 |
 |
 |
 |
|
 |
 |
|
 |
|
|
![KLUB [CERIA] APOKALIP](/webzine/aset/asetsite/asetgambar/project1.jpg)
KLUB APOKALIP www.klub.apokalip.com
Klub Apokalip merupakan media interaksi berbasis internet yang dikelola oleh Apokalip webzine. Ini forum untuk menjalin komunikasi yang lebih akrab di antara redaksi, kontributor, teman, sahabat, dan pengunjung setia Apokalip.com. Semacam channel bebas buat semua mahluk hidup yang punya passion terhadap aktifitas Apokalip dan dunia musik, kultur, gaya hidup, olahraga, sains, tehnologi, atau apapun juga. Bicara apa saja, bebas. Di sini akan penuh kejutan dan perbincangan. Gabung sekarang juga!
|
|
| 
APOKALIP STRONG MERCHANDISE www.strongmerch.apokalip.com
Apokalip Strong Merch adalah lisensi resmi untuk setiap produk merchandise yang dirilis oleh Apokalip dan pihak rekanannya. Sebagian memang dijual dan beredar di pasaran, tetapi ada juga tidak beredar secara bebas. Di halaman ini akan ditampilkan setiap produk lengkap dengan deskripsi serta segala kisah di balik karya desain, proses produksi, dan nilai-nilai yang ada. Yah, merchandise Apokalip memang selalu unik, konseptual, dan eksklusif. Stay strong & wrong. Always dangerous & gorgeous!...
|
|
| 
RELOADYOURSTEREO www.rys.apokalip.com
ReloadYourStereo merupakan sebuah projekt dari Apokalip.com untuk merilis album rekaman secara digital serta disebarkan secara cuma-cuma [free-download] melalui jaringan internet untuk kepentingan promosi dan dokumentasi karya musik. Slogan kami adalah Global Music Revelation, dengan kata kunci ; internet, digital, mp3, free download, creative-common license, full lyrics & artworks, file-sharing, usb flashdisk, nero express, and burn it down.
|
|
|
| |
 |
|
 |
Apokalip Projekt
|
 |
 |

Coba kunjungi toko buku atau perpustakaan. Banyak buku-buku menarik di luar sana. Novel, roman, biografi, bahkan komik. Ini rubrik yang sangat pro-pemerintah, ayo galakkan minat baca!...
Lupakan Saja! | Buruk | Lumayan | Bagus | Keren Banget | Juara! |
|
 |
 |
 |
 |
|
|
|
|
KIAMAT 2012
Lawrence E Joseph
Gramedia Pustaka Utama
Saya akui aktifitas menulis kali ini agak konyol. Saya merasa harus me-review buku ini setelah gembar-gembor film 2012 di seluruh dunia. Terus terang saya juga agak kesal dengan film tersebut. Antri tiket dua kali di bioskop, tapi tetap saja kehabisan. Lalu saya nekat membeli DVD versi bajakannya dan ternyata ceritanya biasa saja. Jauh dari ekspektasi yang saya harapkan setelah membaca buku ini delapan bulan yang lalu. Film itu menjadi adaptasi yang gagal, tanpa meninggalkan pesan yang bermakna. "Iya, itu film 'sampah' bagi orang-orang yang pernah membaca versi bukunya," kata teman saya dengan geram. Buku Kiamat 2012 adalah versi terjemahan dari Apocalypse 2012 karya ilmuwan bernama Lawrence E Joseph. Seperti yang anda tahu, semua ini berawal dari ramalan suku Indian Maya yang mengatakan bahwa dunia akan berakhir pada 12 Desember 2012 - sesuai dengan akhir masa kalender mereka. Buku ini menggambarkan kondisi dunia dalam 'kode merah'. Presentasi bermacam bencana sejak tempo doeloe sampai kemungkinan 'kiamat' di masa depan. Tentang medan magnet yang retak, radiasi nuklir, letusan supervulkan, erupsi, hingga datangnya sang dajjal di akhir zaman. Buku ini bisa dibilang sangat ilmiah, penuh teori [dan juga konspirasi?!]. Tapi bagusnya dibungkus dalam bahasa yang cukup ringan dan populer. Meski banyak istilah-istilah asing yang 'eksakta' tapi setidaknya bisa kita pahami garis besarnya. Di buku ini anda mendapatkan teori apokaliptik dari para ilmuwan dan ahli agama, nujum, rohaniawan, astronomi, biologi, fisika, kimia, geologi, bahkan metafisika. Intinya, ada beragam teori dari berbagai ahli yang pada akhirnya sepakat dan menyimpulkan bahwa tahun 2012 bakal terjadi 'bencana' di muka bumi seperti yang telah diramalkan sebelumnya. Ini bukan buku sesat seperti yang dikhawatirkan para fanatik. Karena saya rasa semua teori di buku ini masih bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Pesan-pesan yang disampaikan juga cukup berbobot. Jadi tak perlu curiga, apalagi tiba-tiba kuatir dan ketakutan. Nikmati saja 'kekacauan' ini karena toh semua bencana tersebut akibat ulah manusia. Seperti pesan terakhir yang termuat di sampul buku ini, "Tidak ada yang bisa anda lakukan, jadi sebaiknya anda duduk santai serta menikmati pertunjukan ini." Saya tambahkan, lupakan film 2012 yang sedang diputar di bioskop-bioskop itu. Karena sebaiknya anda segera menarik tangan pacar anda dan masuk ke Gramedia untuk membeli buku ini. Saya yakin, membaca bersama bisa jadi lebih menarik daripada nonton bareng. Menonton film-nya mungkin bisa membuat anda tampak cool, tapi dengan membaca buku ini justru akan menambah wawasan dan bikin anda lebih 'smart' di hadapan kekasih anda itu. Well, mari kita hitung mundur sampai tahun 2012 dan semoga kita semua baik-baik saja... [samack]
Show/hide Bookmark tools...
|
Show/hide Article tools...
|
|
|
 |
 |
 |
 |
| MANAGING ARTISTS IN POP MUSIC |
|
|
|
MANAGING ARTISTS IN POP MUSIC
Mitch Weiss & Perri Gaffney
Gramedia Pustaka Utama
Anda sudah lama merasa gagal dalam bermain musik? Tergabung dalam dalam band yang tidak berkembang dan jauh dari kata sukses? Pernah bikin label rekaman dan lalu bangkrut? Tidak becus juga mengelola bisnis clothing atau distro? Jadi promotor dan membangun bisnis event organizer yang selalu merugi dan diuber-uber polisi? Well, sepertinya anda perlu segera banting setir kalau ingin tetap bertahan aktif di industri musik yang kejam seperti sekarang. Kenapa tidak mencoba ke belakang layar dan menjadi seorang manajer band?! Siapa tahu, mungkin peruntungan anda ada di sana. Buku ini bisa jadi panduannya. Setiap bab cukup untuk memenuhi kebutuhan anda untuk menjadi seorang manajer handal. Mulai dari soal perencanaan karir musik, mengorbitkan band baru, manajemen artis, sampai pada masalah kontrak hukum, pajak, dan keuangan. Buku berjudul Managing Artists In Pop Music ; Kunci Sukses Artis dan Manajer ini ditulis oleh Mitch Weiss dan Perri Gaffney, praktisi bisnis musik asal Amerika Serikat yang telah puluhan tahun berkecimpung di bidangnya. Bagusnya, buku ini tidak membosankan. Ditulis secara ringan dan tepat dalam alur kalimat yang bercerita. Seperti membagi pengalaman kedua penulis di saat mereka sedang mengelola artis atau menghadapi berbagai kendala yang biasa terjadi dalam bisnis musik. Lengkap disertai berbagai contoh perjanjian dan kontrak dalam berbagai versi - yang selalu dibandingkan kelebihan serta kelemahannya. Juga bermacam studi kasus dan trik ketika menghadapi pers yang usil, promotor yang egois, atau artis yang bandel. Anda bisa simak bahwa manajemen adalah masalah bakat, seni dan keterampilan. Sebenarnya tidak ada rumus atau formula yang baku. Setidaknya, jika anda cukup memahami bagaimana industri hiburan dan bisnis musik ini berjalan, niscaya anda sudah semakin dekat dengan kesuksesan. Jelas menjadi manajer band bukan hanya sekedar mencarikan job manggung, mengurus booking, terima fee, atau membawakan peralatan musik yang seabrek itu. Buku ini sudah cukup menjelaskan banyak hal tentang seluk-beluk manajemen musik. Semua kalangan yang bergerak di dalam bidang bisnis hiburan dan industri musik perlu membacanya. Ada banyak pengalaman dan pelajaran berharga di balik setiap tahap pengelolaan bisnis musik. Well, masih bersikeras menjadi rockstar jika band anda selalu gagal dan selalu ditangani oleh orang yang salah? Coba pikirkan lagi. Mungkin takdir anda bukan menjadi seorang rockstar, melainkan jadi 'the next great manager' seperti Dhani Pete [Gigi], Wendi Putranto [The Upstairs], Rudolf Dethu [eks SID], Santi [Koil], Jemi [Burgerkill], Bin Harlan [Efek Rumah Kaca], atau bahkan Rod Smallwood [Iron Maiden]. Terkadang cita-cita seperti itu lebih terpuji dan nyaris mendekati surga. Saya rasa masih banyak artis dan band pendatang baru di luar sana yang butuh sentuhan tangan dingin anda. Oke, baca baik-baik buku ini, terapkan sesuai kondisi, jadilah kreatif, dan lupakan dulu mimpi-mimpi anda untuk menjadi rockstar!... [samack]
Show/hide Bookmark tools...
|
Show/hide Article tools...
|
|
|
 |
 |
 |
 |
|
|
|
|
GRUNGE INDONESIA
YY
Gnoisetcsm.Lab
Sangat menyenangkan ada karya buku yang coba mendokumentasikan komunitas musik di tanah air. Kali ini yang dibahas adalah [komunitas] musik grunge. Sang penulis itu adalah YY, pentolan dari grup band Klepto Opera dan Ballerina's Killer. Draft tulisan yang memiliki judul panjang Grunge Indonesia ; Subkultur Para Pecundang ini mengalir dalam 248 halaman. Komunitas grunge di negeri ini memang kalah besar dan kurang mengkilap dibandingkan dengan komunitas punk, hardcore, metal, atau bahkan indie-pop sekalipun. Namun selalu menarik untuk menyimak sepak terjang mereka di tengah arus musik independen yang cukup kompetitif. Buku ini mengingatkan saya, bahwa komunitas grunge sangatlah minoritas dan entah kenapa agak terpinggirkan. Apakah ini euphoria dari arus trend Seatle Sound dengan 'tuhan'-nya yang bernama Kurt Cobain dalam jubah Nirvana?! Sejujurnya iya. Kenyataannya memang begitu, meski banyak ditepis oleh sebagian kalangan. Tampaknya komunitas ini juga banyak menghabiskan enerjinya hanya untuk memahami apa itu grunge - mulai dari sejarah, budaya, life style, dandanan, sampai pada trik mengimitasi para pahlawan atau musisi idolanya. Kesannya komunitas grunge itu terlalu ribet mengurusi dirinya sendiri. Terlampau mendasar dalam membangun citra scene musiknya. Dulu, saya memang sering menemui anak grunge yang hafal luar kepala tentang sejarah dan budaya musiknya. Mereka bisa bercerita banyak soal Seatle seakan-akan itu adalah kampung halamannya. Mendongeng panjang tentang Sub Pop, Nirvana, atau kemeja Flanel. Mereka memang fasih kalau disuruh bercerita soal grunge mulai dari A sampai Z. Luar biasa. Saya musti memberi aplaus untuk wawasan mereka di bidang 'grunge-o-logi'. Anak punk, hardcore atau metal aja tidak sampai segitunya dalam memaknai genre-nya. Entah siapa yang memulai 'pembelajaran' seperti itu. Tapi ironisnya, scene grunge di Indonesia masih jauh di level mapan dibandingkan dengan genre lainnya. Tampak stagnan dan tertinggal, terutama dalam industri. Apakah karena terlalu sibuk menghayati perannya sebagai anak grunge?! Larut dalam dimensi keterasingan dan psikologis?! Berupaya terlalu keras menjadi 'kurt cobain' dibanding Kurt Cobain sendiri?! Terlalu sibuk mabuk dan membanting gitar di setiap konser?! Atau memang grunge sudah menthok dan tamat sejak 'tuhan'-nya memilih untuk bunuh diri?! Well, ini pekerjaan rumah yang cukup besar bagi komunitas grunge di Indonesia. Sayangnya buku ini kadang ikut larut dalam diskursus seperti itu, dan kurang banyak mengupas pergerakan atau prestasi band-band grunge lokal. Kalaupun ada, itu cuma sekilas dan agak kurang mendalam. Atau memang begitu keadaannya?! Hanya mereka yang terlibat aktif yang tahu. Terlepas dari baik-buruknya suatu komunitas, dokumentasi tulisan seperti ini sangatlah penting dan bermanfaat. Karya ini bakal lebih keren lagi kalau dikasih semacam album soundtrack atau sampler dari band-band grunge lokal. Saya berharap ada juga yang mau menulis tentang komunitas musik lain, entah itu punk, hardcore atau metal. Sang penulis buku ini memang cukup jujur menelanjangi scene-nya sendiri. Kalau pun ada kontroversi, bukankah itu fungsi suatu wacana yang memang bertujuan membuka kran dialektika. Bahkan kitab suci sekalipun masih punya celah untuk diperdebatkan. Karena memang sebenarnya tidak ada pecundang di dalam motivasi belajar dan proses mengapresiasi... [samack]
Show/hide Bookmark tools...
|
Show/hide Article tools...
|
|
|
 |
 |
 |
 |
|
|
|
|
THE STORY OF CRASS
George Berger
Amazon
"Punk became a fashion just like hippy used to be and it ain't got a thing to do with you or me." Ada pemandangan aneh ketika saya mengunjungi Kinokuniya Grand Indonesia beberapa waktu lalu. Di bagian musik, di antara buku-buku soal musisi mainstream, terselip sebuah buku dengan logo yang lumayan familiar dengan saya ; The Story of Crass. Oke, Crass memang bukan musisi yang populer di Indonesia, terus kenapa mereka punya buku ini dalam katalognya ya?! Jarang-jarang ada naskah mengenai sejarah punk Inggris tanpa menyertakan kontribusi Sex Pistols seperti dalam buku ini. Ketika Johnny Rotten meneriakan slogan "Anarchy!" hanya demi sensasi subversif dalam musiknya sekaligus marketing gimmick bagi sex shop milik pasangan Malcolm McLaren dan Viviene Westwood, Crass sudah terlebih dulu membawa realisasi kata itu ke tingkat lebih lanjut. Cikal bakal Crass diawali dengan sebuah komune anarkis bernama Dial House yang terdiri atas sekelompok mahasiswa seni, musisi, sastrawan dan aktivis perdamaian yang menyabot sebuah lahan tidur di wilayah Essex, Inggris, sebagai basis gerakan di tahun 1960-an. Mereka sudah terlebih dulu mempraktekkan prinsip esensial dalam teori anarkisme, seperti membangun pertanian mandiri untuk memperkuat basis ekonomi di tingkatan akar rumput. Seperti layaknya tren gerakan sosial paska era Baader-Meinhoff, mereka juga mengadopsi prinsip-prinsip anti-kekerasan dalam ruang geraknya. Para aktivis Dial House ini kemudian menemukan bentuk ekspresi artistiknya ketika punk gelombang pertama mulai menunjukkan embrionya. Musik-musik eksperimental avant garde yang selama ini mereka geluti dirasakan tidak bisa menyuarakan ide-ide revolusioner sudah mereka jalani. Jadilah Penny Rimbaud, Steve Ignorant, dan kawan-kawannya membentuk Crass, dengan dibantu seniman muda Gee Vaucher untuk divisi artistiknya. Yang membedakannya dengan band punk lain pada masa itu adalah mereka kerap menyertakan aksi panggungnya dengan orasi budaya, pembacaan puisi, dan diskusi. Ketika tren punk membuat banyak anak muda Inggris berkeliaran dengan kostum yang aneh dan berantakan, Crass malah tampil rapi dengan gabungan pakaian kasual dan seragam militer yang serba hitam. Tak berapa lama, Sex Pistols merilis singel Anarchy in the UK dan mengangkat punk menjadi fenomena nasional. Dalam waktu singkat punk menjadi perhatian media massa, meme pemberontakan yang menyebar membuatnya jadi fenomena kultural, tak terkecuali beberapa pihak yang mencoba bermain mata dengan industri. Pada saat itulah Crass menyatakan kematian punk, sama seperti ketika Nietzsche membunuh Tuhan. Crass memanifestasikan pernyataan mematikan tersebut dalam lagunya, Punk is Dead. Tentu saja hal ini membuat Crass jadi band yang dibenci. Berbagai pihak menyatakan Crass adalah kaum hippy, bukan punk. Bahkan Sex Pistols sendiri membuat slogan "Never Trust A Hippy!" dalam lagu Who Killed Bambi? yang secara implisit ditujukan kepada Crass. Wattie Buchan dan The Exploited mencoba menegasikannya dengan lagunya Punk Not Dead, si mulut besar Jello Biafra dan Dead Kennedys mengeluarkan kritik dalam lagu Anarchy For Sale. Tapi semua itu tidak menghentikan langkah Crass. Mereka malah semakin kritis dalam perjuangannya. Tidak hanya bersuara keras untuk masalah internal punk saja, mereka juga kerap bikin gerah pemerintah Inggris. Crass pernah menggelar aksi massa dan pemutaran film untuk menentang invasi tentara Inggris ke pulau Falklands. Di tingkatan ideologi, anarkisme bukan satu-satunya keyakinan mereka. Masalah feminisme, hak azasi binatang, perang, globalisasi, dan lingkungan hidup juga tidak luput dari perhatian mereka. Crass adalah salah satu band yang juga mempraktekan direct action dalam sepak terjangnya, tidak hanya sekedar bersuara melalui lagu. Selain dibenci, Crass juga dihormati. Kehadirannya yang inspirasional juga turut mendorong kelahiran band-band lain yang kemudian masuk dalam kategori anarko-punk dan genre-genre lainnya, seperti Conflict, Subhumans, Flux of Pink Indians, Poison Girls, MDC, Rudimentary Peni, Zounds, Resist to Exist, Aus Rotten, Disrupt, Chumbawamba, Atari Teenage Riot, Amebix, bahkan Anthrax pada awal kehadirannya. "Preaching revolution, anarchy and change as he sucked from the system that had given him his name." [Abosa]
Show/hide Bookmark tools...
|
Show/hide Article tools...
|
|
|
 |
 |
Halaman:
1 2 3 4 5
Selanjutnya
|
Ke atas..
|
 |
|
 |
|
|
 |
   |
 |
|
 |
 |
 |
|