MONKEY TO MILLIONAIRE
Lantai Merah
Sinjitos Records
Saya bangga dengan band ini. Ketika demo awal mereka saya putar, saya yakin mereka akan menjadi sesuatu yang segar di scene musik lokal. Sempat menjadi 10 besar sebuah festival musik bertaraf nasional dua tahun lalu. Kini debut album mereka,
Lantai Merah, sudah dirilis dengan lagu-lagu baru tanpa ada lagu-lagu lama yang ada di dalam demo. Saya terperangah, karena begitu pesat kemajuan musikalitas mereka. Dalam rekaman, mereka sangat tight. Sepuluh lagu indie rock dikemas dengan cantik, dan aransemen yang cukup tidak berlebihan. Kalau di awal influence dari Weezer dan Interpol cukup terasa, kini
Lantai Merah justru seakan keluar dari influence tersebut, dan kembali pada era indie rock 90-an. Ada sensasi sama yang dirasakan seperti ketika kita mendengarkan Sonic Youth, The Breeders, Nirvana lama, dan The Lemonheads - yang dibalut dengan nuansa pop yang kental dan sing-along di mana-mana. Artinya, catchy. Secara lirik pun, saya berbangga hati karena mereka memilih tema-tema unik, sederhana, dan diterjemahkan menjadi lagu pop yang menyenangkan. Ditinggal oleh sang gitaris, Manos, untuk menikah rupanya tidak membuat Monkey To Millionaire menjadi melempem, malahan semakin tight. Mungkin yang paling menonjol di sini adalah permainan gitar Wisnu Adji yang kemana-mana tapi tetap terstruktur serta menampilkan riff-riff catchy dan canggih. Sementara bassist Agan Sudrajat dan drummer Emir Kharsadi mengimbangi dengan permainan yang enerjik dan begitu hidup. Seperti pada lagu
Clown yang cukup terasa seperti lagu luar, dengan 'manuver-manuver' aransemen yang tidak terduga.
Satu Nama adalah lagu ceria lengkap dengan reffrain sing-alongable bertema serius, membuat perlawanan menjadi lebih menyenangkan. Tentu saja
Replika tepat menjadi singel pertama karena begitu mudah diingat di kepala. Saya benar-benar menikmati riff gitar pada lagu ini. Renyah. Bercerita tentang kelatahan, pengulangan dan trend dalam musik lokal. Bagaimana kita tidak akan suka dengan line pertama,
"Mereka takkan pernah berhenti, hasilkan sesuatu yang kau benci." Sementara
Kiasan malah sekilas seperti ada pengaruh musik Naif in a good way, dan
Vow adalah lagu balada cantik dengan penempatan pas di dalam album, nyaris di urutan akhir.
Strange Is The Song In Our Conversation bertema lucu [can I say, 'cute'?] dan menyenangkan: tertidur dalam percakapan malam di telefon. Lagu ini juga menampilkan vokalis tamu dan baru, Marsha Suryawinata duet dengan Wisnu. Karakter vokal Marsha di sini unik, dan bernuansa country [Hope Sandoval atau versi pop dari Jesse Sykes, anyone?]. Saya menantikan di masa datang, mungkin sebuah album solo dari Marsha. Highlight album ini bagi saya adalah
30 Nanti, salah satu lagu favorit saya, aransemen yang keren dengan hasil memuaskan. Di sini sound bass Agan berdistorsi, dan menjadi rhythm yang keren dan di depan. Drum yang monoton mengimbangi cantik dalam lagu ini, seakan menggunakan drum machine. Ada tipe lagu monoton membosankan dan monoton keren, dan
30 Nanti sudah jelas tidak jatuh pada kategori pertama. Produser Joseph Saryuf [Santamonica] mengerti dan melakukan pekerjaannya dengan maksimal, serta mampu mendorong proses pembuatan album ini menjadi berkualitas dan menjadi salah satu nominasi album lokal terbaik bagi saya. Album
Lantai Merah juga adalah effort pertama dari Monkey To Millionaire dalam penulisan lirik bahasa Indonesia [enam lagu] dan berhasil dengan baik. Sementara lirik berbahasa Inggrisnya, dikemas dengan 'baik dan benar'. Pelafalan yang enak dan penulisan yang benar, sesuatu yang masih jarang dimiliki oleh band independen lokal. Pengucapan Wisnu dalam tiap lagu terasa pas dan tidak berlebihan, serta tetap bernuansa lokal, dalam arti tidak berusaha meniru cengkok dan gaya bicara barat. Rekaman sebagus
Lantai Merah ini harus ditunjang dengan penampilan live yang maksimal pada sound dan showmanship supaya kualitas dari tiap lagu akan semakin terasa dan tidak terbuang percuma. Saya punya banyak harapan dengan band ini, dan semoga album ini juga memicu para band lokal menampilkan yang terbaik dari mereka. Kudos to them, and Sinjitos Records. Highly recommended.
[arian13]