NERVOUS BREAKDOWN
Never Green
Yes No Wave Music
Good God! I must have been living under a rock for ages! Sumpah saya tidak pernah menduga kalau ternyata Rano Karno, Sophan Sophian, Roy Marten dan Tommy Soeharto sepakat berkongsi untuk membentuk sebuah band eksperimental [old-school] hardcore bernama Nervous Breakdown. Lebih gila lagi, Juni tahun ini EP pertama mereka dirilis oleh netlabel lokal Jogja yang tidak lain dan tidak bukan bernama Yes No Wave Music. Sesuai dengan reputasi Yes No Wave Music yang terkenal dengan rilisannya yang edgy, maka
Never Green bukanlah EP old-school hardcore standar. Edgy tidak juga berarti EP ini menyimpang jauh dari esensi musik hardcore. Nyatanya, core musik Nervous Breakdown masih tetap hardcore yang cepat, singkat dan tentunya straight forward. Yang memisahkan
Never Green dengan album old-school hardcore lainnya adalah tambahan esensi blues, new wave serta 90's alternative rock. Bayangkan saja, album ini nekat dibuka dengan sebuah credo hardcore dan balutan slide guitar yang bluessy. Sekejap kemudian, anda akan segera menemukan nuansa new-wave di track lainnya dan sebuah riff yang sepertinya dicuplik dari album lama Pas band [atau mungkin kuping saya yang salah?!]. Bahkan supergroup ini mencomot
Love Buzz [versi Nirvana tentunya] untuk sekadar dijadikan intro salah satu track dalam album ini. Entahlah sejak kapan empat lelaki ini menjadi kaum post-modernist dan berani mengacungkan jari tengah kepada hak intelektual dan batasan genre, yang jelas ini sinting! Sayangnya seluruh elemen non-hardcore tersebut ditumpuk di intro semua track [kecuali track terakhir yang terdengar seperti versi minimalis dari lagu grunge]. Kesan intro yang sekedar tempelan tidak bisa terelakkan setelah beberapa detik mendengarkan album ini. Tak ayal, siapapun tak memerlukan waktu lama untuk menemukan template komposisi semua track album ini ; intro [non hardcore] - main composition [old-school hardcore] - end
. Ini ironis. Karena apa yang memisahkan album ini dari tipikal justru membuat komposisi track di album ini. Tapi sudahlah, toh para selebritis ini hanya ingin berseloroh. Bahkan dengan kekurangannya, album ini masih sangat layak disimak dan didengarkan. Terutama saat anda geram dan bosan ketika berita tentang kasus Roy Marten dan kematian Sophan Sophian diumbar di ruang publik. Shit, I remember now Sophian died not long time ago and Roy is imprisoned right?! Well Then, additional points for your 'attractive monikers', dude!...
[Innerciatic Manneken]