MARADONA; THE HAND OF GOD
Sutradara; Gonzalo Alarcon
Pemain; Gonzalo Alarcon, Abel Ayala, Marco Leonardi, Eliana Gonzales, Julieta Diaz, Gastin Ariel Slobusky, Fernando Gonzales Sausa, Emiliano Kacika.
Siapa yang tak kenal legenda sepakbola Argentina dengan sebutan 'si tangan tuhan'?! Bahkan namanya dijadikan sebuah agama di negara asalnya. Film yang disetujui oleh perdana menteri sebagai kekayaan budaya nasional Argentina ini berkisah tentang hidup seorang Diego Armando Maradona. Film ini diawali dengan tersungkurnya Maradona di pinggir jalan dan dibawa ke rumah sakit dengan cara diam-diam akibat overdosis kokain. Diego kecil [Gozalo Alarcon] sudah mencintai sepakbola meskipun sering mendapat hukuman dari sang ayah karena terlalu sering bermain bola. Melihat bakat Diego yang luar biasa, sang ayah memasukkan Diego ke klub sepakbola anak-anak. Di klub ini Diego bermain bersama sahabatnya Carrizo [Lucas Delbo] dan bertemu dengan pencari bakat sekaligus manajer kecil Jorge Cysterpiller [Gastin Ariel Slobusky]. Pada saat umur 16 tahun, Diego remaja [Abel Ayala] pindah ke kota untuk bermain di Boca Junior, tapi sayang Carrizo remaja [Fernando Dordoni] tidak dapat ikut bermain karena mengalami patah kaki pada pertandingan terakhir. Diego lalu pindah bersama keluarga dan Jorge Cysterpiller [Fernando Gonzales Sausa]. Di rumah barunya, Diego bertemu dan jatuh cinta pada pandangan pertama kepada gadis tetangga bernama Claudia Villafane [Eliana Gonzales]. Pada pertemuan yang kedua dengan Claudia, Diego baru berani mengungkapkan perasaannya. Bahkan di usia yang masih remaja, Diego sudah berani menjamin kehidupan seluruh keluarganya. Di tahun 1982, Diego dewasa [Marco Leonardi] bermain untuk Barcelona. Di kota inilah Diego bertemu dengan seorang wanita pirang [Ameli Reberi] yang mengenalkan Diego pertama kali dengan bubuk putih bernama kokain. Di Barcelona, Diego sempat mengalami patah kaki, serta mulai bersikap temperamental kepada Jorge Cysterpiller [Emiliano Kacika] dan Claudia Villafane [Julieta Diaz], lalu memutuskan keluar dari Barcelona tanpa menyelesaikan sisa musim pertandingan. Kemudian pada tahun 1984 Diego bermain untuk Napoli. Di klub ini Diego sangat dicintai oleh para tifosi. Diego mulai mengaku ke Claudia tentang ketagihannya terhadap kokain dan ingin berhenti menghirup bubuk putih tersebut. Kepergian Jorge dan Claudia serta kedatangan Guillermo [Juan Leyrado] sebagai manajer baru membuat kehidupan Diego semakin liar. Diego semakin sering berpesta kokain. Di tahun 1986, Diego bersama Argentina mengikuti kejuaraan piala dunia di Mexico. Di situ, ketika Argentina melawan Inggris, terjadinya gol 'tangan tuhan' yang sangat fenomenal sampai saat ini. Di kejuaraan ini pula Argentina keluar sebagai juara dunia. Usai piala dunia, Diego resmi menikah dengan Claudia. Bulan Oktober 1990, Diego mulai bermasalah dengan Napoli. Meski Diego sudah membawa Napoli juara liga namun ketagihannya terhadap kokain semakin menggila hingga Guillermo harus pergi demi kebaikan keduanya. Ketika masalah kokainnya mulai tercium media, Napoli dan timnas Argentina, Diego mendapat masa suspensi selama 15 bulan. Tidak lama, Diego lalu dipecat dari Napoli karena sering melanggar peraturan dan memutuskan kembali ke Argentina. Bulan April 1991 di Buenos Aires, Diego terkena penggerebekan ketika tidur di rumah temannya. Di sana ditemukan barang bukti berupa lima gram kokain. Diego akhirnya harus menjalani rehabilitasi. Inilah masa-masa kehancuran seorang Diego Maradona. Pada saat Diego berumur 33 tahun dan sudah tidak bermain sepakbola lagi, dia diminta kembali untuk bermain di timnas Argentina. Karena kecintaannya terhadap sepakbola dan ingin membuktikan kepada dunia, Diego mulai menjalani latihan fisik dan menurunkan berat badannya. Pada piala dunia 1994 di Amerika, Diego kembali membela Argentina. Akan tetapi ketika Diego mulai bangkit, ia terkena kasus doping akibat meminum vitamin olahragawan yang dibeli di Amerika karena vitamin yang ia bawa dari Argentina sudah habis. Vitamin yang diminum Diego berubah menjadi Ephedrine [jenis doping]. Dalam kasus ini, Diego menuduh FIFA telah menghancurkan karirnya, karena dia sering mengkritik sistem sepakbola FIFA. Di tahun 2004 di Buenos Aires, ketika Diego bermain golf tiba-tiba saja tersungkur ke tanah dan kembali dirawat di rumah sakit untuk kesekian kalinya. Karena ketagihannya yang terus ingin menghirup kokain, dengan terpaksa Diego harus masuk rumah sakit jiwa karena tim medis menganggap sudah tidak ada harapan lagi bagi seorang Diego Armando Maradona...
[Edi Boyo]