KLUB [CERIA] APOKALIP

KLUB APOKALIP
www.klub.apokalip.com

Klub Apokalip merupakan media interaksi berbasis internet yang dikelola oleh Apokalip webzine. Ini forum untuk menjalin komunikasi yang lebih akrab di antara redaksi, kontributor, teman, sahabat, dan pengunjung setia Apokalip.com. Semacam channel bebas buat semua mahluk hidup yang punya passion terhadap aktifitas Apokalip dan dunia musik, kultur, gaya hidup, olahraga, sains, tehnologi, atau apapun juga. Bicara apa saja, bebas. Di sini akan penuh kejutan dan perbincangan. Gabung sekarang juga!
APOKALIP STRONG MERCHANDISE

APOKALIP STRONG MERCHANDISE
www.strongmerch.apokalip.com

Apokalip Strong Merch adalah lisensi resmi untuk setiap produk merchandise yang dirilis oleh Apokalip dan pihak rekanannya. Sebagian memang dijual dan beredar di pasaran, tetapi ada juga tidak beredar secara bebas. Di halaman ini akan ditampilkan setiap produk lengkap dengan deskripsi serta segala kisah di balik karya desain, proses produksi, dan nilai-nilai yang ada. Yah, merchandise Apokalip memang selalu unik, konseptual, dan eksklusif. Stay strong & wrong. Always dangerous & gorgeous!...
RELOADYOURSTEREO - Apokalip Online Music Share

RELOADYOURSTEREO
www.rys.apokalip.com

ReloadYourStereo merupakan sebuah projekt dari Apokalip.com untuk merilis album rekaman secara digital serta disebarkan secara cuma-cuma [free-download] melalui jaringan internet untuk kepentingan promosi dan dokumentasi karya musik. Slogan kami adalah Global Music Revelation, dengan kata kunci ; internet, digital, mp3, free download, creative-common license, full lyrics & artworks, file-sharing, usb flashdisk, nero express, and burn it down.
 

Apokalip Projekt    



This is for all video-goers. Bisa film, dokumenter atau video musik. Hollywood or independent is doesn’t matter. Level indie atau bioskop juga gak jadi problema. Anggota parfi, aktivis klub kine, sutradara amatir atau pemburu dvd bajakan...selamat datang!

  Lupakan Saja!  Buruk  Lumayan
  Bagus  Keren Banget  Juara!

FLASHBACK OF A FOOL
13 November 2008
 Kategori: Resensi, Resensi Video
 Ukuran Font: Kecil , Sedang , Besar

FLASHBACK OF A FOOL
Sutradara ; Baillie Walsh
Pemain ; Daniel Craig, Miriam Karlin, Harry Eden, Jodie Tomlinson, Claire Forlani, Max Deacon, Felicity Jones, Jodhi May.




Joe Scott dewasa [Daniel Craig] adalah seorang bintang film Hollywood asal Inggris yang berumur hampir setengah abad, singel, hidup di pantai dengan bantuan sang asisten setia, Ophelia Franklin. Joe menerima telepon dari sang mama yang mengabarkan bahwa sahabat Joe semasa remaja, Boots, meninggal dunia dan Joe diminta untuk datang ke pemakaman. Di hari itu juga perjanjian kontrak filmnya dengan seorang sutradara batal, membuat Joe pulang dengan keadaan marah. Dalam perjalanan pulang, Joe berhenti di sebuah pantai dan untuk meluapkan marahnya, dia akhinya berenang. Sambil berjemur di laut, Joe mengingat masa remajanya di pinggir pantai Inggris tahun 70-an. Joe Scott remaja [Harry Eden] dan Boots mcKay remaja [Max Deacon] pulang ke rumah Joe di pinggir pantai Inggris setelah seharian bermain. Mereka lalu melihat ibu Joe, Grace Scott bersama nyonya Rogers [Miriam Karlin], Peggy Tickle, Jesse, serta Evelyn Adams [Jodhi May] dan anaknya Jane Adams [Jodie Tomlinson] yang sedang membuat makan malam di dapur. Ketika Joe di dalam kamar, Evelyn datang dan menggoda Joe. Tiba-tiba nyonya Rogers datang dan membuat mereka panik. Setelah Evelyn pulang, Joe diminta mamanya mengantarkan piccalilli kepada Evelyn. Ketika Joe sampai di rumah Evelyn, Joe digoda lagi oleh Evelyn. Untuk kedua kalinya mereka panik, karena suami Evelyn, Jack, tiba-tiba datang. Pada suatu malam yang lain, Joe bersama Boots dan Kevin Hubble bermain bilyard. Tiba-tiba mereka kedatangan Ruth Davies [Felicity Jones]. Setelah Joe dan Ruth mengobrol sebentar, mereka memutuskan untuk mampir ke rumah Ruth dan meneruskan obrolan mereka sambil mendengarkan musik. Ternyata Ruth adalah pencinta David Bowie dan Roxy Music. Joe dan Ruth lalu berjanji untuk berkencan lagi di tempat bilyard esok malam. Sewaktu Joe bersiap-siap untuk kencan, Evelyn datang dan menyuruh Joe ke rumahnya sebelum berangkat. Di sana mereka akhirnya bercinta karena tergoda oleh rayuan Evelyn. Ruth dan Boots yang menunggu Joe di tempat bilyard menyadari karena Joe terkenal selalu terlambat. Ketika Joe datang, Ruth langsung marah-marah karena di leher Joe terlihat bekas ciuman. Karena itu juga Boots dan Joe sempat berkelahi. Esoknya, Joe menanyakan bekas ciuman itu kepada Evelyn. Namun Evelyn meminta Joe untuk bercinta lagi dan Evelyn dengan paksa menyuruh Jane yang sedang nonton teve untuk bermain di luar rumah. Jane terpaksa bermain sendirian di pantai, sementara nyonya Rogers mengamati tingkah laku Jane dari balik jendela. Ketika nyonya Rogers melihat Jane sedang menaiki ranjau laut yang terbawa badai semalam, ia panik dan menyuruh Jane turun serta menjauhi ranjau itu. Hal yang tak diinginkan akhirnya terjadi. Ranjau laut meledak dan Jane lenyap bersama ledakan itu. Jesse dan Grace Scott yang sibuk membuat kue, Peggy yang sibuk dengan tanamannya, serta Joe dan Evelyn yang sibuk bercinta langsung berhamburan keluar menghampiri asal ledakan. Evelyn menyesal karena selama ini hubungannya dengan sang anak, Jane, kurang harmonis. Sewaktu semua orang berangkat ke pemakaman, Joe mengurung diri karena merasa ikut bertanggung jawab. Karena hal itu, Joe memutuskan pergi dari rumah dengan sebuah penyesalan besar. Joe Scott dewasa yang sedang mengingat masa lalunya di pantai tetap memutuskan pulang ke Inggris untuk menghadiri pemakaman Boots. Sampai di sana, Joe bertemu dengan mama serta tantenya yang bercerita kalau Boots dan Ruth menikah selepas kepergian Joe. Mereka dikaruniai empat anak, dengan si sulung yang dinamai Joe. Setelah beristirahat di kamar yang sudah 25 tahun ditinggalkan, Joe pergi ke kuburan Boots diantar oleh adiknya, Jesse. Meskipun Joe datang terlambat satu hari, ia merasa canggung untuk bertemu dengan Ruth. Jesse yang tidak mengetahui masa lalu Joe, Ruth, dan Boots merasa kelakuan kakaknya agak aneh. Tiba di pemakaman, Joe bertemu dengan Ruth [Claire Forlani]. Mereka lalu mengobrol sambil mengingat masa lalu. Joe juga menemui Jesse yang saat itu berada di kuburan Jane. Joe kaget begitu mengetahui kalau Evelyn telah meninggal dan dikubur di sebelah Jane. Setelah kematian Jane, Evelyn dan Jack berpisah kemudian Evelyn menikah dengan Kevin Hubble. Karena tidak kuat dengan perlakuan Kevin yang suka memukulinya, Evelyn lalu kabur melarikan diri. Mobil yang dikendarai Evelyn justru keluar dari jalan tol dan langsung menabrak truk hingga ia tewas. Evelyn dikabarkan tewas seketika dengan kepala putus dan hilang, hingga dia harus dikubur tanpa kepala - anaknya, Jane, malah dikuburkan tanpa jasad, hanya peti mati di liang kubur. Sebelum balik ke Amerika, Joe menulis sesuatu yang ditujukan untuk Ruth dan disampaikan oleh Jesse. Sewaktu Ruth membaca surat Joe, Ruth menangis histeris karena isinya mengingatkan masa lalu mereka berdua. Akhirnya Joe memang harus kembali ke Amerika untuk meneruskan karirnya sebagai bintang film yang sudah pudar sinarnya. [Edi Boy]



METALLICA ; SOME KIND OF MONSTER
17 September 2008
 Kategori: Resensi, Resensi Video
 Ukuran Font: Kecil , Sedang , Besar

METALLICA ; SOME KIND OF MONSTER
Sutradara : Joe Berlinger & Bruce Sinofsky
Pemain : James Hetfield, Lars Ulrich, Kirk Hammet, Robert Trujillo, etc.




Let me come clean for a moment. I'll say at the outset of this review that I am not one of the Metallica faithful. I am, however, a huge music fan, so maybe that counts for something in the scheme of things. But the metal genre, or whatever they're officially classified as, was always just on the outskirts of my musical radar, and though I was familiar with the basic tenets of what the long-lasting entity known as Metallica was all about, I was never what you would consider remotely a fan. I never disliked them, I just never gravitated towards them. Somehow a song like Enter Sandman was familiar to me, but I would have been hard pressed to come up one other song title of theirs. Why the big disclaimer, you ask? It's because Metallica : Some Kind of Monster does not require that one be in on what the band is all about, that it is not necessary to know the history or the songs to find this documentary completely fascinating. Being a music fan probably helps, but it's probably not a prerequisite. This wasn't made, or at least didn't end up as a fanboy homage?though I'm sure Metallica-heads will mine some nuggets that escaped me?but that's not really what filmmakers Joe Berlinger and Bruce Sinofsky [Brother's Keeper, Paradise Lost] had in mind. What started as an inside look at the creative process of making what would eventually become the Grammy-winning release, St. Anger, became a fly-on-the-wall view of one of rock's biggest acts disintegrating as addictions, conflicts, hostilities, and vendettas threatened to tear them apart, with documentary cameras there to catch it all. It looks behind the magical curtain of big time rock and roll, and it isn't always pretty. Things start in early 2001, with the band in the beginning stages of putting together their first album in five years, still missing a bassist after the departure of Jason Newstead, who came into conflict with vocalist/guitarist and de facto bossman James Hetfield. The remaining three members [Hetfield, drummer Lars Ulrich and guitarist Kirk Hammett] have enlisted the help of Phil Towle, a $40,000/month therapist hired to open the lines of communication, and the appropriately named album producer Bob Rock has been drafted to do double duty as bassist. As the days begin to tick by, with no real forward progress being made, Hetfield, who has been on the wrong end of substance abuse for years, ups and vanishes as he goes into an isolated period of rehab that stretches nearly a year, leaving the new project temporarily stagnant. There is a veneer of strange but true weirdness in this rock and roll world, something that Berlinger and Sinofsky display with an unblinking eye. Hetfield's eventual clean-and-sober return, which sparked a whole new set of internal problems?primarily between him and Ulrich?falls in alongside such other obstacles as the backlash brought upon them by Ulrich's public crusade against Napster, or the increasing role of therapist Towle to build an "I'm feeling this when you say that" kind of dialogue between the bickering leads of the group, while gentle-voiced Hammett always lurks in the background, almost unwilling to rise up against Hetfield, drunk, sober or otherwise. Or witness the near parody levels reached as one-time member Dave Mustaine [who went on to form metal rival Megadeth] confronts Ulrich in one of the therapy sessions, citing his hurt feelings. I can't stress how odd it was to see members of two of the biggest metal acts getting in touch with their emotions, and while I don't knock them doing it, there is something almost Spinal Tap-ish about the whole thing. All that reality TV strife and drama is only a small part of what makes this doc so immensely watchable, because along the way Berlinger and Sinofsky capture a seldom seen look at the songwriting process, as studio rehearsals turn into brainstorming sessions as snippets of lyrics are bandied about, or riffs are molded and tweaked to create songs. Even one of Hetfield's throwaway barbs used during a conference call ends up becoming a key lyric to one of the new songs. One one hand it's a kick to see a band that has sold 90 million albums argue and complain amongst themselves, but seeing them create music reinforces the whole "they put their pants on one leg at a time" mentality. There is no magic pill to songwriting, and the Metallica members, high and mighty rock gods that they are, go through the same kind of back-and-forth struggle in the process of writing music. And if anything, it knocks them down a peg and immediately makes them seem like regular joes [admittedly wealthy joes], even as one of them [Ulrich] is shown making millions of dollars after auctioning off some of his prized artwork collection. If you have a love of music?any type at all, it doesn't matter?then I know you will find the experience a real joyride. For a doc it may seem to run a little long, pushing the 140 minute mark, but I never found the pace to be lethargic or dull. The threat of disintegration and the loose degree of cohesion that keeps a band like Metallica together puts a face to the terms "creative differences". Look at the underbelly of rock and roll. Look at it!... [Rich Rosell / DigitallyObsessed]



INTO THE WILD
23 Agustus 2008
 Kategori: Resensi, Resensi Video
 Ukuran Font: Kecil , Sedang , Besar

INTO THE WILD
Sutradara :
Sean Penn
Pemain : Emile Hirsch, Vince Vaughn, Kristen Stewart, Catherine Keener.




Film Into The Wild diangkat dari sebuah novel berjudul sama yang ditulis oleh petualang dan jurnalis, Jon Krakauer. Saya sendiri sudah cukup lama membaca buku itu. Saya juga penggemar tulisan Jon Krakauer - termasuk buku hits-nya yang lain, Into Thin Air. Sekarang saya penasaran dan ingin tahu apa yang diperbuat Sean Penn dalam mengadopsi Into The Wild ke layar perak. Ini kisah nyata tentang kehidupan seorang pemuda asal West Virginia, AS. Anak muda itu bernama Christopher Johnson McCandless, anak seorang ilmuwan NASA yang cukup mapan. Namun Chris termasuk pemuda yang memiliki idealisme tinggi dan gairah kuat. Sedikit punya jiwa pemberontak, agak gelisah, serta atau anti kemapanan. Berbeda dengan remaja seusianya, dia malah ingin menyatu dengan alam dan mencicipi kehidupan liar Amerika. Setelah lulus dari Emory University, Chris langsung meninggalkan kehidupan normalnya. Tidak hanya itu. ia juga mendonasikan tabungannya yang berjumlah puluhan ribu dollar ke sebuah badan amal, lalu menggunting semua tanda pengenal dan kartu kreditnya, serta membakar seluruh uang sakunya. Chris betul-betul ingin mencicipi kehidupan alam liar, jauh dari model kehidupannya selama ini. Obsesi terbesarnya adalah menuju tanah liar Alaska - seorang diri dan nyaris tanpa modal apa-apa selain backpack besar berisi barang sehari-harinya. Chris mungkin pemuda yang aneh, tapi setidaknya dia memilih jalan hidupnya sendiri. Walau mungkin tak lazim untuk orang biasa. Selama perjalanan, Chris bertemu dengan bermacam-macam karakter yang ikut membantunya dalam menentukan makna hidup dan jati dirinya. Setelah dua tahun ia meninggalkan rumah, keluarga dan kehidupannya, nyawa Chris akhirnya tewas direnggut keganasan alam yang dicintainya. Entah ini sebuah ending tragis atau romantis bagi Chris. Sementara bagi saya, bisa jadi keduanya. Dia mungkin bahagia karena telah memilih hidup di alam, dan mati pun harus di alam. Live by the sword, die by the sword. Into The Wild dibuat dengan setting yang melompat-lompat, sebagian besar adalah flashback. Ada beberapa bagian yang diberi titel sesuai dengan tema perjalanan Chris. Sutradara Sean Penn cukup cermat menggambarkan setting pemandangan alam di pedalaman AS. Indah, eksotis, dan menyentuh. Jangan lupakan juga musik latar yang diisi cukup apik oleh Eddie Vedder [Pearl Jam]. Film ini cukup baik mengadopsi intisari dari Into The Wild - meski belum bisa dikatakan se-sempurna di bukunya. Tapi ini sudah cukup memuaskan. Setidaknya bagi orang Indonesia yang menggemari film Gie, roman Balada Si Roy, atau yang sedang menunggu film Laskar Pelangi. Bukankah hidup juga suatu pilihan, penentuan sikap, dan berpetualang?!... [LivingOz]



PRICELESS
2 Agustus 2008
 Kategori: Resensi, Resensi Video
 Ukuran Font: Kecil , Sedang , Besar

PRICELESS
Sutradara ; Pierre Salvadori
Pemain ; Gad Elmaleh, Audrey Tautou.




Gue pertama kali nonton film ini waktu di Singapore, tapi karena filmnya kocak dan gue suka banget, maka pas di Jakarta liat ada DVD-nya, gue langsung beli. Ini salah satu film Prancis kerja bareng Universal Studio, France 2 Sinema dan Canal+. Tema yang diangkat film ini ringan dan cukup menggelitik, yaitu tentang kehidupan gold digger alias pemburu harta yang dibalut dalam realitas 'kekasih simpanan'. Dari footage awal, kita sudah disuguhi potongan-potongan gambar gaya hidup yang mewah, glamor dan tinggal gesek kartu kredit aja. Kemudian film dimulai dengan kisah hidup yang boring dan pathetic dari seorang pegawai hotel mewah, Jean [Gad Elmaleh]. Di kesempatan yang gak sengaja, Jean ketemu sama Irene [Audrey Tautou] dan langsung jatuh hati. Karena melihat tampilan Irene yang glamour, Jean terpaksa berpura-pura menjadi seorang milyuner. Usahanya ternyata membuahkan hasil. Namun saat Irene tahu keadaan Jean yang sebenarnya, dia langsung menghilang begitu saja. Dalam kesempatan lain, mereka ketemu lagi. Kali ini Jean bener-bener mengerahkan segala upaya untuk mendapatkan Irene. Sampai dia benar-benar bangkrut total. Jean akhirnya memutuskan untuk 'mengadopsi' gaya hidup Irene. bagaimana selanjutnya?! Tonton sendiri lah film ini... Gue suka banget sama Audrey Tautou. Banyak orang yang gak terlalu tertarik, tapi gue suka. Dari debut filmnya Amelie, terus A Very Long Enggagement, sampai ke Da Vinci Code dan Priceless ini, Audrey Tautou selalu tampil mempesona. Penampakannya itu loh, cewek prancis banget! Meskipun cerita di film ini datar-datar aja, tapi dari pengambilan gambar, lokasi, cara bertutur, realitas tema, sampai pesan yang ingin disampaikan, semuanya cukup menarik. Tipikal film Prancis banget deh. Cukup menghibur kok. Overall, karena gue suka yang ringan-ringan, film ini tetap gue rekomendasikan untuk ditonton... [joseph cosmas a.k.a kodja]



MARADONA ; THE HAND OF GOD
27 Juni 2008
 Kategori: Resensi, Resensi Video
 Ukuran Font: Kecil , Sedang , Besar

MARADONA; THE HAND OF GOD
Sutradara; Gonzalo Alarcon
Pemain; Gonzalo Alarcon, Abel Ayala, Marco Leonardi, Eliana Gonzales, Julieta Diaz, Gastin Ariel Slobusky, Fernando Gonzales Sausa, Emiliano Kacika.




Siapa yang tak kenal legenda sepakbola Argentina dengan sebutan 'si tangan tuhan'?! Bahkan namanya dijadikan sebuah agama di negara asalnya. Film yang disetujui oleh perdana menteri sebagai kekayaan budaya nasional Argentina ini berkisah tentang hidup seorang Diego Armando Maradona. Film ini diawali dengan tersungkurnya Maradona di pinggir jalan dan dibawa ke rumah sakit dengan cara diam-diam akibat overdosis kokain. Diego kecil [Gozalo Alarcon] sudah mencintai sepakbola meskipun sering mendapat hukuman dari sang ayah karena terlalu sering bermain bola. Melihat bakat Diego yang luar biasa, sang ayah memasukkan Diego ke klub sepakbola anak-anak. Di klub ini Diego bermain bersama sahabatnya Carrizo [Lucas Delbo] dan bertemu dengan pencari bakat sekaligus manajer kecil Jorge Cysterpiller [Gastin Ariel Slobusky]. Pada saat umur 16 tahun, Diego remaja [Abel Ayala] pindah ke kota untuk bermain di Boca Junior, tapi sayang Carrizo remaja [Fernando Dordoni] tidak dapat ikut bermain karena mengalami patah kaki pada pertandingan terakhir. Diego lalu pindah bersama keluarga dan Jorge Cysterpiller [Fernando Gonzales Sausa]. Di rumah barunya, Diego bertemu dan jatuh cinta pada pandangan pertama kepada gadis tetangga bernama Claudia Villafane [Eliana Gonzales]. Pada pertemuan yang kedua dengan Claudia, Diego baru berani mengungkapkan perasaannya. Bahkan di usia yang masih remaja, Diego sudah berani menjamin kehidupan seluruh keluarganya. Di tahun 1982, Diego dewasa [Marco Leonardi] bermain untuk Barcelona. Di kota inilah Diego bertemu dengan seorang wanita pirang [Ameli Reberi] yang mengenalkan Diego pertama kali dengan bubuk putih bernama kokain. Di Barcelona, Diego sempat mengalami patah kaki, serta mulai bersikap temperamental kepada Jorge Cysterpiller [Emiliano Kacika] dan Claudia Villafane [Julieta Diaz], lalu memutuskan keluar dari Barcelona tanpa menyelesaikan sisa musim pertandingan. Kemudian pada tahun 1984 Diego bermain untuk Napoli. Di klub ini Diego sangat dicintai oleh para tifosi. Diego mulai mengaku ke Claudia tentang ketagihannya terhadap kokain dan ingin berhenti menghirup bubuk putih tersebut. Kepergian Jorge dan Claudia serta kedatangan Guillermo [Juan Leyrado] sebagai manajer baru membuat kehidupan Diego semakin liar. Diego semakin sering berpesta kokain. Di tahun 1986, Diego bersama Argentina mengikuti kejuaraan piala dunia di Mexico. Di situ, ketika Argentina melawan Inggris, terjadinya gol 'tangan tuhan' yang sangat fenomenal sampai saat ini. Di kejuaraan ini pula Argentina keluar sebagai juara dunia. Usai piala dunia, Diego resmi menikah dengan Claudia. Bulan Oktober 1990, Diego mulai bermasalah dengan Napoli. Meski Diego sudah membawa Napoli juara liga namun ketagihannya terhadap kokain semakin menggila hingga Guillermo harus pergi demi kebaikan keduanya. Ketika masalah kokainnya mulai tercium media, Napoli dan timnas Argentina, Diego mendapat masa suspensi selama 15 bulan. Tidak lama, Diego lalu dipecat dari Napoli karena sering melanggar peraturan dan memutuskan kembali ke Argentina. Bulan April 1991 di Buenos Aires, Diego terkena penggerebekan ketika tidur di rumah temannya. Di sana ditemukan barang bukti berupa lima gram kokain. Diego akhirnya harus menjalani rehabilitasi. Inilah masa-masa kehancuran seorang Diego Maradona. Pada saat Diego berumur 33 tahun dan sudah tidak bermain sepakbola lagi, dia diminta kembali untuk bermain di timnas Argentina. Karena kecintaannya terhadap sepakbola dan ingin membuktikan kepada dunia, Diego mulai menjalani latihan fisik dan menurunkan berat badannya. Pada piala dunia 1994 di Amerika, Diego kembali membela Argentina. Akan tetapi ketika Diego mulai bangkit, ia terkena kasus doping akibat meminum vitamin olahragawan yang dibeli di Amerika karena vitamin yang ia bawa dari Argentina sudah habis. Vitamin yang diminum Diego berubah menjadi Ephedrine [jenis doping]. Dalam kasus ini, Diego menuduh FIFA telah menghancurkan karirnya, karena dia sering mengkritik sistem sepakbola FIFA. Di tahun 2004 di Buenos Aires, ketika Diego bermain golf tiba-tiba saja tersungkur ke tanah dan kembali dirawat di rumah sakit untuk kesekian kalinya. Karena ketagihannya yang terus ingin menghirup kokain, dengan terpaksa Diego harus masuk rumah sakit jiwa karena tim medis menganggap sudah tidak ada harapan lagi bagi seorang Diego Armando Maradona... [Edi Boyo]