DEATHSPELL OMEGA
Fas-Ite, Maledicti, In Ignem Aeternum
Ajna Offensive / Southern Lord
Band black metal asal Perancis ini kembali menghadirkan komposisi-komposisi jenius nan progresif, album terbaru mereka,
Fas-Ite, Maledicti, In Ignem Aeternum [dalam bahasa Inggris-nya, 'by divine law, go, you cursed, into the eternal fire!'], merupakan album kedua dari trilogi mereka sebelumnya:
Si Monumentum Requires, Circumspice di tahun 2006. Saya sendiri baru benar-benar mengenal mereka dari album
Kén?se, setelah mereka merilis beberapa album sebelum itu. Somehow, tidak terlalu berlebihan kalau Deathspell Omega saya sebut sebagai The Dillinger Escape Plan-nya black metal. No shit. Mungkin bukan gaya teknikalnya, walau juga ada, tapi lebih kepada progresifitasnya yang memang kemana-mana. Bayangkan sound primitive ala Burzum atau Darkthrone namun tetap musikalitasnya lebih progresif dengan sound yang tidak shitty tapi tetap dingin. Album kedua dari trilogi ini semakin menampakan progresifitas dan eksperimentasi yang lebih merambah luas. Struktur lagu, dinamisasi, ritem dan progresi chord yang dipilih dan diaransemen band tampak berani berbeda dan 'tidak sesuai jalur', namun tidak berarti kemudian tidak dikenal sebagai sound yang non-black metal. Sebaliknya, justru inilah format black metal masa depan, atau mungkin lebih sederhananya,
Fas-Ite, Maledicti, In Ignem Aeternum adalah sebuah album black metal yang seharusnya diciptakan sekarang. Album ini menampilkan beberapa karya Deathspell Omega yang bertempo cukup cepat, hingga ke lagu-lagu yang pelan dan memiliki atmosfer tersendiri [tanpa harus ada keyboard], persis seperti karakter post-rock atau bahkan shoegaze dan juga Gregorian [!], hanya ini versi black metal. Ada beberapa gaya yang seperti kembali di
Kén?se, tapi dikembalikan dengan perkembangan yang signifikan. Pada lagu
Shrine of Mad Laughter misalnya, saya berani bilang kalau ada pengaruh Robert Fripp, atau fusion jazz di
Chore For The Lost [personal favorit saya di album ini]. Sebuah karya seni yang dark, dan juga triumphant. Lirik yang puitis, dan juga terkonsep menjadi karakter tersendiri lirik-lirik Deathspell Omega, tidak seperti lirik band black metal yang pada umumnya mediocre, dan meng-copy paste lirik-lirik para pionir black metal. Sebuah penggalan panjang dari lirik track terakhir ini,
The Repellent Scars of Abandon and Election ;
"Nothing of man can know, to this end, could be evaded without degradation, without sin. Is it no burden to bear the repellent scars, of abandon, of election? It leaves but a state of supplication and deserted expanses, An absorption into despair. This existence of things cannot enclose the death which it brings to me, The existence itself projected into my death,and it is my death which encloses it. I was beyond withstanding my own ignominy. I invoked it and blessed it. I progressed even further into vileness and degradation. Am I resurging, intact, out of infamy?" Nah. Saya akan berbohong kalau saya bilang saya mengerti betul isi liriknya, tapi analisa saya lirik Deathspell Omega pada umumnya adalah seperti versi karya seni tulis ekstrim yang berdasarkan dari keputusasaan dan, ahem, derita, dengan metafora-metafora yang diterjemahkan atau disadur dari filosofi satanisme. Apakah ini dapat disebut sebagai prog-black metal?! Saya tidak tahu, tapi kalaupun iya, sepertinya Deathspell Omega adalah pionirnya, atau at least, the founding fathers of prog-black metal. Haha. Label Ajna Offensive tetap konsisten merilis album-album berkualitas dan menyegarkan.
Fas-Ite, Maledicti, In Ignem Aeternum adalah album yang brillian. Saya tidak punya bayangan sama sekali bagaimana para fans black metal seperti fans Cradle of Filth, Dimmu Borgir, atau sejenisnya akan bereaksi atau merespon album ini, tapi saya malah berpikir kalau para fans musik progresif rock/metal atau jazz atau musik kontemporer akan lebih punya banyak pendapat positif dan menarik. After all, black metal was never supposed to be easy listening...
[Arian13]