<?xml version="1.0" encoding="iso-8859-1" ?>
<rss version="2.0"
xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
>
<channel>

<title>www.apokalip.com</title>
<link>http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/index.php</link>
<description>www.apokalip.com</description>
<language>id</language>
<generator>Apokalip 1.1.1</generator>

<item>
<title>I'M NOT THERE</title>
<description>
&lt;img style=&quot;MARGIN-BOTTOM: 10px; MARGIN-LEFT: 10px; MARGIN-RIGHT: 15px&quot; height=&quot;169&quot; alt=&quot;&quot; src=&quot;/webzine/aset/asetzine/asetgambar/resvideo-im-not-there.jpg&quot; width=&quot;175&quot; align=&quot;left&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;strong&gt;I'M NOT THERE&lt;br /&gt;
	Sutradara ;&lt;/strong&gt; Todd Haynes&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;Pemain ;&lt;/strong&gt; Christian Bale, Cate Blanchett, Marcus Carl Franklin, Richard Gere, Heath Ledger, Ben Whishaw.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

&lt;img height=&quot;11&quot; alt=&quot;&quot; src=&quot;/webzine/aset/asetzine/asetgambar/rating-5.gif&quot; width=&quot;79&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perlu enam wajah, enam karakter dan enam alur cerita untuk 'menceritakan' seorang Bob Dylan. Yes, six in one. Jelas ini bukan sebuah biografi yang linier dan deskriptif. Sangat anti-struktur dan melompat-lompat. Ini malah lebih mirip antologi 'puisi bergambar' tentang sosok penyanyi folk/rock dalam eksperimen sinematografi sang sutradara. Bob Dylan diceritakan dalam enam alur kehidupan yang diperankan oleh enam bintang sekaligus ; Marcus Carl Franklin, Ben Whishaw, Heath Ledger, Christian Bale, Richard Gere, dan Cate Blanchett. Mereka semua memainkan reinkarnasi Bob Dylan dengan nama, interpretasi, serta tahapan hidup yang berbeda. Dimulai dari Marcus Carl Franklin, seorang bocah negro berusia sebelas tahun, adalah interpretasi masa kecil Dylan. Dia menjadi seorang Woody Guthrie, yang lari dari penjara anak-anak, menyelip ke atas sebuah kereta dengan menyandang gitar dengan tulisan &quot;This Machine Kills Fascists&quot;. Christian Bale memerankan Jack Rollins, sosok penyanyi folk/rock yang menyanyi dengan kesadaran politik tinggi, yang kemudian menjelma menjadi Pastor John, versi lain dari Dylan yang mengalami fase Kristiani yang terlahir kembali. Yang paling unik dan kontroversial adalah Cate Blanchett yang memerankan Jude Quinn, sebuah fase di mana Dylan sudah mencapai puncak kariernya, sementara para penggemar fanatik yang semula memujanya menolak konsep musik terbaru Bob Dylan yang dianggap sudah terlalu menjual, komersil, serta tunduk pada industri. Sementara penampilan [almarhum] Heath Ledger menerjemahkan sosok Dylan sebagai Robbie Clark sangat menyentuh. Kisah cintanya dengan Claire [Charlotte Gainsbourg] yang panas membara segera menjadi teduh setelah mereka membentuk keluarga dan memiliki anak. Inilah contoh film yang berkarakter alusi dan lumayan berat untuk dinikmati. Saya hanya bisa menyarankan [calon] pemirsa untuk selalu duduk tenang, jauhkan popcorn dan air soda, dan fokus 100% pada layar kaca anda. Sebab sudah banyak kritik melekat pada film ini - baik secara negatif maupun positif. &lt;span style=&quot;FONT-STYLE: italic&quot;&gt;I'm Not There&lt;/span&gt; telah memancing berbagai kontroversi pedas, di samping sejumlah penghargaan untuk sutradara, pemain, serta skenario film itu sendiri di beberapa festival. Kalau sudah begini, saya anggap eksperimen dan pesan Todd Haynes cukup sukses. Berarti film ini berhasil mendapat apresiasi dan perhatian yang khusus dari publik. Saya berani mensejajarkan &lt;span style=&quot;FONT-STYLE: italic&quot;&gt;I'm Not There&lt;/span&gt; dengan film sejenis yang menceritakan tentang Pink Floyd karya Bob Geldof, atau Jim Morrison karya Oliver Stone. Di samping itu, sosok yang luar biasa seperti Bob Dylan memang sebaiknya digambarkan dalam cerita yang tidak biasa pula - tidak hanya gitar bolong dan harmonika. Seperti yang dikatakan oleh sutradara Todd Haynes, &lt;span style=&quot;FONT-STYLE: italic&quot;&gt;&quot;The minute you try to grab hold of Dylan, he's no longer where he was. He's like a flame: If you try to hold him in your hand you'll surely get burned... Dylan is difficult and mysterious and evasive and frustrating, and it only makes you identify with him all the more as he skirts identity.&quot;&lt;/span&gt; Bahkan sangat mungkin kita juga menyimpan karakter seorang Bob Dylan dalam sosok pribadi diri kita masing-masing... &lt;span style=&quot;FONT-WEIGHT: bold&quot;&gt;[smck]&lt;/span&gt;</description>
<pubDate>Wed, 24 Feb 2010 23:51:27 +0700</pubDate>
<dc:creator>admin</dc:creator>
<guid isPermaLink="false">http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/i-m-not-there-www.apokalip.com.html</guid>
<link>http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/i-m-not-there-www.apokalip.com.html</link>

<category>Resensi</category>
<category>Resensi Video</category>
</item><item>
<title>RUMAH DARA</title>
<description>
&lt;img style=&quot;MARGIN-BOTTOM: 10px; MARGIN-LEFT: 10px; MARGIN-RIGHT: 15px&quot; height=&quot;169&quot; alt=&quot;&quot; src=&quot;/webzine/aset/asetzine/asetgambar/resvideo-rumahdara.jpg&quot; width=&quot;175&quot; align=&quot;left&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;strong&gt;RUMAH DARA&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;Sutradara ;&lt;/strong&gt; Timo Tjahjanto &amp;amp; Kimo Stamboel&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;Pemain ;&lt;/strong&gt; Julie Estelle, VJ Mike, Ario Bayu, Sigi Wimala, Shareefa Daanish&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

&lt;img height=&quot;11&quot; alt=&quot;&quot; src=&quot;/webzine/aset/asetzine/asetgambar/rating-4.gif&quot; width=&quot;79&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Finally, ada juga yang mampu membuat film slasher lokal keren. Terima kasih untuk seorang teman yang nyalinya menciut dan memberikan invitations-nya untuk saya yang telat dan kehabisan tiket. Lucky me and my girlfriend, premiere film ini adalah versi uncut, sementara versi resmi pada 22 Januari 2010 kemungkinan besar akan di-slash [sorry, can't help it!] oleh BSF. Kembali ke film karya Mo Brothers [Timo Tjahjanto dan Kimo Stamboel], &lt;i&gt;Rumah Dara&lt;/i&gt; [versi internasionalnya; &lt;i&gt;Macabre&lt;/i&gt;] merupakan film yang akan menjadi klasik. &lt;i&gt;Rumah Dara&lt;/i&gt; sendiri, diinspirasikan dan dikembangkan dari film pendek &lt;i&gt;Dara&lt;/i&gt; yang disutradarai oleh Mo Brothers beberapa waktu lampau. Cerita sendiri memang tidak istimewa, tapi sangat klasik. Enam sahabat-kurang lebih; Ladya [Julie Estelle], Eko [Dendy Subangil], Alam [Mike Muliardo a.k.a. VJ Mike], Jimmy [Daniel Mananta a.k.a. VJ Daniel], kakak Ladya-Adjie [Ario Bayu] dan istrinya Astrid [Sigi Wimala] menolong seorang gadis yang mengaku baru dirampok, Maya [Imelda Therinne] di tengah perjalanan pulang, dan diantar ke rumahnya di mana ibunya, Dara [Shareefa Daanish], dan dua kakaknya, Arman [Ruli Lubis] dan Adam [Arifin Putra]. Mereka dijamu makan malam, dan berikutnya kebaikan hati malah mengantar mereka kepada bencana. Adrenalin penonton mulai dibuat naik dan tidak diijinkan menurun. Tentu saja satu persatu mereka dibantai, dan seperti cerita &lt;i&gt;Dawn Of The Dead&lt;/i&gt; misalnya, cerita menjadi tidak penting lagi, tapi yang penting adalah survival. Beberapa orang berpendapat terlalu banyak darah dalam film ini, tapi saya kira masih sebatas kewajaran, dan memang perlu [lebih dari 10 orang dibantai, of course there will be a pool of blood, you pussies!]. Tidak seperti film-film Indonesia pada umumnya di mana alur cerita menjadi 'dragging', &lt;i&gt;Rumah Dara&lt;/i&gt; justru tidak memberikan celah untuk hal ini. Adrenaline rush ini mampu membuat fans film slasher terpaku di kursinya, takut, tapi sebenarnya opsi untuk meninggalkan kursi selalu ada [hey, sesaat setelah adegan gore pertama berjalan, ada sekitar 20 orang yang meninggalkan kursi mereka, menyerah]. Dan tidak hanya adegan-adegan gore-nya, adegan action-nya juga bisa dibilang sempurna dan terlihat natural. Nyaris tidak ada cela terutama untuk tim artistik film ini. Tidak ada darah yang seperti darah palsu [total ace untuk tim efek spesial!], tata riasnya juga top notch [simak tata rias Julie Estelle di akhir-akhir film!]. Sepertinya, kalau memang punya niat untuk membuat film berkualitas, seharusnya memang bisa dan Mo Brothers telah membuktikannya. Film horor lokal telah dianiaya oleh para cheap filmmaker lokal, dan sudah saatnya diambil alih oleh Mo Brothers. Tentu saja ada beberapa kekurangan dalam film ini, seperti beberapa continuity yang terlewat, atau misalnya perut Astrid yang hamil tua masih terlihat kurang real, dan untuk saya, tone suara Dara agak kurang oke [mungkin lebih berlaku untuk penonton internasional], dan lambang ouroboros yang digunakan oleh keluarga Dara bisa sedikit diperkuat latar belakangnya dan hubungannya dengan kesadisan mereka. Tapi semua kekurangan ini terasa minor, karena kita akan puas disuguhkan aksi horor yang tanpa jeda. Fans &lt;i&gt;Evil Dead, Texas Chainsaw Massacre, Suspiria,&lt;/i&gt; slasher Jepang, dan sejenisnya akan menyukai film ini, sementara untuk fans film cult seperti &lt;i&gt;The Gore Gore Girls, The Corpse Grinders,&lt;/i&gt; atau &lt;i&gt;Cannibal Holocaust&lt;/i&gt; juga akan tercengang. Bayangkan film-film cult tersebut diberi budget bagus dan artistik canggih, kita akan mendapatkan &lt;i&gt;Rumah Dara&lt;/i&gt;. Menonton film ini merupakan rasa stres saya yang paling nikmat untuk tahun ini. Ada yang lelah menonton ini? Feel free to go, wimp. Hey Mo Brothers, how about zombie bikers flick? Atau brain-eating aliens mendarat di Gedung DPR dan membantai seisi gedung? I'm sure it'll be fukking exciting. Let the bloodbath begins!... Btw, selama menulis review ini, saya mendengarkan lagi secara acak old school death metal &amp;amp; grindcore klasik; Repulsion, Carcass, Autopsy, Death, Grave dan the mighty Entombed. It fits the slasher feeling... &lt;b&gt;[arian13]&lt;/b&gt;</description>
<pubDate>Sun, 13 Dec 2009 08:20:19 +0700</pubDate>
<dc:creator>admin</dc:creator>
<guid isPermaLink="false">http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/rumah-dara-www.apokalip.com.html</guid>
<link>http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/rumah-dara-www.apokalip.com.html</link>

<category>Resensi</category>
<category>Resensi Video</category>
</item><item>
<title>ROADRUNNER UNITED ; The Concert</title>
<description>
&lt;img style=&quot;MARGIN-BOTTOM: 10px; MARGIN-LEFT: 10px; MARGIN-RIGHT: 15px&quot; height=&quot;169&quot; alt=&quot;&quot; src=&quot;/webzine/aset/asetzine/asetgambar/resvideo-roadrunner.jpg&quot; width=&quot;175&quot; align=&quot;left&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;strong&gt;ROADRUNNER UNITED&lt;br /&gt;
	The Concert&lt;br /&gt;
	Roadrunner&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

&lt;img height=&quot;11&quot; alt=&quot;&quot; src=&quot;/webzine/aset/asetzine/asetgambar/rating-5.gif&quot; width=&quot;79&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa yang anda harapkan dari perayaan ulang tahun sebuah label rekaman metal yang telah eksis selama seperempat abad?! Sebaiknya bukan pesta balon, atraksi badut, atau kue tart raksasa. Juga jangan nasi tumpeng plus doa-doa penyejuk dari sang rohaniawan. Itu semua tidak kompeten. Terlebih ada banyak musisi dan band handal, plus album dan lagu-lagu cadas klasik yang lahir dari label metal paling kesohor di planet ini. Jawabannya bisa anda temukan pada video dokumentasi perayaan ulang tahun Roadrunner Records ke-25 yang dikemas dalam bentuk konser musik spesial. DVD ini sendiri terdiri dari dua disc. Disc #1 berupa dokumenter, wawancara, jamming, komentar, sesi studio, serta behind-the-scene. Sedangkan disc #2 adalah full concert yang megah di New York, 15 Desember 2005, di mana 39 musisi dari 19 band yang berbeda tampil membawakan 25 lagu terbaik rilisan Roadrunner. Stori diawali dari pembentukan tim inti yang terdiri dari Dino Cazares, Adam Duce, Paul Gray, Joey Jordison, Andreas Kisser, dan Roy Mayorga. Kemudian ditambah puluhan musisi tamu seperti Evan Seinfeld, Ville Valo, Glen Benton, Scott Ian, Robb Flynn, James Murphy, Jamey Jasta, hingga Corey Taylor. Mereka jamming di atas panggung membawakan lagu-lagu hits yang pernah dilahirkan oleh Roadrunner Records. Beberapa yang menjadi favorit saya adalah &lt;i&gt;Punishment&lt;/i&gt; [Biohazard], &lt;i&gt;The End Complete&lt;/i&gt; [Obituary], &lt;i&gt;Abigail&lt;/i&gt; [King Diamond], &lt;i&gt;Alice In Hell&lt;/i&gt; [Annihilator], &lt;i&gt;Dead By Dawn&lt;/i&gt; [Deicide], &lt;i&gt;Replica&lt;/i&gt; [Fear Factory], &lt;i&gt;Black No.1&lt;/i&gt; [Type O Negative], &lt;i&gt;Davidian&lt;/i&gt; [Machine Head], serta &lt;i&gt;Roots Bloody Roots&lt;/i&gt; [Sepultura]. Ini menjadi semacam gathering komunitas dan musisi metal dalam kurun waktu 25 tahun terakhir - mulai era King Diamond, Machine Head, Slipknot, sampai Trivium. Sudah tentu perayaan itu bakal jadi sebuah konser legendaris di ranah metal. Jika anda seorang metalheads atau manusia biasa yang dibesarkan oleh musik-musik rilisan Roadrunner Records, maka sebaiknya anda juga ikut berbahagia. Coba cek, ada berapa album rilisan Roadrunner Records di rak koleksi seorang metalheads?! Saya yakin pasti ada beberapa, atau malah unggul mendominasi seperti yang terjadi di kamar saya?! Roadrunner adalah salah satu pionir label metal, dan unit yang cukup berhasil membawa musik metal ke puncak industri musik yang so-called-mainstream. Saat ini, Roadrunner menjadi contoh label rekaman yang sudah layak menyandang status 'legendary' - sementara mereka juga masih tetap bekerja hingga sekarang. Seperti tidak pernah kapok apalagi berhenti. Malah mungkin Roadrunner merupakan bisnis metal yang paling sukses di muka bumi, menurut saya. Sekarang, saya mulai membayangkan seperti apa perayaan ulang tahun Roadrunner yang ke-50 nanti. Jika masih dengan konsep selebrasi yang sama, saya pikir sebuah konser seminggu penuh sangatlah wajar untuk mereka. Well, ini berarti pestanya masih akan terus berlanjut. Mereka layak berbahagia dan kita tetap masih bisa memuja... &lt;b&gt;[samack]&lt;/b&gt;</description>
<pubDate>Fri, 13 Nov 2009 00:09:54 +0700</pubDate>
<dc:creator>admin</dc:creator>
<guid isPermaLink="false">http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/roadrunner-united-the-concert-www.apokalip.com.html</guid>
<link>http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/roadrunner-united-the-concert-www.apokalip.com.html</link>

<category>Resensi</category>
<category>Resensi Video</category>
</item><item>
<title>SIGUR ROS ; HEIMA</title>
<description>
&lt;img style=&quot;MARGIN-BOTTOM: 10px; MARGIN-LEFT: 10px; MARGIN-RIGHT: 15px&quot; height=&quot;169&quot; alt=&quot;&quot; src=&quot;/webzine/aset/asetzine/asetgambar/resvideo-sigurros.jpg&quot; width=&quot;175&quot; align=&quot;left&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;strong&gt;SIGUR ROS ; HEIMA&lt;br /&gt;
	Sutradara : Dean Deblois&lt;br /&gt;
	EMI&lt;br /&gt;
	&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;

&lt;img height=&quot;11&quot; alt=&quot;&quot; src=&quot;/webzine/aset/asetzine/asetgambar/rating-4.gif&quot; width=&quot;79&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jujur saja, sebenarnya saya sudah mulai bosan dengan Sigur Ros. Karena band ini sudah mulai terlalu 'pop' [baca ; umum] di antara komunitas indie pop itu sendiri. Apalagi album terakhir mereka, &lt;i&gt;Med Sud I Eyrum Vid Spillum Endaulaust&lt;/i&gt;, yang terlalu menjemukan tanpa adanya progres yang berarti dari musik mereka. Tampaknya musik mereka cenderung gitu-gitu aja dari album pertama sampai terakhir. Hingga iseng-iseng saya membeli DVD ini secara online. &lt;i&gt;Heima&lt;/i&gt; bercerita tentang kepulangan Sigur Ros dari tur internasional mereka. Bercerita mengenai kepulangan mereka dari kepopuleran, dan tetap menjadi band yang rendah hati dari negara indah bernama Islandia. Memang selain Bjork, negara Islandia memiliki Sigur Ros yang memainkan musik dengan bahasa ibu mereka. Sungguh menonton DVD ini membuka mata saya akan keindahan panorama alam Islandia, dengan diiringi musik Sigur Ros yang ambience, sungguh melenakan bagi mata dan telinga. Di Islandia, Sigur Ros tetaplah band yang relatif kecil jika dilihat dari jumlah penonton yang sedikit, tata panggung yang sederhana, dan tempat gigs yang tidak istimewa [bekas gudang, bekas pabrik, dsb]. Yang menarik dari Sigur Ros adalah di Islandia konser mereka ditonton oleh semua golongan masyarakat, bahkan anak-anak dan manula juga kerap menonton konser mereka. DVD ini telah membuat saya jatuh cinta kembali pada Sigur Ros. &lt;b&gt;[rusl]&lt;/b&gt;</description>
<pubDate>Sat, 19 Sep 2009 20:45:46 +0700</pubDate>
<dc:creator>admin</dc:creator>
<guid isPermaLink="false">http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/sigur-ros-heima-www.apokalip.com.html</guid>
<link>http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/sigur-ros-heima-www.apokalip.com.html</link>

<category>Resensi</category>
<category>Resensi Video</category>
</item><item>
<title>IRON MAIDEN ; FLIGHT 666</title>
<description>
&lt;img style=&quot;MARGIN-BOTTOM: 10px; MARGIN-LEFT: 10px; MARGIN-RIGHT: 15px&quot; height=&quot;169&quot; alt=&quot;&quot; src=&quot;/webzine/aset/asetzine/asetgambar/resvideo-flight666.jpg&quot; width=&quot;175&quot; align=&quot;left&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;strong&gt;IRON MAIDEN ; FLIGHT 666&lt;br /&gt;
	Sutradara : Sam Dunn &amp;amp; Scot McFadyen&lt;br /&gt;
	Sanctuary / Banger Films&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

&lt;img height=&quot;11&quot; alt=&quot;&quot; src=&quot;/webzine/aset/asetzine/asetgambar/rating-4.gif&quot; width=&quot;79&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana bisa sebuah band heavy metal, tanpa dukungan radio dan media mainstream bisa berhasil dan memiliki sebuah pesawat jet penumpang? Sebuah manajemen yang bagus, tentunya. Film &lt;i&gt;Iron Maiden ; Flight 666&lt;/i&gt; memang tidak mendokumentasikan bagaimana sebuah manajemen yang dipimpin oleh Rod Smallwood, tapi setelah kalian menyaksikan film dokumenter ini, tidak mungkin kalian tidak berpikir bagaimana cerdasnya Rod Smallwood memutar uang dalam band tanpa harus kehilangan attitude dan image band-nya. Sinting. &lt;i&gt;Iron Maiden ; Flight 666&lt;/i&gt; adalah sebuah film dokumenter [rockumentary!] tentang perjalanan tour Iron Maiden yang bertajuk &lt;i&gt;Somewhere Back In Time Tour&lt;/i&gt; ke 23 titik dan 13 negara sepanjang 50.000 mil dalam 45 hari, dengan Ed Force One, pesawat 757 pribadi mereka. Tidak hanya itu, Ed Force One juga dikendalikan langsung oleh vokalis Bruce Dickinson yang memang seorang pilot handal. Band heavy metal mana yang memiliki personil pilot profesional? Saya kira hanya Maiden. Disutradarai oleh fans Maiden juga, Sam Dunn dan Scot McFadyen, yang sudah dikenal dari karyanya &lt;i&gt;Metal ; A Headbanger's Journey&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;Global Metal&lt;/i&gt;, film ini memang cukup bombastis serta memiliki dasar cerita yang sangat menarik. Dibuka dari konser Iron Maiden yang sold out di Mumbai, India [kenapa, oh kenapa mereka tidak hadir di Indonesia?!], dokumentasi kemudian flashback ke hari pertama Maiden berangkat, dan berlanjut ke Australia, Jepang, Costa Rica, Chile, Brazil, dan seterusnya hingga total 13 negara. Laki-perempuan dari berbagai umur, fans yang selalu menyambut mereka, chanting &quot;Maiden! Maiden!&quot;, juga selalu mengerubungi mereka di airport dan hotel. Ini menjadi sebuah bukti kalau Maiden memiliki die-hard fans di mana-mana dan jaminan show akan menjadi sebuah momen yang monumental terutama untuk hidup sang fans. Sebagai musisi senior dalam blantika musik rock dan heavy metal, tidak ada gila-gilaan setelah manggung di sini. Tidak seperti yang ada pada &lt;i&gt;Pantera Home Video&lt;/i&gt;, misalnya. Tapi hal itu tidak mengurangi keseruan film ini. Beberapa dokumentasi menggambarkan bagaimana normalnya para personil Maiden ketika mereka memiliki waktu luang di antara jadwal tour yang padat. Profesionalitas Maiden sebagai entertainer sangat tinggi dan menginspirasi. Rutinitas mereka yang dilakukan dengan passionate memang menjadikan band ini pantas menyandang band papan atas dunia, dan tetap menjadi band yang menghindar dari selebritas. Cameo dari Ronnie James Dio, Vinny Appice, Kerry King, Lars Ulrich, Sepultura, Pat Cash [atlet tenis juara dunia Wimbledon], dan lainnya juga menghiasi film dokumenter ini. &lt;i&gt;Somewhere Back In Time Tour 2008&lt;/i&gt; sendiri sebenarnya adalah reinkarnasi dari &lt;i&gt;World Slavery Tour 1985&lt;/i&gt;, hanya saja dengan setlist lebih banyak dan diambil dari album &lt;i&gt;Somewhere In Time, Seventh Son of The Seventh Son, No Prayer For The Dying&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;Fear of The Dark&lt;/i&gt;. Tujuan tour ini adalah memberi dengar para fans muda setlist yang belum pernah mereka saksikan sebelumnya. Di mana tour-tour terakhir Maiden biasanya menampilkan lebih banyak lagu-lagu dari album-album terbaru. Fans baru dapat menyaksikan lagu &lt;i&gt;Rime Of The Ancient Mariner&lt;/i&gt;, misalnya. Bagaimana musik Maiden begitu menyentuh fans mereka. Seperti misalnya seorang fans yang mendapatkan stik drum Nicko McBrain menangis lama karena terharu karena akhirnya dapat menonton Maiden dan mendapatkan memorabilia yang tidak disangka. Ini membuat Maiden adalah The Beatles versi heavy metal - hanya saja media mainstream tidak pernah merekam hal ini. Sebagai film dokumenter, mungkin film ini tidak se-berkesan film Dunn dan McFadyen sebelumnya. Mungkin karena narasi di sini tidak banyak, karena toh cerita sudah mengalir langsung. Tapi tetap saja film ini dapat dinikmati oleh mereka yang bukan fans Maiden, dan juga memperlihatkan stamina band yang sangat besar. Terdapat DVD terpisah yang berisi setlist mereka, 17 lagu dalam 2 jam. Dan kembali lagi, kalian pasti akan kagum kepada Rod Smallwood, manajer mereka... &lt;b&gt;[arian13]&lt;/b&gt;</description>
<pubDate>Mon, 24 Aug 2009 22:38:02 +0700</pubDate>
<dc:creator>admin</dc:creator>
<guid isPermaLink="false">http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/iron-maiden-flight-666-www.apokalip.com.html</guid>
<link>http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/iron-maiden-flight-666-www.apokalip.com.html</link>

<category>Resensi</category>
<category>Resensi Video</category>
</item><item>
<title>NINE INCH NAILS ; THE BROKEN MOVIE</title>
<description>
&lt;img style=&quot;MARGIN-BOTTOM: 10px; MARGIN-LEFT: 10px; MARGIN-RIGHT: 15px&quot; height=&quot;169&quot; alt=&quot;&quot; src=&quot;/webzine/aset/asetzine/asetgambar/resvideo-nin.jpg&quot; width=&quot;175&quot; align=&quot;left&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;strong&gt;NINE INCH NAILS ; THE BROKEN MOVIE&lt;br /&gt;
	Sutradara : Peter Christopherson&lt;br /&gt;
	Interscope / Nothing&lt;br /&gt;
	&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;

&lt;img height=&quot;11&quot; alt=&quot;&quot; src=&quot;/webzine/aset/asetzine/asetgambar/rating-4.gif&quot; width=&quot;79&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini semacam paket visual penyiksaan yang dikemas oleh sindikat 'kuku sembilan inci' pimpinan sang maha raja Trent Reznor. Pendek dan tajam, hanya berkisar dua puluh menit saja. Sesuai judulnya, DVD ini memang memuat visualisasi lagu-lagu Nine Inch Nails yang ada dalam mini album &lt;i&gt;Broken&lt;/i&gt;. Diawali dengan track pembuka, &lt;i&gt;Pinion&lt;/i&gt;, yang kemudian disambung dengan klip video dalam tajuk &lt;i&gt;Wish&lt;/i&gt;. Singel ini dieksekusi dalam skena liveshow Nine Inch Nails di tengah kerangkeng besi dan gerombolan manusia haus darah. Mempertontonkan versi terliar para personil Nine Inch Nails dalam dandanan industrial metal-goth yang bernuansa hitam, lateks dan kulit. Yah, pemandangan ini akan segera mengingatkan saya pada dandanan Koil. Apalagi sangat kebetulan saya juga membeli DVD ini di God Inc, beberapa bulan yang lalu. &lt;i&gt;Happiness In Slavery&lt;/i&gt; seperti potongan frame penyiksaan yang penuh dengan darah dan daging tercecer. Tensi ini lebih ditingkatkan lagi pada video &lt;i&gt;Gave Up&lt;/i&gt;, yang mengumbar praktek mutilasi dan kanibalisme. Cerita tentang pria yang disayat dan dikebiri, hingga tumpukan organ manusia di dalam lemari pendingin tentunya bukan visualisasi yang nyaman bagi anda yang menyukai ketenangan. Tapi entah juga kalau anda menganggap itu terlihat indah dan menarik. Saya rasa, hanya penggemar film horor semacam &lt;i&gt;Saw&lt;/i&gt; atau &lt;i&gt;Texas Chainsaw Massacre&lt;/i&gt; yang akan terhibur dengan tontonan seperti itu. Nine Inch Nails di video ini adalah grup musik industrial era 90-an dalam status yang cult dan keras. Masih muda, bertenaga, dan menyakitkan. Jauh dari kesan musik dan imej mereka sekarang yang cenderung lebih tenang dan kalem. Sutradara Peter Christopherson tampak cukup berhasil menggambarkan maksud dari album &lt;i&gt;Broken&lt;/i&gt;. Slide gambar yang kabur, kadang goyang, seperti direkam dengan kamera video amatir. Hasilnya sekilas mirip video dokumenter dengan alur yang cukup hidup. Tapi jelas akan jauh dari kriteria perlombaan video Eagle Award - kalau Jiffest mungkin masih perlu memutar video seperti ini. Sementara karena hidup saya ikut dirubah oleh album &lt;i&gt;Broken&lt;/i&gt;, maka video ini menjadi salah satu favorit saya di jajaran rak teratas. Oke, memang agak sulit bagi saya untuk mengubah posisi karya-karya dari Trent Reznor. Fanatisme memang buta, dan bagi saya tidak masalah selama itu masih tentang Nine Inch Nails. Karena saya selalu siap bergembira dalam 'perbudakan' yang mereka mainkan, termasuk dengan film pendek ini... &lt;b&gt;[samack]&lt;/b&gt;</description>
<pubDate>Mon, 24 Aug 2009 22:36:24 +0700</pubDate>
<dc:creator>admin</dc:creator>
<guid isPermaLink="false">http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/nine-inch-nails-the-broken-movie-www.apokalip.com.html</guid>
<link>http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/nine-inch-nails-the-broken-movie-www.apokalip.com.html</link>

<category>Resensi</category>
<category>Resensi Video</category>
</item><item>
<title>DEATH VOMIT ; Flames of Hate</title>
<description>
&lt;img style=&quot;MARGIN-BOTTOM: 10px; MARGIN-LEFT: 10px; MARGIN-RIGHT: 15px&quot; height=&quot;169&quot; alt=&quot;&quot; src=&quot;/webzine/aset/asetzine/asetgambar/resvideo-devo.jpg&quot; width=&quot;175&quot; align=&quot;left&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;strong&gt;DEATH VOMIT&lt;br /&gt;
	Flames of Hate&lt;br /&gt;
	Rottrevore Records&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

&lt;img height=&quot;11&quot; alt=&quot;&quot; src=&quot;/webzine/aset/asetzine/asetgambar/rating-5.gif&quot; width=&quot;79&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karya DVD ini merupakan video konser tunggal pertama dari salah satu band death metal paling legendaris di Indonesia, Death Vomit. Sebelumnya di tahun 2005, Rottrevore Records memang pernah merilis &lt;i&gt;Rottrevore Deathfest&lt;/i&gt; yang merekam visualisasi band-band seperti Jasad, Forgotten, Disinfected dan Siksa Kubur. Video yang direkam dari konser Death Vomit di Kedai Kebun Jogja [18 Juni 2008] ini mengalir intens selama 40 menit. Trio 'pemuntah kematian' asal Jogja itu benar-benar total dalam pertunjukan yang memang dipersiapkan untuk konsumsi video recording. Setting panggung cukup simpel namun pas untuk standar konser metal. Tata cahaya [lighting] kelam yang didominasi sorot lampu merah adalah yang terbaik, dan menunjukkan aura misteri di dunia metal. Pengambilan visual dengan kamera multi-angle yang tersebar hampir di setiap sudut venue seperti mengajak pemirsa masuk ke area konser dan ikut merasakan kehebatan musikal Death Vomit. Kapasitas audio juga masih lumayan dan nyaman di telinga. Telinga dengan selera musik tertentu, maksud saya. Hampir semua unsur dalam sinematografi konser metal telah terpenuhi dengan sempurna di video ini. Kredit yang positif patut diberikan kepada label beserta seluruh tim produksi yang berhasil menyulap aksi pertunjukan malam itu menjadi sangat keren. Mereka sukses menciptakan atmosfir metal show yang sebelumnya hanya bisa kita dapati pada video-video band asing. Konser Cannibal Corpse, Obituary, Slayer, you name it. Sang aktor yang terdiri dari Sofyan [gitar/vokal], Oki [bass], dan Roy [drum] bermain brutal seakan tiada hari esok. Mereka mengeluarkan semua energinya dengan totalitas tinggi. Memainkan set yang panjang dengan belasan lagu, termasuk kover &lt;i&gt;Criminally Insane&lt;/i&gt; milik Slayer. Tensi kebisingan tetap terjaga stabil. Stamina mereka juga tidak terlihat melemah. Saya terkesan dengan suara Sofyan yang selalu growling - baik dalam menyanyi maupun berkomunikasi dengan crowd. Mengingatkan saya pada vokalis band-band lawas, seperti Mille Petroza [Kreator] misalnya. Dia juga mahir memainkan kapak gitarnya dalam tehnik tinggi. Sementara Oki berdiri lebih tenang membetot senar bass-nya. Dan Roy seakan tak pernah menyerah menggempur set drum-nya. Yah, malam itu hanya perlu tiga orang untuk sederet komposisi death metal yang meruang dengan hebat di venue Kedai Kebun. Kalau saya dipaksa untuk mencari kelemahan video ini, mungkin hanya pada jumlah crowd yang kurang banyak dan moshpit yang kurang brutal. Selebihnya karya ini tetap perfect. Sebagai extra bonus, DVD ini disertai juga dengan video klip, serta testimoni dari para fans dan sahabat Death Vomit. Selama belum ada tandingannya, saya merekomendasikan DVD ini wajib untuk dikoleksi oleh para penggemar musik cadas. Saya juga ikut angkat topi untuk mereka yang telah eksis selama belasan tahun dan tak pernah berhenti. Untuk segala keras keras dan karya-karyanya, Death Vomit memang layak mendapatkan ini semua!... &lt;b&gt;[samack]&lt;/b&gt;</description>
<pubDate>Thu, 18 Jun 2009 02:16:21 +0700</pubDate>
<dc:creator>admin</dc:creator>
<guid isPermaLink="false">http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/death-vomit-flames-of-hate-www.apokalip.com.html</guid>
<link>http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/death-vomit-flames-of-hate-www.apokalip.com.html</link>

<category>Resensi</category>
<category>Resensi Video</category>
</item><item>
<title>WATCHMEN</title>
<description>
&lt;img style=&quot;MARGIN-BOTTOM: 10px; MARGIN-LEFT: 10px; MARGIN-RIGHT: 15px&quot; height=&quot;169&quot; alt=&quot;&quot; src=&quot;/webzine/aset/asetzine/asetgambar/resvideo-watchmen.jpg&quot; width=&quot;175&quot; align=&quot;left&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;strong&gt;WATCHMEN&lt;br /&gt;
	Sutradara ;&lt;/strong&gt; Zack Snyder&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;Pemain ;&lt;/strong&gt; Malin Akerman, Billy Crudup, Matthew Goode, Carla Gugino, etc.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

&lt;img height=&quot;11&quot; alt=&quot;&quot; src=&quot;/webzine/aset/asetzine/asetgambar/rating-5.gif&quot; width=&quot;79&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adaptasi dari buku - dalam hal film ini adalah graphic novel - biasanya menimbulkan respon pada film-nya, &quot;Ah, lebih bagus bukunya!'. Saya kira, harus dipisahkan cerita aslinya [buku] dan adaptasi layar lebar. Saya rasa perubahan selama tidak krusial, tidak masalah. Untuk &lt;i&gt;Watchmen&lt;/i&gt;, saya tidak sempat membaca serial graphic novel-nya, walau dulu saya cukup agresif membaca komik-komik Amerika. Serial &lt;i&gt;Watchmen&lt;/i&gt; sendiri dirilis menjadi 12 graphic novel oleh DC Comics dalam kurun waktu 1986-1987. Tapi saya menikmati film berdurasi cukup lama ini, 2 jam 43 menit. Alan Moore sang kreator &lt;i&gt;Watchmen&lt;/i&gt; [juga, V For Vendetta, Swamp Thing, From Hell] merupakan jaminan cerita yang bermutu, dan ilustrasi Dave Gibbons [Green Lantern, Rogue Trooper] pada masanya adalah ilustrator komik yang memiliki style di kelas tersendiri. &lt;i&gt;Watchmen&lt;/i&gt; sendiri adalah sebuah cerita detektif, dengan bumbu superheroes, bukan sebaliknya. Setting yang diambil pertengahan 80-an di Manhattan, New York, dan layaknya sebuah fiksi, sejarah memang diacak-acak, seperti Nixon sudah terpilih 4 kali sebagai presiden Amerika Serikat, Amerika Serikat memenangkan perang di Vietnam, perang dingin antara Amerika Serikat dan Rusia, teknologi sudah lebih maju daripada seharusnya, dan lainnya. Ceritanya sendiri awalnya sederhana, salah satu mantan anggota Watchmen, The Comedian, dibunuh di apartemennya, yang menyebabkan lima mantan anggota lainnya [Rorshcach, Nite Owl, Silk Spectre II, Ozymandias, Dr.Manhattan] kembali berkumpul untuk menyelidiki siapakah yang membunuh The Comedian, dan apa alasannya. Diprakarsai dan dinarasikan oleh Rorschach, superhero psycho yang merupakan detektif, cerita kemudian mengalir dari banyak flashback dan latar belakang tiap anggota Watchmen. Dari Rorschach yang non kompromi dan keras, The Comedian yang asshole, Silk Spectre II yang meneruskan bakat superhero dari ibunya, Nite Owl yang berhati baik dan agak plin plan, Dr.Manhattan yang karena kekuatannya nyaris menyamai Tuhan sehingga emotionless, hingga Ozymandias yang menjadi pengusaha sukses. Grand masterplan-nya adalah menuju ke perdamaian dunia, apalagi manusia saat ini sedang giat menghancurkan sesamanya terutama dengan perang. In the end, ketika semua jawaban terkuak, selayaknya konspirasi besar, ada pertentangan moral dan emosi, juga pengorbanan 'kecil' yang harus dilakukan untuk mencapai kedamaian dunia, sehingga karakter tiap peran menjadi semakin jelas dan kuat. Pada akhirnya, siapa yang baik dan siapa yang jahat disini menjadi samar, tapi untuk karakter favorit saya, adalah Rorschach. Visual juga cukup memanjakan, banyak review yang mengatakan kalau film ini memang berusaha mengejar graphic novel-nya. Sementara durasi yang lama, bagi saya tidak membosankan karena film-nya sendiri cukup fast-paced. Salah satu yang menarik adalah opening main title-nya, yang digarap seperti kilas balik awal terbentuknya para superheroes ini dari Minutemen menjadi Watchmen, dan juga soundtracknya yang cukup unik, dari Nena's &quot;99 Luftballons&quot;, Simon &amp;amp; Garfunkel's &quot;Sounds Of Silence&quot;, sampai ke Bob Dylan's &quot;The Times They Are A-Changin'&quot;. Well, soundtrack terakhir dari My Chemical Romance adalah ide buruk. Sutradara Zack Snyder [300] memang punya beban besar, apalagi banyak Watchmaniacs [fans Watchmen] enggan graphic novel Watchmen dibuat menjadi film layar lebar karena pesimis akan mampu membuat detail kerumitan cerita di graphic novel-nya. Kalaupun kemudian film ini dibuat menjadi sekuel, rasanya agak aneh karena bukan merupakan cerita yang bombastis seperti Star Wars atau The Lord Of The Rings, misalnya. Entah juga kalau eksekusinya mungkin seperti serial Heroes. Untuk mereka yang membaca graphic novel-nya, &lt;i&gt;Watchmen&lt;/i&gt; mungkin akan mengecewakan karena meninggalkan banyak aspek penting dalam filmnya. Sementara mereka yang tidak membaca graphic novelnya yang mengharapkan sebuah film superheroes dengan banyak aksi laga, juga akan bertendensi mengecewakan [atau lebih kepada, tidak mengerti dan membingungkan]. Sementara mereka yang menyukai adaptasi graphic novel Alan Moore seperti &lt;i&gt;V For Vendetta&lt;/i&gt;, kemungkinan besar akan menyukai film ini. I did. Mungkin tidak akan se-masterpiece graphic novelnya, tapi saya kira Zack Snyder cukup melakukan kerja keras yang baik untuk mengadaptasikan graphic novel Alan Moore dan Dave Gibbons ini. Sekarang, saya perlu membaca graphic novel-nya. &lt;b&gt;[arian13]&lt;/b&gt;</description>
<pubDate>Sat, 09 May 2009 16:07:56 +0700</pubDate>
<dc:creator>admin</dc:creator>
<guid isPermaLink="false">http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/watchmen-www.apokalip.com.html</guid>
<link>http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/watchmen-www.apokalip.com.html</link>

<category>Resensi</category>
<category>Resensi Video</category>
</item><item>
<title>PINK FLOYD ; Live at Pompeii</title>
<description>
&lt;img style=&quot;MARGIN-BOTTOM: 10px; MARGIN-LEFT: 10px; MARGIN-RIGHT: 15px&quot; height=&quot;169&quot; alt=&quot;&quot; src=&quot;/webzine/aset/asetzine/asetgambar/resvideo-pinkfloyd.jpg&quot; width=&quot;175&quot; align=&quot;left&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;strong&gt;PINK FLOYD&lt;br /&gt;
	Live at Pompeii&lt;br /&gt;
	Adrian Maben Production&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

&lt;img height=&quot;11&quot; alt=&quot;&quot; src=&quot;/webzine/aset/asetzine/asetgambar/rating-4.gif&quot; width=&quot;79&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya salah besar, saya benar-benar keliru selama ini. Tuhan ampunilah saya! Sekian lama saya telah mempercayai sesuatu yang ternyata telah basi. Saya tertipu! Radiohead, Sonic Youth, Sigur Ros, Mogwai, Spiritualized, M83 dan lain sebagainya ternyata telah mengelabui saya. Saya mengira band-band hebat tadi adalah sesuatu yang baru dalam dunia musik atau menawarkan jenis musik yang baru?! Salah! Pink Floyd telah memainkan musik seperti band-band hebat tadi setelah saya melihat video ini. Video keluaran tahun 1972 ini [kita belum lahir bahkan ortu kita belum maried mungkin] saya dapatkan di bandara Juanda ketika sedang menjemput kerabat saya. Pertunjukan live mereka di stadion ala kerajaan Romawi [ingat film Gladiator?!] yang kosong namun sangat artistik sekali. Pink Floyd memang jenius di jamannya, bahkan sampai saat ini. Lulusan arsitek dan seni rupa bertemu untuk membuat band yang katanya beraliran psikedelik, art rock, prog rock, avant garde atau apalah - saya sendiri sampai saat ini tidak paham apa itu avant garde?! Formasi David Gilmour [vokal, gitar], Roger Waters [vokal, bass], Richard Wright [vokal, keyboard, piano], dan Nick Mason [drum] memang formasi paling pol di Pink Floyd - tanpa mengurangi rasa hormat pada Syd Barret, vokalis terdahulu mereka yang sakit jiwa. Ketika melihat dan mendengarkan video ini saya jadi teringat pada band-band jaman sekarang ; kerumitan aransemen ala Radiohead, ke-noise-an dan harmonisasi ala Sonic Youth, atau proges penjiwaan instrumen ala Mogwai. Semua itu sudah pernah dimainkan Pink Floyd! Simak ketika lagu &lt;i&gt;Echoes Part 1 &lt;/i&gt;atau &lt;i&gt;Us And Them&lt;/i&gt;, Pink Floyd sudah bermain seakan-akan mereka adalah Radiohead di jamannya. Di lagu &lt;i&gt;A Saucerful of Secret&lt;/i&gt;, gitaris David Gilmour sudah bermain gitar ala Thurston Moore, bahkan lebih absurd dan liar. Lagu-lagu di video ini memang berdurasi panjang, tapi tidak membuat saya ingin beranjak atau menghentikannya. Tidak dapat saya bayangkan apabila para personel Pink Floyd lahir dan kembali muda di jaman kini. Sebuah era emas kejayaan musik yang telah mencair dan melahirkan band-band hebat yang anda dengar saat ini. Saya seperti mencapai kebahagiaan menikmati musik dengan sebotol penuh wine sambil terkagum-kagum... &lt;b&gt;[rusl]&lt;/b&gt;</description>
<pubDate>Tue, 21 Apr 2009 20:43:58 +0700</pubDate>
<dc:creator>admin</dc:creator>
<guid isPermaLink="false">http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/pink-floyd-live-at-pompeii-www.apokalip.com.html</guid>
<link>http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/pink-floyd-live-at-pompeii-www.apokalip.com.html</link>

<category>Resensi</category>
<category>Resensi Video</category>
</item><item>
<title>CADILLAC RECORDS</title>
<description>
&lt;img style=&quot;MARGIN-BOTTOM: 10px; MARGIN-LEFT: 10px; MARGIN-RIGHT: 15px&quot; height=&quot;169&quot; alt=&quot;&quot; src=&quot;/webzine/aset/asetzine/asetgambar/resvideo-cadillacrecords.jpg&quot; width=&quot;175&quot; align=&quot;left&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;strong&gt;CADILLAC RECORDS&lt;br /&gt;
	Sutradara ;&lt;/strong&gt; Darnell Martin&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;Pemain ;&lt;/strong&gt; Adrien Brody, Jeffrey Wright, Mos Def, Beyonce, etc.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

&lt;img height=&quot;11&quot; alt=&quot;&quot; src=&quot;/webzine/aset/asetzine/asetgambar/rating-4.gif&quot; width=&quot;79&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada tahun 1941-1958, ketika sisa-sisa rasisme di Amerika masih mencuat. Leonard Chess [Adrien Brody], produser rekaman dan pemilik sebuah klub kecil di Chicago ingin membuktikan ke calon mertua bahwa bisnisnya baik untuk masa depan dan membelikan calon istrinya kelak sebuah mobil Cadillac yang merupakan barang mewah kala itu. Sedangkan Muddy Waters [Jeffrey Wright] adalah buruh ladang di Mississipi yang pandai bermain gitar dan bernyanyi. Ketika sedang bekerja, Muddy kedatangan dua orang yang ingin melihat bakatnya dalam bermain gitar dan bernyanyi untuk direkam. Muddy mendapat nasehat kalau bakatnya itu akan membuatnya terkenal dan kaya. Akhirnya Muddy merantau ke Chicago. Di sana Muddy menjadi pengamen jalanan, dan ketika dia sedang berjalan-jalan, ia melihat seorang pemain gitar dan seorang lagi pemain harmonika bernama Little Walter [Columbus Short] yang selalu membawa pistol ke mana-mana. Ketika Muddy mengajak Little Walter untuk bermain musik bersama, terjadi kecocokan di antara keduanya. Mereka kemudian mengikuti audisi di klub milik Leonard Chess. Meskipun terjadi sedikit keributan, keesokan harinya Muddy mendapat tawaran dari Leonard untuk merekam suaranya. Lagu &lt;i&gt;I Can't Be Satisfied&lt;/i&gt; menjadi singel pertamanya. Ketika lagu itu diedarkan di radio dan menjadi hits, Muddy semakin terkenal dan mendapat sebuah mobil Cadillac dari Leonard. Suatu malam, klub Leonard terbakar dan dia terpaksa mencari tempat baru untuk dijadikan sebuah studio rekaman bernama Chess Records. Chess Records langsung menjadi studio terbaik di Chicago. Di sana Little Walter juga merekam singel pertamanya yang langsung menjadi hits di radio-radio hingga ia mendapat hadiah mobil Cadillac pula. Selanjutnya Chess Records sempat merekrut Howlin' Wolf [Eamon Walker]. Di sebuah klub akan ada pertunjukan dari seorang penyanyi bernama Chuck Berry [Mos Def]. Namun ketika Chuck Berry datang, pemilik klub tidak percaya dan langsung menolak mentah-mentah ketika tahu kalau yang datang seorang Chuck berry yang berkulit hitam. Saat Little Walter datang ke Chess Records dengan mobil Cadillac tak berpintu, ia langsung dicurigai polisi dan dihajar meski ia sudah mengaku sebagai artis dan itu memang mobilnya. Leonard dan Muddy lalu mengaudisi Chuck berry dan mereka langsung tertarik dengan musiknya yang cukup berbeda pada waktu itu. Chuck Berry langsung merekam album dan rock 'n roll sukses merajai radio-radio di Amerika. Nama Chuck Berry langsung naik daun. Meski saat manggung di sebuah kota Chuck terpaksa tidur di mobil karena semua hotel hanya menerima tamu kulit putih saja. Leonard Chess kemudian mengaudisi Etta James [Beyonce Knowles] seorang penyanyi dengan masalah pribadi yang rumit. Saat Chuck Berry di penjara, Etta James langsung dikontrak oleh Chess Records. Ketika datang kembali ke label tersebut, Muddy Waters disapa oleh lima anak muda yang mengaku kalau mereka adalah fans berat Muddy dan menamai band mereka dengan salah satu judul lagunya. Kelima anak muda itu menamakan band mereka Rolling Stones. Setelah itu mulai banyak masalah yang terjadi di keluarga besar Chess Records. Leonard Chess tiba-tiba dipukuli orang tak dikenal. Little Walter juga dipukuli orang karena masalah judi dan meninggal ketika sampai di rumah. Saat itu nama Elvis Priesley tiba-tiba terkenal di mana-mana dan membuat Chuck Berry heran. Ketika Leonard pulang dari kantornya, tiba-tiba saja ia terkena serangan jantung dan meninggal. Akhirnya Muddy Waters pulang ke Mississipi dan memutuskan untuk meneruskan bisnis rekaman serta memproduseri musik rhytm 'n blues, rock 'n roll dan hip hop. Film ini juga dihiasi lagu-lagu hits dari Muddy Waters, Little Walter, hingga Chuck Berry. Klasik!... &lt;b&gt;[Edi Boy]&lt;/b&gt;</description>
<pubDate>Fri, 02 Jan 2009 19:41:37 +0700</pubDate>
<dc:creator>admin</dc:creator>
<guid isPermaLink="false">http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/cadillac-records-www.apokalip.com.html</guid>
<link>http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/cadillac-records-www.apokalip.com.html</link>

<category>Resensi</category>
<category>Resensi Video</category>
</item><item>
<title>FLASHBACK OF A FOOL</title>
<description>
&lt;img style=&quot;MARGIN-BOTTOM: 10px; MARGIN-LEFT: 10px; MARGIN-RIGHT: 15px&quot; height=&quot;169&quot; alt=&quot;&quot; src=&quot;/webzine/aset/asetzine/asetgambar/resvideo-flashbacks.jpg&quot; width=&quot;175&quot; align=&quot;left&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;strong&gt;FLASHBACK OF A FOOL&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;Sutradara ;&lt;/strong&gt; Baillie Walsh&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;Pemain ;&lt;/strong&gt; Daniel Craig, Miriam Karlin, Harry Eden, Jodie Tomlinson, Claire Forlani, Max Deacon, Felicity Jones, Jodhi May.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

&lt;img height=&quot;11&quot; alt=&quot;&quot; src=&quot;/webzine/aset/asetzine/asetgambar/rating-3.gif&quot; width=&quot;79&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Joe Scott dewasa [Daniel Craig] adalah seorang bintang film Hollywood asal Inggris yang berumur hampir setengah abad, singel, hidup di pantai dengan bantuan sang asisten setia, Ophelia Franklin. Joe menerima telepon dari sang mama yang mengabarkan bahwa sahabat Joe semasa remaja, Boots, meninggal dunia dan Joe diminta untuk datang ke pemakaman. Di hari itu juga perjanjian kontrak filmnya dengan seorang sutradara batal, membuat Joe pulang dengan keadaan marah. Dalam perjalanan pulang, Joe berhenti di sebuah pantai dan untuk meluapkan marahnya, dia akhinya berenang. Sambil berjemur di laut, Joe mengingat masa remajanya di pinggir pantai Inggris tahun 70-an. Joe Scott remaja [Harry Eden] dan Boots mcKay remaja [Max Deacon] pulang ke rumah Joe di pinggir pantai Inggris setelah seharian bermain. Mereka lalu melihat ibu Joe, Grace Scott bersama nyonya Rogers [Miriam Karlin], Peggy Tickle, Jesse, serta Evelyn Adams [Jodhi May] dan anaknya Jane Adams [Jodie Tomlinson] yang sedang membuat makan malam di dapur. Ketika Joe di dalam kamar, Evelyn datang dan menggoda Joe. Tiba-tiba nyonya Rogers datang dan membuat mereka panik. Setelah Evelyn pulang, Joe diminta mamanya mengantarkan piccalilli kepada Evelyn. Ketika Joe sampai di rumah Evelyn, Joe digoda lagi oleh Evelyn. Untuk kedua kalinya mereka panik, karena suami Evelyn, Jack, tiba-tiba datang. Pada suatu malam yang lain, Joe bersama Boots dan Kevin Hubble bermain bilyard. Tiba-tiba mereka kedatangan Ruth Davies [Felicity Jones]. Setelah Joe dan Ruth mengobrol sebentar, mereka memutuskan untuk mampir ke rumah Ruth dan meneruskan obrolan mereka sambil mendengarkan musik. Ternyata Ruth adalah pencinta David Bowie dan Roxy Music. Joe dan Ruth lalu berjanji untuk berkencan lagi di tempat bilyard esok malam. Sewaktu Joe bersiap-siap untuk kencan, Evelyn datang dan menyuruh Joe ke rumahnya sebelum berangkat. Di sana mereka akhirnya bercinta karena tergoda oleh rayuan Evelyn. Ruth dan Boots yang menunggu Joe di tempat bilyard menyadari karena Joe terkenal selalu terlambat. Ketika Joe datang, Ruth langsung marah-marah karena di leher Joe terlihat bekas ciuman. Karena itu juga Boots dan Joe sempat berkelahi. Esoknya, Joe menanyakan bekas ciuman itu kepada Evelyn. Namun Evelyn meminta Joe untuk bercinta lagi dan Evelyn dengan paksa menyuruh Jane yang sedang nonton teve untuk bermain di luar rumah. Jane terpaksa bermain sendirian di pantai, sementara nyonya Rogers mengamati tingkah laku Jane dari balik jendela. Ketika nyonya Rogers melihat Jane sedang menaiki ranjau laut yang terbawa badai semalam, ia panik dan menyuruh Jane turun serta menjauhi ranjau itu. Hal yang tak diinginkan akhirnya terjadi. Ranjau laut meledak dan Jane lenyap bersama ledakan itu. Jesse dan Grace Scott yang sibuk membuat kue, Peggy yang sibuk dengan tanamannya, serta Joe dan Evelyn yang sibuk bercinta langsung berhamburan keluar menghampiri asal ledakan. Evelyn menyesal karena selama ini hubungannya dengan sang anak, Jane, kurang harmonis. Sewaktu semua orang berangkat ke pemakaman, Joe mengurung diri karena merasa ikut bertanggung jawab. Karena hal itu, Joe memutuskan pergi dari rumah dengan sebuah penyesalan besar. Joe Scott dewasa yang sedang mengingat masa lalunya di pantai tetap memutuskan pulang ke Inggris untuk menghadiri pemakaman Boots. Sampai di sana, Joe bertemu dengan mama serta tantenya yang bercerita kalau Boots dan Ruth menikah selepas kepergian Joe. Mereka dikaruniai empat anak, dengan si sulung yang dinamai Joe. Setelah beristirahat di kamar yang sudah 25 tahun ditinggalkan, Joe pergi ke kuburan Boots diantar oleh adiknya, Jesse. Meskipun Joe datang terlambat satu hari, ia merasa canggung untuk bertemu dengan Ruth. Jesse yang tidak mengetahui masa lalu Joe, Ruth, dan Boots merasa kelakuan kakaknya agak aneh. Tiba di pemakaman, Joe bertemu dengan Ruth [Claire Forlani]. Mereka lalu mengobrol sambil mengingat masa lalu. Joe juga menemui Jesse yang saat itu berada di kuburan Jane. Joe kaget begitu mengetahui kalau Evelyn telah meninggal dan dikubur di sebelah Jane. Setelah kematian Jane, Evelyn dan Jack berpisah kemudian Evelyn menikah dengan Kevin Hubble. Karena tidak kuat dengan perlakuan Kevin yang suka memukulinya, Evelyn lalu kabur melarikan diri. Mobil yang dikendarai Evelyn justru keluar dari jalan tol dan langsung menabrak truk hingga ia tewas. Evelyn dikabarkan tewas seketika dengan kepala putus dan hilang, hingga dia harus dikubur tanpa kepala - anaknya, Jane, malah dikuburkan tanpa jasad, hanya peti mati di liang kubur. Sebelum balik ke Amerika, Joe menulis sesuatu yang ditujukan untuk Ruth dan disampaikan oleh Jesse. Sewaktu Ruth membaca surat Joe, Ruth menangis histeris karena isinya mengingatkan masa lalu mereka berdua. Akhirnya Joe memang harus kembali ke Amerika untuk meneruskan karirnya sebagai bintang film yang sudah pudar sinarnya. &lt;b&gt;[Edi Boy]&lt;/b&gt;</description>
<pubDate>Thu, 13 Nov 2008 10:40:47 +0700</pubDate>
<dc:creator>admin</dc:creator>
<guid isPermaLink="false">http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/flashback-of-a-fool-www.apokalip.com.html</guid>
<link>http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/flashback-of-a-fool-www.apokalip.com.html</link>

<category>Resensi</category>
<category>Resensi Video</category>
</item><item>
<title>METALLICA ; SOME KIND OF MONSTER</title>
<description>
&lt;img style=&quot;MARGIN-BOTTOM: 10px; MARGIN-LEFT: 10px; MARGIN-RIGHT: 15px&quot; height=&quot;169&quot; alt=&quot;&quot; src=&quot;/webzine/aset/asetzine/asetgambar/resvideo-metallica.jpg&quot; width=&quot;175&quot; align=&quot;left&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;strong&gt;METALLICA ; SOME KIND OF MONSTER&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;Sutradara :&lt;/strong&gt; Joe Berlinger &amp;amp; Bruce Sinofsky&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;Pemain :&lt;/strong&gt; James Hetfield, Lars Ulrich, Kirk Hammet, Robert Trujillo, etc.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

&lt;img height=&quot;11&quot; alt=&quot;&quot; src=&quot;/webzine/aset/asetzine/asetgambar/rating-4.gif&quot; width=&quot;79&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Let me come clean for a moment. I'll say at the outset of this review that I am not one of the Metallica faithful. I am, however, a huge music fan, so maybe that counts for something in the scheme of things. But the metal genre, or whatever they're officially classified as, was always just on the outskirts of my musical radar, and though I was familiar with the basic tenets of what the long-lasting entity known as Metallica was all about, I was never what you would consider remotely a fan. I never disliked them, I just never gravitated towards them. Somehow a song like &lt;i&gt;Enter Sandman&lt;/i&gt; was familiar to me, but I would have been hard pressed to come up one other song title of theirs. Why the big disclaimer, you ask? It's because &lt;i&gt;Metallica : Some Kind of Monster&lt;/i&gt; does not require that one be in on what the band is all about, that it is not necessary to know the history or the songs to find this documentary completely fascinating. Being a music fan probably helps, but it's probably not a prerequisite. This wasn't made, or at least didn't end up as a fanboy homage?though I'm sure Metallica-heads will mine some nuggets that escaped me?but that's not really what filmmakers Joe Berlinger and Bruce Sinofsky [Brother's Keeper, Paradise Lost] had in mind. What started as an inside look at the creative process of making what would eventually become the Grammy-winning release, &lt;i&gt;St. Anger&lt;/i&gt;, became a fly-on-the-wall view of one of rock's biggest acts disintegrating as addictions, conflicts, hostilities, and vendettas threatened to tear them apart, with documentary cameras there to catch it all. It looks behind the magical curtain of big time rock and roll, and it isn't always pretty. Things start in early 2001, with the band in the beginning stages of putting together their first album in five years, still missing a bassist after the departure of Jason Newstead, who came into conflict with vocalist/guitarist and de facto bossman James Hetfield. The remaining three members [Hetfield, drummer Lars Ulrich and guitarist Kirk Hammett] have enlisted the help of Phil Towle, a $40,000/month therapist hired to open the lines of communication, and the appropriately named album producer Bob Rock has been drafted to do double duty as bassist. As the days begin to tick by, with no real forward progress being made, Hetfield, who has been on the wrong end of substance abuse for years, ups and vanishes as he goes into an isolated period of rehab that stretches nearly a year, leaving the new project temporarily stagnant. There is a veneer of strange but true weirdness in this rock and roll world, something that Berlinger and Sinofsky display with an unblinking eye. Hetfield's eventual clean-and-sober return, which sparked a whole new set of internal problems?primarily between him and Ulrich?falls in alongside such other obstacles as the backlash brought upon them by Ulrich's public crusade against Napster, or the increasing role of therapist Towle to build an &quot;I'm feeling this when you say that&quot; kind of dialogue between the bickering leads of the group, while gentle-voiced Hammett always lurks in the background, almost unwilling to rise up against Hetfield, drunk, sober or otherwise. Or witness the near parody levels reached as one-time member Dave Mustaine [who went on to form metal rival Megadeth] confronts Ulrich in one of the therapy sessions, citing his hurt feelings. I can't stress how odd it was to see members of two of the biggest metal acts getting in touch with their emotions, and while I don't knock them doing it, there is something almost Spinal Tap-ish about the whole thing. All that reality TV strife and drama is only a small part of what makes this doc so immensely watchable, because along the way Berlinger and Sinofsky capture a seldom seen look at the songwriting process, as studio rehearsals turn into brainstorming sessions as snippets of lyrics are bandied about, or riffs are molded and tweaked to create songs. Even one of Hetfield's throwaway barbs used during a conference call ends up becoming a key lyric to one of the new songs. One one hand it's a kick to see a band that has sold 90 million albums argue and complain amongst themselves, but seeing them create music reinforces the whole &quot;they put their pants on one leg at a time&quot; mentality. There is no magic pill to songwriting, and the Metallica members, high and mighty rock gods that they are, go through the same kind of back-and-forth struggle in the process of writing music. And if anything, it knocks them down a peg and immediately makes them seem like regular joes [admittedly wealthy joes], even as one of them [Ulrich] is shown making millions of dollars after auctioning off some of his prized artwork collection. If you have a love of music?any type at all, it doesn't matter?then I know you will find the experience a real joyride. For a doc it may seem to run a little long, pushing the 140 minute mark, but I never found the pace to be lethargic or dull. The threat of disintegration and the loose degree of cohesion that keeps a band like Metallica together puts a face to the terms &quot;creative differences&quot;. Look at the underbelly of rock and roll. Look at it!... &lt;b&gt;[Rich Rosell / DigitallyObsessed]&lt;/b&gt;</description>
<pubDate>Wed, 17 Sep 2008 22:44:18 +0700</pubDate>
<dc:creator>admin</dc:creator>
<guid isPermaLink="false">http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/metallica-some-kind-of-monster-www.apokalip.com.html</guid>
<link>http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/metallica-some-kind-of-monster-www.apokalip.com.html</link>

<category>Resensi</category>
<category>Resensi Video</category>
</item>
</channel>
</rss>