga dihormati. Kehadirannya yang inspirasional juga turut mendorong kelahiran band-band lain yang kemudian masuk dalam kategori anarko-punk dan genre-genre lainnya, seperti Conflict, Subhumans, Flux of Pink Indians, Poison Girls, MDC, Rudimentary Peni, Zounds, Resist to Exist, Aus Rotten, Disrupt, Chumbawamba, Atari Teenage Riot, Amebix, bahkan Anthrax pada awal kehadirannya. &quot;Preaching revolution, anarchy and change as he sucked from the system that had given him his name.&quot; &lt;b&gt;[Abosa]&lt;/b&gt;</description>
<pubDate>Fri, 23 Jan 2009 09:07:41 +0700</pubDate>
<dc:creator>admin</dc:creator>
<guid isPermaLink="false">http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/the-story-of-crass-www.apokalip.com.html</guid>
<link>http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/the-story-of-crass-www.apokalip.com.html</link>

<category>Resensi</category>
<category>Resensi Buku</category>
</item><item>
<title>METALLICA AND PHILOSOPHY ; A CRASH COURSE IN BRAIN SURGERY</title>
<description>
&lt;img style=&quot;MARGIN-BOTTOM: 10px; MARGIN-LEFT: 10px; MARGIN-RIGHT: 15px&quot; height=&quot;169&quot; alt=&quot;&quot; src=&quot;/webzine/aset/asetzine/asetgambar/resbuku-metallica.jpg&quot; width=&quot;175&quot; align=&quot;left&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;strong&gt;METALLICA AND PHILOSOPHY ; A CRASH COURSE IN BRAIN SURGERY&lt;br /&gt;
	William Irwin&lt;br /&gt;
	The Blackwell Philosophy &amp;amp; Pop Culture Series&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

&lt;img height=&quot;11&quot; alt=&quot;&quot; src=&quot;/webzine/aset/asetzine/asetgambar/rating-4.gif&quot; width=&quot;79&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
I started listening to Metallica in my teens shortly after the release of RTL. I even quoted Motorbreath in my high school yearbook. At the time listening to Metallica and 'acting like a maniac' is what came natural to me. Who would have ever thought I was such an existentialist? I always felt a deep connection to their music, but at that time I didn't even know what philospohy really meant. Metallica's lyrics provoked my thoughts and the raw power of their music just always felt right to me. So if you were like me, you didn't get into Metallica to be philosophical. That's not what we were about. I first picked up this book hoping that philosopy would validate the music of my youth. But as I got into it I soon remembered that I didn't listen to Metallica for anyone's approval. Back in the day I could care less what 'other people thought' about most things. And in the end I realized that it's not Philosphy that validates the music. Metallica's lyrics, their music, and most importantly their fans are what validate Philosophy. Somehow I think we knew that all along. This book was an enjoyable read and helped me realize important things about myself and the music that I love. If you're story is similiar to mine, go ahead and 'Jump in the Fire'. You won't be disappointed with this book. &lt;b&gt;[Guldna / Amazon]&lt;/b&gt;</description>
<pubDate>Wed, 17 Sep 2008 22:46:31 +0700</pubDate>
<dc:creator>admin</dc:creator>
<guid isPermaLink="false">http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/metallica-and-philosophy-a-crash-course-in-brain-surgery-www.apokalip.com.html</guid>
<link>http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/metallica-and-philosophy-a-crash-course-in-brain-surgery-www.apokalip.com.html</link>

<category>Resensi</category>
<category>Resensi Buku</category>
</item><item>
<title>THE FIRST FIVE ; Henry Rollins</title>
<description>
&lt;img style=&quot;MARGIN-BOTTOM: 10px; MARGIN-LEFT: 10px; MARGIN-RIGHT: 15px&quot; height=&quot;169&quot; alt=&quot;&quot; src=&quot;/webzine/aset/asetzine/asetgambar/resbuku-thefirstfive.jpg&quot; width=&quot;175&quot; align=&quot;left&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;strong&gt;THE FIRST FIVE&lt;br /&gt;
	Henry Rollins&lt;br /&gt;
	2.13.61 Publishing&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

&lt;img height=&quot;11&quot; alt=&quot;&quot; src=&quot;/webzine/aset/asetzine/asetgambar/rating-4.gif&quot; width=&quot;79&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;em&gt;The First Five&lt;/em&gt; memuat karya-karya Henry Rollins yang tersebar ke dalam lima judul buku terpisah. Buku ini dia kerjakan di sela perjalanan tur-nya bersama Black Flag ke berbagai negara. Sebagai seorang artis yang multi-talenta [musisi, penulis dan spoken word performer], Henry berhasil memandang kompleksitas hidup dan fenomena keseharian dengan visi yang begitu jujur dan khas. Bagian pertama dari buku ini berjudul &lt;i&gt;High Adventure In The Great Outdoor&lt;/i&gt;. Berisi kumpulan esai, puisi, cerita pendek dan naskah spoken-word yang hampir semuanya tanpa judul. Begitu singkat dan straight ibarat personal diary bagi Henry sendiri. Ego dan emosi Henry seakan tumpah. Perasaan menyendiri dan keterasingan atau alienasi begitu mendominasi. Seperti yang terbaca pada cuplikan salah satu puisinya, &quot;&lt;i&gt;I look the mirror but can't see myself / the one that i can't see is the one that i am / the one that i can't be is the one in demand.&quot; &lt;/i&gt;Atau pada penggalan puisinya yang lain, &quot;&lt;i&gt;...The door's been closed for so long / there's something down there / it's so quiet / no one comes to my house.&quot; &lt;/i&gt;Kemudian, &lt;i&gt;Pissing In The Gene Pool&lt;/i&gt; merupakan sesi berikutnya. Bab ini mengantarkan kita menuju dunia pikiran Henry yang lain. Rasanya Henry mulai peduli dengan kondisi di sekitarnya. Tampak apresiasinya kepada sahabat, pekerja, wanita, nilai-nilai sosial dan sisi universal lainnya. Esai dan short stories-nya di sini terinspirasi dari pengalamannya di jalanan. Baik itu ketika sendirian, bersama band, fans atau teman-temannya. &quot;&lt;i&gt;Why do people allow themselves to be compromised? Why will they give themselves away again and again? Why are those who stand up for themselves shunned, scorned and hated? Fear. Fear of being alone. Fear of being...&quot; &lt;/i&gt;Sementara &lt;i&gt;Bang!&lt;/i&gt; adalah bagian selanjutnya dari buku setebal 399 halaman ini. Di sini kita mendapati kumpulan puisi dan sajak terbaiknya, seperti &lt;i&gt;Knife Street, American Hardcore, After Burn, Black Sabbath&lt;/i&gt; sampai &lt;i&gt;Tiny Master&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;Golden Boy&lt;/i&gt;. Pada bagian ini kita akan melihat Henry cukup sukses merangkai kalimat-kalimat indah menjadi satu karya yang kaya akan makna. Sebuah sense yang tinggi terhadap seni menulis telah ia buktikan di sini. &quot;&lt;i&gt;I used to love you / i still do / so selfish / i love the old you / the you that doesn't shoot drugs / the you that didn't get beat on by men...[After Burn] - &quot;...I will show you my world / i will bring it home / my beauty / the summer nights of fire and truth / can you see it?...&quot; [Black Sabbath]. &lt;/i&gt;Well, mari lanjut ke &lt;i&gt;Art To Choke Hearts&lt;/i&gt;, bagian paling panjang yang berisi cuplikan stori dan fiksi pendek. Kebanyakan diambil dari cerita tur bareng Black Flag serta di sela perjalanannya sebagai spoken-words performer di sejumlah teater dan kampus di Amerika Serikat. Terakhir, &lt;i&gt;One From None&lt;/i&gt;, ditulis pada masa-masa akhirnya bersama Black Flag [1986-1987]. Era di mana ia lebih mendalami aktifitasnya sebagai penulis dan spoken-word performer, hingga ke awal pembentukan Rollins Band. Di bagian ini, Henry terkesan lebih wise dan matang. Tidak terlalu meledak dan meluap-luap seperti sebelumnya. Beragam proses dan eksperiens mungkin telah membentuk kedewasaan berpikirnya - tanpa harus kehilangan nilai dan identitas yang ia yakini. &quot;&lt;i&gt;...Trying to stand on my own two feet / without leaning on some one else / looking to myself for total strength / to be one from none.&quot; &lt;/i&gt;Well, ini buku yang cukup menarik. Terlepas dari fiksi, non-fiksi atau sastra, &lt;i&gt;The First Five&lt;/i&gt; terus berjalan menghantam apa saja bagaikan frase yang dirajah di punggung Henry Rollins ; S&lt;i&gt;earch and Destroy!....&lt;/i&gt; &lt;b&gt;[LivingOz]&lt;/b&gt;</description>
<pubDate>Sat, 23 Aug 2008 11:55:04 +0700</pubDate>
<dc:creator>admin</dc:creator>
<guid isPermaLink="false">http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/the-first-five-henry-rollins-www.apokalip.com.html</guid>
<link>http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/the-first-five-henry-rollins-www.apokalip.com.html</link>

<category>Resensi</category>
<category>Resensi Buku</category>
</item><item>
<title>MUSIC RECORDS ; INDIE LABEL</title>
<description>
&lt;img style=&quot;MARGIN-BOTTOM: 10px; MARGIN-LEFT: 10px; MARGIN-RIGHT: 15px&quot; height=&quot;169&quot; alt=&quot;&quot; src=&quot;/webzine/aset/asetzine/asetgambar/resbuku.indielabel.jpg&quot; width=&quot;175&quot; align=&quot;left&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;strong&gt;MUSIC RECORDS ; INDIE LABEL&lt;br /&gt;
	Idhar Rez&lt;br /&gt;
	DAR Mizan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

&lt;img height=&quot;11&quot; alt=&quot;&quot; src=&quot;/webzine/aset/asetzine/asetgambar/rating-4.gif&quot; width=&quot;79&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Banyak informasi yang bisa didapatkan dari buku ini, terutama dunia musik independent,&quot; kata Helvi Sjarifuddin, punggawa dari label FFWD records. Buku ini bisa jadi panduan bagi anda para pemain band yang ingin mencoba peruntungan di belantara industri musik. Apalagi jika band anda itu so-called-indie yang baru lahir dan ingin berkembang lebih jauh. Saatnya anda tunjukkan segala potensi dan kemampuan. Jangan meniru band-band independen senior yang gagal, tanpa karya dan tanpa apresiasi. Menjadi band indie itu mudah, tetapi jadi band indie yang 'sukses' itu memang butuh perjuangan panjang. Keringat, usaha dan kerja keras. Juga modal dan kesempatan sebagai pendukungnya. Buku karangan editor Rpple Magazine ini cukup komplit berisi tentang ; sejarah industri rekaman, mengenal manajemen rekaman, mengintip cara produksi, cara mendistribusikan rekaman, hingga cara promosi yang efektif. Segala tips dan trik ada di sini. Buku terbitan DAR Mizan ini juga dilengkapi dengan list tempat-tempat rekaman dan distribusi di tanah air. By the way, bukan berarti buku ini semacam 'kitab suci' atau tutorial seperti buku-buku program komputer di mana anda harus menjalani semua tahapan tehnis yang ada. Sama sekali bukan. Yang perlu anda lakukan adalah mengadopsi segala konsep yang menurut anda paling baik, lalu kembangkan sendiri di dalam lingkungan scene musik anda. Setiap daerah memiliki karakteristik scene dan industri musik yang berbeda-beda. Infrastruktur yang tersedia juga bermacam-macam. Lakukan saja secara efektif dan efisien mungkin. Kuncinya tetap optimis, bertindak positif dan terus berkarya. Tanpa manajemen dan promosi yang efektif, karya musik yang bermutu belum tentu jadi jaminan sukses bagi band. Maka jangan berdiam diri dan menunggu untuk ditemukan! Tidak ada salahnya belajar dari buku ini, daripada mendengar celotehan musisi band senior yang gagal, frustasi dan tidak melakukan apa-apa. Read and learn. Jika anda sudah menjalankan segala metode dan trik dalam buku ini namun band anda masih gagal, maka janganlah berputus asa. Mungkin band anda belum beruntung hari ini. Atau mungkin tuhan punya rencana lain hingga anda memang tidak ditakdirkan menjadi rockstar?!... &lt;b&gt;[livingOz]&lt;/b&gt;</description>
<pubDate>Mon, 11 Aug 2008 18:17:32 +0700</pubDate>
<dc:creator>admin</dc:creator>
<guid isPermaLink="false">http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/music-records-indie-label-www.apokalip.com.html</guid>
<link>http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/music-records-indie-label-www.apokalip.com.html</link>

<category>Resensi</category>
<category>Resensi Buku</category>
</item><item>
<title>GET IN THE VAN ; Henry Rollins</title>
<description>
&lt;img style=&quot;MARGIN-BOTTOM: 10px; MARGIN-LEFT: 10px; MARGIN-RIGHT: 15px&quot; height=&quot;169&quot; alt=&quot;&quot; src=&quot;/webzine/aset/asetzine/asetgambar/resbuku-rollins.jpg&quot; width=&quot;175&quot; align=&quot;left&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;strong&gt;GET IN THE VAN&lt;br /&gt;
	Henry Rollins&lt;br /&gt;
	2.13.61 Publishing&lt;br /&gt;
	&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;

&lt;img height=&quot;11&quot; alt=&quot;&quot; src=&quot;/webzine/aset/asetzine/asetgambar/rating-4.gif&quot; width=&quot;79&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak banyak buku yang mengupas langkah dan perjalanan sebuah kelompok musik rock dengan begitu jujur dan komplit. Kalaupun ada kebanyakan bertutur tentang kisah grup musik itu saat mencapai popularitas dan kesuksesan. Memang kebanyakan masyarakat menganggap popularitas bagi seniman, musisi, atau artis adalah sesuatu hal yang menyenangkan. Kepopuleran mereka diyakini sebagai anugerah serta keberuntungan yang banyak diidamkan oleh para musisi muda. Mereka yang sering membayangkan bahwa perjalanan show atau tour grup musik itu penuh glamour, hotel berbintang, panggung megah, perempuan cantik, kejaran pers dan histeria fans - akan segera sirna setelah membaca beberapa tulisan di buku ini. &quot;&lt;i&gt;...By turns bluntly sobering and darkly hilarious, 'Get In The Van' is a fascinating firsthand look into the band that defined a sound and attitude of an era.&quot; &lt;/i&gt;Begitulah kalimat yang tertulis pada halaman depan buku yang berjudul asli &lt;i&gt;Get In The Van ; On The Road With Black Flag&lt;/i&gt; ini. Sang vokalis Henry Rollins mengisahkan kembali perjalanan karir band-nya sejak awal bergabung di tahun 1981 sampai bubar di tahun 1986. Dekade 80-an merupakan era penting bagi perkembangan musik punk/hardcore di Amerika Serikat. Bahkan dianggap sebagai tonggak awal progresi jenis musik punk/hardcore, yang diusung oleh kelompok-kelompok macam Minor Threat, Dead Kennedy's, The Circle Jerks atau Black Flag sendiri. Sehingga dikenal istilah &lt;i&gt;New York Hardcore&lt;/i&gt; ataupun &lt;i&gt;80's Hardcore&lt;/i&gt; di kalangan penggemar musik cadas sampai saat ini. Henry Rollins adalah seorang pencinta musik keras yang bekerja sebagai penjaga toko es krim. Pertama kali ia mengenal Black Flag saat menonton show mereka di Washington DC. Setelah kenal baik dengan para personilnya, barulah dia ditawari untuk mengisi posisi singer di band tersebut. Sejak itu ia resmi bergabung sebagai vokalis salah satu sindikat punk/hc yang cukup berpengaruh di Amerika Serikat. Henry memaparkan cuplikan kisah-kisah perjalanan karir mereka dari hari ke hari, dari berbagai tempat di sela rangkaian tour-nya di Amerika dan Eropa. Buku ini juga ibarat cuplikan jurnal atau buku harian baginya. &lt;i&gt;&quot;What you've got here is all the journal entries from 1983 to 1986 and two chapters detailing events in 1981 and 1982 when I wasn't keeping a journal...&quot; &lt;/i&gt;Di fase awal karir Henry bersama Black Flag, dia selaku 'orang baru' masih merasa jengah dengan apresiasi publik yang meragukan kemampuannya. Untung para anggota band serta sobat karibnya, Ian macKaye [frontman Minor Threat] itu kerap memberi dukungan kepadanya. Saat tur di Eropa, mereka mendapatkan ujian yang cukup berat dari band lain, kalangan pers maupun publik setempat yang banyak merendahkan kemampuan band asal Amerika Serikat. Selama karir Henry bersama Black Flag, mereka telah melakukan tur ke berbagai tempat, mulai dari New York sampai dengan Vienna. Termasuk di antaranya gigs yang biasa digelar di klub, hall, maupun acara party yang berlangsung hampir setiap hari. Bahkan pada awal tahun 1985, Black Flag beberapa kali tampil secara instrumental saat show di California. Mereka menyewa van yang menjadi 'markas' bagi seluruh anggota band dan roadies-nya. Van itu pula yang mereka kendarai dari satu tempat ke tempat yang lain. Termasuk tinggal dan tidur di dalamnya jika tidak ada rumah kenalan yang bisa dikunjungi. Setiap kali akan show, mereka lebih sering berkeliling di jalan-jalan kota menyebarkan flyers atau pamflet sambil menginformasikan konsernya sendiri kepada publik. Sungguh unik, sebab jarang ada musisi atau artis yang mau capek keliling kota mempublikasikan dan menyebarkan poster konsernya sendiri. Berbagai pengalaman menarik yang mungkin patut disimak adalah saat mereka dibenci dan kerap dilempari oleh penonton. Terkadang hal tersebut berimbas pada perkelahian masal di antara penonton sendiri. Mereka juga pernah ditangkap polisi setempat karena dianggap biang rusuh atau kumpulan berandalan. Pengalaman buruk juga terjadi saat mereka ditipu oleh pihak promotor show,&lt;i&gt; &lt;/i&gt;atau mulai dijelek-jelekkan oleh band lain yang merasa tersaingi. Memang, setelah membaca penggalan kisah demi kisah yang diungkapkan dalam buku ini, semakin banyak pula fenomena menarik yang terjadi dalam perjalanan sebuah band independen yang teguh memegang jargon &lt;i&gt;do it yourself&lt;/i&gt;-nya. Henry sekarang masih eksis sebagai vokalis Rollins Band. Dia juga dikenal sebagai penulis serta spoken word performer&lt;i&gt; &lt;/i&gt;yang sering diundang tampil di berbagai teater dan kampus-kampus perguruan tinggi di Amerika Serikat maupun Eropa. Dia juga seorang aktor, yang pernah bermain dalam film &lt;i&gt;The Chase&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;Johnny Mnemonic&lt;/i&gt;. Pada tahun 1988, Henry mendirikan usaha penerbitan yang diberi nama &lt;i&gt;2.13.61 Publishing&lt;/i&gt;, untuk merilis karya-karya seniman sekaligus penulis berbakat seperti Nick Cave, Henry Miller, Iggy Pop, Ross Halfin, maupun karya Henry sendiri. Dia telah menulis banyak esai, puisi maupun cerita pendek. Beberapa karyanya yang lain juga sudah dipublikasikan, seperti &lt;i&gt;High Adventure in The Great Outdoors, Black Coffee Blues, The First Five&lt;/i&gt; ataupun &lt;i&gt;Eye Scream&lt;/i&gt;. Buku yang tersedia pula dalam format spoken word audio [CD dan kaset] ini juga menyuguhkan gambar dan foto-foto mereka saat onstage, backstage, touring, bersama fans dan kerabat, sampai proses rekaman di studio. Juga banyak gambar-gambar ilustrasi poster, flyers dan tiket konser mereka di berbagai tempat. Plus jadwal tur Black Flag mulai dari 1981 sampai 1986. Alhasil buku ini ibarat dokumentasi paling lengkap tentang perjalanan karir Black Flag. &lt;i&gt;Get In The Van&lt;/i&gt; juga menegaskan seorang manusia kelas bawah biasa bernama Henry yang ingin meraih impiannya dengan segala pola pikir positif. Seperti yang dia ungkapkan sendiri di akhir lembaran buku setebal 258 halaman ini, &quot;...&lt;i&gt;This is what I do. This is who I am. I am a guy who used to work at an ice cream store in Washington DC. I am of average intelligence. There's nothing special about me. If I can get this far, I would be very surprised if you couldn't get at least twice as far. Fuck them. Keep your blood clean, your body lean and your mind sharp.&quot; &lt;/i&gt;&lt;b&gt;[livingOz]&lt;/b&gt;</description>
<pubDate>Sat, 02 Aug 2008 11:40:34 +0700</pubDate>
<dc:creator>admin</dc:creator>
<guid isPermaLink="false">http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/get-in-the-van-henry-rollins-www.apokalip.com.html</guid>
<link>http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/get-in-the-van-henry-rollins-www.apokalip.com.html</link>

<category>Resensi</category>
<category>Resensi Buku</category>
</item><item>
<title>INSIDE OUT ; Nick Mason</title>
<description>
&lt;img style=&quot;MARGIN-BOTTOM: 10px; MARGIN-LEFT: 10px; MARGIN-RIGHT: 15px&quot; height=&quot;169&quot; alt=&quot;&quot; src=&quot;/webzine/aset/asetzine/asetgambar/resbuku-insideout.jpg&quot; width=&quot;175&quot; align=&quot;left&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;strong&gt;INSIDE OUT&lt;br /&gt;
	Nick Mason&lt;br /&gt;
	Chronicle Books&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

&lt;img height=&quot;11&quot; alt=&quot;&quot; src=&quot;/webzine/aset/asetzine/asetgambar/rating-5.gif&quot; width=&quot;79&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;I ended up opening a Pandora's box of memories,&quot; tutur sang penulis. Ada banyak kisah di balik cerita tentang grupband kampus yang bernama Pink Floyd. Seperti siapa yang mencetuskan nama Pink Floyd dan dari mana asal kata itu. Seperti apa scene underground di London pada paruh akhir 60-an. Sesableng apa seorang Syd Barret hingga dia harus dikucilkan temen-temannya. Gambaran konser multimedia yang mutakhir dan kreasi sound psikedelik yang ajaib. Cerita di balik sesi rekaman dan konser Pink Floyd, mulai dari era &lt;i&gt;The Piper at The Gates of Dawn&lt;/i&gt; [1967] sampai &lt;i&gt;The Division Bell &lt;/i&gt;[1994]. Kisah menarik seputar penggarapan album &lt;i&gt;Wish You Were Here, The Dark Side of The Moon, &lt;/i&gt;atau &lt;i&gt;The Wall&lt;/i&gt;. Hingga berbagai tekanan dan konflik internal yang berujung pada 'perebutan kekuasaan' antara Roger Waters versus David Gilmour. Tidak hanya menyorot soal karir band - tapi juga tentang hal-hal pribadi, interpersonal, keluarga dan kehidupan seluruh personil serta para kru mereka. Dilengkapi dengan koleksi grafis dan foto-foto eksklusif selama karir Pink Floyd. Apalagi buku yang saya baca ini adalah edisi revisi dengan tambahan cerita dari konser reuni Pink Floyd di ajang &lt;i&gt;Live 8&lt;/i&gt; [2005]. Pendeknya, semua tentang Pink Floyd tersaji lengkap di buku ini. &lt;i&gt;Inside Out ; A Personal History of Pink Floyd&lt;/i&gt; ditulis sendiri oleh drummer dan pendiri band ini, Nick Mason. &quot;&lt;i&gt;Inside Out&lt;/i&gt; is about being a part of this entity known as Pink Floyd, and about the shared experiences that stretch across four decades, the whole of my adult life.&quot; Nick Mason diam-diam meneropong segala kisah yang terjadi pada Pink Floyd dari balik set drum-nya. Secara cermat dan jujur. Tanpa penghakiman yang berlebih dan agak sedikit berhati-hati. Terasa begitu intim dan emosional. Otomatis cukup personal juga. Jadinya justru menarik. Membaca buku ini mirip dengan membaca sebuah novel otobiografi yang akhirnya jadi sebuah memoar rock &amp;amp; roll yang sangat keren. &quot;Of course, everyone has divergent views of what actually happened,&quot; pesan Nick Mason. Pada dasarnya ini semua tentang kegilaan dan imajinasi. Ketenaran dan ambisi. Emosi dan tragedi. Bergulir seperti drama. Mengalir tanpa skenario. Hanya sebuah kronologis penting dari salah satu band rock yang paling brilian di muka bumi!... &lt;b&gt;[lucifersam]&lt;/b&gt;</description>
<pubDate>Thu, 29 May 2008 22:37:11 +0700</pubDate>
<dc:creator>admin</dc:creator>
<guid isPermaLink="false">http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/inside-out-nick-mason-www.apokalip.com.html</guid>
<link>http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/inside-out-nick-mason-www.apokalip.com.html</link>

<category>Resensi</category>
<category>Resensi Buku</category>
</item><item>
<title>MYSELF ; SCUMBAG - Beyond Life and Death</title>
<description>
&lt;img style=&quot;MARGIN-BOTTOM: 10px; MARGIN-LEFT: 10px; MARGIN-RIGHT: 15px&quot; height=&quot;169&quot; alt=&quot;&quot; src=&quot;/webzine/aset/asetzine/asetgambar/resbuku-scumbag.jpg&quot; width=&quot;175&quot; align=&quot;left&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;strong&gt;MYSELF ; SCUMBAG - Beyond Life and Death&lt;br /&gt;
	Kimung&lt;br /&gt;
	Minor Books&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

&lt;img height=&quot;11&quot; alt=&quot;&quot; src=&quot;/webzine/aset/asetzine/asetgambar/rating-5.gif&quot; width=&quot;79&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;em&gt;&quot;Ya tuhan, begitu pekatnya ruang jiwaku. Hanya kematian terus samar memanggil. Singkirkan harapan yang terus memudar. Semakin tak bermakna. Semakin tak bercahaya. Inikah garis hidup yang tak terberkati?!&quot;&lt;/em&gt; bunyi lirik &lt;i&gt;Unblessing Life&lt;/i&gt; - sebuah lagu di album terakhir Burgerkill, &lt;i&gt;Beyond Coma and Despair&lt;/i&gt;. Lirik pada lagu-lagu yang lain juga banyak mengumbar 'indikasi' semacam itu. Mengerikan. Belum sempat album itu dirilis di pasaran, sang vokalis dan lirikus Ivan 'Scumbag' Firmansyah meninggal dunia dalam usia muda, 28 tahun. Dia terpaksa kehilangan rencana pernikahan, impian tour, serta buah kesuksesan dari album masterpiece yang sanggup bikin dia jadi 'rockstar' dan bisa memenuhi janjinya untuk menyenangkan teman-temannya. Penghormatan akhirnya disematkan dalam bentuk lain. &lt;i&gt;Myself ; Scumbag&lt;/i&gt; adalah buku biografi Ivan 'Scumbag' Firmansyah [1978 - 2006], vokalis band metal papan atas Burgerkill yang ditulis oleh sahabatnya, Kimung. Alur cerita yang mengalir deras bagai novel fiksi. Penuh semangat dan harga diri, sekaligus juga kepedihan dan dendam. Semakin dalam dan mendetil sebab penulis juga merupakan teman masa remaja, 'saudara sebotol', dan partner bermusik di era awal Burgerkill. Buku ini lengkap mengupas kisah hidup, suka-duka, love-story, karir, hingga impian Ivan yang memang selangit. Bersama sikap begundal yang selalu dipegang teguh dalam mengejar perempuan, dikeroyok preman, dimusuhi calon mertua, pesta mushroom, aksi panggung, menulis lagu dan berkarya. Sebut saja itu semua bagian dari kompleksitas hidupnya yang selalu terkait dengan terobosan besar, cita-cita, kekecewaan, gairah dan totalitas bermusik. Semuanya komplit ada di buku ini. Sedikit juga menyentil karir musik Burgerkill dan gaya hidup barudak Ujungberung yang akrab dipanggil Homeless Crew. Sampai akhirnya pada ending yang mengharukan. Maafkan jika kalimat ini kasar, tetapi bersama album &lt;i&gt;Beyond Coma and Despair&lt;/i&gt;, buku ini memang bisa jadi sebuah 'paket kematian' yang khidmat untuk mengenal lebih dalam lagi soal Ivan, Burgerkill dan komunitas Ujungberung. Sudah barang tentu ini akan mengawali stok pendokumentasian scene bawahtanah di negeri ini. Buku penting tentang seorang legenda metal Indonesia. Dia bakal terus hidup dalam lengkingan vokal khas dan karya lirik yang inspiratif. He's been blessed, beyond life and death!... &lt;b&gt;[lucifersam]&lt;/b&gt;</description>
<pubDate>Wed, 06 Feb 2008 06:10:06 +0700</pubDate>
<dc:creator>admin</dc:creator>
<guid isPermaLink="false">http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/myself-scumbag-beyond-life-and-death-www.apokalip.com.html</guid>
<link>http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/myself-scumbag-beyond-life-and-death-www.apokalip.com.html</link>

<category>Resensi</category>
<category>Resensi Buku</category>
</item><item>
<title>NOTES FROM UNDERGROUND ; ZINES</title>
<description>
&lt;img style=&quot;MARGIN-BOTTOM: 10px; MARGIN-LEFT: 10px; MARGIN-RIGHT: 15px&quot; height=&quot;169&quot; alt=&quot;&quot; src=&quot;/webzine/aset/asetzine/asetgambar/resbuku-zines.jpg&quot; width=&quot;175&quot; align=&quot;left&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;strong&gt;NOTES FROM UNDERGROUND ; ZINES&lt;br /&gt;
	Stephen Duncombe&lt;br /&gt;
	Verso&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

&lt;img height=&quot;11&quot; alt=&quot;&quot; src=&quot;/webzine/aset/asetzine/asetgambar/rating-4.gif&quot; width=&quot;79&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika anda dulu into punk/hc atau subkultur underground pasti pernah menjumpai media sederhana seperti Maximum Rock N' Roll, Profane Existence, atau Punk Planet. Jika dalam wilayah lokal, pernah ada yang namanya Revograms, Brainwashed, Mindblast, Megaton, Morbid Noise, sampai Tigabelas zine. Saat itu, tehnik cut &amp;amp; paste masih menjadi panglima. Eksekusinya diwakili oleh mesin Xerox. Dan etos do-it-yourself yang jadi semangatnya. Di masa-masa itu, the zines are allright!... Buku ini merupakan studi analisis yang cukup komprehensif tentang 'Zines'. Penulis Stephen Duncombe cukup detail mendeskripsikan bagaimana sejarah dan lika-liku perkembangan media ini. Membahas juga muatan nilai dan propaganda yang biasa diserukan oleh para publisher atau editornya. Secara historis, zines memang lahir dan besar dari kreasi perorangan, komunitas atau scene. Apapun itu jenisnya. Mulai dari tema personal, gaya hidup, seni, musik, fiksi ilmiah, budaya, sosial, politik, sampai reliji. Zines yang rata-rata dicetak dalam bentuk simpel dan tradisional juga biasa dipasarkan untuk kalangan sendiri. Media kecil ini mampu menjadi gerakan kultural, yang malah terkadang sangat politikal. Hikayat zines berhasil dikupas habis dan mendalam dalam buku yang berjudul lengkap &lt;em&gt;Notes From Underground ; Zines and The Politics of Alternative Culture &lt;/em&gt;ini. Sungguh ini sebuah kitab suci bagi anda yang mengaku zine-maker maupun zine-lover!... Well, saya tidak tahu apakah zines masih cukup esensial di jaman sekarang. Di mana orang-orang mungkin lebih suka membuat blog pribadi di Multiply dan Blogspot, atau gabung di social network seperti Friendster dan MySpace. Harus diakui, tehnologi internet sedikit banyak telah merampas kreatifitas dan komunikasi sosial di 'daratan'. Meski di beberapa tempat zines yang tradisional masih juga bertahan. Sebagian malah berevolusi secara lebih baik dan profesional. Baik itu dalam bentuk zine atau newsletter yang lebih variatif, tebal dan berwarna. Sebut saja beberapa nama ; Ripple, Wasted Rockers, Mosh!, Berontak, dan masih ada beberapa lagi. Semoga mereka tetap eksis dan terus berkarya di antara segala himpitan keterbatasan media tradisional. Sehingga generasi yang akan datang masih bisa memegang zines, dan ikut merasakan semangatnya. Jangan sampai punah dan hanya dikenal sebagai bagian dari romantisme masa lalu. Long Live Zines, Fuck Internet, haha!... &lt;strong&gt;[Sakk]&lt;/strong&gt;</description>
<pubDate>Mon, 19 Nov 2007 10:58:01 +0700</pubDate>
<dc:creator>admin</dc:creator>
<guid isPermaLink="false">http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/notes-from-underground-zines-www.apokalip.com.html</guid>
<link>http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/notes-from-underground-zines-www.apokalip.com.html</link>

<category>Resensi</category>
<category>Resensi Buku</category>
</item><item>
<title>LORDS OF CHAOS</title>
<description>
&lt;img style=&quot;MARGIN-BOTTOM: 10px; MARGIN-LEFT: 10px; MARGIN-RIGHT: 15px&quot; height=&quot;169&quot; alt=&quot;&quot; src=&quot;/webzine/aset/asetzine/asetgambar/resbuku-lordofchaos.jpg&quot; width=&quot;175&quot; align=&quot;left&quot; border=&quot;0&quot; /&gt; &lt;span style=&quot;FONT-WEIGHT: bold&quot;&gt;LORDS OF CHAOS&lt;br /&gt;
	Michael Moynihan &amp;amp; Didrik Soderlind&lt;br /&gt;
	Feral House Book&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

&lt;img height=&quot;11&quot; alt=&quot;&quot; src=&quot;/webzine/aset/asetzine/asetgambar/rating-5.gif&quot; width=&quot;79&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana reaksi anda saat sedang santai nongkrong bersama teman-teman di depan teras distro tiba-tiba ada nyeletuk, &quot;Oke fren, malem ini kita ngebakar gereja yang mana lagi nih?!&quot; Dan seketika itu juga seorang pemuda gondrong berparas tampan langsung berdiri penuh semangat sambil berucap, &quot;Darkness is light!&quot;... Tenang, adegan seperti itu mungkin hanya terjadi di Helvete shop di kota Oslo sana, sekitar awal 90-an. Sejak dulu blackmetal memang selalu gelap dan kontroversial. Baik secara musikal hingga menusuk sendi-sendi ideologis, kultural, sosial, bahkan politis. Genre ini seakan memang dilahirkan untuk menghujat dan mengucapkan 'fuck you' terkeras kepada kesucian. Lalu salahkah Coven, Black Widow, Venom, dan Kiss?! Ataukah ini bibit satanis dari ajaran Aleister Crowley dan Anton LaVey?! Ketika pembakaran gereja, perusakan makam, provokasi, kekerasan, hingga pembunuhan jadi fenomena baru bagi kawula muda di tanah Skandinavia. Saat mitologi, okultisme, dan paganisme ada di balik motif cerdas yang berlatar belakang keyakinan, misi suci atau amanah leluhur. Atau itu hanya sekedar gimmick, lelucon bodoh dan emosi kekanakan agar pemuda-pemuda itu tampak cool. Yeah, sometimes it was for fun and it's called an entertainment, they said. Looks so ugly and stupid?! Sementara kita di sini cukup terpukau mendengarkan 'irama iblis' dari Mayhem, Emperor, Burzum, Darkthrone, Immortal, Abruptum, Enslaved, dan klannya. Tak ayal, dalam waktu singkat blackmetal - secara musikal, movement, filosofi, dan bisnis - langsung melesat ke puncak serta jadi happening di mana-mana. &lt;em&gt;Lords Of Chaos&lt;/em&gt; merupakan investigasi tersolid soal scene blackmetal dan kultur satanik, khususnya yang terjadi di Norwegia. Buku ini dikerjakan oleh dua orang jurnalis - Michael Moynihan dan Didrik Soderlind - selama tiga tahun dengan kaidah jurnalistik yang nyaris sempurna. Memaparkan data yang akurat, lengkap, mendalam, dan bisa dibilang amat obyektif. Michael dan Didrik bertindak bagai detektif swasta dengan sikap netral serta tidak berpihak pada siapapun. Hampir tanpa opini pribadi maupun prejudis. Semuanya konkrit berdasarkan data, pustaka, komentar dan wawancara dengan sumber-sumber penting - mulai dari musisi, scenester, kriminal, polisi, pastur dan pihak terkait lainnya. But who's the man? Well, yang jadi lakon utama dan dapat porsi terbesar di buku ini tentu saja pentolan Burzum, Varg Vikernes a.k.a Count Grishnack. Orang yang bertanggungjawab atas pembakaran sejumlah gereja, perusakan makam, serta pembunuhan Oystein Aarseth a.k.a Euronymous {Mayhem]. Kita bisa menjumpai fakta-fakta menarik tentang Varg, yang antara lain ; Seorang 'anak mami' yang ironisnya memiliki nama asli Kristian. Dia sempat tinggal di Irak saat ayahnya bekerja untuk Saddam Hussein. Varg juga dikenal pengagum Tolkien dan Quisling yang menyepakati doktrin nazi dan memilih menjadi rasis. Dia pernah 'menjual jiwanya' kepada paham skinhead, okultisme, satanisme, sampai nordik-isme dan mitologi. Lalu merevisi haluan musik Burzum dari pure blackmetal menuju ambient electronica. Semenjak ditangkap dan masuk penjara, Varg justru belajar lebih banyak dan sedikit lebih bijak. Di setiap sesi wawancara, dengan cerdas ia menjelaskan tentang kultur blackmetal, sejarah &amp;amp; mitos nordik, filsafat, bahkan soal alam semesta, UFO dan alien. Damn, Varg yang smart-ass dan wise itu sudah mencapai taraf seorang filsuf. Ok girls, go dates him!... Buku yang berjudul asli &lt;em&gt;Lords of Chaos ; The Bloody Rise of The Satanic Metal Underground&lt;/em&gt; ini menuai banyak kritik positif dan penghargaan dari berbagai kalangan serta media. Saya gak bisa bilang kalau kitab setebal lebih 400 halaman ini cukup teduh dan menenangkan. Sama sekali tidak. Tapi buat kamu yang suka memperlajari root musik dan kultur - meskipun itu cukup 'bloody' - maka buku ini amat sangat layak dikonsumsi. Dijamin bakal mengalahkan segala jenis buku sejarahmu yang lain. Sprakk du I sola, Varg?!... &lt;strong&gt;[lucifersam]&lt;/strong&gt;</description>
<pubDate>Mon, 27 Aug 2007 22:31:10 +0700</pubDate>
<dc:creator>admin</dc:creator>
<guid isPermaLink="false">http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/lords-of-chaos-www.apokalip.com.html</guid>
<link>http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/lords-of-chaos-www.apokalip.com.html</link>

<category>Resensi</category>
<category>Resensi Buku</category>
</item>
</channel>
</rss>