KLUB [CERIA] APOKALIP

KLUB APOKALIP
www.klub.apokalip.com

Klub Apokalip merupakan media interaksi berbasis internet yang dikelola oleh Apokalip webzine. Ini forum untuk menjalin komunikasi yang lebih akrab di antara redaksi, kontributor, teman, sahabat, dan pengunjung setia Apokalip.com. Semacam channel bebas buat semua mahluk hidup yang punya passion terhadap aktifitas Apokalip dan dunia musik, kultur, gaya hidup, olahraga, sains, tehnologi, atau apapun juga. Bicara apa saja, bebas. Di sini akan penuh kejutan dan perbincangan. Gabung sekarang juga!
APOKALIP STRONG MERCHANDISE

APOKALIP STRONG MERCHANDISE
www.strongmerch.apokalip.com

Apokalip Strong Merch adalah lisensi resmi untuk setiap produk merchandise yang dirilis oleh Apokalip dan pihak rekanannya. Sebagian memang dijual dan beredar di pasaran, tetapi ada juga tidak beredar secara bebas. Di halaman ini akan ditampilkan setiap produk lengkap dengan deskripsi serta segala kisah di balik karya desain, proses produksi, dan nilai-nilai yang ada. Yah, merchandise Apokalip memang selalu unik, konseptual, dan eksklusif. Stay strong & wrong. Always dangerous & gorgeous!...
RELOADYOURSTEREO - Apokalip Online Music Share

RELOADYOURSTEREO
www.rys.apokalip.com

ReloadYourStereo merupakan sebuah projekt dari Apokalip.com untuk merilis album rekaman secara digital serta disebarkan secara cuma-cuma [free-download] melalui jaringan internet untuk kepentingan promosi dan dokumentasi karya musik. Slogan kami adalah Global Music Revelation, dengan kata kunci ; internet, digital, mp3, free download, creative-common license, full lyrics & artworks, file-sharing, usb flashdisk, nero express, and burn it down.
 

Apokalip Projekt    



Membedah koleksi kaset, cd dan piringan hitam musik favorit dari berbagai genre yang menarik. Anda merasa sudah menemukan taste musik yang benar? Well, coba percayakan takdir stereo-mu pada selera telinga yang tepat...

  Lupakan Saja!  Buruk  Lumayan
  Bagus  Keren Banget  Juara!

GHAUST ; Ghaust
13 November 2008
 Kategori: Resensi, Resensi Musik
 Ukuran Font: Kecil , Sedang , Besar

GHAUST
Ghaust
Purbaharuan Recordings





"Kami tidak berusaha bermain indah, maka estetika bukan menjadi daya tarik kami. Musik kami tidaklah demi sensasi telinga, melainkan merupakan konsistensi dalam bermain musik. Walaupun beresiko menimbulkan rasa bosan, tetapi di sisi lain musik kami begitu persuasif." Begitu kalimat yang saya baca dari press release album perdana Ghaust yang sudah dilempar ke pasar baru-baru ini. Pasar?! Saya kurang paham apakah musik yang mereka mainkan memiliki 'pasar' di negeri ini. Tapi yang saya tahu, banyak teman-teman metalhead yang tiba-tiba suka pada Isis, Pelican atau Jesu. Setidaknya dalam kurun waktu dua tahun terakhir ini, jenis musik post-metal [atau apapun namanya] cukup mencuri hati dan telinga. Namun ini tidak serta merta bisa disebut 'lagi trend' atau 'sedang musim'. Sebab genre ini masih tetap segmented dan eksklusif. Sedikit agak happening untuk konsumsi telinga tertentu mungkin iya. Sebab kegalauan musik metal memang ada pada genre post-metal ini. Saya selalu suka jika menemukan sesuatu yang baru dari band lokal dan ikut memperkaya katalog musik tanah air. Seperti Ghaust yang sedari dulu sudah disebut sebagai ancaman dan berbahaya, setidaknya menurut prediksi situs Apokalip atau media lainnya. Rekaman ini lalu hadir dan cukup membuktikan hipotesa tersebut. Day After [Entering Into Space] bergerak lambat dan berat. Dumb and doomy. Versi demonya sudah pernah ada di halaman MySpace mereka. Selaras dengan titel track kedua, Sleep and Release, cukup menina-bobokan serta melepaskan beban. Set yang rileks, juga tak peduli hari esok. TorchLight tampak lebih soft dengan presisi riff gitar yang makin intens. Instrumentasi yang bertehnik dan rapi. Dilanjutkan Akasia yang mengawal cepat dan membabi-buta. Untuk kemudian meliuk-liuk di batas sound yang keras. Meluncur bersama riff dan petikan gitar nan lembut serta tempo beat yang dikawal ketat oleh ketukan drum. The Wolf and The Boar mengalun datar tanpa gejolak yang berarti. Sepi, seperti hutan gersang tanpa lolongan serigala di malamnya. Pesona samudera luas dan tenggelamnya batin disajikan secara mendalam pada At Sea We Are Nothing. Ada bagian yang upbeat juga di sini. Anda masih diberi kesempatan untuk menggoyangkan kepala. Sejenak saja, sebelum track ini berakhir dengan buaian sound kalem yang ramai. Well, album ini memang menawarkan petualangan audio yang intim dan cukup personal. Mungkin terlalu mengerikan jika saya menyebut musik Ghaust cukup berat, rumit, atau bukan untuk konsumsi awam. Kesannya sangat tertutup dan sombong sekali. Untuk itu saya musti koreksi sedikit kalimat mereka di awal review tadi. Musik mereka indah dan cukup estetik. Tidak juga membosankan, tapi memang benar kalau persuasif. Meski dalam durasi lumayan panjang namun tetap mengena. Berusaha untuk efektif memang tidak harus efisien. Kadang perlu ada brain-storming dan eksplorasi. Mendengarkan Ghaust seperti menjalani sebuah pengalaman. Jalani saja, tidak perlu pakai teori atau rumus. Layaknya ini ujian dan tantangan, pemahamannya baru akan datang di akhir sesi setelah mengawang bersama Ghaust. Album ini adalah proses dan trigger yang dapat memantapkan kapasitas pendengarnya sebagai 'penemu'. Tugas mereka hanya mencipta, sementara tugas anda adalah untuk menemukan. Ghaust telah mengajarkan kita bagaimana untuk berinteraksi dengan musik tanpa harus ikut bernyanyi, atau bahkan bergerak... [Samack]



VARIOUS ARTISTS ; Family Vol.1
5 November 2008
 Kategori: Resensi, Resensi Musik
 Ukuran Font: Kecil , Sedang , Besar

VARIOUS ARTISTS
Family Vol.1
Linoleum





Sekeping cakram kompilasi dalam format enhanced CD ini digarap cukup serius. Sebuah presentasi yang menawan tentang keluarga besar punk/hc asuhan Linoleum Records yang dilengkapi dengan profil, foto, dan video eksklusif. Kemasan yang menarik dan informatif. List-nya juga diisi band-band kota Bandung generasi sekarang dan [mungkin] akan datang. Under 18 mengawali perbincangan dominasi hc/punk di kota kembang dalam Kini, Esok dan Nanti. Sendal Jepit yang sudah cukup kolot tak perlu diragukan lagi. Mereka cukup kaya dengan hook-hook indah di lagu Kita Takkan Bisa Lupa. Closehead seakan Melawan Waktu dengan tampil manis dan mendayu di arena punk melodik. Like Father Like Sun bisa dibilang sebagai 'the next rocket rockers'. Tampak solid dan loyal pada scene-nya. Faceless masih seirama ketika mendendangkan Terbuang Hadirku. Namun Outright berhasil mengembalikan takdir hardcore di album ini. Forgotten Generation melagukan Ingkar dalam tembok punkrock dan melodi yang unik. Punk semakin nyaman dan kekanakan saat Neverall berdendang Mama, Bangunkan Aku! Glory of Love menganalisa cinta dalam dalam Perasaan Kontra Logika. Arabian Peanuts seperti tak bisa menolak pengaruh Rocket Rockers secara musik dan tema lirik. United By Hardcore oleh Tragedi adalah salah satu track terkeras di album ini. Cukup menyimpan kadar amarah. Sementara Goodboy Badminton adalah salah satu yang terbaik di album ini. Pop-punk yang cukup berhasil dan cerdik. Strike First mengusung semangat hardcore yang bertubi-tubi seperti era Harder Records di penghujung 90-an. Don Lego benar-benar Berdansa dengan iringan musik yang menyerempet ska, salsa, serta dangdut melayu. Standfree adalah lompatan old-school hardcore yang intens di tembang Revolt. Power Punk yang merupakan delegasi punkrock all-stars tampil singkat namun menghantam. Fiddlers mengocok pop-punk menjadi lebih cepat dan enerjik bersama Dendam. Tensinya semakin naik saat Damage Done mengucap A New Day Has Come dengan penuh optimis. Akhirnya, XmadcoWX menutup sesi 'arisan keluarga' Linoleum Records dengan Regret In The Last Page, dan semua band akan kembali ke habitatnya masing-masing. Well, secara kasar kompilasi ini mengandung 46% pop/punk melodik, 39% hardcore, 12% punkrock, dan 3% kadar emo-si. Sekilas mengingatkan pada kompilasi sejenis yang sering dirilis oleh label-label seperti Victory Records misalnya. Kompilasi seperti ini biasanya jadi representasi kebijakan musikal dari sang label rekaman. Juga aksi 'primordial' yang baik demi kemajuan scene daerahnya. Terkadang memang tampak campur-baur, variatif, dan tak selalu konsisten pada satu genre musik saja. Membingungkan?! Wah, itu hanya masalah selera dan pilihan. Seperti menyimak album foto keluarga dalam momen, aksi dan busana yang bermacam-macam. Tapi mungkin mereka juga benar, inti dalam sebuah keluarga adalah kebersamaaan!... [494.28.6]



THE UPSTAIRS ; Ku Nobatkan Jadi Fantasi
21 Oktober 2008
 Kategori: Resensi, Resensi Musik
 Ukuran Font: Kecil , Sedang , Besar

THE UPSTAIRS
Ku Nobatkan Jadi Fantasi
Yes No Wave Music





Hyaaat!... Ku Nobatkan Jadi Fantasi diawali dengan intro bernuansa oriental yang mungkin sering anda dengar dalam film-film mandarin. Soundtrack yang cocok untuk berdansa dengan iringan parade barongsai di kawasan chinatown bersama para ahli kungfu dan penjual mie. Singel baru yang sangat catchy & fun. Dansa Akhir Pekan jelas disukai remaja belasan tahun yang selalu suntuk bersekolah tiap hari dan menanti masa akhir pekan untuk bersenang-senang. Tak terbersit niat untuk berhenti. Seakan tidak ada lagi hari esok yang mengharuskan mereka untuk kembali ke sekolah. Lagu ini memang untuk mereka. Alexander Graham Bell adalah salah satu karya lagu yang paling edukatif. Bercerita soal penemuan yang cukup berjasa bagi umat manusia. Slide keyboard di track ini juga cukup menarik perhatian. Televisi mengalun dengan hook-hook yang cukup kuat. Robotik. Futuristik. Yang kemudian tiba-tiba mendarat secara nyaman dan manusiawi. Terekam [Tak Pernah Mati] dalam versi live menjadi lebih powerfull dan menarik. Sebab ikut merekam interaksi sang vokalis yang bermulut tajam dan seenaknya. Ada koor vokal yang fals dan kord instrumen yang meleset. Begitu natural dan menghibur. Kita mungkin bakal ingat dominasi The Cure di lagu Lompat [live version] yang memang kental dengan nuansa post-punk/new-wave. Meski dimainkan dalam set akustik, track ini tetap intens untuk konsumsi panggung. Mini album ini cukup meyegarkan dan bisa jadi pemanasan sebelum kita menerima gaya tarik magnetik dari album penuh mereka selanjutnya. Kabarnya sebentar lagi akan beredar di pasaran. Sambil menanti, silahkan unduh dulu rilisan ini secara gratis. Eh, gak etis kayaknya kalau saya tidak mengenalkan nama band ini. Ya, mereka adalah The Upstairs!... [494.28.6]



SCREAMING FACTOR - Welcome Pieces
14 Oktober 2008
 Kategori: Resensi, Resensi Musik
 Ukuran Font: Kecil , Sedang , Besar

SCREAMING FACTOR
Welcome Pieces
ReloadYourStereo / Apokalip





Terus terang, seandainya Coheed and Cambria tidak tertera dalam promo maya Screaming Factor, mustahil album ini mendekam dalam keping penyimpan data komputer saya. Apa mau dikata As I Lay Dying tidak begitu menggugah, the only thing I remember from this band is their 94 Hours single. Shai Hulud pun tak jauh beda, saya sampai sekarang belum tergerak untuk menggali materi mereka. Namun, lain urusannya dengan Coheed and Cambria; I dig them a bit too much! Tak ayal, tulisan ini disusun berdasarkan pencarian saya akan wicitra [pengaruh] Coheed and Cambria dalam mini album Welcome Pieces. Mencari seberkas wicitra Coheed and Cambria dalam album ini sama saja seperti berdiri menantang badai. Welcome Pieces menawarkan hardcore [setidaknya itulah yang tertera dalam Id Tag mp3-nya] atau metal atau fusi keduanya yang sangar. Jelas, pengaruh Cladiou Sanchez dkk tak akan kentara. Welcome Pieces menyambut dengan raungan hook gitar yang memancing riak mosh pit. Sekejap kemudian, komposisi tentang sundalnya kemunafikan ini bertransformasi menjadi hardcore yang garang. What i love about this track is the diversity it offers. Hardcore yang buas, break-break yang pas dan tak mengganggu. Sedikit nuansa southern rock infused metalcore ala Everytime I Die [apa mereka lupa menyebut ETID dalam promo kit mereka?] serta solo gitar singkat nan halus. Uniknya, solo gitar ini diakhiri komposisi staccato yang seandainya diikuti oleh teriakan berisi deret angka seperti 'one/two/three' maka tak mustahil mengingatkan pada secuil detil tembang pembuka sebuah album bernama Serigala Militia. Lepas Welcome Pieces, Behind The Fangs datang menghadang. Dengan durasi 2:10 menit, hanya ada satu kemungkinan; ledakan hardcore/metal yang intens. Benar saja, dengan drumming yang menderu-menderu, track kedua berubah menjadi dua menit yang jalang. Ah, mungkin As I Lay Dying dan Shai Hulud lebih terasa di sini. Barulah pada Eyeless Crown pencarian berjalan lebih mudah. Inilah track favorit saya. Dibuka break ganjil penuh pesona mathcore di akhir intro, lagu ini kemudian kembali pada sajian utama; kejalangan hardcore/metal. Kejutannya muncul ketika durasi lagu mencapai titik 3:58, mendadak lagu diselilingi oleh sekelompok bocah menyanyikan "Anyone can see better, They are gods to their own fates" yang diiringi oleh petikan gitar manis lalu disusul oleh raungan solo gitar apik -- sepintas mengingatkan pada duel solo guitar pada dua jilid terakhir The Amory Wars - sebelum ditutup lagi dengan pesta pora di akhir lagu. Kembali ke The Hell and Paradise Within Her - yang secara kasar saya bisa pahami sebagai lagu cinta yang manis yang disuarakan dengan garang - berarti kembalinya hardcore beringas. Sepanjang lagu ini ledakan molotov hardcore jauh lebih terasa. Walau tetap saja, ada rehat di tengah ketika sebuah solo gitar yang halus kembali menyusup yang disusul dengan sebuah passage yang mempertontonkan koordinasi bass dan drum yang manis nan gagah; di titik ini Coheed and Cambria kembali terdengar! Entahlah sampai di sini, anda mungkin mencela penulis review ini yang terkesan mengesampingkan Screaming Factor demi pencariannya akan pengaruh Coheed and Cambria. Itu hak anda. Bagi saya, Coheed and Cambria hanya sebuah entry point, titik pangkal atau titik tolak. Lewat ini saya kelak menikmati penggabungan melodi-melodi halus nan apik dalam komposisi hardcore/metal kekinian. Lagian, siapa pula yang mulai membanding-bandingkan, seingat saya pesan singkat di board testimonial salah satu akun networking site berbunyi "Download sekarang juga Screaming Factor 'Welcome Pieces' [4 lagu]. Beredar secara digital dan gratis mulai 08.08.08. Lengkap dengan artwork, lirik, profil, dll. Rekomendasi penuh untuk para fans Shai Hulud, Coheed & Cambria, Pantera, The Mars Volta sampai As I Lay Dying" [Innerciatic Manneken]



METALLICA ; Death Magnetic
17 September 2008
 Kategori: Resensi, Resensi Musik
 Ukuran Font: Kecil , Sedang , Besar

METALLICA
Death Magnetic
Warner Bros





"Go back to what you were thinking in Master of Puppets," perintah produser Rick Rubin secara tegas kepada Metallica, dua tahun lalu. Saya bayangkan Jaymz dkk pasti gemetar dan berkeringat dingin saat mendengar kalimat tersebut. Lalu menjadi gusar di tengah segala ekspektasi pribadi, tuntutan publik, serta kemampuan mereka sendiri. Sebuah terapi untuk kembali muda dan garang di tangan zen master Rick Rubin?! Oke, sekarang mari kita analisa hasilnya satu-persatu. Track pertama That Was Just Your Life sedikit membuka perjalanan Metallica ke masa lalu dengan riff gitar yang biasa kita kenal dalam album And Justice For All. Kemudian The End of The Line melangkah pada formula 'album hitam'-nya. Aksen gitar Broken, Beat & Scarred tampak tegas namun dengan tatanan yang lebih rapi dan clear. Justru The Day That Never Comes yang dijagokan sebagai singel pertama itu yang sangat aneh. Terus terang, melodi gitarnya agak mengganggu. Terdengar sangat 'melayu' sekali. Seperti ingin menjadi Fade To Black yang kedua, tapi hasilnya terlalu cengeng. Riff gitarnya juga cukup murahan - mengambil ending dari One. Akh, siapa yang mau percaya Metallica kembali garang kalau lagu ini yang pertama kali diperdengarkan kepada publik?! Metallica yang saya kenal dulu selalu punya banyak ide dan tidak pernah mengulangi riff yang sama. Mending skip saja ke All Nightmare Long. Yang ini masih lumayan. Keras sekaligus catchy. Cyanide cuma sangar judulnya saja, sedangkan musiknya adalah mimpi buruk ala St.Anger. Mencoba progresif yang groovy, namun jatuhnya berantakan. Jika satu seri aja sudah bagus, kenapa musti dibikin sekuelnya?! Ya, Jaymz dkk tidak pernah belajar tentang hal itu. Masih saja ngotot dan keras kepala. Seperti sekuelnya yang kedua, The Unforgiven III juga seharusnya tidak pernah diciptakan. The Judas Kiss seakan melirik episode Load yang hard-rocking dengan lirik yang agak 'evil'. Suicide & Redemption adalah nomor instrumentalia berdurasi hampir sepuluh menit yang langsung mengingatkan pada To Live Is To Die dari album And Justice For All. Namun yang ini terlalu monoton dan bikin boring. Pamer skillnya juga masih di ambang rata-rata. Sungguh track yang mubazir dan tidak efisien. Setelah hampir putus asa, pencarian saya akan jejak Master of Puppets baru ketemu di lagu terakhir, My Apocalypse. Speed, fast and thrashy. Sangat delapan-puluhan sekali. Seru dan klasik. Lucu juga membaca lirik Jaymz yang agak 'gore' dan mematikan. Meski tidak berarti 'save the best for the last', namun track yang terakhir tadi cukup membahagiakan. Setidaknya ikut membayar janji-janji dari album yang paling ambisius sepanjang karir Metallica. Yah, Jaymz dkk yang sudah berumur ini seakan mengalami 'midlife crisis' ketika dituntut untuk kembali muda dan garang. Seperti terbebani oleh kenyataan dan masa lalu. Jika dibandingkan, hasilnya memang tidak sekeras empat album pertama mereka dulu. Kasarnya ini cuma sekedar mengambil spirit dari Master of Puppets, mencuri progresi panjang ala And Justice For All, dan bermain catchy seperti di Black Album - plus beberapa kesalahan yang tidak perlu warisan dari Load dan St.Anger. Ini seperti album baru yang ingin meniru mentah-mentah semua diskografi lawas mereka. Meski tampak kehabisan akal, tapi setidaknya kita masih bisa mendengar niat baik mereka untuk kembali ke 'jalan yang benar'. Untung Jaymz dan Kirk sudah mulai berani lagi memainkan satu hal yang tidak kita dengar pada album St.Anger, yaitu solo gitar. Serangan riff gitar mereka mulai kembali dan membalas dendam. Karakter snare-drum Lars juga agak mendingan, kembali normal, dan tidak ngawur seperti di album sebelum ini. Meski harus diakui power drumming-nya sudah berkurang, serta minim variasi. Tapi siapa sih yang bisa mengeluarkan Lars dari Metallica?! Jadi kita hanya bisa maklum saja. Kalau Rob Trujillo? Oh, si 'gorila' itu masih ada dan mulai mengimbangi dengan alunan bass-nya. Tidak menonjol, tetapi juga tidak merusak. He was saved, and playing nothing. "Kami akan coba memainkan 'musik kemarin' dengan 'sound hari ini'" kata Jaymz ketika rekaman. Sejak awal, saya tidak optimis tetapi juga menolak untuk pesimis. Death Magnetic adalah rilisan dalam artwork peti mati yang mungkin maksudnya sebagai tanda kebangkitan mereka dari kubur - atau justru persiapan untuk upacara pemakaman Metallica setelah 17 tahun terakhir ini 'menggali kuburnya sendiri'?! Mmhh, sulit untuk dipastikan. Sebagai seorang motivator, terapi Rick Rubin mungkin kurang ampuh, tetapi cukup membesarkan jiwa muda Jaymz dkk untuk keluar dari krisis musikal mereka. Tawaran baru untuk para fans Me