<?xml version="1.0" encoding="iso-8859-1" ?>
<rss version="2.0"
xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
>
<channel>

<title>www.apokalip.com</title>
<link>http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/index.php</link>
<description>www.apokalip.com</description>
<language>id</language>
<generator>Apokalip 1.1.1</generator>

<item>
<title>SIGH ; Scenes From Hell</title>
<description>
&lt;img style=&quot;MARGIN-BOTTOM: 10px; MARGIN-LEFT: 10px; MARGIN-RIGHT: 15px&quot; height=&quot;169&quot; alt=&quot;&quot; src=&quot;/webzine/aset/asetzine/asetgambar/resmusik-sigh.jpg&quot; width=&quot;175&quot; align=&quot;left&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;strong&gt;SIGH&lt;br /&gt;
	Scenes From Hell&lt;br /&gt;
	The End Record&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

&lt;img height=&quot;11&quot; alt=&quot;&quot; src=&quot;/webzine/aset/asetzine/asetgambar/rating-4.gif&quot; width=&quot;79&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Anda seorang Japan-freak? Apa? Jawaban anda adalah &quot;Ya&quot;? Alhamdulillah, karena review ini akan segera menyadarkan betapa usaha anda untuk menyipitkan mata, berdandan mati-matian dan membentuk band dengan vokalis yang bernyanyi sesengau mungkin itu percuma saja. Percayalah, anda sebaiknya segera mengepak impian untuk menjadi impersonator Hyde nomor 109. Kemasi semua impian anda untuk menjadi manusia se-jepang-jepang-nya, karena ketika anda berusaha menjadi mereka, saudara tua kita justru mati-matian menjadi 'londo'&lt;i&gt;.&lt;/i&gt; Akh, anda mau bukti? Dengar saja &lt;i&gt;Scenes From Hell&lt;/i&gt;, rilisan terbaru Sigh melalui label The End Record. Rilisan ini malah makin menunjukkan Sigh tak malu lagi menyodorkan kekaguman akan budaya Eropa dalam bentuk album. Memang, bukan pertama kali ini memang, karena sebelumnya &lt;i&gt;Hangman's Hymn&lt;/i&gt; telah terlebih dahulu menyuguhkan senyawa thrash yang dipadu dengan gempita simfonik metal. Tapi, &lt;i&gt;Scenes From Hell&lt;/i&gt; menawarkan apa yang sebelumnya hanya jadi mimpi basah sekelompok orang ini. Mimpi basah itu bernama 'simfoni organik'? Mirai dan gerombolan dengan baik hati memutuskan untuk tidak membohongi gendang telinga kita. Dengan tulus mereka membawa sekelompok pemain brass section untuk mengguratkan nuansa simfonis yang, kali ini, benar-benar nyata. Keyboard yang dulu bertanggung jawab untuk membohongi kuping kita, kini lebih didorong ke belakang menjadi pemain latar. Pemain utamanya? Tentu saja sekumpulan terompet yang berkorporasi membentuk bebunyian simfonik bernada Eropa yang menimpali line guitar yang bertendensi thrash. Perhatian sebelum anda melanjutkan, harap ingat kembali ini review album Sigh, bukan Dimmu Borgir atau sejenisnya, jadi jangan harap menemukan sekelompok brass section yang dibayar hanya untuk menjadi musik pengiring komposisi black metal yang hendak terdengar megah. Brass section dalam &lt;i&gt;Scenes From Hell&lt;/i&gt; memang lincah; yup, lincah dalam komposisi yang cepat juga lincah melintas genre. Mungkin lebih susah memilah percampuran genre dalam album ini. Namun jelas kentara bahwa brass section dalam album ini menggurat komposisi klasik, folk bahkan sirkus. Tak pelak &lt;i&gt;Scenes From Hell&lt;/i&gt; terdengar laksana rilisan Cradle Of Filth tanpa Dani Filth, plus nuansa sirkus yang dicampur dengan sedikit nuansa Unexpect. Unik?! Akh, tapi unik memang adjektif yang akrab dengan Sigh. Ada masanya Sigh lebih mirip varian black metal ala Mr Bungle. Sejujurnya, saya mengharap Mirai dkk masih mau kembali bernostalgia ke masa pra &lt;i&gt;Hangman's Hymn&lt;/i&gt;, ketika black metal dicampur dengan apapun yang dikehendaki Mirai. Kini ekletisme, yang kerap saya cari dari band Jepang yang tidak memainkan J-rock [yeah, I hate this term!] itu telah direduksi oleh semangat '45 untuk menjadi 'londo' seutuhnya, dan &lt;i&gt;Scenes From Hell&lt;/i&gt; adalah kabar buruk bagi saya. &lt;i&gt;Scenes From Hell&lt;/i&gt; sepenuhnya kabar buruk? Well, itu jika anda hanya mengenal Sigh sampai album &lt;i&gt;Gallows Gallery&lt;/i&gt;. Selebihnya, jika anda penyuka black metal yang keluar dari pakem; album ini patut disimak sebagai pemanasan di awal tahun. Lebih hebat lagi jika anda seorang Japan-freak. Album ini adalah pencerahan karena bisa menyadarkan anda bahwa menjadi Nippon itu sama saja menjadi orang Bali yang bernama Ketut dan Wayan, misalnya. Kenapa?! Karena orang Jepang toh bermimpi&lt;i&gt; &lt;/i&gt;jadi orang Eropa, dan jangan lupa, bule Eropa suka cewek Bali!... &lt;b&gt;[innerciatic manneken]&lt;/b&gt;</description>
<pubDate>Thu, 25 Feb 2010 00:50:39 +0700</pubDate>
<dc:creator>admin</dc:creator>
<guid isPermaLink="false">http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/sigh-scenes-from-hell-www.apokalip.com.html</guid>
<link>http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/sigh-scenes-from-hell-www.apokalip.com.html</link>

<category>Resensi</category>
<category>Resensi Musik</category>
</item><item>
<title>MAN MUST DIE ; No Tolerance For Imperfection</title>
<description>
&lt;img style=&quot;MARGIN-BOTTOM: 10px; MARGIN-LEFT: 10px; MARGIN-RIGHT: 15px&quot; height=&quot;169&quot; alt=&quot;&quot; src=&quot;/webzine/aset/asetzine/asetgambar/resmusik-manmust.jpg&quot; width=&quot;175&quot; align=&quot;left&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;strong&gt;MAN MUST DIE&lt;br /&gt;
	No Tolerance For Imperfection&lt;br /&gt;
	Relapse Records&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

&lt;img height=&quot;11&quot; alt=&quot;&quot; src=&quot;/webzine/aset/asetzine/asetgambar/rating-4.gif&quot; width=&quot;79&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Daratan Skotlandia melahirkan barisan orang-orang pemberani dengan bendera hitam provokatif yang bertuliskan Man Must Die [MMD]. Seolah-olah jiwa 'Braveheart' sudah mengakar kuat di benak masing-masing personil band asal Glasgow ini. &lt;i&gt;No Tolerance For Imperfection&lt;/i&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;adalah album ketiga, dan rasanya lebih berkembang daripada rilisan mereka sebelumnya. Setidaknya secara komposisi musik dan sound terdengar makin kaya serta menantang. Jarang-jarang bisa kita dapati band death metal dari tanah Britania Raya, dan MMD justru 'nglunjak' pamer memainkan berbagai dimensi progresi serta sentuhan teknikal di sana-sini. Death metal?! Ups sebentar, sebenarnya band ini mengaku lebih kepada 'grindcore ethic' daripada terlibat di ranah 'death metal' seperti yang dikatakan media. Itu bisa dilihat dari lirik-lirik mereka yang banyak mengusung tema sosial-politik - topic grindcore dalam level advanced lah. Label kesohor Relapse Records tampaknya jeli melihat potensi band-band pengusung musik hyper-aggressive seperti layaknya MMD ini. Hingga akhirnya mereka menjadi band British pertama yang tergabung dalam Relapse Records. Secara musikal, bukan hal yang baru juga sebenarnya ; riff yang meliuk-liuk, melodi pemanis di tengah lagu, vokal menyalak, dan atmosfir sound yang apokaliptik. &lt;i&gt;Gainsayer&lt;/i&gt; seperti tipikal lagu cepat yang akan digemari fans death/grind modern. Tetap brutal, namun punya harmonisasi di sektor gitar. &lt;i&gt;Kill It Skin It Wear it&lt;/i&gt; semakin menguliti tehnik bermusik Joe McGlynn dkk dalam kapasitas amarah dan dendam yang musti dilampiaskan. Nomor pendek berjudul &lt;i&gt;Survival of The Sickest&lt;/i&gt; terdengar megah dengan melodi panjang dan marching drum yang gagah. Di sejumlah stok lagunya, MMD seakan bisa melahap permainan Origin, Necrophagist, atau bahkan Brutal Truth dan Converge. Track favorit saya adalah &lt;i&gt;It Comes In Threes&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;Reflections From Within&lt;/i&gt;. Dua track yang keras, matang, dan terus menancap di kepala! Rasanya saya harus menyetel kembali film &lt;i&gt;Braveheart &lt;/i&gt;berbarengan dengan album ini, karena siapa tahu William Wallace yang dilakoni oleh Mel Gibson bisa bertindak makin kalap dan beringas, hingga menambah lebih banyak daging yang tercabik serta darah yang berceceran... &lt;b&gt;[smck]&lt;/b&gt;</description>
<pubDate>Thu, 25 Feb 2010 00:49:15 +0700</pubDate>
<dc:creator>admin</dc:creator>
<guid isPermaLink="false">http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/man-must-die-no-tolerance-for-imperfection-www.apokalip.com.html</guid>
<link>http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/man-must-die-no-tolerance-for-imperfection-www.apokalip.com.html</link>

<category>Resensi</category>
<category>Resensi Musik</category>
</item><item>
<title>DINNING OUT ; Menghempas Lelah</title>
<description>
&lt;img style=&quot;MARGIN-BOTTOM: 10px; MARGIN-LEFT: 10px; MARGIN-RIGHT: 15px&quot; height=&quot;169&quot; alt=&quot;&quot; src=&quot;/webzine/aset/asetzine/asetgambar/resmusik-dinningout.jpg&quot; width=&quot;175&quot; align=&quot;left&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;strong&gt;DINNING OUT&lt;br /&gt;
	Menghempas Lelah&lt;br /&gt;
	Absolute Records&lt;br /&gt;
	&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;

&lt;img height=&quot;11&quot; alt=&quot;&quot; src=&quot;/webzine/aset/asetzine/asetgambar/rating-4.gif&quot; width=&quot;79&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah hasil karya dari band yang sudah cukup lama malang melintang di dunia underground Bandung Raya, khususnya scene Ujungberung. Band ini dulu sempat mengisi kompilasi &lt;i&gt;Ujungberung Rebel&lt;/i&gt; di tahun 1998 bersama dengan kompatriot-nya seperti Jasad, Forgotten, Restless dan lainnya. Dinning Out didirikan pada tahun 1997 dengan tanpa makna arti kata yang khusus oleh Adan Gimbal dkk. Sepanjang perjalanannya, band ini mengalami pasang surut dengan banyak pergantian personel. Tercatat ada personel wanita di band ini yang mengisi album pertama di tahun 2002 bertajuk &lt;i&gt;Sendiri&lt;/i&gt; yang dirils oleh Napi Record dan True Lies Record. Namun hingga kini Dinning Out masih mempertahankan konsep musik metal yang ringan dan mudah dicerna bagi orang awam. Hal ini direfleksikan oleh lagu &lt;i&gt;Cinta&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;Nyata&lt;/i&gt; di album ini. Masuknya Akew sebagai gitaris di album ini, membantu Adan dalam berkreasi memainkan riff-riff gitar yang cukup melodius dan harmonik, sehingga warna riff gitar khas musik Beside akhirnya muncul di lagu &lt;i&gt;Hopeless&lt;/i&gt;, sebuah lagu yang tergolong bertempo sedang. Album metal yang 'manis' ini dikemas dengan musik yang bertempo 'sedang-sedang saja' dengan tingkat distorsi sound gitar yang digunakan masih dalam level 'ringan'. Olah vokal dari sang vokalis Andri juga memegang peranan penting untuk menyampaikan pesan dan lirik yang dibuat oleh Adan, leader dari band ini. Vokal yang parau dan serak khas thrash metal namun jelas dalam pelafalan kata-kata menjadi nilai plus tersendiri. Sementara gebugan drum Gebeg mengisi tempo dan ketukan lagu di album ini secara pas, tak ada sesuatu yang berlebihan, sehingga album ini bisa dinikmati dengan baik. Secara keseluruhan album ini merupakan album yang baik dan saya rekomendasikan bagi para pendengar dan pecinta musik rock/metal di tanah air. Namun saying, thank list-nya terlalu banyak sehingga memenuhi lebih dari separuh lay-out sampul album ini. Produksi album ini dikemas berbentuk digipak dan dipasarkan dengan jalur distribusi bawah tanah dengan harga cukup terjangkau bagi para penggemar musik rock/metal nusantara... &lt;b&gt;[AbahSupri]&lt;/b&gt;</description>
<pubDate>Thu, 25 Feb 2010 00:47:27 +0700</pubDate>
<dc:creator>admin</dc:creator>
<guid isPermaLink="false">http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/dinning-out-menghempas-lelah-www.apokalip.com.html</guid>
<link>http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/dinning-out-menghempas-lelah-www.apokalip.com.html</link>

<category>Resensi</category>
<category>Resensi Musik</category>
</item><item>
<title>RISKY SUMMERBEE and THE HONEYTHIEF ; The Place I Wanna Go</title>
<description>
&lt;img style=&quot;MARGIN-BOTTOM: 10px; MARGIN-LEFT: 10px; MARGIN-RIGHT: 15px&quot; height=&quot;169&quot; alt=&quot;&quot; src=&quot;/webzine/aset/asetzine/asetgambar/resmusik-risky.jpg&quot; width=&quot;175&quot; align=&quot;left&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;strong&gt;RISKY SUMMERBEE &amp;amp; THE HONEYTHIEF&lt;br /&gt;
	The Place I Wanna Go&lt;br /&gt;
	RSTHT&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

&lt;img height=&quot;11&quot; alt=&quot;&quot; src=&quot;/webzine/aset/asetzine/asetgambar/rating-5.gif&quot; width=&quot;79&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suasana kamar tiba-tiba mendadak nyaman dan menenangkan saat Risky Summerbee &amp;amp; The Honeythief mulai melantunkan &lt;i&gt;She Flies Tomorrow&lt;/i&gt;. Nomor pembuka dari album milik band asal Jogja ini memang menyejukkan. Begitu datar dalam bunyi-bunyian instrumen yang minimalis. Hanya suara vokal yang tampak mendominasi. Terdengar indah, singkatnya. Saya kurang begitu kenal perjalanan band ini sebenarnya. Pertama dengar, saya kira ini band dari negeri barat. Nyatanya adalah karya kelompok musik yang hanya berjarak enam jam perjalanan darat dari tempat tinggal saya. Sialan, tidak banyak band lokal yang bisa bernyanyi seperti ini. &lt;i&gt;Love Affair No.9&lt;/i&gt; menyimpan unsur jazz dan psikedelik dalam porsi seimbang serta tidak saling mengganggu. Masih dengan vokal yang empuk. &lt;i&gt;With You&lt;/i&gt; malah menyimpan sesi eksperimen psikedelia yang rumit macam Pink Floyd. Ibarat &lt;i&gt;Ummagumma&lt;/i&gt; yang tersesat di sudut jalan Malioboro. Tapi untungnya, mereka tidak terjebak lama dalam plot keruwetan. Selalu ada akhir dari bunyi-bunyian eksperimental, dan ending-nya selalu bahagia, serta tidak bikin pendengar penasaran. Namun &lt;i&gt;Flight To Amsterdam&lt;/i&gt; menjadi salah jalan ke London. Entah kenapa mereka ingin ke Belanda, jika musik seperti ini rasanya lebih cocok untuk dipamerkan di Inggris. &lt;i&gt;Slap &amp;amp; Kiss&lt;/i&gt; tidak serta-merta nakal menampar, malah cenderung romantis. Contoh lagu cinta yang elegan. Saatnya mencium kening kekasih anda di ujung lagu ini. Tembang &lt;i&gt;On A Bus&lt;/i&gt; juga berpotensi untuk menjadi favorit. Ringan dan catchy di telinga. Terutama bagi anda yang tergila-gila pada jenis musik indie-pop. Melodi gitar di lagu ini menyimpan sekantong madu dengan kualitas terbaik. Dilanjutkan dengan &lt;i&gt;Fireflies&lt;/i&gt; yang memiliki lirik puitis dan sentimentil. Seorang gadis kutu buku pun akan langsung jatuh hati pada lagu ini. &lt;i&gt;Make A Print of Me&lt;/i&gt; adalah satu-satunya lagu bernuansa 'thriller' di album ini. Agak gelap dan misterius, tanpa penyelesaian. Bayangkan Sherlock Holmes yang terkunci di dalam sebuah kamar kumuh di daerah Pasar Kembang. Jika perumpamaan ini dilanjutkan, maka Sherlock Holmes mulai berpikir untuk memecahkan teka-teki lewat lagu &lt;i&gt;The Seagull&lt;/i&gt;. Itu adalah nomor instrumentalia yang mistikal. Cukup singkat, rumit, dan akhirnya tidak terpecahkan. Yah, Sherlock Holmes telah gagal. &lt;i&gt;The Place I Wanna Go&lt;/i&gt; menjadi album lokal yang layak untuk dikoleksi. Boleh saya bilang, vokalis mereka adalah salah satu pria dengan suara paling merdu di negeri ini - dan juga jantan seperti Roger Daltrey atau David Gilmour. Instrumen seperti keyboard dan gitar ikut bermain cantik. Bunyi keyboard-nya terdengar kuno menyayat. Petikan gitarnya cukup beracun meski tidak mematikan. Penggemar The Who, Pink Floyd, atau Velvet Underground sudah pasti bahagia mendengarkan semua track di album ini. Jika anda mencari 'pejantan' untuk bandingan musik Tika and The Dissidents maka saya merekomendasikan Risky Summerbee &amp;amp; The Honeythief. Mereka seperti madu, sangat manis tapi tidak berefek buruk atau merusak. Jika band ini tidak berkembang besar, mungkin mereka hanya salah jaman saja... &lt;b&gt;[smck]&lt;/b&gt;</description>
<pubDate>Fri, 12 Feb 2010 11:57:06 +0700</pubDate>
<dc:creator>admin</dc:creator>
<guid isPermaLink="false">http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/risky-summerbee-and-the-honeythief-the-place-i-wanna-go-www.apokalip.com.html</guid>
<link>http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/risky-summerbee-and-the-honeythief-the-place-i-wanna-go-www.apokalip.com.html</link>

<category>Resensi</category>
<category>Resensi Musik</category>
</item><item>
<title>PORTAL ; Swarth</title>
<description>
&lt;img style=&quot;MARGIN-BOTTOM: 10px; MARGIN-LEFT: 10px; MARGIN-RIGHT: 15px&quot; height=&quot;169&quot; alt=&quot;&quot; src=&quot;/webzine/aset/asetzine/asetgambar/resmusik-portal.jpg&quot; width=&quot;175&quot; align=&quot;left&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;strong&gt;PORTAL&lt;br /&gt;
	Swarth&lt;br /&gt;
	Profound Lore&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

&lt;img height=&quot;11&quot; alt=&quot;&quot; src=&quot;/webzine/aset/asetzine/asetgambar/rating-5.gif&quot; width=&quot;79&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika anda masih mencintai hidup, jangan pernah berpikir untuk memainkan album ini di piranti pemutar musik anda. Percayalah album ini adalah album yang bisa membuat seorang kapten bajak laut bengis berteriak lantang sekaligus gusar, &quot;Abandon Ship!&quot; - karena tak ada setitik pun harapan di depan mata. Bahkan mereka yang telah mengkhatamkan &lt;i&gt;The Secret&lt;/i&gt; - sebuah dokumen ajaran tentang motivasi hidup - pun segera meloncat dari lantai 5 mall terdekat. Oh tidak, tidak, ini bukan tentang album-album Shining, album yang saya maksud adalah &lt;i&gt;Swarth&lt;/i&gt;, karya sebuah band death metal nihilist dan absurd asal Australia, Portal. Ada benarnya juga ungkapan Shakespeare, &quot;&lt;i&gt;What is a name&lt;/i&gt;?&quot; Portal ditilik dari segi manapun bukanlah sebentuk nama yang menjanjikan suatu sajian musik yang beringas atau mengerikan. Namun, bagaimanapun fakta Portal toh mampu menggodok sebuah varian death metal yang gelap, mengerikan dan cinematic. Omong-omong tentang cinematic, death metal, tak cuma post rock dan beberapa musik luruh lainnya, juga punya hak untuk dilabeli 'cinematic'. &lt;i&gt;Swarth&lt;/i&gt; tak ubahnya sebuah kerangkeng audio yang mengerikan adalah soundtrack yang tepat untuk film yang menggambarkan penyiksaan lo-fi penuh gore tanpa ujung. Bukan! &lt;i&gt;Swarth&lt;/i&gt; bukanlah sebentuk death metal yang beringas yang menerjang layaknya kereta rel listrik kelas eksekutif. Sebaliknya, &lt;i&gt;Swarth&lt;/i&gt; adalah sebentuk death metal yang alih-alih melaju kencang justru disajikan dengan tempo yang rendah atau medio. Tak ada satu titik ketika musik dipacu sekencang mungkin. Seperti siksaan yang diperlambat, &lt;i&gt;Swarth&lt;/i&gt; dipenuhi dengan layer gitar schizophrehic yang rendah, chaotic dan teknikal [anda yang selalu mengaitkan dua kata sifat terakhir dengan musik cepat dan patah-patah silahkan dengarkan album ini!]. Lantas, layer gitar ganda yang diproduksi gitaris Portal ini ditabrakan, saling timpa-menimpa begitu saja di atas setumpukan drumming yang kadang memamerkan blast, jarang bertempo cepat namun kadang juga perkusif. Lantas, di tengah kekacauan dan kurungan wall of noises, terdengar eraman rendah sang vokalis. Ada ambience ruang rekam yang tertangkap dalam eraman ini - yang kadang terdengar detached sekaligus mengait erat kekacauan yang mengiringinya. Seperti ada celah antara musik dan vokal yang justru menyatukan keduanya. Entahlah di tangan Portal, death metal terdengar otherworldly. Tak jarang Portal tertangkap bagai versi death metal dari Blut Aus Nord yang lebih hidup dan lebih accesible. Tentunya accesible adalah sebuah terminologi yang amat sangat tak ajeg, lentur dan relatif. Maka, sampai di sinilah tugas saya reviewer selesai dan keingintahuan anda membuncah. Silahkan, jika penasaran, buru album ini. Yang jelas saya sudah memperingatkan anda akan efek album ini. Namun, jika anda berhasrat bunuh diri setelah mendengarnya, cuma ada satu saran ; Jangan meloncat dari lantai 5 atau 11, sebab itu sudah terlalu trendi!... &lt;b&gt;[innerciatic manneken]&lt;/b&gt;</description>
<pubDate>Sat, 09 Jan 2010 11:22:44 +0700</pubDate>
<dc:creator>admin</dc:creator>
<guid isPermaLink="false">http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/portal-swarth-www.apokalip.com.html</guid>
<link>http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/portal-swarth-www.apokalip.com.html</link>

<category>Resensi</category>
<category>Resensi Musik</category>
</item><item>
<title>TIKA AND THE DISSIDENTS ; The Headless Songstress</title>
<description>
&lt;img style=&quot;MARGIN-BOTTOM: 10px; MARGIN-LEFT: 10px; MARGIN-RIGHT: 15px&quot; height=&quot;169&quot; alt=&quot;&quot; src=&quot;/webzine/aset/asetzine/asetgambar/resmusik-tika.jpg&quot; width=&quot;175&quot; align=&quot;left&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;strong&gt;TIKA AND THE DISSIDENTS&lt;br /&gt;
	The Headless Songstress&lt;br /&gt;
	Aksara Records&lt;br /&gt;
	&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;

&lt;img height=&quot;11&quot; alt=&quot;&quot; src=&quot;/webzine/aset/asetzine/asetgambar/rating-4.gif&quot; width=&quot;79&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertama melihat rilisan ini packaging-nya sudah tidak biasa. Setiap album dibungkus dengan kain motif yang berbeda. Jadi anda tidak perlu kuatir tertukar dengan album milik teman anda meski beli di tempat yang sama, atau sekalipun dicampur dalam kantong yang sama, haha. Oke, gimmick dan strategi pemasaran lewat packaging sudah cukup berhasil. Album dengan kemasan seperti ini saya yakin memiliki konten yang tidak biasa pula. Saya langsung tergoda untuk memutarnya. Dimulai dengan &lt;i&gt;Tantang Tirani,&lt;/i&gt; sebuah lagu pelan dengan pesan yang menghantam. Seperti perlahan menjulurkan jari tengah kepada penguasa, majikan, orang tua, atau siapapun yang cocok dianggap sebagai tiran. &lt;i&gt;Polpot &lt;/i&gt;meluncur dalam nuansa latin yang cukup pantas untuk diputar di kelas dansa dengan pasangan yang berbusana formal. &lt;i&gt;Venus Invy&lt;/i&gt; bakal mengingatkan anda pada The Cardigans yang dilekati aroma swedish-pop. &lt;i&gt;20 Hours&lt;/i&gt; juga punya aransemen yang serupa, hanya saja lebih kental swing-nya. Seperti kolaborasi antara Mocca dan Sore. &lt;i&gt;Uh Ah Lelah&lt;/i&gt; menyimpan beat vokal yang familiar bagi penggemar musik evergreen. Tanyakan saja pada mama anda untuk lebih tepatnya. Sementara &lt;i&gt;Red Red Cabaret &lt;/i&gt;bisa menyeret anda menuju sebuah klub musik di sudut kota Paris sana - dan anda bisa tergoda mampir ke rumah bordil setelah mendengarkan lagu ini. Bayangkan setting film &lt;i&gt;Moulin Rogue&lt;/i&gt; lengkap dengan wig blonde, korset, stocking kaki, dan red wine. Setelah itu anda disumpahi dengan &lt;i&gt;Ol' Diary Bastards&lt;/i&gt; yang lembut membuai, serta &lt;i&gt;Infidel Castratie&lt;/i&gt; yang merayu dan mendayu. &lt;i&gt;Waltz Muram&lt;/i&gt; sudah dijelaskan secara tepat seperti judulnya. Yah, seperti itu, sebuah musik waltz yang muram. Testimoni dari perempuan yang sedih dan kesepian. Uniknya, ada distorsi dan marching drum yang usil di akhir lagu. &lt;i&gt;Tentang Petang&lt;/i&gt; berisi koor vokal dari kebaktian pop yang paling surealis. Terdengar syahdu dan menenangkan. &lt;i&gt;Mayday&lt;/i&gt; adalah track terkeras seperti mars yang menyemangati para buruh dan klas pekerja untuk segera menampar pipi majikan mereka. Album ini ditutup dengan &lt;i&gt;Clausnophobia&lt;/i&gt; yang cukup ramah dan menghibur. Well, ini album yang sensual secara keseluruhan. Tika dan pasukannya telah sukses meramu irama pop, folk, dance dan swing menjadi rangsangan yang menggoda. Musikalitasnya pun tidak remeh. Setiap instrumen tampil kaya, meski vokal Tika tetap jadi yang terdepan untuk diperhatikan. Dia bisa bergaya riang macam Lily Allen, atau semurung Amy Winehouse. Tika telah bernyanyi bak biduan, dan tak lama lagi mungkin sudah boleh menyandang status diva pop negeri ini. Terkadang susah menyadari bahwa mereka adalah musisi lokal. Sebab mereka lebih cocok hidup di Eropa Barat, tepatnya pada abad pertengahan atau era akhir revolusi industri. Setiap lagu di album ini patut diapresiasi positif, meski tak dipungkiri ada beberapa bagian yang mirip dengan ini-itu. &lt;i&gt;The Headless Songstress&lt;/i&gt; adalah agresi pop yang paling eksotis dan menggoda di tahun ini. Sebuah soundtrack untuk bercinta, dan menyelingkuhi teman lama anda. Saya yakin, anda pun rela bertekuk lutut setelah mendengarkan album ini... &lt;b&gt;[samack]&lt;/b&gt;</description>
<pubDate>Sun, 13 Dec 2009 08:24:04 +0700</pubDate>
<dc:creator>admin</dc:creator>
<guid isPermaLink="false">http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/tika-and-the-dissidents-the-headless-songstress-www.apokalip.com.html</guid>
<link>http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/tika-and-the-dissidents-the-headless-songstress-www.apokalip.com.html</link>

<category>Resensi</category>
<category>Resensi Musik</category>
</item><item>
<title>MEGADETH ; EndGame</title>
<description>
&lt;img style=&quot;MARGIN-BOTTOM: 10px; MARGIN-LEFT: 10px; MARGIN-RIGHT: 15px&quot; height=&quot;169&quot; alt=&quot;&quot; src=&quot;/webzine/aset/asetzine/asetgambar/resmusik-megadeth.jpg&quot; width=&quot;175&quot; align=&quot;left&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;strong&gt;MEGADETH&lt;br /&gt;
	EndGame&lt;br /&gt;
	Roadrunner Records&lt;br /&gt;
	&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;

&lt;img height=&quot;11&quot; alt=&quot;&quot; src=&quot;/webzine/aset/asetzine/asetgambar/rating-3.gif&quot; width=&quot;79&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejak awal saya sudah diwanti-wanti - atau lebih tepatnya ditantang - oleh seorang teman untuk me-review album ini se-'obyektif' mungkin. Mungkin dia tahu, kalau saya fanatik pada Metallica dan agak sentimen pada Megadeth. Rivalitas dua band besar itu tetap saya pertahankan sejak dulu sampai sekarang. Apalagi konon dua album terakhir mereka tampaknya juga memiliki kesamaan visi. Sama-sama ingin kembali ke masa lalu yang lebih 'keras'. Di sebuah situs jejaring sosial pun, saya dan teman saya itu saling melempar argumen dalam kontroversi &lt;i&gt;EndGame&lt;/i&gt; versus &lt;i&gt;Death Magnetic&lt;/i&gt;. I know it was stupid, but also interesting. Akhirnya saya musti memutar &lt;i&gt;EndGame&lt;/i&gt; lebih sering untuk mendapatkan deskripsi yang tepat dan unggul. Track pertama, &lt;i&gt;Dialectic Chaos&lt;/i&gt;, memang cukup menarik perhatian. Agak unik mendapatkan sebuah nomor instrumental di awal album. Mungkin dianggap pemanasan sekaligus pamer skill bagi sang virtuoso dan mastermind, Dave Mustaine. &lt;i&gt;This Day We Fight&lt;/i&gt; tampaknya menjadi jagoan mereka di album ini. Thrashing yang membabi-buta seakan tak mau dianggap tua. Dave Mustaine dkk berubah bermain aman dan melodius di &lt;i&gt;44 Minutes&lt;/i&gt;. Sayangnya mereka justru tampak lelah dan monoton di sini. Untung tensi musiknya naik kembali di angka &lt;i&gt;1,320&lt;/i&gt;. Ini track apik dengan aransemen klasik dan ambisius. Akademi musik thrash metal berlanjut di lagu &lt;i&gt;Bite The Hand&lt;/i&gt;. Menunjukkan status musikal Megadeth yang selalu tampak edukatif dan berkelas. Memang terkadang band ini terlampau 'tertib' dan 'formal' untuk sebuah musik metal. Sejujurnya di sektor itu saya kadang cinta dan benci pada Megadeth. Lagu-lagu seperti &lt;i&gt;Bodies&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;EndGame&lt;/i&gt; seperti terjebak di wilayah itu. Corak metal-ballad pada &lt;i&gt;The Hardest Part of Letting Go&lt;/i&gt; yang bercerita soal gagalnya sebuah hubungan justru lebih menarik untuk disimak. Mustaine bernyanyi dalam karakter seorang pria yang terpuruk. Saya akui, dia masih aktor yang hebat di bidang ini. Saya jadi paham kenapa selalu ada balada metal di setiap album mereka. &lt;i&gt;Head Crusher&lt;/i&gt; adalah lagu thrash yang baik bagi anak-anak usia belasan. Anthemik. Simpel dan straight. &lt;i&gt;How The Story Ends&lt;/i&gt; masih menyimpan formula lama Megadeth. Riff tegas nan catchy, plus tebaran solo gitar di mana-mana. &lt;i&gt;The Right To Go Insane&lt;/i&gt; mulai melemah, tidak seperti judulnya. Ending yang tidak terlalu 'happy' bagi &lt;i&gt;EndGame&lt;/i&gt;. Album ini memang menawarkan retrospeksi menuju era album-album klasik mereka, seperti &lt;i&gt;Rust In Peace&lt;/i&gt; atau &lt;i&gt;Countdown To Extinction&lt;/i&gt;. Sedikit nostalgia ke sana, dan itu jauh lebih baik daripada album mereka sebelumnya. Hanya saja, mungkin Dave Mustaine yang belum [mau] berubah. Masih tampak ambisius seorang diri dan hanya menyisakan sedikit ruang bagi potensi musik personil lainnya. Ini bukti bahwa keberhasilan ego dan arogansi itu tidak selalu abadi. Saya akui, dia memang cerdas, tapi mestinya dia juga sadar bahwa ada faktor lelah dan monotonitas jika semuanya dikerjakan sendiri. Salah satu hal yang juga melemahkan Megadeth di album ini adalah minimnya hook-hook gitar yang berpotensi 'legenda' - bandingkan dengan Metallica yang selalu cerdik di bidang ini. Power vokal Mustaine juga mestinya bisa di-push lebih garang, sebelum dia berubah menjadi finalis American Idol. Tapi jika bicara progres, &lt;i&gt;EndGame&lt;/i&gt; memang jauh lebih baik daripada album-album Megadeth sebelumnya. Semoga ini tidak menjadi 'akhir permainan' dari Mustaine and friends. Rasanya saya sekarang musti menemui teman saya tadi, dan mengabarkan skor imbang antara &lt;i&gt;EndGame&lt;/i&gt; versus &lt;i&gt;Death Magnetic&lt;/i&gt;. Mungkin tuhan sudah menakdirkan dua band ini menjadi seteru abadi, seperti layaknya duel el-classico antara Real Madrid versus Barcelona... &lt;b&gt;[samack]&lt;/b&gt;</description>
<pubDate>Fri, 13 Nov 2009 00:11:32 +0700</pubDate>
<dc:creator>admin</dc:creator>
<guid isPermaLink="false">http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/megadeth-endgame-www.apokalip.com.html</guid>
<link>http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/megadeth-endgame-www.apokalip.com.html</link>

<category>Resensi</category>
<category>Resensi Musik</category>
</item><item>
<title>PISSED JEANS ; King Of Jeans</title>
<description>
&lt;img style=&quot;MARGIN-BOTTOM: 10px; MARGIN-LEFT: 10px; MARGIN-RIGHT: 15px&quot; height=&quot;169&quot; alt=&quot;&quot; src=&quot;/webzine/aset/asetzine/asetgambar/resmusik-pissedjeans.jpg&quot; width=&quot;175&quot; align=&quot;left&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;strong&gt;PISSED JEANS&lt;br /&gt;
	King Of Jeans&lt;br /&gt;
	Sub Pop&lt;br /&gt;
	&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;

&lt;img height=&quot;11&quot; alt=&quot;&quot; src=&quot;/webzine/aset/asetzine/asetgambar/rating-4.gif&quot; width=&quot;79&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam album ketiga ini, Pissed Jeans, band asal Pennsylvania, USA ini sama sekali tidak melunak. Kalau kalian menyukai tipe punk rock yang ditawarkan Jesus Lizard atau mungkin Butthole Surfers [untuk sisi musik hardcore punk, Pissed Jeans mengingatkan saya pada Born Against!], kalian akan sangat menikmati Pissed Jeans. Kalau tidak, well, it's your loss, karena &lt;i&gt;King Of Jeans&lt;/i&gt; adalah album top notch. &lt;i&gt;King Of Jeans&lt;/i&gt; lebih sederhana secara struktur lagu, namun tetap presisi dalam serangan soniknya. Gitaris Bradley Fry bersama bassis Randy Huth seakan merupakan perpaduan duo Greg Ginn/Chuck Dukowski dengan Tony Iommi/Geezer Butler, dan ini adalah pertanda baik. Bahkan ada sensasi doom metal [atau The Melvins?] pada lagu &lt;i&gt;Spent&lt;/i&gt;, di mana vokalis Mat Korvette melantunkan lirik dengan datar, sebagaimana stres sudah mencapai titik orang tidak peduli. Mengingatkan saya bagaimana mengerikannya seorang preman bertatoo buruk, artinya kalau dia sudah tidak sayang dengan badan sendiri, bagaimana mau sayang dengan badan orang lain? Goddamn. Juga didukung, permainan drummer Sean McGuinness terasa seperti 'organized chaos', selaras dengan musiknya, which is a good thing. Tema pergesekan dengan lingkungan sosial tetap menjadi tema utama Pissed Jeans. Nomor pembuka, &lt;i&gt;False Jesii Part 2&lt;/i&gt;, adalah straight forward punk rock, dengan chorus &lt;i&gt;&quot;Nyah nyah nyah&quot;&lt;/i&gt; yang tidak jelas tapi sesuai tema lagunya tentang lingkungan sosial di mana Korvette melolong, &lt;i&gt;&quot;But I don't bother, I don't bother!&quot;&lt;/i&gt;. Lelah dengan atasan dan pekerjaan menjadikan tema &lt;i&gt;Dream Smotherer&lt;/i&gt; cukup lucu dalam konteks gelap, &lt;i&gt;&quot;It's allright, I lose my days and keep my nights / I don't mind wearing a plastic smile.&quot;&lt;/i&gt; sebelum di akhir meledak, &lt;i&gt;&quot;I will help you make it sweet / If you will let me get some sleep!&quot;&lt;/i&gt; Terasa ada pengaruh The Germs dalam &lt;i&gt;Human Upskirt&lt;/i&gt;, lagu paling upbeat mereka dalam mode hardcore punk, disajikan dalam durasi 2.11 menit. Musik Black Flag era akhir terasa pengaruhnya dalam &lt;i&gt;She Is Science Fiction. &lt;/i&gt;Saya tidak akan bilang kalau dalam &lt;i&gt;King Of Jeans&lt;/i&gt; band ini menjadi lebih melodius, tapi kata lain yang tepat untuk menggantikannya adalah album ini lebih tuneful dibanding dua album sebelumnya. Pernah menonton filmnya Michael Douglas, &lt;i&gt;Falling Down&lt;/i&gt;? Saya rasa &lt;i&gt;King Of Jeans&lt;/i&gt; menjadi album yang tepat untuk mendeskripsikan film tersebut. Sekali lagi, goddamn. &lt;b&gt;[arian13]&lt;/b&gt;</description>
<pubDate>Sat, 19 Sep 2009 20:52:37 +0700</pubDate>
<dc:creator>admin</dc:creator>
<guid isPermaLink="false">http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/pissed-jeans-king-of-jeans-www.apokalip.com.html</guid>
<link>http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/pissed-jeans-king-of-jeans-www.apokalip.com.html</link>

<category>Resensi</category>
<category>Resensi Musik</category>
</item><item>
<title>FUCKED UP ; The Chemistry of Common Life</title>
<description>
&lt;img style=&quot;MARGIN-BOTTOM: 10px; MARGIN-LEFT: 10px; MARGIN-RIGHT: 15px&quot; height=&quot;169&quot; alt=&quot;&quot; src=&quot;/webzine/aset/asetzine/asetgambar/resmusik-fuckedup2.jpg&quot; width=&quot;175&quot; align=&quot;left&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;strong&gt;FUCKED UP&lt;br /&gt;
	The Chemistry of Common Life&lt;br /&gt;
	Matador Records&lt;br /&gt;
	&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;

&lt;img height=&quot;11&quot; alt=&quot;&quot; src=&quot;/webzine/aset/asetzine/asetgambar/rating-5.gif&quot; width=&quot;79&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sudah lama saya tidak mendengarkan album punk rock sebaik dan semenarik &lt;i&gt;The Chemistry of Common Life, &lt;/i&gt;milik band yang bernama Fucked Up. Album &lt;i&gt;Hidden World&lt;/i&gt; dan single mereka yang berdurasi 18 menit, &lt;i&gt;Year of The Pig&lt;/i&gt;, memang sempat membuat saya melirik band ini, tetapi album &lt;i&gt;The Chemistry of Common Life&lt;/i&gt; inilah yang berhasil membuat saya kagum akan pencapaian musikalitas mereka. Pink Eyes [vokal], Concentration Camp [gitar], Mr. Jo [drums], Mustard Gas [bass], dan 10,000 Marbles [guitar] sukses mengembalikan sound punk rock tradisional tanpa berusaha atau terjebak dalam masa lalu. &lt;i&gt;The Chemistry of Common Life&lt;/i&gt; berhasil menawarkan music punk rock tradisional yang di-mix dengan indie rock. Juga mungkin sedikit tambahan electronica dan shoegaze pun bikin album ini sangatlah menarik untuk disimak, terlebih lagi untuk dikoleksi. Dibuka oleh &lt;i&gt;Son of Father&lt;/i&gt; yang sangat powerfull, anthemic, sekaligus catchy. Sangat terasa masukan dari band-band seperti Black Flag, Jesus Lizards, dan Sex Pistol di dalam track ini. Awesome! &lt;i&gt;Golden Seal&lt;/i&gt; juga berhasil mengejutkan saya. Track instrumental ini sangatlah dreamy seperti Slowdive atau Cocteau Twins. Saya tidak pernah menemukan hal seperti ini di album punk rock tradisional selain di albumnya Fucked Up ini! Track favorit saya, &lt;i&gt;Black Albino Bones&lt;/i&gt;, sebuah komposisi yang agresif dan tetap memorable sekaligus catchy/ear friendly bahkan untuk orang yang tidak suka atau tidak pernah mendengarkan musik punk rock sekalipun. Di album ini cukup banyak instrumentasi dan part-part menarik yang tersembunyi dan tidak akan disangka-sangka. Contohnya seperti yang ada pada lagu penutup, &lt;i&gt;The Chemistry of Common Life&lt;/i&gt;. Album ini sangatlah bagus menurut saya. Sound rekaman yang sangat bagus, komposisi lagu yang dewasa tapi tidak tua, dan keberanian mereka mencampur beberapa elemen genre musik sehingga membuat album ini tetap berwarna serta tidak membosankan. Saya menjadi tidak heran kenapa Matador Records pun mau merilis album ini. Klasik!!!... &lt;b&gt;[uri putra]&lt;/b&gt;</description>
<pubDate>Sat, 19 Sep 2009 20:51:40 +0700</pubDate>
<dc:creator>admin</dc:creator>
<guid isPermaLink="false">http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/fucked-up-the-chemistry-of-common-life-www.apokalip.com.html</guid>
<link>http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/fucked-up-the-chemistry-of-common-life-www.apokalip.com.html</link>

<category>Resensi</category>
<category>Resensi Musik</category>
</item><item>
<title>TOMAHAWK ; Anonymous</title>
<description>
&lt;img style=&quot;MARGIN-BOTTOM: 10px; MARGIN-LEFT: 10px; MARGIN-RIGHT: 15px&quot; height=&quot;169&quot; alt=&quot;&quot; src=&quot;/webzine/aset/asetzine/asetgambar/resmusik-tomahawk.jpg&quot; width=&quot;175&quot; align=&quot;left&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;strong&gt;TOMAHAWK&lt;br /&gt;
	Anonymous&lt;br /&gt;
	Ipepac Recording&lt;br /&gt;
	&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;

&lt;img height=&quot;11&quot; alt=&quot;&quot; src=&quot;/webzine/aset/asetzine/asetgambar/rating-5.gif&quot; width=&quot;79&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;em&gt;Anonymous&lt;/em&gt; tidak memainkan musik ala Faith No More seperti album-album Tomahawk sebelumnya. Keluarnya bassis Kevin Rutmanis [eks The Melvins] sungguh merubah konsep musik Tomahawk yang ugal-ugalan walau umur personel tidak muda lagi. Tomahawk menurunkan tempo musik? Tomahawk menurunkan kadar kegilaan bermusik mereka? Mike Patton sudah tidak berteriak ala grindcore atau hardcore? Eksperimen vokal ala monster telah habis? Sepertinya memang betul pertanyaan-pertanyan di atas. Tapi coba dengarkan album ini lebih dari lima kali! Dan anda akan mengerti arah pendewasaan musik Mike patton dan kawan-kawan. Karena album ini laksana &lt;i&gt;Kid A&lt;/i&gt; [Radiohead] dalam versi metal. Drummer John Stanier [eks Helmet] sudah tidak memukul drum ala post harcore, malah cenderung bermain drum selayaknya komandan pemukul beduk perang. Gitaris Duane Denison [eks The Jesus Lizard] sudah mengurangi kadar distorsi - malah di sini cenderung clean, pelok and jazzy ala pentatonik world music. Tomahawk telah memasuki era baru yaitu musik kontemporer [kontemporer metal tepatnya!], dengan mengabungkan musik Kitaro dan metal. Dengarkan tiga lagu pertama dari album ini seperti upacara Indian sebelum perang. Ada sedikit unsur trip-hop di lagu &lt;i&gt;Red Fox&lt;/i&gt;, melodic pelok ala Jepang di lagu &lt;i&gt;Sun Dance&lt;/i&gt;. Lagu-lagu di album ini memang layaknya tarian upacara adat - dilihat dari lima judul lagu yang diakhiri kata 'dance'. Overall, album ini telah menjajah playlist pemutar musik saya selama berminggu-minggu, Apik dan Epic!... &lt;b&gt;[rusl]&lt;/b&gt;</description>
<pubDate>Sat, 19 Sep 2009 20:50:40 +0700</pubDate>
<dc:creator>admin</dc:creator>
<guid isPermaLink="false">http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/tomahawk-anonymous-www.apokalip.com.html</guid>
<link>http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/tomahawk-anonymous-www.apokalip.com.html</link>

<category>Resensi</category>
<category>Resensi Musik</category>
</item><item>
<title>ALTAR OF PLAGUE ; White Tomb</title>
<description>
&lt;img style=&quot;MARGIN-BOTTOM: 10px; MARGIN-LEFT: 10px; MARGIN-RIGHT: 15px&quot; height=&quot;169&quot; alt=&quot;&quot; src=&quot;/webzine/aset/asetzine/asetgambar/resmusik-altarofplague.jpg&quot; width=&quot;175&quot; align=&quot;left&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;strong&gt;ALTAR OF PLAGUE&lt;br /&gt;
	White Tomb&lt;br /&gt;
	Profound Lore&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

&lt;img height=&quot;11&quot; alt=&quot;&quot; src=&quot;/webzine/aset/asetzine/asetgambar/rating-4.gif&quot; width=&quot;79&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Altar of Plague berasal dari Irlandia dan mereka memainkan epic atmospheric black metal yang sangat indah, dan juga sangat dingin. Debut album mereka &lt;i&gt;White Tomb&lt;/i&gt; berisi 3 lagu dengan durasi lebih dari 10 menit, dan hanya 1 lagu yang berdurasikan 9 menit. Band ini cukup membuat saya penasaran pada waktu pertama kali direkomendasikan oleh seorang teman. Beruntung album mereka yang berjudul &lt;i&gt;White Tomb&lt;/i&gt; sudah dirilis oleh Profound Lore, label asal Kanada yang merilis band-band canggih seperti Atavist, Cobalt, Portal, dll. Album ini dibuka dengan &lt;i&gt;Earth ; As A Womb&lt;/i&gt; yang penuh feedback dan riff black metal ala WITTR yang cantik. Dingin dan sangat epic. Di tengah lagu ada part yang sangat post-rocky, dan bisa saya bilang 'cantik' sebelum akhirnya kembali naik kepada komposisi black metal yang sangat crushing. Track favorit saya, &lt;i&gt;Earth ; As A Furnace,&lt;/i&gt; dibuka dengan tempo lambat, riff yang sangat depresif, kemudian naik, hingga kembali kepada riff epic-black-tipikal. Sebelum lagu ini berakhir mereka masuk pada part post-metal yang heavy sekaligus indah. Pada track terakhir, &lt;i&gt;Gentian Truth&lt;/i&gt;, mereka membawa anda ke alam psychedelic black metal yang dingin, di mana hujan tidak akan pernah berhenti, yang kemudian ditutup dengan atsmopheric soundscape/feedback yang kurang lebih hampir sama dengan lagu pertama. Untuk anda semua yang sangat peduli sound, jangan pernah takut dengan album ini karena sound-nya sangatlah bersih dan bagus. Di mana detail riff, soundscape semua dapat jelas terdengar - tidak seperti standar sound black metal yang sangat demo-ish dan cenderung buruk. &lt;i&gt;White Tomb&lt;/i&gt; saya rekomendasikan untuk anda semua yang menyukai musik dari Wolves In The Throne Room, Velnias, Fen, Amesoeurs, bahkan musik doom metal seperti Asunder, Khanate, dan juga musik post metal/rock seperti Isis, Mouth of The Architect, dan Neurosis!... &lt;b&gt;[uri putra]&lt;/b&gt;</description>
<pubDate>Sat, 19 Sep 2009 20:49:42 +0700</pubDate>
<dc:creator>admin</dc:creator>
<guid isPermaLink="false">http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/altar-of-plague-white-tomb-www.apokalip.com.html</guid>
<link>http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/altar-of-plague-white-tomb-www.apokalip.com.html</link>

<category>Resensi</category>
<category>Resensi Musik</category>
</item><item>
<title>BATTLES ; Mirrored</title>
<description>
&lt;img style=&quot;MARGIN-BOTTOM: 10px; MARGIN-LEFT: 10px; MARGIN-RIGHT: 15px&quot; height=&quot;169&quot; alt=&quot;&quot; src=&quot;/webzine/aset/asetzine/asetgambar/resmusik-battles.jpg&quot; width=&quot;175&quot; align=&quot;left&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;strong&gt;BATTLES&lt;br /&gt;
	Mirrored&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Warp Records&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

&lt;img height=&quot;11&quot; alt=&quot;&quot; src=&quot;/webzine/aset/asetzine/asetgambar/rating-4.gif&quot; width=&quot;79&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sudah bosan dengan tren musik sekarang yang cenderung seragam, baik di luar negeri apalagi di tanah air?! Mendengarkan lagu &lt;i&gt;Cinta Ini Membunuhku&lt;/i&gt; benar-benar membuat saya ingin membunuh band yang bernama The Nasip itu, hehe. Battles adalah proyek musik dari para musisi-musisi berbakat. Layaknya para ahli matematika berjiwa idealis membentuk klub belajar bersama, menerobos pakem-pakem tren musik instrumen [post-rock] yang cenderung gitu-gitu aja [post-rock Amerika telah dimasuki melodi-melodi cengeng ala emo?!]. Battles memainkan musik instrumen dengan tambahan vokal berefek ajaib. Di mana vokal juga adalah instrumen. Mereka tidak memainkan nada-nada yang terus diulang-ulang, tapi bermain tegas menuju inti kepuasan bermusik. Mereka juga cenderung eksklusif dengan durasi lagu yang tidak radio friendly. Tidak ada leader di band ini, semua memainkan porsi musik yang seimbang [para personel memainkan lebih dari satu alat musik]. Hitungan beat drum John Stanier [eks Helmet] sungguh tidak mudah ditebak - padahal tidak menggunakan set drum yang berlebihan, hanya set drum standar plus satu cymbal. Bahkan untuk sekedar beat tepuk tangan di lagu &lt;i&gt;Diamond&lt;/i&gt; terdengar ganjil untuk diikuti. Album ini adalah album progressive rock yang bisa menjadi alternatif bagi para pemuja Dream Theater yang makin menjemukan itu. Mengenalkan album ini kepada para peminat progressive rock adalah sebuah tantangan bagi saya. &lt;b&gt;[rusl]&lt;/b&gt;</description>
<pubDate>Sat, 19 Sep 2009 20:48:39 +0700</pubDate>
<dc:creator>admin</dc:creator>
<guid isPermaLink="false">http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/battles-mirrored-www.apokalip.com.html</guid>
<link>http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/battles-mirrored-www.apokalip.com.html</link>

<category>Resensi</category>
<category>Resensi Musik</category>
</item>
</channel>
</rss>