 |
 |
 |
 |
|
 |
 |
|
 |
|
|
![KLUB [CERIA] APOKALIP](/webzine/aset/asetsite/asetgambar/project1.jpg)
KLUB APOKALIP www.klub.apokalip.com
Klub Apokalip merupakan media interaksi berbasis internet yang dikelola oleh Apokalip webzine. Ini forum untuk menjalin komunikasi yang lebih akrab di antara redaksi, kontributor, teman, sahabat, dan pengunjung setia Apokalip.com. Semacam channel bebas buat semua mahluk hidup yang punya passion terhadap aktifitas Apokalip dan dunia musik, kultur, gaya hidup, olahraga, sains, tehnologi, atau apapun juga. Bicara apa saja, bebas. Di sini akan penuh kejutan dan perbincangan. Gabung sekarang juga!
|
|
| 
APOKALIP STRONG MERCHANDISE www.strongmerch.apokalip.com
Apokalip Strong Merch adalah lisensi resmi untuk setiap produk merchandise yang dirilis oleh Apokalip dan pihak rekanannya. Sebagian memang dijual dan beredar di pasaran, tetapi ada juga tidak beredar secara bebas. Di halaman ini akan ditampilkan setiap produk lengkap dengan deskripsi serta segala kisah di balik karya desain, proses produksi, dan nilai-nilai yang ada. Yah, merchandise Apokalip memang selalu unik, konseptual, dan eksklusif. Stay strong & wrong. Always dangerous & gorgeous!...
|
|
| 
RELOADYOURSTEREO www.rys.apokalip.com
ReloadYourStereo merupakan sebuah projekt dari Apokalip.com untuk merilis album rekaman secara digital serta disebarkan secara cuma-cuma [free-download] melalui jaringan internet untuk kepentingan promosi dan dokumentasi karya musik. Slogan kami adalah Global Music Revelation, dengan kata kunci ; internet, digital, mp3, free download, creative-common license, full lyrics & artworks, file-sharing, usb flashdisk, nero express, and burn it down.
|
|
|
| |
 |
|
 |
Apokalip Projekt
|
 |
 |

Upaya membongkar dan menceritakan kembali beberapa karya Musik, Video, Buku dan Event. Terdapat apresiasi dan panduan berupa rating bintang yang secara umum terbaca ;
Lupakan Saja! | Buruk | Lumayan | Bagus | Keren Banget | Juara! |
|
 |
 |
 |
 |
|
|
|
|
SIGH
Scenes From Hell
The End Record
Anda seorang Japan-freak? Apa? Jawaban anda adalah "Ya"? Alhamdulillah, karena review ini akan segera menyadarkan betapa usaha anda untuk menyipitkan mata, berdandan mati-matian dan membentuk band dengan vokalis yang bernyanyi sesengau mungkin itu percuma saja. Percayalah, anda sebaiknya segera mengepak impian untuk menjadi impersonator Hyde nomor 109. Kemasi semua impian anda untuk menjadi manusia se-jepang-jepang-nya, karena ketika anda berusaha menjadi mereka, saudara tua kita justru mati-matian menjadi 'londo' . Akh, anda mau bukti? Dengar saja Scenes From Hell, rilisan terbaru Sigh melalui label The End Record. Rilisan ini malah makin menunjukkan Sigh tak malu lagi menyodorkan kekaguman akan budaya Eropa dalam bentuk album. Memang, bukan pertama kali ini memang, karena sebelumnya Hangman's Hymn telah terlebih dahulu menyuguhkan senyawa thrash yang dipadu dengan gempita simfonik metal. Tapi, Scenes From Hell menawarkan apa yang sebelumnya hanya jadi mimpi basah sekelompok orang ini. Mimpi basah itu bernama 'simfoni organik'? Mirai dan gerombolan dengan baik hati memutuskan untuk tidak membohongi gendang telinga kita. Dengan tulus mereka membawa sekelompok pemain brass section untuk mengguratkan nuansa simfonis yang, kali ini, benar-benar nyata. Keyboard yang dulu bertanggung jawab untuk membohongi kuping kita, kini lebih didorong ke belakang menjadi pemain latar. Pemain utamanya? Tentu saja sekumpulan terompet yang berkorporasi membentuk bebunyian simfonik bernada Eropa yang menimpali line guitar yang bertendensi thrash. Perhatian sebelum anda melanjutkan, harap ingat kembali ini review album Sigh, bukan Dimmu Borgir atau sejenisnya, jadi jangan harap menemukan sekelompok brass section yang dibayar hanya untuk menjadi musik pengiring komposisi black metal yang hendak terdengar megah. Brass section dalam Scenes From Hell memang lincah; yup, lincah dalam komposisi yang cepat juga lincah melintas genre. Mungkin lebih susah memilah percampuran genre dalam album ini. Namun jelas kentara bahwa brass section dalam album ini menggurat komposisi klasik, folk bahkan sirkus. Tak pelak Scenes From Hell terdengar laksana rilisan Cradle Of Filth tanpa Dani Filth, plus nuansa sirkus yang dicampur dengan sedikit nuansa Unexpect. Unik?! Akh, tapi unik memang adjektif yang akrab dengan Sigh. Ada masanya Sigh lebih mirip varian black metal ala Mr Bungle. Sejujurnya, saya mengharap Mirai dkk masih mau kembali bernostalgia ke masa pra Hangman's Hymn, ketika black metal dicampur dengan apapun yang dikehendaki Mirai. Kini ekletisme, yang kerap saya cari dari band Jepang yang tidak memainkan J-rock [yeah, I hate this term!] itu telah direduksi oleh semangat '45 untuk menjadi 'londo' seutuhnya, dan Scenes From Hell adalah kabar buruk bagi saya. Scenes From Hell sepenuhnya kabar buruk? Well, itu jika anda hanya mengenal Sigh sampai album Gallows Gallery. Selebihnya, jika anda penyuka black metal yang keluar dari pakem; album ini patut disimak sebagai pemanasan di awal tahun. Lebih hebat lagi jika anda seorang Japan-freak. Album ini adalah pencerahan karena bisa menyadarkan anda bahwa menjadi Nippon itu sama saja menjadi orang Bali yang bernama Ketut dan Wayan, misalnya. Kenapa?! Karena orang Jepang toh bermimpi jadi orang Eropa, dan jangan lupa, bule Eropa suka cewek Bali!... [innerciatic manneken]
Show/hide Bookmark tools...
|
Show/hide Article tools...
|
|
|
 |
 |
 |
 |
| MAN MUST DIE ; No Tolerance For Imperfection |
|
|
|
MAN MUST DIE
No Tolerance For Imperfection
Relapse Records
Daratan Skotlandia melahirkan barisan orang-orang pemberani dengan bendera hitam provokatif yang bertuliskan Man Must Die [MMD]. Seolah-olah jiwa 'Braveheart' sudah mengakar kuat di benak masing-masing personil band asal Glasgow ini. No Tolerance For Imperfection adalah album ketiga, dan rasanya lebih berkembang daripada rilisan mereka sebelumnya. Setidaknya secara komposisi musik dan sound terdengar makin kaya serta menantang. Jarang-jarang bisa kita dapati band death metal dari tanah Britania Raya, dan MMD justru 'nglunjak' pamer memainkan berbagai dimensi progresi serta sentuhan teknikal di sana-sini. Death metal?! Ups sebentar, sebenarnya band ini mengaku lebih kepada 'grindcore ethic' daripada terlibat di ranah 'death metal' seperti yang dikatakan media. Itu bisa dilihat dari lirik-lirik mereka yang banyak mengusung tema sosial-politik - topic grindcore dalam level advanced lah. Label kesohor Relapse Records tampaknya jeli melihat potensi band-band pengusung musik hyper-aggressive seperti layaknya MMD ini. Hingga akhirnya mereka menjadi band British pertama yang tergabung dalam Relapse Records. Secara musikal, bukan hal yang baru juga sebenarnya ; riff yang meliuk-liuk, melodi pemanis di tengah lagu, vokal menyalak, dan atmosfir sound yang apokaliptik. Gainsayer seperti tipikal lagu cepat yang akan digemari fans death/grind modern. Tetap brutal, namun punya harmonisasi di sektor gitar. Kill It Skin It Wear it semakin menguliti tehnik bermusik Joe McGlynn dkk dalam kapasitas amarah dan dendam yang musti dilampiaskan. Nomor pendek berjudul Survival of The Sickest terdengar megah dengan melodi panjang dan marching drum yang gagah. Di sejumlah stok lagunya, MMD seakan bisa melahap permainan Origin, Necrophagist, atau bahkan Brutal Truth dan Converge. Track favorit saya adalah It Comes In Threes dan Reflections From Within. Dua track yang keras, matang, dan terus menancap di kepala! Rasanya saya harus menyetel kembali film Braveheart berbarengan dengan album ini, karena siapa tahu William Wallace yang dilakoni oleh Mel Gibson bisa bertindak makin kalap dan beringas, hingga menambah lebih banyak daging yang tercabik serta darah yang berceceran... [smck]
Show/hide Bookmark tools...
|
Show/hide Article tools...
|
|
|
 |
 |
 |
 |
| DINNING OUT ; Menghempas Lelah |
|
|
|
DINNING OUT
Menghempas Lelah
Absolute Records
Sebuah hasil karya dari band yang sudah cukup lama malang melintang di dunia underground Bandung Raya, khususnya scene Ujungberung. Band ini dulu sempat mengisi kompilasi Ujungberung Rebel di tahun 1998 bersama dengan kompatriot-nya seperti Jasad, Forgotten, Restless dan lainnya. Dinning Out didirikan pada tahun 1997 dengan tanpa makna arti kata yang khusus oleh Adan Gimbal dkk. Sepanjang perjalanannya, band ini mengalami pasang surut dengan banyak pergantian personel. Tercatat ada personel wanita di band ini yang mengisi album pertama di tahun 2002 bertajuk Sendiri yang dirils oleh Napi Record dan True Lies Record. Namun hingga kini Dinning Out masih mempertahankan konsep musik metal yang ringan dan mudah dicerna bagi orang awam. Hal ini direfleksikan oleh lagu Cinta dan Nyata di album ini. Masuknya Akew sebagai gitaris di album ini, membantu Adan dalam berkreasi memainkan riff-riff gitar yang cukup melodius dan harmonik, sehingga warna riff gitar khas musik Beside akhirnya muncul di lagu Hopeless, sebuah lagu yang tergolong bertempo sedang. Album metal yang 'manis' ini dikemas dengan musik yang bertempo 'sedang-sedang saja' dengan tingkat distorsi sound gitar yang digunakan masih dalam level 'ringan'. Olah vokal dari sang vokalis Andri juga memegang peranan penting untuk menyampaikan pesan dan lirik yang dibuat oleh Adan, leader dari band ini. Vokal yang parau dan serak khas thrash metal namun jelas dalam pelafalan kata-kata menjadi nilai plus tersendiri. Sementara gebugan drum Gebeg mengisi tempo dan ketukan lagu di album ini secara pas, tak ada sesuatu yang berlebihan, sehingga album ini bisa dinikmati dengan baik. Secara keseluruhan album ini merupakan album yang baik dan saya rekomendasikan bagi para pendengar dan pecinta musik rock/metal di tanah air. Namun saying, thank list-nya terlalu banyak sehingga memenuhi lebih dari separuh lay-out sampul album ini. Produksi album ini dikemas berbentuk digipak dan dipasarkan dengan jalur distribusi bawah tanah dengan harga cukup terjangkau bagi para penggemar musik rock/metal nusantara... [AbahSupri]
Show/hide Bookmark tools...
|
Show/hide Article tools...
|
|
|
 |
 |
 |
 |
|
|
|
|
I'M NOT THERE
Sutradara ; Todd Haynes
Pemain ; Christian Bale, Cate Blanchett, Marcus Carl Franklin, Richard Gere, Heath Ledger, Ben Whishaw.
Perlu enam wajah, enam karakter dan enam alur cerita untuk 'menceritakan' seorang Bob Dylan. Yes, six in one. Jelas ini bukan sebuah biografi yang linier dan deskriptif. Sangat anti-struktur dan melompat-lompat. Ini malah lebih mirip antologi 'puisi bergambar' tentang sosok penyanyi folk/rock dalam eksperimen sinematografi sang sutradara. Bob Dylan diceritakan dalam enam alur kehidupan yang diperankan oleh enam bintang sekaligus ; Marcus Carl Franklin, Ben Whishaw, Heath Ledger, Christian Bale, Richard Gere, dan Cate Blanchett. Mereka semua memainkan reinkarnasi Bob Dylan dengan nama, interpretasi, serta tahapan hidup yang berbeda. Dimulai dari Marcus Carl Franklin, seorang bocah negro berusia sebelas tahun, adalah interpretasi masa kecil Dylan. Dia menjadi seorang Woody Guthrie, yang lari dari penjara anak-anak, menyelip ke atas sebuah kereta dengan menyandang gitar dengan tulisan "This Machine Kills Fascists". Christian Bale memerankan Jack Rollins, sosok penyanyi folk/rock yang menyanyi dengan kesadaran politik tinggi, yang kemudian menjelma menjadi Pastor John, versi lain dari Dylan yang mengalami fase Kristiani yang terlahir kembali. Yang paling unik dan kontroversial adalah Cate Blanchett yang memerankan Jude Quinn, sebuah fase di mana Dylan sudah mencapai puncak kariernya, sementara para penggemar fanatik yang semula memujanya menolak konsep musik terbaru Bob Dylan yang dianggap sudah terlalu menjual, komersil, serta tunduk pada industri. Sementara penampilan [almarhum] Heath Ledger menerjemahkan sosok Dylan sebagai Robbie Clark sangat menyentuh. Kisah cintanya dengan Claire [Charlotte Gainsbourg] yang panas membara segera menjadi teduh setelah mereka membentuk keluarga dan memiliki anak. Inilah contoh film yang berkarakter alusi dan lumayan berat untuk dinikmati. Saya hanya bisa menyarankan [calon] pemirsa untuk selalu duduk tenang, jauhkan popcorn dan air soda, dan fokus 100% pada layar kaca anda. Sebab sudah banyak kritik melekat pada film ini - baik secara negatif maupun positif. I'm Not There telah memancing berbagai kontroversi pedas, di samping sejumlah penghargaan untuk sutradara, pemain, serta skenario film itu sendiri di beberapa festival. Kalau sudah begini, saya anggap eksperimen dan pesan Todd Haynes cukup sukses. Berarti film ini berhasil mendapat apresiasi dan perhatian yang khusus dari publik. Saya berani mensejajarkan I'm Not There dengan film sejenis yang menceritakan tentang Pink Floyd karya Bob Geldof, atau Jim Morrison karya Oliver Stone. Di samping itu, sosok yang luar biasa seperti Bob Dylan memang sebaiknya digambarkan dalam cerita yang tidak biasa pula - tidak hanya gitar bolong dan harmonika. Seperti yang dikatakan oleh sutradara Todd Haynes, "The minute you try to grab hold of Dylan, he's no longer where he was. He's like a flame: If you try to hold him in your hand you'll surely get burned... Dylan is difficult and mysterious and evasive and frustrating, and it only makes you identify with him all the more as he skirts identity." Bahkan sangat mungkin kita juga menyimpan karakter seorang Bob Dylan dalam sosok pribadi diri kita masing-masing... [smck]
Show/hide Bookmark tools...
|
Show/hide Article tools...
|
|
|
 |
 |
 |
 |
| RISKY SUMMERBEE and THE HONEYTHIEF ; The Place I Wanna Go |
|
|
|
RISKY SUMMERBEE & THE HONEYTHIEF
The Place I Wanna Go
RSTHT
Suasana kamar tiba-tiba mendadak nyaman dan menenangkan saat Risky Summerbee & The Honeythief mulai melantunkan She Flies Tomorrow. Nomor pembuka dari album milik band asal Jogja ini memang menyejukkan. Begitu datar dalam bunyi-bunyian instrumen yang minimalis. Hanya suara vokal yang tampak mendominasi. Terdengar indah, singkatnya. Saya kurang begitu kenal perjalanan band ini sebenarnya. Pertama dengar, saya kira ini band dari negeri barat. Nyatanya adalah karya kelompok musik yang hanya berjarak enam jam perjalanan darat dari tempat tinggal saya. Sialan, tidak banyak band lokal yang bisa bernyanyi seperti ini. Love Affair No.9 menyimpan unsur jazz dan psikedelik dalam porsi seimbang serta tidak saling mengganggu. Masih dengan vokal yang empuk. With You malah menyimpan sesi eksperimen psikedelia yang rumit macam Pink Floyd. Ibarat Ummagumma yang tersesat di sudut jalan Malioboro. Tapi untungnya, mereka tidak terjebak lama dalam plot keruwetan. Selalu ada akhir dari bunyi-bunyian eksperimental, dan ending-nya selalu bahagia, serta tidak bikin pendengar penasaran. Namun Flight To Amsterdam menjadi salah jalan ke London. Entah kenapa mereka ingin ke Belanda, jika musik seperti ini rasanya lebih cocok untuk dipamerkan di Inggris. Slap & Kiss tidak serta-merta nakal menampar, malah cenderung romantis. Contoh lagu cinta yang elegan. Saatnya mencium kening kekasih anda di ujung lagu ini. Tembang On A Bus juga berpotensi untuk menjadi favorit. Ringan dan catchy di telinga. Terutama bagi anda yang tergila-gila pada jenis musik indie-pop. Melodi gitar di lagu ini menyimpan sekantong madu dengan kualitas terbaik. Dilanjutkan dengan Fireflies yang memiliki lirik puitis dan sentimentil. Seorang gadis kutu buku pun akan langsung jatuh hati pada lagu ini. Make A Print of Me adalah satu-satunya lagu bernuansa 'thriller' di album ini. Agak gelap dan misterius, tanpa penyelesaian. Bayangkan Sherlock Holmes yang terkunci di dalam sebuah kamar kumuh di daerah Pasar Kembang. Jika perumpamaan ini dilanjutkan, maka Sherlock Holmes mulai berpikir untuk memecahkan teka-teki lewat lagu The Seagull. Itu adalah nomor instrumentalia yang mistikal. Cukup singkat, rumit, dan akhirnya tidak terpecahkan. Yah, Sherlock Holmes telah gagal. The Place I Wanna Go menjadi album lokal yang layak untuk dikoleksi. Boleh saya bilang, vokalis mereka adalah salah satu pria dengan suara paling merdu di negeri ini - dan juga jantan seperti Roger Daltrey atau David Gilmour. Instrumen seperti keyboard dan gitar ikut bermain cantik. Bunyi keyboard-nya terdengar kuno menyayat. Petikan gitarnya cukup beracun meski tidak mematikan. Penggemar The Who, Pink Floyd, atau Velvet Underground sudah pasti bahagia mendengarkan semua track di album ini. Jika anda mencari 'pejantan' untuk bandingan musik Tika and The Dissidents maka saya merekomendasikan Risky Summerbee & The Honeythief. Mereka seperti madu, sangat manis tapi tidak berefek buruk atau merusak. Jika band ini tidak berkembang besar, mungkin mereka hanya salah jaman saja... [smck]
Show/hide Bookmark tools...
|
Show/hide Article tools...
|
|
|
 |
 |
Halaman:
1 2 3 ... 42 43 44
Selanjutnya
|
Ke atas..
|
 |
|
 |
|
|
 |
   |
 |
|
 |
 |
 |
|