<?xml version="1.0" encoding="iso-8859-1" ?>
<rss version="2.0"
xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
>
<channel>

<title>www.apokalip.com</title>
<link>http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/index.php</link>
<description>www.apokalip.com</description>
<language>id</language>
<generator>Apokalip 1.1.1</generator>

<item>
<title>SIGH ; Scenes From Hell</title>
<description>
&lt;img style=&quot;MARGIN-BOTTOM: 10px; MARGIN-LEFT: 10px; MARGIN-RIGHT: 15px&quot; height=&quot;169&quot; alt=&quot;&quot; src=&quot;/webzine/aset/asetzine/asetgambar/resmusik-sigh.jpg&quot; width=&quot;175&quot; align=&quot;left&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;strong&gt;SIGH&lt;br /&gt;
	Scenes From Hell&lt;br /&gt;
	The End Record&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

&lt;img height=&quot;11&quot; alt=&quot;&quot; src=&quot;/webzine/aset/asetzine/asetgambar/rating-4.gif&quot; width=&quot;79&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Anda seorang Japan-freak? Apa? Jawaban anda adalah &quot;Ya&quot;? Alhamdulillah, karena review ini akan segera menyadarkan betapa usaha anda untuk menyipitkan mata, berdandan mati-matian dan membentuk band dengan vokalis yang bernyanyi sesengau mungkin itu percuma saja. Percayalah, anda sebaiknya segera mengepak impian untuk menjadi impersonator Hyde nomor 109. Kemasi semua impian anda untuk menjadi manusia se-jepang-jepang-nya, karena ketika anda berusaha menjadi mereka, saudara tua kita justru mati-matian menjadi 'londo'&lt;i&gt;.&lt;/i&gt; Akh, anda mau bukti? Dengar saja &lt;i&gt;Scenes From Hell&lt;/i&gt;, rilisan terbaru Sigh melalui label The End Record. Rilisan ini malah makin menunjukkan Sigh tak malu lagi menyodorkan kekaguman akan budaya Eropa dalam bentuk album. Memang, bukan pertama kali ini memang, karena sebelumnya &lt;i&gt;Hangman's Hymn&lt;/i&gt; telah terlebih dahulu menyuguhkan senyawa thrash yang dipadu dengan gempita simfonik metal. Tapi, &lt;i&gt;Scenes From Hell&lt;/i&gt; menawarkan apa yang sebelumnya hanya jadi mimpi basah sekelompok orang ini. Mimpi basah itu bernama 'simfoni organik'? Mirai dan gerombolan dengan baik hati memutuskan untuk tidak membohongi gendang telinga kita. Dengan tulus mereka membawa sekelompok pemain brass section untuk mengguratkan nuansa simfonis yang, kali ini, benar-benar nyata. Keyboard yang dulu bertanggung jawab untuk membohongi kuping kita, kini lebih didorong ke belakang menjadi pemain latar. Pemain utamanya? Tentu saja sekumpulan terompet yang berkorporasi membentuk bebunyian simfonik bernada Eropa yang menimpali line guitar yang bertendensi thrash. Perhatian sebelum anda melanjutkan, harap ingat kembali ini review album Sigh, bukan Dimmu Borgir atau sejenisnya, jadi jangan harap menemukan sekelompok brass section yang dibayar hanya untuk menjadi musik pengiring komposisi black metal yang hendak terdengar megah. Brass section dalam &lt;i&gt;Scenes From Hell&lt;/i&gt; memang lincah; yup, lincah dalam komposisi yang cepat juga lincah melintas genre. Mungkin lebih susah memilah percampuran genre dalam album ini. Namun jelas kentara bahwa brass section dalam album ini menggurat komposisi klasik, folk bahkan sirkus. Tak pelak &lt;i&gt;Scenes From Hell&lt;/i&gt; terdengar laksana rilisan Cradle Of Filth tanpa Dani Filth, plus nuansa sirkus yang dicampur dengan sedikit nuansa Unexpect. Unik?! Akh, tapi unik memang adjektif yang akrab dengan Sigh. Ada masanya Sigh lebih mirip varian black metal ala Mr Bungle. Sejujurnya, saya mengharap Mirai dkk masih mau kembali bernostalgia ke masa pra &lt;i&gt;Hangman's Hymn&lt;/i&gt;, ketika black metal dicampur dengan apapun yang dikehendaki Mirai. Kini ekletisme, yang kerap saya cari dari band Jepang yang tidak memainkan J-rock [yeah, I hate this term!] itu telah direduksi oleh semangat '45 untuk menjadi 'londo' seutuhnya, dan &lt;i&gt;Scenes From Hell&lt;/i&gt; adalah kabar buruk bagi saya. &lt;i&gt;Scenes From Hell&lt;/i&gt; sepenuhnya kabar buruk? Well, itu jika anda hanya mengenal Sigh sampai album &lt;i&gt;Gallows Gallery&lt;/i&gt;. Selebihnya, jika anda penyuka black metal yang keluar dari pakem; album ini patut disimak sebagai pemanasan di awal tahun. Lebih hebat lagi jika anda seorang Japan-freak. Album ini adalah pencerahan karena bisa menyadarkan anda bahwa menjadi Nippon itu sama saja menjadi orang Bali yang bernama Ketut dan Wayan, misalnya. Kenapa?! Karena orang Jepang toh bermimpi&lt;i&gt; &lt;/i&gt;jadi orang Eropa, dan jangan lupa, bule Eropa suka cewek Bali!... &lt;b&gt;[innerciatic manneken]&lt;/b&gt;</description>
<pubDate>Thu, 25 Feb 2010 00:50:39 +0700</pubDate>
<dc:creator>admin</dc:creator>
<guid isPermaLink="false">http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/sigh-scenes-from-hell-www.apokalip.com.html</guid>
<link>http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/sigh-scenes-from-hell-www.apokalip.com.html</link>

<category>Resensi</category>
<category>Resensi Musik</category>
</item><item>
<title>MAN MUST DIE ; No Tolerance For Imperfection</title>
<description>
&lt;img style=&quot;MARGIN-BOTTOM: 10px; MARGIN-LEFT: 10px; MARGIN-RIGHT: 15px&quot; height=&quot;169&quot; alt=&quot;&quot; src=&quot;/webzine/aset/asetzine/asetgambar/resmusik-manmust.jpg&quot; width=&quot;175&quot; align=&quot;left&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;strong&gt;MAN MUST DIE&lt;br /&gt;
	No Tolerance For Imperfection&lt;br /&gt;
	Relapse Records&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

&lt;img height=&quot;11&quot; alt=&quot;&quot; src=&quot;/webzine/aset/asetzine/asetgambar/rating-4.gif&quot; width=&quot;79&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Daratan Skotlandia melahirkan barisan orang-orang pemberani dengan bendera hitam provokatif yang bertuliskan Man Must Die [MMD]. Seolah-olah jiwa 'Braveheart' sudah mengakar kuat di benak masing-masing personil band asal Glasgow ini. &lt;i&gt;No Tolerance For Imperfection&lt;/i&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;adalah album ketiga, dan rasanya lebih berkembang daripada rilisan mereka sebelumnya. Setidaknya secara komposisi musik dan sound terdengar makin kaya serta menantang. Jarang-jarang bisa kita dapati band death metal dari tanah Britania Raya, dan MMD justru 'nglunjak' pamer memainkan berbagai dimensi progresi serta sentuhan teknikal di sana-sini. Death metal?! Ups sebentar, sebenarnya band ini mengaku lebih kepada 'grindcore ethic' daripada terlibat di ranah 'death metal' seperti yang dikatakan media. Itu bisa dilihat dari lirik-lirik mereka yang banyak mengusung tema sosial-politik - topic grindcore dalam level advanced lah. Label kesohor Relapse Records tampaknya jeli melihat potensi band-band pengusung musik hyper-aggressive seperti layaknya MMD ini. Hingga akhirnya mereka menjadi band British pertama yang tergabung dalam Relapse Records. Secara musikal, bukan hal yang baru juga sebenarnya ; riff yang meliuk-liuk, melodi pemanis di tengah lagu, vokal menyalak, dan atmosfir sound yang apokaliptik. &lt;i&gt;Gainsayer&lt;/i&gt; seperti tipikal lagu cepat yang akan digemari fans death/grind modern. Tetap brutal, namun punya harmonisasi di sektor gitar. &lt;i&gt;Kill It Skin It Wear it&lt;/i&gt; semakin menguliti tehnik bermusik Joe McGlynn dkk dalam kapasitas amarah dan dendam yang musti dilampiaskan. Nomor pendek berjudul &lt;i&gt;Survival of The Sickest&lt;/i&gt; terdengar megah dengan melodi panjang dan marching drum yang gagah. Di sejumlah stok lagunya, MMD seakan bisa melahap permainan Origin, Necrophagist, atau bahkan Brutal Truth dan Converge. Track favorit saya adalah &lt;i&gt;It Comes In Threes&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;Reflections From Within&lt;/i&gt;. Dua track yang keras, matang, dan terus menancap di kepala! Rasanya saya harus menyetel kembali film &lt;i&gt;Braveheart &lt;/i&gt;berbarengan dengan album ini, karena siapa tahu William Wallace yang dilakoni oleh Mel Gibson bisa bertindak makin kalap dan beringas, hingga menambah lebih banyak daging yang tercabik serta darah yang berceceran... &lt;b&gt;[smck]&lt;/b&gt;</description>
<pubDate>Thu, 25 Feb 2010 00:49:15 +0700</pubDate>
<dc:creator>admin</dc:creator>
<guid isPermaLink="false">http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/man-must-die-no-tolerance-for-imperfection-www.apokalip.com.html</guid>
<link>http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/man-must-die-no-tolerance-for-imperfection-www.apokalip.com.html</link>

<category>Resensi</category>
<category>Resensi Musik</category>
</item><item>
<title>DINNING OUT ; Menghempas Lelah</title>
<description>
&lt;img style=&quot;MARGIN-BOTTOM: 10px; MARGIN-LEFT: 10px; MARGIN-RIGHT: 15px&quot; height=&quot;169&quot; alt=&quot;&quot; src=&quot;/webzine/aset/asetzine/asetgambar/resmusik-dinningout.jpg&quot; width=&quot;175&quot; align=&quot;left&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;strong&gt;DINNING OUT&lt;br /&gt;
	Menghempas Lelah&lt;br /&gt;
	Absolute Records&lt;br /&gt;
	&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;

&lt;img height=&quot;11&quot; alt=&quot;&quot; src=&quot;/webzine/aset/asetzine/asetgambar/rating-4.gif&quot; width=&quot;79&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah hasil karya dari band yang sudah cukup lama malang melintang di dunia underground Bandung Raya, khususnya scene Ujungberung. Band ini dulu sempat mengisi kompilasi &lt;i&gt;Ujungberung Rebel&lt;/i&gt; di tahun 1998 bersama dengan kompatriot-nya seperti Jasad, Forgotten, Restless dan lainnya. Dinning Out didirikan pada tahun 1997 dengan tanpa makna arti kata yang khusus oleh Adan Gimbal dkk. Sepanjang perjalanannya, band ini mengalami pasang surut dengan banyak pergantian personel. Tercatat ada personel wanita di band ini yang mengisi album pertama di tahun 2002 bertajuk &lt;i&gt;Sendiri&lt;/i&gt; yang dirils oleh Napi Record dan True Lies Record. Namun hingga kini Dinning Out masih mempertahankan konsep musik metal yang ringan dan mudah dicerna bagi orang awam. Hal ini direfleksikan oleh lagu &lt;i&gt;Cinta&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;Nyata&lt;/i&gt; di album ini. Masuknya Akew sebagai gitaris di album ini, membantu Adan dalam berkreasi memainkan riff-riff gitar yang cukup melodius dan harmonik, sehingga warna riff gitar khas musik Beside akhirnya muncul di lagu &lt;i&gt;Hopeless&lt;/i&gt;, sebuah lagu yang tergolong bertempo sedang. Album metal yang 'manis' ini dikemas dengan musik yang bertempo 'sedang-sedang saja' dengan tingkat distorsi sound gitar yang digunakan masih dalam level 'ringan'. Olah vokal dari sang vokalis Andri juga memegang peranan penting untuk menyampaikan pesan dan lirik yang dibuat oleh Adan, leader dari band ini. Vokal yang parau dan serak khas thrash metal namun jelas dalam pelafalan kata-kata menjadi nilai plus tersendiri. Sementara gebugan drum Gebeg mengisi tempo dan ketukan lagu di album ini secara pas, tak ada sesuatu yang berlebihan, sehingga album ini bisa dinikmati dengan baik. Secara keseluruhan album ini merupakan album yang baik dan saya rekomendasikan bagi para pendengar dan pecinta musik rock/metal di tanah air. Namun saying, thank list-nya terlalu banyak sehingga memenuhi lebih dari separuh lay-out sampul album ini. Produksi album ini dikemas berbentuk digipak dan dipasarkan dengan jalur distribusi bawah tanah dengan harga cukup terjangkau bagi para penggemar musik rock/metal nusantara... &lt;b&gt;[AbahSupri]&lt;/b&gt;</description>
<pubDate>Thu, 25 Feb 2010 00:47:27 +0700</pubDate>
<dc:creator>admin</dc:creator>
<guid isPermaLink="false">http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/dinning-out-menghempas-lelah-www.apokalip.com.html</guid>
<link>http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/dinning-out-menghempas-lelah-www.apokalip.com.html</link>

<category>Resensi</category>
<category>Resensi Musik</category>
</item><item>
<title>I'M NOT THERE</title>
<description>
&lt;img style=&quot;MARGIN-BOTTOM: 10px; MARGIN-LEFT: 10px; MARGIN-RIGHT: 15px&quot; height=&quot;169&quot; alt=&quot;&quot; src=&quot;/webzine/aset/asetzine/asetgambar/resvideo-im-not-there.jpg&quot; width=&quot;175&quot; align=&quot;left&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;strong&gt;I'M NOT THERE&lt;br /&gt;
	Sutradara ;&lt;/strong&gt; Todd Haynes&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;Pemain ;&lt;/strong&gt; Christian Bale, Cate Blanchett, Marcus Carl Franklin, Richard Gere, Heath Ledger, Ben Whishaw.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

&lt;img height=&quot;11&quot; alt=&quot;&quot; src=&quot;/webzine/aset/asetzine/asetgambar/rating-5.gif&quot; width=&quot;79&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perlu enam wajah, enam karakter dan enam alur cerita untuk 'menceritakan' seorang Bob Dylan. Yes, six in one. Jelas ini bukan sebuah biografi yang linier dan deskriptif. Sangat anti-struktur dan melompat-lompat. Ini malah lebih mirip antologi 'puisi bergambar' tentang sosok penyanyi folk/rock dalam eksperimen sinematografi sang sutradara. Bob Dylan diceritakan dalam enam alur kehidupan yang diperankan oleh enam bintang sekaligus ; Marcus Carl Franklin, Ben Whishaw, Heath Ledger, Christian Bale, Richard Gere, dan Cate Blanchett. Mereka semua memainkan reinkarnasi Bob Dylan dengan nama, interpretasi, serta tahapan hidup yang berbeda. Dimulai dari Marcus Carl Franklin, seorang bocah negro berusia sebelas tahun, adalah interpretasi masa kecil Dylan. Dia menjadi seorang Woody Guthrie, yang lari dari penjara anak-anak, menyelip ke atas sebuah kereta dengan menyandang gitar dengan tulisan &quot;This Machine Kills Fascists&quot;. Christian Bale memerankan Jack Rollins, sosok penyanyi folk/rock yang menyanyi dengan kesadaran politik tinggi, yang kemudian menjelma menjadi Pastor John, versi lain dari Dylan yang mengalami fase Kristiani yang terlahir kembali. Yang paling unik dan kontroversial adalah Cate Blanchett yang memerankan Jude Quinn, sebuah fase di mana Dylan sudah mencapai puncak kariernya, sementara para penggemar fanatik yang semula memujanya menolak konsep musik terbaru Bob Dylan yang dianggap sudah terlalu menjual, komersil, serta tunduk pada industri. Sementara penampilan [almarhum] Heath Ledger menerjemahkan sosok Dylan sebagai Robbie Clark sangat menyentuh. Kisah cintanya dengan Claire [Charlotte Gainsbourg] yang panas membara segera menjadi teduh setelah mereka membentuk keluarga dan memiliki anak. Inilah contoh film yang berkarakter alusi dan lumayan berat untuk dinikmati. Saya hanya bisa menyarankan [calon] pemirsa untuk selalu duduk tenang, jauhkan popcorn dan air soda, dan fokus 100% pada layar kaca anda. Sebab sudah banyak kritik melekat pada film ini - baik secara negatif maupun positif. &lt;span style=&quot;FONT-STYLE: italic&quot;&gt;I'm Not There&lt;/span&gt; telah memancing berbagai kontroversi pedas, di samping sejumlah penghargaan untuk sutradara, pemain, serta skenario film itu sendiri di beberapa festival. Kalau sudah begini, saya anggap eksperimen dan pesan Todd Haynes cukup sukses. Berarti film ini berhasil mendapat apresiasi dan perhatian yang khusus dari publik. Saya berani mensejajarkan &lt;span style=&quot;FONT-STYLE: italic&quot;&gt;I'm Not There&lt;/span&gt; dengan film sejenis yang menceritakan tentang Pink Floyd karya Bob Geldof, atau Jim Morrison karya Oliver Stone. Di samping itu, sosok yang luar biasa seperti Bob Dylan memang sebaiknya digambarkan dalam cerita yang tidak biasa pula - tidak hanya gitar bolong dan harmonika. Seperti yang dikatakan oleh sutradara Todd Haynes, &lt;span style=&quot;FONT-STYLE: italic&quot;&gt;&quot;The minute you try to grab hold of Dylan, he's no longer where he was. He's like a flame: If you try to hold him in your hand you'll surely get burned... Dylan is difficult and mysterious and evasive and frustrating, and it only makes you identify with him all the more as he skirts identity.&quot;&lt;/span&gt; Bahkan sangat mungkin kita juga menyimpan karakter seorang Bob Dylan dalam sosok pribadi diri kita masing-masing... &lt;span style=&quot;FONT-WEIGHT: bold&quot;&gt;[smck]&lt;/span&gt;</description>
<pubDate>Wed, 24 Feb 2010 23:51:27 +0700</pubDate>
<dc:creator>admin</dc:creator>
<guid isPermaLink="false">http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/i-m-not-there-www.apokalip.com.html</guid>
<link>http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/i-m-not-there-www.apokalip.com.html</link>

<category>Resensi</category>
<category>Resensi Video</category>
</item><item>
<title>RISKY SUMMERBEE and THE HONEYTHIEF ; The Place I Wanna Go</title>
<description>
&lt;img style=&quot;MARGIN-BOTTOM: 10px; MARGIN-LEFT: 10px; MARGIN-RIGHT: 15px&quot; height=&quot;169&quot; alt=&quot;&quot; src=&quot;/webzine/aset/asetzine/asetgambar/resmusik-risky.jpg&quot; width=&quot;175&quot; align=&quot;left&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;strong&gt;RISKY SUMMERBEE &amp;amp; THE HONEYTHIEF&lt;br /&gt;
	The Place I Wanna Go&lt;br /&gt;
	RSTHT&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

&lt;img height=&quot;11&quot; alt=&quot;&quot; src=&quot;/webzine/aset/asetzine/asetgambar/rating-5.gif&quot; width=&quot;79&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suasana kamar tiba-tiba mendadak nyaman dan menenangkan saat Risky Summerbee &amp;amp; The Honeythief mulai melantunkan &lt;i&gt;She Flies Tomorrow&lt;/i&gt;. Nomor pembuka dari album milik band asal Jogja ini memang menyejukkan. Begitu datar dalam bunyi-bunyian instrumen yang minimalis. Hanya suara vokal yang tampak mendominasi. Terdengar indah, singkatnya. Saya kurang begitu kenal perjalanan band ini sebenarnya. Pertama dengar, saya kira ini band dari negeri barat. Nyatanya adalah karya kelompok musik yang hanya berjarak enam jam perjalanan darat dari tempat tinggal saya. Sialan, tidak banyak band lokal yang bisa bernyanyi seperti ini. &lt;i&gt;Love Affair No.9&lt;/i&gt; menyimpan unsur jazz dan psikedelik dalam porsi seimbang serta tidak saling mengganggu. Masih dengan vokal yang empuk. &lt;i&gt;With You&lt;/i&gt; malah menyimpan sesi eksperimen psikedelia yang rumit macam Pink Floyd. Ibarat &lt;i&gt;Ummagumma&lt;/i&gt; yang tersesat di sudut jalan Malioboro. Tapi untungnya, mereka tidak terjebak lama dalam plot keruwetan. Selalu ada akhir dari bunyi-bunyian eksperimental, dan ending-nya selalu bahagia, serta tidak bikin pendengar penasaran. Namun &lt;i&gt;Flight To Amsterdam&lt;/i&gt; menjadi salah jalan ke London. Entah kenapa mereka ingin ke Belanda, jika musik seperti ini rasanya lebih cocok untuk dipamerkan di Inggris. &lt;i&gt;Slap &amp;amp; Kiss&lt;/i&gt; tidak serta-merta nakal menampar, malah cenderung romantis. Contoh lagu cinta yang elegan. Saatnya mencium kening kekasih anda di ujung lagu ini. Tembang &lt;i&gt;On A Bus&lt;/i&gt; juga berpotensi untuk menjadi favorit. Ringan dan catchy di telinga. Terutama bagi anda yang tergila-gila pada jenis musik indie-pop. Melodi gitar di lagu ini menyimpan sekantong madu dengan kualitas terbaik. Dilanjutkan dengan &lt;i&gt;Fireflies&lt;/i&gt; yang memiliki lirik puitis dan sentimentil. Seorang gadis kutu buku pun akan langsung jatuh hati pada lagu ini. &lt;i&gt;Make A Print of Me&lt;/i&gt; adalah satu-satunya lagu bernuansa 'thriller' di album ini. Agak gelap dan misterius, tanpa penyelesaian. Bayangkan Sherlock Holmes yang terkunci di dalam sebuah kamar kumuh di daerah Pasar Kembang. Jika perumpamaan ini dilanjutkan, maka Sherlock Holmes mulai berpikir untuk memecahkan teka-teki lewat lagu &lt;i&gt;The Seagull&lt;/i&gt;. Itu adalah nomor instrumentalia yang mistikal. Cukup singkat, rumit, dan akhirnya tidak terpecahkan. Yah, Sherlock Holmes telah gagal. &lt;i&gt;The Place I Wanna Go&lt;/i&gt; menjadi album lokal yang layak untuk dikoleksi. Boleh saya bilang, vokalis mereka adalah salah satu pria dengan suara paling merdu di negeri ini - dan juga jantan seperti Roger Daltrey atau David Gilmour. Instrumen seperti keyboard dan gitar ikut bermain cantik. Bunyi keyboard-nya terdengar kuno menyayat. Petikan gitarnya cukup beracun meski tidak mematikan. Penggemar The Who, Pink Floyd, atau Velvet Underground sudah pasti bahagia mendengarkan semua track di album ini. Jika anda mencari 'pejantan' untuk bandingan musik Tika and The Dissidents maka saya merekomendasikan Risky Summerbee &amp;amp; The Honeythief. Mereka seperti madu, sangat manis tapi tidak berefek buruk atau merusak. Jika band ini tidak berkembang besar, mungkin mereka hanya salah jaman saja... &lt;b&gt;[smck]&lt;/b&gt;</description>
<pubDate>Fri, 12 Feb 2010 11:57:06 +0700</pubDate>
<dc:creator>admin</dc:creator>
<guid isPermaLink="false">http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/risky-summerbee-and-the-honeythief-the-place-i-wanna-go-www.apokalip.com.html</guid>
<link>http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/risky-summerbee-and-the-honeythief-the-place-i-wanna-go-www.apokalip.com.html</link>

<category>Resensi</category>
<category>Resensi Musik</category>
</item><item>
<title>PORTAL ; Swarth</title>
<description>
&lt;img style=&quot;MARGIN-BOTTOM: 10px; MARGIN-LEFT: 10px; MARGIN-RIGHT: 15px&quot; height=&quot;169&quot; alt=&quot;&quot; src=&quot;/webzine/aset/asetzine/asetgambar/resmusik-portal.jpg&quot; width=&quot;175&quot; align=&quot;left&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;strong&gt;PORTAL&lt;br /&gt;
	Swarth&lt;br /&gt;
	Profound Lore&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

&lt;img height=&quot;11&quot; alt=&quot;&quot; src=&quot;/webzine/aset/asetzine/asetgambar/rating-5.gif&quot; width=&quot;79&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika anda masih mencintai hidup, jangan pernah berpikir untuk memainkan album ini di piranti pemutar musik anda. Percayalah album ini adalah album yang bisa membuat seorang kapten bajak laut bengis berteriak lantang sekaligus gusar, &quot;Abandon Ship!&quot; - karena tak ada setitik pun harapan di depan mata. Bahkan mereka yang telah mengkhatamkan &lt;i&gt;The Secret&lt;/i&gt; - sebuah dokumen ajaran tentang motivasi hidup - pun segera meloncat dari lantai 5 mall terdekat. Oh tidak, tidak, ini bukan tentang album-album Shining, album yang saya maksud adalah &lt;i&gt;Swarth&lt;/i&gt;, karya sebuah band death metal nihilist dan absurd asal Australia, Portal. Ada benarnya juga ungkapan Shakespeare, &quot;&lt;i&gt;What is a name&lt;/i&gt;?&quot; Portal ditilik dari segi manapun bukanlah sebentuk nama yang menjanjikan suatu sajian musik yang beringas atau mengerikan. Namun, bagaimanapun fakta Portal toh mampu menggodok sebuah varian death metal yang gelap, mengerikan dan cinematic. Omong-omong tentang cinematic, death metal, tak cuma post rock dan beberapa musik luruh lainnya, juga punya hak untuk dilabeli 'cinematic'. &lt;i&gt;Swarth&lt;/i&gt; tak ubahnya sebuah kerangkeng audio yang mengerikan adalah soundtrack yang tepat untuk film yang menggambarkan penyiksaan lo-fi penuh gore tanpa ujung. Bukan! &lt;i&gt;Swarth&lt;/i&gt; bukanlah sebentuk death metal yang beringas yang menerjang layaknya kereta rel listrik kelas eksekutif. Sebaliknya, &lt;i&gt;Swarth&lt;/i&gt; adalah sebentuk death metal yang alih-alih melaju kencang justru disajikan dengan tempo yang rendah atau medio. Tak ada satu titik ketika musik dipacu sekencang mungkin. Seperti siksaan yang diperlambat, &lt;i&gt;Swarth&lt;/i&gt; dipenuhi dengan layer gitar schizophrehic yang rendah, chaotic dan teknikal [anda yang selalu mengaitkan dua kata sifat terakhir dengan musik cepat dan patah-patah silahkan dengarkan album ini!]. Lantas, layer gitar ganda yang diproduksi gitaris Portal ini ditabrakan, saling timpa-menimpa begitu saja di atas setumpukan drumming yang kadang memamerkan blast, jarang bertempo cepat namun kadang juga perkusif. Lantas, di tengah kekacauan dan kurungan wall of noises, terdengar eraman rendah sang vokalis. Ada ambience ruang rekam yang tertangkap dalam eraman ini - yang kadang terdengar detached sekaligus mengait erat kekacauan yang mengiringinya. Seperti ada celah antara musik dan vokal yang justru menyatukan keduanya. Entahlah di tangan Portal, death metal terdengar otherworldly. Tak jarang Portal tertangkap bagai versi death metal dari Blut Aus Nord yang lebih hidup dan lebih accesible. Tentunya accesible adalah sebuah terminologi yang amat sangat tak ajeg, lentur dan relatif. Maka, sampai di sinilah tugas saya reviewer selesai dan keingintahuan anda membuncah. Silahkan, jika penasaran, buru album ini. Yang jelas saya sudah memperingatkan anda akan efek album ini. Namun, jika anda berhasrat bunuh diri setelah mendengarnya, cuma ada satu saran ; Jangan meloncat dari lantai 5 atau 11, sebab itu sudah terlalu trendi!... &lt;b&gt;[innerciatic manneken]&lt;/b&gt;</description>
<pubDate>Sat, 09 Jan 2010 11:22:44 +0700</pubDate>
<dc:creator>admin</dc:creator>
<guid isPermaLink="false">http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/portal-swarth-www.apokalip.com.html</guid>
<link>http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/portal-swarth-www.apokalip.com.html</link>

<category>Resensi</category>
<category>Resensi Musik</category>
</item><item>
<title>KIAMAT 2012</title>
<description>
&lt;img style=&quot;MARGIN-BOTTOM: 10px; MARGIN-LEFT: 10px; MARGIN-RIGHT: 15px&quot; height=&quot;169&quot; alt=&quot;&quot; src=&quot;/webzine/aset/asetzine/asetgambar/resbuku-kiamat2012.jpg&quot; width=&quot;175&quot; align=&quot;left&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;strong&gt;KIAMAT 2012&lt;br /&gt;
	Lawrence E Joseph&lt;br /&gt;
	Gramedia Pustaka Utama&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

&lt;img height=&quot;11&quot; alt=&quot;&quot; src=&quot;/webzine/aset/asetzine/asetgambar/rating-4.gif&quot; width=&quot;79&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya akui aktifitas menulis kali ini agak konyol. Saya merasa harus me-review buku ini setelah gembar-gembor film &lt;i&gt;2012&lt;/i&gt; di seluruh dunia. Terus terang saya juga agak kesal dengan film tersebut. Antri tiket dua kali di bioskop, tapi tetap saja kehabisan. Lalu saya nekat membeli DVD versi bajakannya dan ternyata ceritanya biasa saja. Jauh dari ekspektasi yang saya harapkan setelah membaca buku ini delapan bulan yang lalu. Film itu menjadi adaptasi yang gagal, tanpa meninggalkan pesan yang bermakna. &quot;Iya, itu film 'sampah' bagi orang-orang yang pernah membaca versi bukunya,&quot; kata teman saya dengan geram. Buku &lt;i&gt;Kiamat 2012&lt;/i&gt; adalah versi terjemahan dari &lt;i&gt;Apocalypse 2012&lt;/i&gt; karya ilmuwan bernama Lawrence E Joseph. Seperti yang anda tahu, semua ini berawal dari ramalan suku Indian Maya yang mengatakan bahwa dunia akan berakhir pada 12 Desember 2012 - sesuai dengan akhir masa kalender mereka. Buku ini menggambarkan kondisi dunia dalam 'kode merah'. Presentasi bermacam bencana sejak tempo doeloe sampai kemungkinan 'kiamat' di masa depan. Tentang medan magnet yang retak, radiasi nuklir, letusan supervulkan, erupsi, hingga datangnya sang dajjal di akhir zaman. Buku ini bisa dibilang sangat ilmiah, penuh teori [dan juga konspirasi?!]. Tapi bagusnya dibungkus dalam bahasa yang cukup ringan dan populer. Meski banyak istilah-istilah asing yang 'eksakta' tapi setidaknya bisa kita pahami garis besarnya. Di buku ini anda mendapatkan teori apokaliptik dari para ilmuwan dan ahli agama, nujum, rohaniawan, astronomi, biologi, fisika, kimia, geologi, bahkan metafisika. Intinya, ada beragam teori dari berbagai ahli yang pada akhirnya sepakat dan menyimpulkan bahwa tahun 2012 bakal terjadi 'bencana' di muka bumi seperti yang telah diramalkan sebelumnya. Ini bukan buku sesat seperti yang dikhawatirkan para fanatik. Karena saya rasa semua teori di buku ini masih bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Pesan-pesan yang disampaikan juga cukup berbobot. Jadi tak perlu curiga, apalagi tiba-tiba kuatir dan ketakutan. Nikmati saja 'kekacauan' ini karena toh semua bencana tersebut akibat ulah manusia. Seperti pesan terakhir yang termuat di sampul buku ini, &lt;i&gt;&quot;Tidak ada yang bisa anda lakukan, jadi sebaiknya anda duduk santai serta menikmati pertunjukan ini.&quot;&lt;/i&gt; Saya tambahkan, lupakan film &lt;i&gt;2012&lt;/i&gt; yang sedang diputar di bioskop-bioskop itu. Karena sebaiknya anda segera menarik tangan pacar anda dan masuk ke Gramedia untuk membeli buku ini. Saya yakin, membaca bersama bisa jadi lebih menarik daripada nonton bareng. Menonton film-nya mungkin bisa membuat anda tampak cool, tapi dengan membaca buku ini justru akan menambah wawasan dan bikin anda lebih 'smart' di hadapan kekasih anda itu. Well, mari kita hitung mundur sampai tahun 2012 dan semoga kita semua baik-baik saja... &lt;b&gt;[samack]&lt;/b&gt;</description>
<pubDate>Sun, 13 Dec 2009 08:34:11 +0700</pubDate>
<dc:creator>admin</dc:creator>
<guid isPermaLink="false">http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/kiamat-2012-www.apokalip.com.html</guid>
<link>http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/kiamat-2012-www.apokalip.com.html</link>

<category>Resensi</category>
<category>Resensi Buku</category>
</item><item>
<title>BOLA ITU BUNDAR, MUSIK ITU UNIVERSAL</title>
<description>
&lt;img style=&quot;MARGIN-BOTTOM: 10px; MARGIN-LEFT: 10px; MARGIN-RIGHT: 15px&quot; height=&quot;169&quot; alt=&quot;&quot; src=&quot;/webzine/aset/asetzine/asetgambar/resevent-arema2-1.jpg&quot; width=&quot;175&quot; align=&quot;left&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;em&gt;Apa hubungan antara musik dan sepakbola? Tanyakan itu kepada grup band &lt;b&gt;Arema Voice&lt;/b&gt;, maka mereka pasti tahu jawabannya. Apalagi mereka baru saja menggelar launching Ring Back Tone, dilanjutkan dengan Press Conferences &amp;amp; Video Screening, serta ditutup oleh launching show untuk album terbaru &quot;Masih Ada Terang&quot;. Itu semua seakan menegaskan kembali bahwa bola itu bundar, dan musik itu universal. Maka bersatulah para insan musik dan sepakbola di kota Malang... &lt;br /&gt;
	&lt;br /&gt;
	&lt;/em&gt;&lt;b&gt;Launching RBT Flexy - Arema Voice&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Permata Jingga Pool, 18 November 2009&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kerjasama eksklusif antara operator Telkom Flexy dengan Arema Voice meluncurkan sebuah paket spesial nan terpuji. Lagu-lagu Arema Voice kembali dijadikan Ring Back Tone, di mana sebagian profit-nya disumbangkan kepada PS Arema. Acara launching ini dimulai sejak pukul sepuluh pagi dengan acara jumpa pers dari pihak Telkom Flexy, Arema Voice, PT Arema Indonesia, serta para tokoh Aremania seperti Lucky Acub Zainal dan Ovan Tobing. Perwakilan supporter Aremania dari berbagai korwil juga datang dan ikut bersenang-senang. Panggung hiburan di tepi kolam renang diisi dengan penampilan Girl Fight dan Arema Voice. di penghujung acara ada performa dari gitaris Totok Tewel [Elpamas] dan Syaharani, diva jazz nasional yang lahir dan besar di Batu Malang. Semua rangkaian pesta ini terbilang sukses dan meriah. Apalagi dengan adanya gadis-gadis SPG yang cantik serta menu hidangan prasmanan yang seakan tidak ada habis-habisnya...</description>
<pubDate>Sun, 13 Dec 2009 08:26:28 +0700</pubDate>
<dc:creator>admin</dc:creator>
<guid isPermaLink="false">http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/bola-itu-bundar-musik-itu-universal-www.apokalip.com.html</guid>
<link>http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/bola-itu-bundar-musik-itu-universal-www.apokalip.com.html</link>

<category>Resensi</category>
<category>Resensi Event</category>
</item><item>
<title>TIKA AND THE DISSIDENTS ; The Headless Songstress</title>
<description>
&lt;img style=&quot;MARGIN-BOTTOM: 10px; MARGIN-LEFT: 10px; MARGIN-RIGHT: 15px&quot; height=&quot;169&quot; alt=&quot;&quot; src=&quot;/webzine/aset/asetzine/asetgambar/resmusik-tika.jpg&quot; width=&quot;175&quot; align=&quot;left&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;strong&gt;TIKA AND THE DISSIDENTS&lt;br /&gt;
	The Headless Songstress&lt;br /&gt;
	Aksara Records&lt;br /&gt;
	&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;

&lt;img height=&quot;11&quot; alt=&quot;&quot; src=&quot;/webzine/aset/asetzine/asetgambar/rating-4.gif&quot; width=&quot;79&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertama melihat rilisan ini packaging-nya sudah tidak biasa. Setiap album dibungkus dengan kain motif yang berbeda. Jadi anda tidak perlu kuatir tertukar dengan album milik teman anda meski beli di tempat yang sama, atau sekalipun dicampur dalam kantong yang sama, haha. Oke, gimmick dan strategi pemasaran lewat packaging sudah cukup berhasil. Album dengan kemasan seperti ini saya yakin memiliki konten yang tidak biasa pula. Saya langsung tergoda untuk memutarnya. Dimulai dengan &lt;i&gt;Tantang Tirani,&lt;/i&gt; sebuah lagu pelan dengan pesan yang menghantam. Seperti perlahan menjulurkan jari tengah kepada penguasa, majikan, orang tua, atau siapapun yang cocok dianggap sebagai tiran. &lt;i&gt;Polpot &lt;/i&gt;meluncur dalam nuansa latin yang cukup pantas untuk diputar di kelas dansa dengan pasangan yang berbusana formal. &lt;i&gt;Venus Invy&lt;/i&gt; bakal mengingatkan anda pada The Cardigans yang dilekati aroma swedish-pop. &lt;i&gt;20 Hours&lt;/i&gt; juga punya aransemen yang serupa, hanya saja lebih kental swing-nya. Seperti kolaborasi antara Mocca dan Sore. &lt;i&gt;Uh Ah Lelah&lt;/i&gt; menyimpan beat vokal yang familiar bagi penggemar musik evergreen. Tanyakan saja pada mama anda untuk lebih tepatnya. Sementara &lt;i&gt;Red Red Cabaret &lt;/i&gt;bisa menyeret anda menuju sebuah klub musik di sudut kota Paris sana - dan anda bisa tergoda mampir ke rumah bordil setelah mendengarkan lagu ini. Bayangkan setting film &lt;i&gt;Moulin Rogue&lt;/i&gt; lengkap dengan wig blonde, korset, stocking kaki, dan red wine. Setelah itu anda disumpahi dengan &lt;i&gt;Ol' Diary Bastards&lt;/i&gt; yang lembut membuai, serta &lt;i&gt;Infidel Castratie&lt;/i&gt; yang merayu dan mendayu. &lt;i&gt;Waltz Muram&lt;/i&gt; sudah dijelaskan secara tepat seperti judulnya. Yah, seperti itu, sebuah musik waltz yang muram. Testimoni dari perempuan yang sedih dan kesepian. Uniknya, ada distorsi dan marching drum yang usil di akhir lagu. &lt;i&gt;Tentang Petang&lt;/i&gt; berisi koor vokal dari kebaktian pop yang paling surealis. Terdengar syahdu dan menenangkan. &lt;i&gt;Mayday&lt;/i&gt; adalah track terkeras seperti mars yang menyemangati para buruh dan klas pekerja untuk segera menampar pipi majikan mereka. Album ini ditutup dengan &lt;i&gt;Clausnophobia&lt;/i&gt; yang cukup ramah dan menghibur. Well, ini album yang sensual secara keseluruhan. Tika dan pasukannya telah sukses meramu irama pop, folk, dance dan swing menjadi rangsangan yang menggoda. Musikalitasnya pun tidak remeh. Setiap instrumen tampil kaya, meski vokal Tika tetap jadi yang terdepan untuk diperhatikan. Dia bisa bergaya riang macam Lily Allen, atau semurung Amy Winehouse. Tika telah bernyanyi bak biduan, dan tak lama lagi mungkin sudah boleh menyandang status diva pop negeri ini. Terkadang susah menyadari bahwa mereka adalah musisi lokal. Sebab mereka lebih cocok hidup di Eropa Barat, tepatnya pada abad pertengahan atau era akhir revolusi industri. Setiap lagu di album ini patut diapresiasi positif, meski tak dipungkiri ada beberapa bagian yang mirip dengan ini-itu. &lt;i&gt;The Headless Songstress&lt;/i&gt; adalah agresi pop yang paling eksotis dan menggoda di tahun ini. Sebuah soundtrack untuk bercinta, dan menyelingkuhi teman lama anda. Saya yakin, anda pun rela bertekuk lutut setelah mendengarkan album ini... &lt;b&gt;[samack]&lt;/b&gt;</description>
<pubDate>Sun, 13 Dec 2009 08:24:04 +0700</pubDate>
<dc:creator>admin</dc:creator>
<guid isPermaLink="false">http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/tika-and-the-dissidents-the-headless-songstress-www.apokalip.com.html</guid>
<link>http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/tika-and-the-dissidents-the-headless-songstress-www.apokalip.com.html</link>

<category>Resensi</category>
<category>Resensi Musik</category>
</item><item>
<title>RUMAH DARA</title>
<description>
&lt;img style=&quot;MARGIN-BOTTOM: 10px; MARGIN-LEFT: 10px; MARGIN-RIGHT: 15px&quot; height=&quot;169&quot; alt=&quot;&quot; src=&quot;/webzine/aset/asetzine/asetgambar/resvideo-rumahdara.jpg&quot; width=&quot;175&quot; align=&quot;left&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;strong&gt;RUMAH DARA&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;Sutradara ;&lt;/strong&gt; Timo Tjahjanto &amp;amp; Kimo Stamboel&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;Pemain ;&lt;/strong&gt; Julie Estelle, VJ Mike, Ario Bayu, Sigi Wimala, Shareefa Daanish&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

&lt;img height=&quot;11&quot; alt=&quot;&quot; src=&quot;/webzine/aset/asetzine/asetgambar/rating-4.gif&quot; width=&quot;79&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Finally, ada juga yang mampu membuat film slasher lokal keren. Terima kasih untuk seorang teman yang nyalinya menciut dan memberikan invitations-nya untuk saya yang telat dan kehabisan tiket. Lucky me and my girlfriend, premiere film ini adalah versi uncut, sementara versi resmi pada 22 Januari 2010 kemungkinan besar akan di-slash [sorry, can't help it!] oleh BSF. Kembali ke film karya Mo Brothers [Timo Tjahjanto dan Kimo Stamboel], &lt;i&gt;Rumah Dara&lt;/i&gt; [versi internasionalnya; &lt;i&gt;Macabre&lt;/i&gt;] merupakan film yang akan menjadi klasik. &lt;i&gt;Rumah Dara&lt;/i&gt; sendiri, diinspirasikan dan dikembangkan dari film pendek &lt;i&gt;Dara&lt;/i&gt; yang disutradarai oleh Mo Brothers beberapa waktu lampau. Cerita sendiri memang tidak istimewa, tapi sangat klasik. Enam sahabat-kurang lebih; Ladya [Julie Estelle], Eko [Dendy Subangil], Alam [Mike Muliardo a.k.a. VJ Mike], Jimmy [Daniel Mananta a.k.a. VJ Daniel], kakak Ladya-Adjie [Ario Bayu] dan istrinya Astrid [Sigi Wimala] menolong seorang gadis yang mengaku baru dirampok, Maya [Imelda Therinne] di tengah perjalanan pulang, dan diantar ke rumahnya di mana ibunya, Dara [Shareefa Daanish], dan dua kakaknya, Arman [Ruli Lubis] dan Adam [Arifin Putra]. Mereka dijamu makan malam, dan berikutnya kebaikan hati malah mengantar mereka kepada bencana. Adrenalin penonton mulai dibuat naik dan tidak diijinkan menurun. Tentu saja satu persatu mereka dibantai, dan seperti cerita &lt;i&gt;Dawn Of The Dead&lt;/i&gt; misalnya, cerita menjadi tidak penting lagi, tapi yang penting adalah survival. Beberapa orang berpendapat terlalu banyak darah dalam film ini, tapi saya kira masih sebatas kewajaran, dan memang perlu [lebih dari 10 orang dibantai, of course there will be a pool of blood, you pussies!]. Tidak seperti film-film Indonesia pada umumnya di mana alur cerita menjadi 'dragging', &lt;i&gt;Rumah Dara&lt;/i&gt; justru tidak memberikan celah untuk hal ini. Adrenaline rush ini mampu membuat fans film slasher terpaku di kursinya, takut, tapi sebenarnya opsi untuk meninggalkan kursi selalu ada [hey, sesaat setelah adegan gore pertama berjalan, ada sekitar 20 orang yang meninggalkan kursi mereka, menyerah]. Dan tidak hanya adegan-adegan gore-nya, adegan action-nya juga bisa dibilang sempurna dan terlihat natural. Nyaris tidak ada cela terutama untuk tim artistik film ini. Tidak ada darah yang seperti darah palsu [total ace untuk tim efek spesial!], tata riasnya juga top notch [simak tata rias Julie Estelle di akhir-akhir film!]. Sepertinya, kalau memang punya niat untuk membuat film berkualitas, seharusnya memang bisa dan Mo Brothers telah membuktikannya. Film horor lokal telah dianiaya oleh para cheap filmmaker lokal, dan sudah saatnya diambil alih oleh Mo Brothers. Tentu saja ada beberapa kekurangan dalam film ini, seperti beberapa continuity yang terlewat, atau misalnya perut Astrid yang hamil tua masih terlihat kurang real, dan untuk saya, tone suara Dara agak kurang oke [mungkin lebih berlaku untuk penonton internasional], dan lambang ouroboros yang digunakan oleh keluarga Dara bisa sedikit diperkuat latar belakangnya dan hubungannya dengan kesadisan mereka. Tapi semua kekurangan ini terasa minor, karena kita akan puas disuguhkan aksi horor yang tanpa jeda. Fans &lt;i&gt;Evil Dead, Texas Chainsaw Massacre, Suspiria,&lt;/i&gt; slasher Jepang, dan sejenisnya akan menyukai film ini, sementara untuk fans film cult seperti &lt;i&gt;The Gore Gore Girls, The Corpse Grinders,&lt;/i&gt; atau &lt;i&gt;Cannibal Holocaust&lt;/i&gt; juga akan tercengang. Bayangkan film-film cult tersebut diberi budget bagus dan artistik canggih, kita akan mendapatkan &lt;i&gt;Rumah Dara&lt;/i&gt;. Menonton film ini merupakan rasa stres saya yang paling nikmat untuk tahun ini. Ada yang lelah menonton ini? Feel free to go, wimp. Hey Mo Brothers, how about zombie bikers flick? Atau brain-eating aliens mendarat di Gedung DPR dan membantai seisi gedung? I'm sure it'll be fukking exciting. Let the bloodbath begins!... Btw, selama menulis review ini, saya mendengarkan lagi secara acak old school death metal &amp;amp; grindcore klasik; Repulsion, Carcass, Autopsy, Death, Grave dan the mighty Entombed. It fits the slasher feeling... &lt;b&gt;[arian13]&lt;/b&gt;</description>
<pubDate>Sun, 13 Dec 2009 08:20:19 +0700</pubDate>
<dc:creator>admin</dc:creator>
<guid isPermaLink="false">http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/rumah-dara-www.apokalip.com.html</guid>
<link>http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/rumah-dara-www.apokalip.com.html</link>

<category>Resensi</category>
<category>Resensi Video</category>
</item><item>
<title>KONSER DIVA SATANIKA</title>
<description>
&lt;img style=&quot;MARGIN-BOTTOM: 10px; MARGIN-LEFT: 10px; MARGIN-RIGHT: 15px&quot; height=&quot;169&quot; alt=&quot;&quot; src=&quot;/webzine/aset/asetzine/asetgambar/resevent-ae-1.jpg&quot; width=&quot;175&quot; align=&quot;left&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;em&gt;Laporan pandangan mata selama setengah hari di tengah konser &lt;b&gt;Arch Enemy ; Asian Tour&lt;/b&gt; di Tennis Indoor Senayan Jakarta, 28 Oktober 2009. Kabar-kabar dari persiapan, sesi soundcheck dan jumpa pers, serta show-time yang dikumpulkan dan ditulis lugas oleh reporter Apokalip yang diterbangkan khusus di pertunjukan tersebut...&lt;br /&gt;
	&lt;br /&gt;
	&lt;/em&gt;Sore hari di Tennis Indoor Senayan tampak Arch Enemy sedang melakukan soundcheck. Sayang, soundcheck itu tertutup buat media. Dua jam berikutnya, giliran Psycroptic yang melakukan soundcheck selama 90 menit, dan dilanjutkan dengan jumpa pers. Psyroptic mengatakan, selain melakukan tour di tiga kota, mereka juga ingin kembali ke Indonesia tahun depan untuk melakukan konser. Mereka juga senang dengan sambutan masyarakat metal Indonesia, Band berjuluk 'Tazmanian Tech/Death Metal' ini juga tahu kalau di Indonesia terdapat komunitas metal yang tersebar luas serta punya band-band cadas yang bagus. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah itu, giliran Arch Enemy melakukan jumpa pers, Angela Gossow [vocal] yang tampaknya paling banyak mendapat sorotan dari wartawan. Seperti ketika Angela ditanya tentang perbedaan gender dan vegan. Dia mengaku tidak pernah merasa terdeskriminasi hidup di dunia musik metal. Bahkan ia merasa punya banyak kelebihan yang tidak didapatkan laki-laki di dunia metal, khususnya para vokalis pria. Angela dan personil lainnya memilih gaya hidup vegan dan bangga bisa lebih menghargai hak hidup binatang. Michael Ammot [gitar] lalu berharap konser nanti malam bisa menjadi salah satu konser terbaik Arch Enemy. Dia juga mengaku tidak pernah mempermasalahkan problema sosial politik yang terjadi di negara yang mereka kunjungi. At least, they're already to make a blast tonite!...</description>
<pubDate>Fri, 13 Nov 2009 00:14:23 +0700</pubDate>
<dc:creator>admin</dc:creator>
<guid isPermaLink="false">http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/konser-diva-satanika-www.apokalip.com.html</guid>
<link>http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/konser-diva-satanika-www.apokalip.com.html</link>

<category>Resensi</category>
<category>Resensi Event</category>
</item><item>
<title>AKSI TEROR HARDCORE</title>
<description>
&lt;img style=&quot;MARGIN-BOTTOM: 10px; MARGIN-LEFT: 10px; MARGIN-RIGHT: 15px&quot; height=&quot;169&quot; alt=&quot;&quot; src=&quot;/webzine/aset/asetzine/asetgambar/resevent-terror-1.jpg&quot; width=&quot;175&quot; align=&quot;left&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;em&gt;Secara khusus, Apokalip 'menerbangkan' dua hardcore kids kawakan dari kota Malang untuk merekam konser &lt;b&gt;Terror ;&lt;/b&gt; &lt;b&gt;Suffer To Return Harder Show &lt;/b&gt;di GSG Itenas Bandung, 01 Oktober 2009. Meskipun diselingi sedikit perjalanan kuliner, shopping serta wisata rock &amp;amp; roll, tapi akhirnya Giman dan Adon berhasil mendokumentasikan show tersebut secara tepat dan cepat. Yes, this is hardcore... &lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
	&lt;br /&gt;
	&lt;/em&gt;Tiba di venue GSG Itenas Bandung sekitar pukul 14.54, saya beserta juru foto Adon Saputra, dan kawan-kawan dari Bekasi memilih untuk duduk-duduk santai di sekitar lokasi acara. Baru sedikit hardcore kids yang nampak di lokasi acara, selebihnya adalah mahasiswa yang masih memiliki kegiatan di kampus. Seiring berjalannya waktu, sedikit demi sedikit areal venue dipenuhi oleh hardcore kids yang mulai berdatangan dari berbagai daerah. Sekitar pukul 16.30, terdengar pengumuman dari panitia yang mengatakan pintu gedung telah dibuka dan &lt;b&gt;Thinking Straight&lt;/b&gt; siap untuk membuka acara. Saat itu ternyata urusan perut lebih kami prioritaskan mengingat perut kami belum diisi makanan sedari siang. Kami pun memutuskan meninggalkan lokasi acara dan aksi Thinking Straight sejenak untuk mencari makanan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekembalinya kami kemudian, &lt;b&gt;Final Attack&lt;/b&gt; yang tampil di atas panggung. Dari pengamatan kami nampak aksi kedua band pembuka itu kurang mendapat perhatian dari para crowd. Sebagian besar dari mereka masih berada di luar gedung pertunjukan dan asyik dengan kelompoknya masing-masing. Usai Final Attack, ada jeda sejenak untuk break adzan maghrib. Pengamatan kami selanjutnya menyimpulkan bahwa acara dimulai tepat waktu dan diharapkan berakhir tepat waktu pula. Salut buat para panitia!...</description>
<pubDate>Fri, 13 Nov 2009 00:12:53 +0700</pubDate>
<dc:creator>admin</dc:creator>
<guid isPermaLink="false">http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/aksi-teror-hardcore-www.apokalip.com.html</guid>
<link>http://www.apokalip.com/webzine/eksplorasitiadahenti/aksi-teror-hardcore-www.apokalip.com.html</link>

<category>Resensi</category>
<category>Resensi Event</category>
</item>
</channel>
</rss>