<?xml version="1.0" encoding="iso-8859-1" ?>
<rss version="2.0"
xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
>
<channel>

<title>www.apokalip.com</title>
<link>http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/index.php</link>
<description>www.apokalip.com</description>
<language>id</language>
<generator>Apokalip 1.1.1</generator>

<item>
<title>BOLA ITU BUNDAR, MUSIK ITU UNIVERSAL</title>
<description>
&lt;img style=&quot;MARGIN-BOTTOM: 10px; MARGIN-LEFT: 10px; MARGIN-RIGHT: 15px&quot; height=&quot;169&quot; alt=&quot;&quot; src=&quot;/webzine/aset/asetzine/asetgambar/resevent-arema2-1.jpg&quot; width=&quot;175&quot; align=&quot;left&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;em&gt;Apa hubungan antara musik dan sepakbola? Tanyakan itu kepada grup band &lt;b&gt;Arema Voice&lt;/b&gt;, maka mereka pasti tahu jawabannya. Apalagi mereka baru saja menggelar launching Ring Back Tone, dilanjutkan dengan Press Conferences &amp;amp; Video Screening, serta ditutup oleh launching show untuk album terbaru &quot;Masih Ada Terang&quot;. Itu semua seakan menegaskan kembali bahwa bola itu bundar, dan musik itu universal. Maka bersatulah para insan musik dan sepakbola di kota Malang... &lt;br /&gt;
	&lt;br /&gt;
	&lt;/em&gt;&lt;b&gt;Launching RBT Flexy - Arema Voice&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Permata Jingga Pool, 18 November 2009&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kerjasama eksklusif antara operator Telkom Flexy dengan Arema Voice meluncurkan sebuah paket spesial nan terpuji. Lagu-lagu Arema Voice kembali dijadikan Ring Back Tone, di mana sebagian profit-nya disumbangkan kepada PS Arema. Acara launching ini dimulai sejak pukul sepuluh pagi dengan acara jumpa pers dari pihak Telkom Flexy, Arema Voice, PT Arema Indonesia, serta para tokoh Aremania seperti Lucky Acub Zainal dan Ovan Tobing. Perwakilan supporter Aremania dari berbagai korwil juga datang dan ikut bersenang-senang. Panggung hiburan di tepi kolam renang diisi dengan penampilan Girl Fight dan Arema Voice. di penghujung acara ada performa dari gitaris Totok Tewel [Elpamas] dan Syaharani, diva jazz nasional yang lahir dan besar di Batu Malang. Semua rangkaian pesta ini terbilang sukses dan meriah. Apalagi dengan adanya gadis-gadis SPG yang cantik serta menu hidangan prasmanan yang seakan tidak ada habis-habisnya...</description>
<pubDate>Sun, 13 Dec 2009 08:26:28 +0700</pubDate>
<dc:creator>admin</dc:creator>
<guid isPermaLink="false">http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/bola-itu-bundar-musik-itu-universal-www.apokalip.com.html</guid>
<link>http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/bola-itu-bundar-musik-itu-universal-www.apokalip.com.html</link>

<category>Resensi</category>
<category>Resensi Event</category>
</item><item>
<title>KONSER DIVA SATANIKA</title>
<description>
&lt;img style=&quot;MARGIN-BOTTOM: 10px; MARGIN-LEFT: 10px; MARGIN-RIGHT: 15px&quot; height=&quot;169&quot; alt=&quot;&quot; src=&quot;/webzine/aset/asetzine/asetgambar/resevent-ae-1.jpg&quot; width=&quot;175&quot; align=&quot;left&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;em&gt;Laporan pandangan mata selama setengah hari di tengah konser &lt;b&gt;Arch Enemy ; Asian Tour&lt;/b&gt; di Tennis Indoor Senayan Jakarta, 28 Oktober 2009. Kabar-kabar dari persiapan, sesi soundcheck dan jumpa pers, serta show-time yang dikumpulkan dan ditulis lugas oleh reporter Apokalip yang diterbangkan khusus di pertunjukan tersebut...&lt;br /&gt;
	&lt;br /&gt;
	&lt;/em&gt;Sore hari di Tennis Indoor Senayan tampak Arch Enemy sedang melakukan soundcheck. Sayang, soundcheck itu tertutup buat media. Dua jam berikutnya, giliran Psycroptic yang melakukan soundcheck selama 90 menit, dan dilanjutkan dengan jumpa pers. Psyroptic mengatakan, selain melakukan tour di tiga kota, mereka juga ingin kembali ke Indonesia tahun depan untuk melakukan konser. Mereka juga senang dengan sambutan masyarakat metal Indonesia, Band berjuluk 'Tazmanian Tech/Death Metal' ini juga tahu kalau di Indonesia terdapat komunitas metal yang tersebar luas serta punya band-band cadas yang bagus. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah itu, giliran Arch Enemy melakukan jumpa pers, Angela Gossow [vocal] yang tampaknya paling banyak mendapat sorotan dari wartawan. Seperti ketika Angela ditanya tentang perbedaan gender dan vegan. Dia mengaku tidak pernah merasa terdeskriminasi hidup di dunia musik metal. Bahkan ia merasa punya banyak kelebihan yang tidak didapatkan laki-laki di dunia metal, khususnya para vokalis pria. Angela dan personil lainnya memilih gaya hidup vegan dan bangga bisa lebih menghargai hak hidup binatang. Michael Ammot [gitar] lalu berharap konser nanti malam bisa menjadi salah satu konser terbaik Arch Enemy. Dia juga mengaku tidak pernah mempermasalahkan problema sosial politik yang terjadi di negara yang mereka kunjungi. At least, they're already to make a blast tonite!...</description>
<pubDate>Fri, 13 Nov 2009 00:14:23 +0700</pubDate>
<dc:creator>admin</dc:creator>
<guid isPermaLink="false">http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/konser-diva-satanika-www.apokalip.com.html</guid>
<link>http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/konser-diva-satanika-www.apokalip.com.html</link>

<category>Resensi</category>
<category>Resensi Event</category>
</item><item>
<title>AKSI TEROR HARDCORE</title>
<description>
&lt;img style=&quot;MARGIN-BOTTOM: 10px; MARGIN-LEFT: 10px; MARGIN-RIGHT: 15px&quot; height=&quot;169&quot; alt=&quot;&quot; src=&quot;/webzine/aset/asetzine/asetgambar/resevent-terror-1.jpg&quot; width=&quot;175&quot; align=&quot;left&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;em&gt;Secara khusus, Apokalip 'menerbangkan' dua hardcore kids kawakan dari kota Malang untuk merekam konser &lt;b&gt;Terror ;&lt;/b&gt; &lt;b&gt;Suffer To Return Harder Show &lt;/b&gt;di GSG Itenas Bandung, 01 Oktober 2009. Meskipun diselingi sedikit perjalanan kuliner, shopping serta wisata rock &amp;amp; roll, tapi akhirnya Giman dan Adon berhasil mendokumentasikan show tersebut secara tepat dan cepat. Yes, this is hardcore... &lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
	&lt;br /&gt;
	&lt;/em&gt;Tiba di venue GSG Itenas Bandung sekitar pukul 14.54, saya beserta juru foto Adon Saputra, dan kawan-kawan dari Bekasi memilih untuk duduk-duduk santai di sekitar lokasi acara. Baru sedikit hardcore kids yang nampak di lokasi acara, selebihnya adalah mahasiswa yang masih memiliki kegiatan di kampus. Seiring berjalannya waktu, sedikit demi sedikit areal venue dipenuhi oleh hardcore kids yang mulai berdatangan dari berbagai daerah. Sekitar pukul 16.30, terdengar pengumuman dari panitia yang mengatakan pintu gedung telah dibuka dan &lt;b&gt;Thinking Straight&lt;/b&gt; siap untuk membuka acara. Saat itu ternyata urusan perut lebih kami prioritaskan mengingat perut kami belum diisi makanan sedari siang. Kami pun memutuskan meninggalkan lokasi acara dan aksi Thinking Straight sejenak untuk mencari makanan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekembalinya kami kemudian, &lt;b&gt;Final Attack&lt;/b&gt; yang tampil di atas panggung. Dari pengamatan kami nampak aksi kedua band pembuka itu kurang mendapat perhatian dari para crowd. Sebagian besar dari mereka masih berada di luar gedung pertunjukan dan asyik dengan kelompoknya masing-masing. Usai Final Attack, ada jeda sejenak untuk break adzan maghrib. Pengamatan kami selanjutnya menyimpulkan bahwa acara dimulai tepat waktu dan diharapkan berakhir tepat waktu pula. Salut buat para panitia!...</description>
<pubDate>Fri, 13 Nov 2009 00:12:53 +0700</pubDate>
<dc:creator>admin</dc:creator>
<guid isPermaLink="false">http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/aksi-teror-hardcore-www.apokalip.com.html</guid>
<link>http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/aksi-teror-hardcore-www.apokalip.com.html</link>

<category>Resensi</category>
<category>Resensi Event</category>
</item><item>
<title>RITUS PERADABAN EKSPERIMENTAL</title>
<description>
&lt;img style=&quot;MARGIN-BOTTOM: 10px; MARGIN-LEFT: 10px; MARGIN-RIGHT: 15px&quot; height=&quot;169&quot; alt=&quot;&quot; src=&quot;/webzine/aset/asetzine/asetgambar/resevent-zoo-1.jpg&quot; width=&quot;175&quot; align=&quot;left&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;em&gt;Lama tak beredar, &lt;b&gt;Zoo&lt;/b&gt; malah melansir album seminal &quot;Trilogi Peradaban&quot;. Cukup lama semenjak album mini &quot;Kebun Binatang&quot; milik punggawa dari lini terdepan musik eksperimental, Zoo, dirilis. Akhirnya penantian panjang itu lunas terbayar dengan album prestisius &quot;Trilogi Peradaban&quot; yang rilis di bawah netlabel Yes No Wave Music. Dan ritus musikal malam itu adalah presentasi karya mereka kepada publik...&lt;br /&gt;
	&lt;br /&gt;
	&lt;/em&gt;Di pelataran depan terdapat sebuah stand sablon bagi pengunjung yang memiliki keterbatasan dana untuk membeli pernak-pernik Zoo. Dengan ongkos Rp.5000,- semua media berbasis kain dapat berhias logo album terbaru Zoo. Cukup banyak penonton yang melirik dan menggunakan jasa ini sembari menunggu pintu masuk dibuka di Kedai Kebun Jogja, 25 Juli 2009. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pukul 8.15 menit pintu masuk telah ditutup, pertanda sesi pertama pertunjukkan akan segera dimulai. Dedaunan yang sengaja dibawa oleh penonton sebagai tanda masuk disebar disekitar panggung. Sebelumnya MC Ican sempat membacakan harapan-harapan penonton yang tertulis pada dedaunan tersebut. Dan kabarnya dedaunan ini akan disimpan sebagai arsip Zoo untuk kepentingan visual album berikutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lampu temaram yang di-set sedemikian rupa menambah khusyuk prosesi musikal malam itu. Di bagian belakang panggung terdapat sebuah giant screen yang menampilkan film hitam putih tanpa narasi yang bertemakan peradaban manusia. Film ini merupakan hasil remix atas film &lt;i&gt;Baraka&lt;/i&gt;. Seperti yang dituliskan di brosur yang dibagikan gratis seminggu sebelum pertunjukan ini dimulai, pertunjukan ini memang dirancang supaya penonton tak hanya menonton penampilan Zoo tapi juga menikmati pemutaran film. Seolah-olah musik Zoo bertindak sebagai scoring film tersebut. Tak berapa lama Rully sang ujung tombak serangan menghampiri keyboard yang terletak di sudut kiri panggung, ia melafalkan sebuah intro yang mirip sebuah mantra sambil sesekali memainkan keyboard-nya. Ada atmosfir tertentu kala dia mengucapkan baris demi baris yang terangkai. Bhakti sang bassist dan dan Obet sang drummer lalu muncul untuk menggauli peralatan masing-masing. Sejurus kemudian mereka sudah berjibaku satu sama lain...</description>
<pubDate>Mon, 24 Aug 2009 22:35:04 +0700</pubDate>
<dc:creator>admin</dc:creator>
<guid isPermaLink="false">http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/ritus-peradaban-eksperimental-www.apokalip.com.html</guid>
<link>http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/ritus-peradaban-eksperimental-www.apokalip.com.html</link>

<category>Resensi</category>
<category>Resensi Event</category>
</item><item>
<title>DYSLEXIA ROCK PARTY</title>
<description>
&lt;img style=&quot;MARGIN-BOTTOM: 10px; MARGIN-LEFT: 10px; MARGIN-RIGHT: 15px&quot; height=&quot;169&quot; alt=&quot;&quot; src=&quot;/webzine/aset/asetzine/asetgambar/resevent-sigit-1.jpg&quot; width=&quot;175&quot; align=&quot;left&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;em&gt;&quot;If I could transport myself in time I would go back to 1969 and to Woodstock&quot; [Caroline Hwang]. Show kali ini memang tak bersinggungan sama sekali dengan Woodstock, namun semangat zaman itu tampaknya kembali terbawa dalam showcase bertajuk &lt;b&gt;The S.I.G.I.T - Hertz Dyslexia Launching Album Party&lt;/b&gt; di Liquid Caf&amp;eacute; Jogja [19/07]. High Definition Rock n Roll, begitu saya menyebut show kali ini, dan sebotol bir dingin telah siap ditangan untuk menyertai retorika rock &amp;amp; roll malam itu...&lt;br /&gt;
	&lt;br /&gt;
	&lt;/em&gt;Dingin terasa menusuk hingga tulang, padahal jam masih menunjuk angka tujuh. Di halaman depan tampak beberapa calon penonton tengah menunggu. Belum tampak adanya aktivitas dan hingar-bingar didalam venue, pertanda show masih jauh dari eksekusi. Saya menyempatkan untuk mengamati dari warung seberang jalan sembari menikmati segelas kopi. &quot;Suka The S.I.G.I.T juga mas?&quot; tanya salah seorang bakal penonton yang juga berada di warung. Yang setelah diusut ternyata berasal dari Jakarta dan sengaja datang bersama temannya. Kami belum sempat berkenalan namun ternyata dia mengaku fans berat The S.I.G.I.T yang terlewat show di Bandung Juni lalu. Saat itu band yang sempat tur keliling Aussie pada 2007 silam itu tengah melakukan wawancara dengan salah satu stasiun radio lokal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pukul 9 tepat, saya baru beranjak. &lt;b&gt;The Frankrover&lt;/b&gt; sudah beraksi di atas panggung menggeber nomor-nomor rock agresif ala Giant Step, Roxx, hingga God Bless dalam intensitas maksimal. Atribut panggung mereka pun menunjukkan gejala-gejala rock era 80-an. &quot;Karena acara ini didokumentasikan, saya ingin kalian menunjukkan apresiasi publik yang hangat dan supportive&quot; teriak sang MC dalam bahasa banyolan jawa. Penonton pun berteriak setuju. Kemudian seseorang dengan black leather jacket lengkap dengan headband dan sunglasses muncul bersama gitarnya. Tak lain dan tak bukan &lt;b&gt;Jenny&lt;/b&gt; telah siap memberi siraman rohani rock. Farid Stevyasta yang juga seorang seniman muda potensial tak henti-hentinya merokok. &quot;Apakah kami sudah layak untuk mendampingi The S.I.G.I.T?&quot; tanyanya. &quot;Apakah kami sudah layak didengarkan oleh penonton sebanyak ini?&quot; teriaknya lagi. Kemudian nomor &lt;i&gt;Manifesto&lt;/i&gt; diforsir hingga titik didih maksimum. Aransemen mereka sangat tertata apik dan seimbang, dari &quot;lembut&quot; hingga &quot;raw power&quot; semuanya tertempa secara seksama. Penonton yang ternyata datang dari berbagai daerah meliputi Solo, Surabaya, dan daerah sekitar turut hanyut dalam prosesi ritual itu. Mereka ternyata fans berat Jenny, yang hafal semua lagu Jenny di luar kepala...</description>
<pubDate>Mon, 24 Aug 2009 22:33:58 +0700</pubDate>
<dc:creator>admin</dc:creator>
<guid isPermaLink="false">http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/dyslexia-rock-party-www.apokalip.com.html</guid>
<link>http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/dyslexia-rock-party-www.apokalip.com.html</link>

<category>Resensi</category>
<category>Resensi Event</category>
</item><item>
<title>PROTEST SONG, PROTES YANG MANA?!</title>
<description>
&lt;img style=&quot;MARGIN-BOTTOM: 10px; MARGIN-LEFT: 10px; MARGIN-RIGHT: 15px&quot; height=&quot;169&quot; alt=&quot;&quot; src=&quot;/webzine/aset/asetzine/asetgambar/resevent-SUAF-1.jpg&quot; width=&quot;175&quot; align=&quot;left&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;em&gt;Mengutip tema acara &lt;b&gt;Social Urban Art Festival&lt;/b&gt; yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Sosiologi Fisip UI, &quot;With Art, We Act&quot;, maka setiap dari kita adalah anggota milisi. Milisi bersenjata palet visual, komposisi notasi serta guratan tangan bernama karikatur. Sekarang tinggal anda pilih, jalan apa yang anda tempuh memanggul kamera atau menyandang gitar atau sebaliknya mengolok-olok orang lain [termasuk anda sendiri ketika anda mengambil jarak dengan diri sendiri] dengan sebuah karikatur. Eh tapi, tak perlu serta merta anda menjadi pelaku aktif seni urban, yang jelas acara yang digelar di kisaran kampus Fisip UI [20-23 April 2009] ini menunjukkan bahwa seni sudah didemistifikasi; seni milik semua...&lt;br /&gt;
	&lt;br /&gt;
	&lt;/em&gt;Musik, salah satu media protes paling umum, diangkat di hari ketiga festival tersebut, 22 April 2009. Dengan pembicara Denny Sakrie dan Cholil ERK yang terkenal itu, maka talkshow serta merta mengulik bagaimana nada dan lirik bisa dieksploitasi menjadi corong kritik sosial yang ampuh. Dibawah arahan Wendi Putranto [wartawan Rolling Stone Indonesia, manajer sebuah grup indie terkenal, serta salah satu 'bintang' dalam &lt;i&gt;Global Metal&lt;/i&gt;], kedua pembicara diajak menyuguhkan cara bagaimana musik bisa dimanfaatkan untuk mengusung atau menyelipkan protes.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Talkshow dimulai oleh Cholil yang secara singkat membeberkan bagaimana grupnya berkembang dari zero menuju hero. Dalam paparan mengenai bagaimana Efek Rumah Kaca menuju kedigjayaannya sekarang, Cholil membeberkan bahwa membuat sebuah lagu yang kritis adalah mencari perpaduan yang pas antara komposisi apik yang menarik dan lirik yang kuat. Walhasil pesan yang tersisip pada lirik akan mudah dicerna. Jadi bisa disimpulkan dari pernyataan Cholil, lagu protes yang efektif adalah lagu dengan komposisi yang berterima, mudah dicerna dan, jangan lupa, menarik. Intinya, usahlah berharap protes bisa didengar kalau media yang ditumpangi lirik saja tidak menarik. Setidaknya begitulah tutur Cholil...</description>
<pubDate>Mon, 24 Aug 2009 22:32:20 +0700</pubDate>
<dc:creator>admin</dc:creator>
<guid isPermaLink="false">http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/protest-song-protes-yang-mana-www.apokalip.com.html</guid>
<link>http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/protest-song-protes-yang-mana-www.apokalip.com.html</link>

<category>Resensi</category>
<category>Resensi Event</category>
</item><item>
<title>KAMAR GELAP DI JOGJA</title>
<description>
&lt;img style=&quot;MARGIN-BOTTOM: 10px; MARGIN-LEFT: 10px; MARGIN-RIGHT: 15px&quot; height=&quot;169&quot; alt=&quot;&quot; src=&quot;/webzine/aset/asetzine/asetgambar/resevent-efekrumahkaca-jogja-1.jpg&quot; width=&quot;175&quot; align=&quot;left&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;em&gt;Di salah satu sudut kota Yogyakarta bertempat di Lembaga Indonesia Perancis (LIP). Malam itu, 28 Mei, &lt;b&gt;Efek Rumah Kaca&lt;/b&gt; menggelar press conference mereka. Trio Cholil, Adrian, dan Akbar datang dan berhadapan dengan para pemburu berita dari beberapa media-media terpilih dan beberapa wakil dari berbagai forum. Mereka bertutur tentang kolektif kecil bernama Efek Rumah Kaca yang mereka bentuk, juga tentang konsep, esensi, mimpi, harapan, dan cara pandang mereka terhadap kehidupan yang tertuang dalam lagu-lagu mereka. Sopan dan lirih bergantian mereka menjawab semua pertanyaan yang terlontar - yang kemudian ruang kecil itu menjadi saksi penampilan Efek Rumah Kaca menggeber beberapa lagu dalam format akustik yang apik. &lt;br /&gt;
	&lt;br /&gt;
	&lt;/em&gt;Terhitung empat lagu yang dibawakan mereka malam itu, &lt;i&gt;Kamar Gelap&lt;/i&gt; diusung menjadi lagu pembuka yang disusul &lt;i&gt;Balerina&lt;/i&gt;, diteruskan &lt;i&gt;Di Udara&lt;/i&gt; yang sudah di-request sejak awal mereka mulai memegang instrumen, dan diakhiri &lt;i&gt;Hujan Jangan Marah&lt;/i&gt;. Empat lagu yang sudah cukup untuk membius tiap orang yang hadir malam itu. Format akustik yang elegan dan sederhana disajikan menjadi ancang-ancang untuk penampilan total mereka esok hari. Empat lagu yang meninggalkan kesan elok. Saya menyimpan harapan optimis untuk mendapatkan sebuah pertunjukan menarik besok malam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Amphitheater Taman Budaya Yogyakarta (TBY), merupakan salah satu ruang berkesenian berskala dominan untuk pertunjukan seni semacam monolog, poetry reading, teater, drama, hingga wayang. Venue yang menyimpan kesan epikal tinggi ini dipilih untuk menjadi saksi dari pertunjukan Efek Rumah Kaca dalam rangkaian tour promo album baru mereka. Tim gabungan dari Kongsi Jahat Syndicate, Teater Garasi, Kebonsoewoeng Studio, Ruang Laba, dan Starcross yang dipecah dalam beberapa divisi menyulap ruangan tersebut menjadi venue musikal handal yang apik...</description>
<pubDate>Thu, 18 Jun 2009 02:21:58 +0700</pubDate>
<dc:creator>admin</dc:creator>
<guid isPermaLink="false">http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/kamar-gelap-di-jogja-2-www.apokalip.com.html</guid>
<link>http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/kamar-gelap-di-jogja-2-www.apokalip.com.html</link>

<category>Resensi</category>
<category>Resensi Event</category>
</item><item>
<title>A Tale of Two Gigs[1]</title>
<description>
&lt;img style=&quot;MARGIN-BOTTOM: 10px; MARGIN-LEFT: 10px; MARGIN-RIGHT: 15px&quot; height=&quot;169&quot; alt=&quot;&quot; src=&quot;/webzine/aset/asetzine/asetgambar/resevent-2tales-1.jpg&quot; width=&quot;175&quot; align=&quot;left&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;em&gt;Boleh percaya atau tidak: Tuhan tersenyum beberapa waktu lalu. Tanyalah mereka yang menggemari musik metal dan hardcore. Sebagian sudah pasti mengangguk setuju. Mereka, tentunya yang mengangguk, pasti menyebutkan &lt;b&gt;Malevolent Creation&lt;/b&gt; dan &lt;b&gt;Misery Signals&lt;/b&gt; sebagai karunia yang dilimpahkan Tuhan dalam satu minggu yang sama - setelah didahului sebuah karunia bernama Lamb of God beberapa minggu sebelumnya. Sebagian lagi, terutama yang tidak begitu percaya bahwa ada entitas bernama Tuhan, bisa jadi hanya mempercayai keduanya bisa manggung di Jakarta semata karena paduan tepat beberapa variabel seperti ; promotor yang beruntung, jadwal yang pas, serta Jakarta yang tidak banjir. Namun, kemana pun anda bertanya tulisan ini menunjukkan keduanya tak peduli akan semua kemungkinan tersebut. Yang penting; mereka datang, mereka senang, mereka lemas, mereka pengang dan mereka pun pulang. Soal ada Tuhan yang baik atau tidak itu nomor 23!...&lt;br /&gt;
	&lt;br /&gt;
	&lt;/em&gt;&lt;b&gt;Chapter I : Malevolent Creation @ Viky Sianipar Music Hall Jkt [23/03]&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Mbak, sepuluh tiket ya?&quot; tukas lelaki berambut gondrong di depan tiket box. Ada perbedaan mencolok dalam raut muka mereka berdua. Yang bertanya terlihat berapi-api ingin segera dilayani sedangkan yang ditanya mulai panik melihat pasukan hitam yang mengerubunginya. Syahdan, dipikirnya dia adalah Abimanyu di tengah kurungan pasukan Kurawa. Namun, jelas keduanya sama-sama tak sabar ; yang satu ingin segera bertemu pahlawannya, yang satu lagi tak sabar menunggu kerjaan kelar dan dompet mekar...</description>
<pubDate>Mon, 08 Jun 2009 22:00:38 +0700</pubDate>
<dc:creator>admin</dc:creator>
<guid isPermaLink="false">http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/a-tale-of-two-gigs-1-www.apokalip.com.html</guid>
<link>http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/a-tale-of-two-gigs-1-www.apokalip.com.html</link>

<category>Resensi</category>
<category>Resensi Event</category>
</item><item>
<title>RITUAL PARA PEMUJA KOTA</title>
<description>
&lt;img style=&quot;MARGIN-BOTTOM: 10px; MARGIN-LEFT: 10px; MARGIN-RIGHT: 15px&quot; height=&quot;169&quot; alt=&quot;&quot; src=&quot;/webzine/aset/asetzine/asetgambar/resevent-tmamlg-1.jpg&quot; width=&quot;175&quot; align=&quot;left&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;em&gt;Sebuah event tribut untuk kota tercinta lewat suatu event sederhana, ajang silahturahmi, sekaligus untuk memperingati dirgahayu kota Malang. Kalimat itu terbaca pada press release &lt;b&gt;Malang Tak Henti Berdiri&lt;/b&gt; yang digelar di Coffee Time, 26 April 2009. Sebuah gigs primordial yang secara komprehensif bisa sangat menggambarkan kondisi scene musik kota Malang jika kita melihat pada potensi band, talenta bermusik, ragam genre, antusiasme fans, maupun keakraban para sahabat. Tetapi hari itu juga terpaksa harus merujuk pada masalah budaya penonton tanpa tiket, pesta alkohol, atau pertarungan di dalam venue. Yah, rasanya semua hal di hari itu tiba-tiba menjadi sangat 'Malang' banget... &lt;br /&gt;
	&lt;br /&gt;
	&lt;/em&gt;Ketika saya memasuki venue, &lt;b&gt;Lolyta and The Disgusting Trouble&lt;/b&gt; sedang bersiap. Vokalis Limbang duduk sendirian di atas kursi lipat dikawal oleh seorang gitaris dan seorang pemain bass. Tapi anehnya, di balik set drum terlihat kosong tanpa penghuni. &quot;Maaf, kali ini kami main bertiga. Soalnya drummer kami tidak bisa datang karena ada acara keluarga,&quot; jelas Limbang dengan mimik muka lucu seperti sedang meminta ijin kepada dosennya. Namun lagu seperti &lt;i&gt;Wake Up From My Sins&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;Black Lights&lt;/i&gt; masih terdengar penuh gejolak meski tanpa iringan beat drum. Berbekal segala macam pengalaman live show, band ini semakin menarik untuk ditonton. Dan saya sedang menunggu puncak performa mereka di kemudian hari...</description>
<pubDate>Mon, 04 May 2009 20:20:47 +0700</pubDate>
<dc:creator>admin</dc:creator>
<guid isPermaLink="false">http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/ritual-para-pemuja-kota-www.apokalip.com.html</guid>
<link>http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/ritual-para-pemuja-kota-www.apokalip.com.html</link>

<category>Resensi</category>
<category>Resensi Event</category>
</item><item>
<title>KONSER MENUJU RUANG HAMPA</title>
<description>
&lt;img style=&quot;MARGIN-BOTTOM: 10px; MARGIN-LEFT: 10px; MARGIN-RIGHT: 15px&quot; height=&quot;169&quot; alt=&quot;&quot; src=&quot;/webzine/aset/asetzine/asetgambar/resevent-erk-1.jpg&quot; width=&quot;175&quot; align=&quot;left&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;em&gt;Penampilan epik dari &lt;b&gt;Efek Rumah Kaca&lt;/b&gt; dalam sebuah showcase di MIG Pool and Caf&amp;eacute; Malang, 22 Maret 2009. Jika selama ini saya [dan anda?!] hanya tahu bahwa mereka adalah band bagus lewat album dan review di media, maka itu mungkin masih setengahnya. Jangan terlalu percaya media, sebaiknya anda tonton dengan mata kepala sendiri. Sebab malam itu saya telah mendapatkan semuanya - musik, sound dan live performance - untuk tetap melanggengkan puja-puji kepada band ini... &lt;br /&gt;
	&lt;br /&gt;
	&lt;/em&gt;Sebagai pembuka, &lt;b&gt;Screaming Factor&lt;/b&gt; tampil cukup agresif. Selepas intro langsung disambung dengan nomor &lt;i&gt;Welcome Pieces&lt;/i&gt;. Penonton merangsek ke depan dan memunculkan aura moshpit yang sebenarnya. Tampaknya respon itu bikin Novi dkk makin bersemangat. Sang vokalis juga menumpahkan kekecewaan akibat pembatalan konser Malevolent Creation di Surabaya, sehari sebelumnya. Selanjutnya sebuah lagu baru, &lt;i&gt;Interupeksi&lt;/i&gt;, ikut diperkenalkan sore itu. Komposisi musik yang cukup menggoda - terdengar agak thrashing dan anthemik. Duo gitaris, Udin dan Yoyok, melepaskan riff-riff gahar yang menantang. Lagu ini memang termasuk upbeat, catchy dan straight-to-the-point dibandingkan lagu-lagu SF lainnya. Track yang cocok untuk konsumsi live show dan bisa menjamin histeria crowd. &lt;i&gt;Eyeless Crown&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;End of The Beginning&lt;/i&gt; menyusul kemudian di akhir setlist mereka. Performa yang singkat, namun cukup membayar kerinduan para fans yang lama tidak menonton SF di atas panggung...</description>
<pubDate>Mon, 04 May 2009 20:19:11 +0700</pubDate>
<dc:creator>admin</dc:creator>
<guid isPermaLink="false">http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/konser-menuju-ruang-hampa-www.apokalip.com.html</guid>
<link>http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/konser-menuju-ruang-hampa-www.apokalip.com.html</link>

<category>Resensi</category>
<category>Resensi Event</category>
</item><item>
<title>PENTAS AMARAH PARA GEMBALA METAL</title>
<description>
&lt;img style=&quot;MARGIN-BOTTOM: 10px; MARGIN-LEFT: 10px; MARGIN-RIGHT: 15px&quot; height=&quot;169&quot; alt=&quot;&quot; src=&quot;/webzine/aset/asetzine/asetgambar/resevent-log-1.jpg&quot; width=&quot;175&quot; align=&quot;left&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;em&gt;Sebuah laporan pandangan mata dari konser &lt;b&gt;Lamb of God ; Wrath Tour 2009 &lt;/b&gt;di Tennis Outdoor Senayan Jakarta, 09 Maret 2009. Di antara penantian anak metal kekinian, godaan rintik hujan, komentar tiket mahal, dan soundsystem yang gagah. Hasilnya adalah pertunjukan musik cadas yang terorganisir dengan rapi, adrenalin massa yang memuncak, serta khotbah penuh amarah dari para penggembala metal asal negeri paman sam!... &lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
	&lt;br /&gt;
	&lt;/em&gt;Kami tiba di venue sekitar pukul 20.00. Hujan masih mengguyur wilayah Senayan saat local heroes, &lt;b&gt;Dead Squad&lt;/b&gt;, prepare on stage. Sepuluh menit kemudian, Stevie Item memimpin gerombolan all-star death metal ibu kota [or just all-star jamming group?!] menggebrak Tennis Outdoor. Respon penonton masih adem ayem. Mungkin karena gerimis yang masih turun. Kesempatan ini juga dipakai oleh Dead Squad untuk me-launching album barunya, &lt;i&gt;Horror Vision&lt;/i&gt;, yang berisi delapan track technical death metal dalam format CD. Back on stage, lima lagu mereka bawakan plus satu cover version, &lt;i&gt;Arise&lt;/i&gt;-nya sepultura yang memompa adrenalin penonton dalam kedinginan. Pukul 20.35 Dead Squad menyelesaikan tugasnya sebagai opening act dengan lagu dari album &lt;i&gt;Horror Vision &lt;/i&gt;yang sedikit bernuansa teknikal ala Siksa Kubur. Crowd mulai responsif dan banyak aplaus untuk Dead Squad.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semoga sukses penjualan CD-nya di tengah menjamurnya konten musik digital secara gratis!... &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pukul 20.40, cuaca tampak mulai bersahabat. Gerimis mulai berkurang. On stage, all the crews preparing for the real wrath!... Gerombolan hitam-hitam masih terus memenuhi Tennis Outdoor Senayan. Ada beberapa teman lama yang menyapa kami dengan ramah, seperti Arian13, Ebenz BK, Nino Trauma, Dony Iblis, hingga Age Grindcorner. Panggung masih kosong lumayan lama, crew LoG masih sibuk dengan sound gitar, bass dan drum. Seorang kru dengan cueknya bergaya ala Randy tampak coba membangkitkan gairah malam itu...</description>
<pubDate>Tue, 21 Apr 2009 21:07:17 +0700</pubDate>
<dc:creator>admin</dc:creator>
<guid isPermaLink="false">http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/pentas-amarah-para-gembala-metal-www.apokalip.com.html</guid>
<link>http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/pentas-amarah-para-gembala-metal-www.apokalip.com.html</link>

<category>Resensi</category>
<category>Resensi Event</category>
</item><item>
<title>SOUTHERN MEGAMETAL DEVILHANDSIGN</title>
<description>
&lt;img style=&quot;MARGIN-BOTTOM: 10px; MARGIN-LEFT: 10px; MARGIN-RIGHT: 15px&quot; height=&quot;169&quot; alt=&quot;&quot; src=&quot;/webzine/aset/asetzine/asetgambar/resevent-log-a.jpg&quot; width=&quot;175&quot; align=&quot;left&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;em&gt;Saya sebenarnya tidak terlalu mendengarkan musik metal yang dimainkan oleh &lt;b&gt;Lamb Of God [LOG], &lt;/b&gt;hanya tahu beberapa lagu 'hits' mereka, and that's it. Saya hanya sering curious karena vokalis mereka, Randy Blythe, selalu mengenakan t-shirt band yang juga saya sukai, seperti Eyehategod, Goatwhore, dan lainnya. Tapi menyaksikan mereka semalam [09/03] di Tennis Outdoor Senayan Jakarta, membuktikan kalau LOG memang layak mendapat tempat di jajaran atas band-band metal mainstream terkini... &lt;br /&gt;
	&lt;br /&gt;
	&lt;/em&gt;Apa yang ditawarkan oleh LOG malam tersebut adalah tightness dan bagi saya pribadi, adalah performa Randy yang prima. Ya, performa mereka sangat rapi dan presisi. Sementara Randy memukau crowd dengan growl, scream, dan screech-nya. Sepertinya didikan pelatih vokal Melissa Cross memang sangat berhasil dan menjadikannya berkualitas prima. Mereka memang tidak memiliki lick-lick gitar yang memorable, tapi satu kesatuan performa mereka benar-benar memukau, terlebih juga crowd lokal sangat antusias menyambut lagu demi lagu yang dimainkan. Walaupun awalnya hujan dan venue menjadi sangat basah, tapi tidak ada yang peduli. Well, ada beberapa metalheads berpayung, absurd. Dudes, this ain't Java Jazz or any other pop shit. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Dead Squad &lt;/b&gt;membuka konser dengan musik death metal teknikal-nya. Great performance tapi sepertinya vokalis Daniel sedikit kehabisan power di tengah set sampai ke akhir. Band 'supergroup' lokal ini kini diisi oleh Boni [bass, eks-Tengkorak, Trauma], Tepi [gitar, Dewa], Andyan [drums, eks-Siksa Kubur], Coki [gitar, Netral], dan Daniel [vokal]. Untuk Tepi dan Coki, saya rasa ini adalah output metal mereka kalau mungkin di band-band aslinya mereka bisa mencari pemasukan finansial. Metal is cool, but probably there's not much money in it here. Malam ini juga sekaligus launching debut mini album Dead Squad yang dijual di venue...</description>
<pubDate>Tue, 21 Apr 2009 21:05:59 +0700</pubDate>
<dc:creator>admin</dc:creator>
<guid isPermaLink="false">http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/southern-megametal-devilhandsign-www.apokalip.com.html</guid>
<link>http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/southern-megametal-devilhandsign-www.apokalip.com.html</link>

<category>Resensi</category>
<category>Resensi Event</category>
</item>
</channel>
</rss>