Di salah satu sudut kota Yogyakarta bertempat di Lembaga Indonesia Perancis (LIP). Malam itu, 28 Mei, Efek Rumah Kaca menggelar press conference mereka. Trio Cholil, Adrian, dan Akbar datang dan berhadapan dengan para pemburu berita dari beberapa media-media terpilih dan beberapa wakil dari berbagai forum. Mereka bertutur tentang kolektif kecil bernama Efek Rumah Kaca yang mereka bentuk, juga tentang konsep, esensi, mimpi, harapan, dan cara pandang mereka terhadap kehidupan yang tertuang dalam lagu-lagu mereka. Sopan dan lirih bergantian mereka menjawab semua pertanyaan yang terlontar - yang kemudian ruang kecil itu menjadi saksi penampilan Efek Rumah Kaca menggeber beberapa lagu dalam format akustik yang apik.
Terhitung empat lagu yang dibawakan mereka malam itu,
Kamar Gelap diusung menjadi lagu pembuka yang disusul
Balerina, diteruskan
Di Udara yang sudah di-request sejak awal mereka mulai memegang instrumen, dan diakhiri
Hujan Jangan Marah. Empat lagu yang sudah cukup untuk membius tiap orang yang hadir malam itu. Format akustik yang elegan dan sederhana disajikan menjadi ancang-ancang untuk penampilan total mereka esok hari. Empat lagu yang meninggalkan kesan elok. Saya menyimpan harapan optimis untuk mendapatkan sebuah pertunjukan menarik besok malam.
Amphitheater Taman Budaya Yogyakarta (TBY), merupakan salah satu ruang berkesenian berskala dominan untuk pertunjukan seni semacam monolog, poetry reading, teater, drama, hingga wayang. Venue yang menyimpan kesan epikal tinggi ini dipilih untuk menjadi saksi dari pertunjukan Efek Rumah Kaca dalam rangkaian tour promo album baru mereka. Tim gabungan dari Kongsi Jahat Syndicate, Teater Garasi, Kebonsoewoeng Studio, Ruang Laba, dan Starcross yang dipecah dalam beberapa divisi menyulap ruangan tersebut menjadi venue musikal handal yang apik.
Malam itu, 29 Mei, sekitar pukul 19.10 pintu depan telah resmi dibuka. Puluhan orang yang bergerombol di depan meja tiket segera berurutan masuk. Euphoria yang telah mereka simpan baik-baik sejak jauh hari sebelumnya terbawa sudah. Tidak banyak orang yang bisa lega memasuki venue karena seperti sudah diberitakan sebelumnya, tiket yang memang dijual terbatas telah sold out sebelumnya. Mereka yang datang malam itu memang telah memegang tiketnya baik-baik sejak beberapa hari sebelumnya. Beruntunglah mereka malam itu...
Risky Summerbee and The Honeythief (RSTH), didaulat untuk membuka prosesi musikal ini. RSTH, adalah salah satu kekuatan Yogyakarta dalam skala perhelatan dunia musik independen nasional. Debut album mereka,
The Place I Wanna Go, merupakan salah satu contoh karya cerdas yang mampu meramu komposisi maksimal dari unsur-unsur jazz, blues, hingga folk yang merambah dunia candu psikedelia yang melebur menjadi satu dalam karya-karya yang eksperimental. Sebuah band dengan reputasi handal dalam bereksplorasi dari wilayah musik hingga performance art.
Malam itu, mereka membuka acara dengan maksimal membawa beberapa nomor dari album mereka
The Place I Wanna Go selama kurang lebih 45 menit mereka menyajikan dunia mereka langsung ke depan mata semua orang yang hadir malam itu. Mempersembahkan kolaborasi keindahan dalam versi yang tersendiri.

Melancholic Bitch, merupakan pasukan kedua yang menguasai panggung malam itu. Salah satu band yang telah cukup lama berkecimpung dalam ruang komunitas musik di Yogyakarta. Untuk anda yang telah lama mengikuti perjalanan mereka, tentunya akan sangat menyelami apa yang terangkum apik dalam album-album seperti
Anamnesis serta
Balada Susi dan Joni. Single-single seperti
Kartu Pos Bergambar Jembatan Golden Gate San Fransisco,
Sepasang Kekasih Yang Pertama Bercinta Di Luar Angkasa,
7 Hari Menuju Semesta, hingga
Mars Penyembah Berhala, tentunya bukanlah lagu yang mudah dilupakan begitu saja.
Kabarnya saat ini mereka tengah menggodok album barunya. Setelah sekian lama mereka berkarya, akhirnya kita akan mampu mendengarkan dan berapresiasi lebih lagi tentang mereka. Tidak lama lagi. Melancholic Bitch sukses memberikan aura tambahan dalam membangun eskalasi yang membuai mata dan telinga malam itu.

Tibalah saatnya
Efek Rumah Kaca untuk tampil. Muncul satu-persatu diiringi teriak riuh para penonton saat itu. Cholil Mahmud pada vokal dan gitar, Adrian Yunan Faisal pada bas dan vokal latar, dan Akbar Bagus Sudibyo pada drum. Kharisma ketiga manusia ini memang luar biasa.
Di malam sebelumnya, saat menyaksikan penampilan mereka secara akustik di Lembaga Indonesia Perancis (LIP), sempat terbersit pikiran bahwa saya akan mengalami kebosanan fatal bila menikmati mereka terlalu lama alias melihat mereka bermain dalam list yang panjang. Dan ternyata pikiran tersebut salah secara mutlak!...
Banyak Asap Di Sana, yang diusung di urutan ketiga dalam repertoire mereka, merupakan salah satu nomor upbeat yang menawan. Memotret irama urbanisasi dalam kehidupan awam masyarakat Indonesia. Dilanjutkan
Sebelah Mata yang begitu memukau. Decak kagum bercampur suara choir penonton mengalun mendukung trio ini menguasai area amphitheater. Dengan dukungan visualisasi dan artistik panggung yang menawan, sederhana memanjakan indera dengar dan penglihatan semua orang saat itu.

Menjadi Indonesia, segera mengalun menyusul. Sebuah panggilan untuk mengetuk nurani dan pikiran normal orang-orang Indonesia. Sebuah alunan yang megah dan menggugah. Di belakangnya segera
Tubuhmu Membiru, Tragis dibawakan. Salah satu lagu murung yang menjadi pembuka dari album
Kamar Gelap. Nomor yang menjangkau area abu-abu dengan segala keindahannya yang semu.
Hujan Jangan Marah dan
Kau dan Aku Menuju Ruang Hampa pun dibawakan begitu tenang dan membius.
Saya kembali ke posisi semula saat intro dari
Cinta Melulu bergetar diiringi sorak audiens. Yah, salah satu single penting dari album perdana mereka. Lagu yang menertawakan industri musik Indonesia yang bias. Dilanjut ke perayaan lagu kuat lain yang memotret tekad besar generasi oposisi era sekarang. Saatnya untuk reffrain
Mosi Tidak Percaya berulang bergetar diiringi ratusan mulut yang ikut bersenandung lirih. Menggumam maupun berteriak.
Kamar Gelap dan
Di Udara segera menyusul.
Kenakalan Remaja Di Era Informatika bergerak menaikkan semangat penonton yang sebelumnya dikubur dalam nuansa kelam dua lagu sebelumnya. Single awal dari album Kamar Gelap ini menjadi playlist yang cukup penting di telinga orang-orang dalam cepatnya mereka merespon album tersebut. Beristirahat sejenak diiringi sedikit interaksi dan canda minimalis, yang kemudian
Desember menyerang indera dengan maksimal.
Sebuah track yang membuat semua orang terdiam dalam prosesi yang mereka sembahkan.
Lagu Kesepian terpilih menjadi nomor berikutnya. Cholil dengan sederhana kembali membius penonton dengan suaranya. Orang ini terbukti menampilkan kharisma luar biasa yang mampu mengikat awang-awang penonton dalam dunia yang terasa begitu kering dalam lagu ini. Dua track terakhir adalah
Debu-debu Beterbangan dan
Insomnia. Bisa ditebak, semua yang hadir pastinya belum rela melepas mereka begitu saja tapi show benar-benar harus berakhir.

Malam itu, Amphitheater Taman Budaya Yogyakarta menjadi saksi prosesi indah Efek Rumah Kaca yang kurang lebih menyorong sekitar 18 lagu. Sebuah permainan dengan set panjang yang ternyata sama sekali tidak membosankan. Tentunya sekitar 300-an orang yang memenuhi ruang tersebut mempunyai kiasan yang sama dengan apa yang saya pikirkan.
Bukanlah hiperbola jika saya menyebut mereka sebagai band yang cerdas. Dan tentunya kredit tidak bisa hanya diberikan kepada mereka saja, kepada semua pihak yang menjadi pemrakarsa, semua band yang tampil, semua pihak yang mendukung, dan tentunya semua penonton yang hadir malam itu semuanya layak diberikan apresiasi tertinggi dalam kontribusi mereka membuat salah satu show terbaik di Yogyakarta tahun ini.
Satu pertanyaan yang terlintas, "Kapankah bisa mengalami suasana seperti ini lagi?!..." Sebuah makna sederhana yang akhirnya terpaksa harus dibawa pulang. Senyap. Menembus malam. Kembali menuju hutan... hutan... hutan...
[forgottenlullaby2]
Foto oleh Swandi Ranadila [
weneedmorestages.wordpress.com]