 |
 |
 |
 |
|
 |
 |
|
 |
|
|
![KLUB [CERIA] APOKALIP](/webzine/aset/asetsite/asetgambar/project1.jpg)
KLUB APOKALIP www.klub.apokalip.com
Klub Apokalip merupakan media interaksi berbasis internet yang dikelola oleh Apokalip webzine. Ini forum untuk menjalin komunikasi yang lebih akrab di antara redaksi, kontributor, teman, sahabat, dan pengunjung setia Apokalip.com. Semacam channel bebas buat semua mahluk hidup yang punya passion terhadap aktifitas Apokalip dan dunia musik, kultur, gaya hidup, olahraga, sains, tehnologi, atau apapun juga. Bicara apa saja, bebas. Di sini akan penuh kejutan dan perbincangan. Gabung sekarang juga!
|
|
| 
APOKALIP STRONG MERCHANDISE www.strongmerch.apokalip.com
Apokalip Strong Merch adalah lisensi resmi untuk setiap produk merchandise yang dirilis oleh Apokalip dan pihak rekanannya. Sebagian memang dijual dan beredar di pasaran, tetapi ada juga tidak beredar secara bebas. Di halaman ini akan ditampilkan setiap produk lengkap dengan deskripsi serta segala kisah di balik karya desain, proses produksi, dan nilai-nilai yang ada. Yah, merchandise Apokalip memang selalu unik, konseptual, dan eksklusif. Stay strong & wrong. Always dangerous & gorgeous!...
|
|
| 
RELOADYOURSTEREO www.rys.apokalip.com
ReloadYourStereo merupakan sebuah projekt dari Apokalip.com untuk merilis album rekaman secara digital serta disebarkan secara cuma-cuma [free-download] melalui jaringan internet untuk kepentingan promosi dan dokumentasi karya musik. Slogan kami adalah Global Music Revelation, dengan kata kunci ; internet, digital, mp3, free download, creative-common license, full lyrics & artworks, file-sharing, usb flashdisk, nero express, and burn it down.
|
|
|
| |
 |
|
 |
Apokalip Projekt
|
 |
 |

Rockshow a.k.a konser cadas makin seru, marak dan menyenangkan. Mulai dari yang berskala music-fest, konser tunggal, sampai gigs atau showcase sekalipun. Yes, the show must goes on...
|
 |
 |
 |
 |
|
|
|
|
Lima belas tahun lalu, James Hetfield dkk sempat konser di stadion Lebak Bulus Jakarta selama dua hari, 10 - 11 April 1993, dalam rangkaian tour Metallica ; Nowhere Else To Roam. Supergroup ini datang di waktu yang tepat. Sebab Metallica lagi jaya-jayanya paska 'album hitam' itu. Masyarakat musik Indonesia juga lagi panas-panasnya mengapresiasi rock/metal. Pertunjukan itu akhirnya benar-benar menjadi sejarah, dalam kontotasi yang positif maupun negatif. Puluhan ribu crowd bersenang-senang di dalam arena. Sementara di luar stadion timbul kerusuhan dan amuk massa. Sejak itu pemerintah mulai trauma pada band rock dan melarang segala jenis pertunjukan musik keras. Sebuah pengalaman terbaik dan terburuk bagi dunia showbiz tanah air...
Cikibawawaw ; Total War Zone
Metallica, di Stadion Lebak Bulus, hari pertama tanggal 10 April 1993 [kok ingat?! soalnya masih nyimpen tiketnya, hehe]. Berbekal pengalaman konser pertama, saya sebenarnya sudah mengira soal kemungkinan rusuhnya konser ini. Walaupun konser pemanasan sebelumnya, Sepultura, nggak terlalu rusuh menurut berita-berita yang saya baca atau dengar. Tapi gila aja Metallica, dewanya speed/thrash metal, masak nggak nonton? Setelah nabung uang jajan selama beberapa minggu hasil puasa beli kaset di Duta Suara - dulu setiap Rabu pasti saya beli kaset ke Duta Suara, hasil nggak jajan seminggu di sekolah - akhirnya bisa beli juga tiketnya. Kelas satu, karena VIP kemahalan dan festival nggak kepikiran, hehe. Rp.75.000, mahal untuk ukuran tahun segituan, plus bonus kaset Dialog-nya Setiawan Djody [yang langsung saya tiban untuk ngerekam lagu-lagu dari Prambors].
Selengkapnya..
|
|
 |
 |
 |
 |
|
|
|
|
Rencana berubah. Akibat informasi rundown acara yang simpang-siur. Jum'at malam itu juga, enam pemuda mendadak meluncur menuju kota pahlawan khusus untuk menyaksikan aksi panggung Burgerkill dan Seringai yang katanya spesial. Kedua band ini akan berkolaborasi dengan Minerva string quartet pada ajang final regional L.A Light Indie Fest 2008 di Surabaya, esok hari [16/08].
Kami akhirnya sampai di Surabaya sekitar pukul 01.20 dini hari. Setelah ramah-tamah plus makan Rawon [harga] Setan bersama anak-anak Burgerkill, kami langsung meluncur ke studio Nada Musika untuk beristirahat. Siang harinya, kami menuju ke rumah Mas Hari [HR Prod]. Sekitar dua jam melihat koleksi yang diperlihatkan Mas Hari membuat kepala pusing, akhirnya kami menuju Hotel Garden Palace untuk melihat persiapan manggung Burgerkill dan Seringai.
Jam 19.55 kami berangkat ke lapangan McD Basra tempat acara berlangsung. Setelah penampilan sepuluh finalis regional Jatim, band asal Malang yang juga alumni L.A Light Indie Fest 2007, The Morning After, naik pentas dan mulai menghangatkan suasana. Band yang baru saja menelurkan album pertamanya ini membawakan tiga lagu termasuk hits mereka Quatro yang masuk dalam album kompilasi Indie Fest vol.2. Disusul kemudian oleh penampilan Cigarette Nations yang juga alumni dari festival ini di tahun 2007...
Selengkapnya..
|
|
 |
 |
 |
 |
|
|
|
|
Slackers Company yang kini berusia delapan tahun menggelar sebuah show yang cukup cult bersama Kongsi Jahat Syndicate. Digelar tepat pada hari ulang tahunnya, 24 Agustus 2008, bertempat di Terrace Cafe Seturan, Jogjakarta. This is a Slackers 8th Anniversary gigs for wolf and man or sheep or anything...
Acara yang dijadwalkan mulai pada sore hari harus molor hingga beberapa jam, sebelum akhirnya dimulai pada pukul delapan malam tepat. Mortal Combat segera menyerbu massa yang sedari tadi menunggu di luar venue dengan irama punk rock plus sedikit unsur d-beat yang dipacu pada RPM tertinggi. Cukup lama mereka tidak tampil di gigs lokal. Tak perlu banyak basa-basi hingga akhirnya Nothing menyambut tampuk kekuasaan di atas stage. Mereka membawakan lima buah nomor lawas dengan mekanisme melodic metalcore presisi ala Opeth dan Walls of Jericho dengan intensitas optimal yang memborbardir kerumunan audiens. Cukup lama juga mereka tidak naik panggung, namun senang rasanya bisa melihat mereka masih tetap utuh dan eksis.
Setelah duo MC kocak berkomunikasi dengan audiens diselingi dengan games, Jogjakarta HC veteran, Something Wrong telah siap membuat dancefloor basah oleh keringat. Anthem-anthem jaman celana merk Alpina dan pullover hoodie tengah naik daun digeber maksimal. Tak pelak slamdance dan pointing finger merangsek di udara. Sejenak riuh sing-along membahana seantero venue. Setlist mereka ditutup dengan sebuah nostalgic yet sing-alongable anthem , Crucified dari legenda NYHC, Agnostic Front. They sang it with six pack pride and still ten thousands more power. Gemuruh sing-along yang gegap gempita sekali lagi memenuhi tiap sudut venue hingga ujung jalan. Tak heran bila beberapa audiens meneriakkan, "We want more! We Want More!..."...
Selengkapnya..
|
|
 |
 |
 |
 |
| HIBURAN ADRENALIN DAN WACANA BEBAS |
|
|
|
Minggu itu, 03 Agustus 2008, lapangan Rampal Malang disulap menjadi arena raksasa yang tertutup. Ini lanjutan serial festival musik Soundrenaline setelah terlebih dulu mampir di kota Pekanbaru, Medan dan Batam. Tiga panggung, puluhan musisi, dan puluhan ribu penonton. Di antara wacana pembebasan dan bisnis hiburan bagi rakyat biasa. Salah sorang reporter Apokalip coba menceritakan sebagian kecil 'pemandangan' yang ada dari karnaval musik terbesar tersebut. Sebagian kecil itu yang berselera keras dan terbatas. Selebihnya kita cukup bersenang-senang saja...
Saya masuk venue pas tengah hari, ketika Seringai baru saja menuntaskan aksinya di Simpati Stage. Damn, sayang sekali musti melewatkan sajian band rock oktan tinggi yang menurut setlist-nya menyuguhkan Berhenti di 15, Citra Natural, Akselerasi Maksimum, dan Mengadili Persepsi. Rasanya Arian13 dkk bermain terlalu dini, sebab banyak fans musik keras yang justru baru datang pada sore hari. Seorang rekan media justru menambah konsekuensi dari keterlambatan saya ini, " The Upstairs udah balik ke hotel. Mereka maen pertama jam sebelas tadi!" Walah, saya hanya bisa menatap kecewa pada list yang tertempel di press room. Di situ tertulis kalau Jimi dkk telah memainkan Antah Berantah, Kami Datang Untuk Musik, Amatir dan Kunobatkan Jadi Fantasi. So, who said better late than never?!...
Selengkapnya..
|
|
 |
 |
 |
 |
|
|
|
|
"Perkenalkan saya Fariz RM, pemain keyboard Koil" ujar lelaki matang berperawakan kurus yang bernama lengkap Fariz Rustam Munaf, sang arsitek musik pop indonesia - setidaknya begitu salah satu tabloid musik lokal menyebutnya. Sebenarnya kalimat tersebut tidak akan janggal terdengar seandainya diucapkan orang lain. Tetapi, malam itu adalah malam milik Fariz. Apapun yang diucapkannya adalah nyata. Seperti yang terjadi pada gelaran Fariz RM ; The Anthology Live Concert di Rolling Stone Live Venue, Jakarta [25/07]. Saat arsitek pop Indonesia bertemu dengan sekelompok arsitek kegelapan...
Beberapa jam setelah kalimat tersebut terucap, semuanya terjadi. Setelah melewati sejumlah hits, kolaborasi dengan sang keponakan, Sherina, serta White Shoes and The Couples Company, sang arsitek pop berbagi panggung dengan salah satu band yang pernah melahirkan lirik Aku Adalah Arsitek. Sesaat sebelum kolaborasi tersebut dimulai, Fariz menjelaskan bahwa sesungguhnya ia adalah pecinta musik rock. Ia kemudian merunut lima album yang paling disukainya dan beberapa di antaranya adalah album rock legendaris - Led Zeppelin II, Dark Side of The Moon dan Sgt Pepper's Lonely Heart Club. Jelas, ia adalah pecinta rock walau tetap saja ada yang mengganjal ; Mengapa Koil?!...
Selengkapnya..
|
|
 |
 |
Halaman:
1 2 3 4 5 6
Selanjutnya
|
Ke atas..
|
 |
|
 |
|
|
 |
   |
 |
|
 |
 |
 |
|