 |
 |
 |
 |
|
 |
 |
|
 |
|
|
![KLUB [CERIA] APOKALIP](/webzine/aset/asetsite/asetgambar/project1.jpg)
KLUB APOKALIP www.klub.apokalip.com
Klub Apokalip merupakan media interaksi berbasis internet yang dikelola oleh Apokalip webzine. Ini forum untuk menjalin komunikasi yang lebih akrab di antara redaksi, kontributor, teman, sahabat, dan pengunjung setia Apokalip.com. Semacam channel bebas buat semua mahluk hidup yang punya passion terhadap aktifitas Apokalip dan dunia musik, kultur, gaya hidup, olahraga, sains, tehnologi, atau apapun juga. Bicara apa saja, bebas. Di sini akan penuh kejutan dan perbincangan. Gabung sekarang juga!
|
|
| 
APOKALIP STRONG MERCHANDISE www.strongmerch.apokalip.com
Apokalip Strong Merch adalah lisensi resmi untuk setiap produk merchandise yang dirilis oleh Apokalip dan pihak rekanannya. Sebagian memang dijual dan beredar di pasaran, tetapi ada juga tidak beredar secara bebas. Di halaman ini akan ditampilkan setiap produk lengkap dengan deskripsi serta segala kisah di balik karya desain, proses produksi, dan nilai-nilai yang ada. Yah, merchandise Apokalip memang selalu unik, konseptual, dan eksklusif. Stay strong & wrong. Always dangerous & gorgeous!...
|
|
| 
RELOADYOURSTEREO www.rys.apokalip.com
ReloadYourStereo merupakan sebuah projekt dari Apokalip.com untuk merilis album rekaman secara digital serta disebarkan secara cuma-cuma [free-download] melalui jaringan internet untuk kepentingan promosi dan dokumentasi karya musik. Slogan kami adalah Global Music Revelation, dengan kata kunci ; internet, digital, mp3, free download, creative-common license, full lyrics & artworks, file-sharing, usb flashdisk, nero express, and burn it down.
|
|
|
| |
 |
|
 |
Apokalip Projekt
|
 |
 |

This is for all video-goers. Bisa film, dokumenter atau video musik. Hollywood or independent is doesn’t matter. Level indie atau bioskop juga gak jadi problema. Anggota parfi, aktivis klub kine, sutradara amatir atau pemburu dvd bajakan...selamat datang!
Lupakan Saja! | Buruk | Lumayan | Bagus | Keren Banget | Juara! |
|
 |
 |
 |
 |
|
|
|
|
I'M NOT THERE
Sutradara ; Todd Haynes
Pemain ; Christian Bale, Cate Blanchett, Marcus Carl Franklin, Richard Gere, Heath Ledger, Ben Whishaw.
Perlu enam wajah, enam karakter dan enam alur cerita untuk 'menceritakan' seorang Bob Dylan. Yes, six in one. Jelas ini bukan sebuah biografi yang linier dan deskriptif. Sangat anti-struktur dan melompat-lompat. Ini malah lebih mirip antologi 'puisi bergambar' tentang sosok penyanyi folk/rock dalam eksperimen sinematografi sang sutradara. Bob Dylan diceritakan dalam enam alur kehidupan yang diperankan oleh enam bintang sekaligus ; Marcus Carl Franklin, Ben Whishaw, Heath Ledger, Christian Bale, Richard Gere, dan Cate Blanchett. Mereka semua memainkan reinkarnasi Bob Dylan dengan nama, interpretasi, serta tahapan hidup yang berbeda. Dimulai dari Marcus Carl Franklin, seorang bocah negro berusia sebelas tahun, adalah interpretasi masa kecil Dylan. Dia menjadi seorang Woody Guthrie, yang lari dari penjara anak-anak, menyelip ke atas sebuah kereta dengan menyandang gitar dengan tulisan "This Machine Kills Fascists". Christian Bale memerankan Jack Rollins, sosok penyanyi folk/rock yang menyanyi dengan kesadaran politik tinggi, yang kemudian menjelma menjadi Pastor John, versi lain dari Dylan yang mengalami fase Kristiani yang terlahir kembali. Yang paling unik dan kontroversial adalah Cate Blanchett yang memerankan Jude Quinn, sebuah fase di mana Dylan sudah mencapai puncak kariernya, sementara para penggemar fanatik yang semula memujanya menolak konsep musik terbaru Bob Dylan yang dianggap sudah terlalu menjual, komersil, serta tunduk pada industri. Sementara penampilan [almarhum] Heath Ledger menerjemahkan sosok Dylan sebagai Robbie Clark sangat menyentuh. Kisah cintanya dengan Claire [Charlotte Gainsbourg] yang panas membara segera menjadi teduh setelah mereka membentuk keluarga dan memiliki anak. Inilah contoh film yang berkarakter alusi dan lumayan berat untuk dinikmati. Saya hanya bisa menyarankan [calon] pemirsa untuk selalu duduk tenang, jauhkan popcorn dan air soda, dan fokus 100% pada layar kaca anda. Sebab sudah banyak kritik melekat pada film ini - baik secara negatif maupun positif. I'm Not There telah memancing berbagai kontroversi pedas, di samping sejumlah penghargaan untuk sutradara, pemain, serta skenario film itu sendiri di beberapa festival. Kalau sudah begini, saya anggap eksperimen dan pesan Todd Haynes cukup sukses. Berarti film ini berhasil mendapat apresiasi dan perhatian yang khusus dari publik. Saya berani mensejajarkan I'm Not There dengan film sejenis yang menceritakan tentang Pink Floyd karya Bob Geldof, atau Jim Morrison karya Oliver Stone. Di samping itu, sosok yang luar biasa seperti Bob Dylan memang sebaiknya digambarkan dalam cerita yang tidak biasa pula - tidak hanya gitar bolong dan harmonika. Seperti yang dikatakan oleh sutradara Todd Haynes, "The minute you try to grab hold of Dylan, he's no longer where he was. He's like a flame: If you try to hold him in your hand you'll surely get burned... Dylan is difficult and mysterious and evasive and frustrating, and it only makes you identify with him all the more as he skirts identity." Bahkan sangat mungkin kita juga menyimpan karakter seorang Bob Dylan dalam sosok pribadi diri kita masing-masing... [smck]
Show/hide Bookmark tools...
|
Show/hide Article tools...
|
|
|
 |
 |
 |
 |
|
|
|
|
RUMAH DARA
Sutradara ; Timo Tjahjanto & Kimo Stamboel
Pemain ; Julie Estelle, VJ Mike, Ario Bayu, Sigi Wimala, Shareefa Daanish
Finally, ada juga yang mampu membuat film slasher lokal keren. Terima kasih untuk seorang teman yang nyalinya menciut dan memberikan invitations-nya untuk saya yang telat dan kehabisan tiket. Lucky me and my girlfriend, premiere film ini adalah versi uncut, sementara versi resmi pada 22 Januari 2010 kemungkinan besar akan di-slash [sorry, can't help it!] oleh BSF. Kembali ke film karya Mo Brothers [Timo Tjahjanto dan Kimo Stamboel], Rumah Dara [versi internasionalnya; Macabre] merupakan film yang akan menjadi klasik. Rumah Dara sendiri, diinspirasikan dan dikembangkan dari film pendek Dara yang disutradarai oleh Mo Brothers beberapa waktu lampau. Cerita sendiri memang tidak istimewa, tapi sangat klasik. Enam sahabat-kurang lebih; Ladya [Julie Estelle], Eko [Dendy Subangil], Alam [Mike Muliardo a.k.a. VJ Mike], Jimmy [Daniel Mananta a.k.a. VJ Daniel], kakak Ladya-Adjie [Ario Bayu] dan istrinya Astrid [Sigi Wimala] menolong seorang gadis yang mengaku baru dirampok, Maya [Imelda Therinne] di tengah perjalanan pulang, dan diantar ke rumahnya di mana ibunya, Dara [Shareefa Daanish], dan dua kakaknya, Arman [Ruli Lubis] dan Adam [Arifin Putra]. Mereka dijamu makan malam, dan berikutnya kebaikan hati malah mengantar mereka kepada bencana. Adrenalin penonton mulai dibuat naik dan tidak diijinkan menurun. Tentu saja satu persatu mereka dibantai, dan seperti cerita Dawn Of The Dead misalnya, cerita menjadi tidak penting lagi, tapi yang penting adalah survival. Beberapa orang berpendapat terlalu banyak darah dalam film ini, tapi saya kira masih sebatas kewajaran, dan memang perlu [lebih dari 10 orang dibantai, of course there will be a pool of blood, you pussies!]. Tidak seperti film-film Indonesia pada umumnya di mana alur cerita menjadi 'dragging', Rumah Dara justru tidak memberikan celah untuk hal ini. Adrenaline rush ini mampu membuat fans film slasher terpaku di kursinya, takut, tapi sebenarnya opsi untuk meninggalkan kursi selalu ada [hey, sesaat setelah adegan gore pertama berjalan, ada sekitar 20 orang yang meninggalkan kursi mereka, menyerah]. Dan tidak hanya adegan-adegan gore-nya, adegan action-nya juga bisa dibilang sempurna dan terlihat natural. Nyaris tidak ada cela terutama untuk tim artistik film ini. Tidak ada darah yang seperti darah palsu [total ace untuk tim efek spesial!], tata riasnya juga top notch [simak tata rias Julie Estelle di akhir-akhir film!]. Sepertinya, kalau memang punya niat untuk membuat film berkualitas, seharusnya memang bisa dan Mo Brothers telah membuktikannya. Film horor lokal telah dianiaya oleh para cheap filmmaker lokal, dan sudah saatnya diambil alih oleh Mo Brothers. Tentu saja ada beberapa kekurangan dalam film ini, seperti beberapa continuity yang terlewat, atau misalnya perut Astrid yang hamil tua masih terlihat kurang real, dan untuk saya, tone suara Dara agak kurang oke [mungkin lebih berlaku untuk penonton internasional], dan lambang ouroboros yang digunakan oleh keluarga Dara bisa sedikit diperkuat latar belakangnya dan hubungannya dengan kesadisan mereka. Tapi semua kekurangan ini terasa minor, karena kita akan puas disuguhkan aksi horor yang tanpa jeda. Fans Evil Dead, Texas Chainsaw Massacre, Suspiria, slasher Jepang, dan sejenisnya akan menyukai film ini, sementara untuk fans film cult seperti The Gore Gore Girls, The Corpse Grinders, atau Cannibal Holocaust juga akan tercengang. Bayangkan film-film cult tersebut diberi budget bagus dan artistik canggih, kita akan mendapatkan Rumah Dara. Menonton film ini merupakan rasa stres saya yang paling nikmat untuk tahun ini. Ada yang lelah menonton ini? Feel free to go, wimp. Hey Mo Brothers, how about zombie bikers flick? Atau brain-eating aliens mendarat di Gedung DPR dan membantai seisi gedung? I'm sure it'll be fukking exciting. Let the bloodbath begins!... Btw, selama menulis review ini, saya mendengarkan lagi secara acak old school death metal & grindcore klasik; Repulsion, Carcass, Autopsy, Death, Grave dan the mighty Entombed. It fits the slasher feeling... [arian13]
Show/hide Bookmark tools...
|
Show/hide Article tools...
|
|
|
 |
 |
 |
 |
| ROADRUNNER UNITED ; The Concert |
|
|
|
ROADRUNNER UNITED
The Concert
Roadrunner
Apa yang anda harapkan dari perayaan ulang tahun sebuah label rekaman metal yang telah eksis selama seperempat abad?! Sebaiknya bukan pesta balon, atraksi badut, atau kue tart raksasa. Juga jangan nasi tumpeng plus doa-doa penyejuk dari sang rohaniawan. Itu semua tidak kompeten. Terlebih ada banyak musisi dan band handal, plus album dan lagu-lagu cadas klasik yang lahir dari label metal paling kesohor di planet ini. Jawabannya bisa anda temukan pada video dokumentasi perayaan ulang tahun Roadrunner Records ke-25 yang dikemas dalam bentuk konser musik spesial. DVD ini sendiri terdiri dari dua disc. Disc #1 berupa dokumenter, wawancara, jamming, komentar, sesi studio, serta behind-the-scene. Sedangkan disc #2 adalah full concert yang megah di New York, 15 Desember 2005, di mana 39 musisi dari 19 band yang berbeda tampil membawakan 25 lagu terbaik rilisan Roadrunner. Stori diawali dari pembentukan tim inti yang terdiri dari Dino Cazares, Adam Duce, Paul Gray, Joey Jordison, Andreas Kisser, dan Roy Mayorga. Kemudian ditambah puluhan musisi tamu seperti Evan Seinfeld, Ville Valo, Glen Benton, Scott Ian, Robb Flynn, James Murphy, Jamey Jasta, hingga Corey Taylor. Mereka jamming di atas panggung membawakan lagu-lagu hits yang pernah dilahirkan oleh Roadrunner Records. Beberapa yang menjadi favorit saya adalah Punishment [Biohazard], The End Complete [Obituary], Abigail [King Diamond], Alice In Hell [Annihilator], Dead By Dawn [Deicide], Replica [Fear Factory], Black No.1 [Type O Negative], Davidian [Machine Head], serta Roots Bloody Roots [Sepultura]. Ini menjadi semacam gathering komunitas dan musisi metal dalam kurun waktu 25 tahun terakhir - mulai era King Diamond, Machine Head, Slipknot, sampai Trivium. Sudah tentu perayaan itu bakal jadi sebuah konser legendaris di ranah metal. Jika anda seorang metalheads atau manusia biasa yang dibesarkan oleh musik-musik rilisan Roadrunner Records, maka sebaiknya anda juga ikut berbahagia. Coba cek, ada berapa album rilisan Roadrunner Records di rak koleksi seorang metalheads?! Saya yakin pasti ada beberapa, atau malah unggul mendominasi seperti yang terjadi di kamar saya?! Roadrunner adalah salah satu pionir label metal, dan unit yang cukup berhasil membawa musik metal ke puncak industri musik yang so-called-mainstream. Saat ini, Roadrunner menjadi contoh label rekaman yang sudah layak menyandang status 'legendary' - sementara mereka juga masih tetap bekerja hingga sekarang. Seperti tidak pernah kapok apalagi berhenti. Malah mungkin Roadrunner merupakan bisnis metal yang paling sukses di muka bumi, menurut saya. Sekarang, saya mulai membayangkan seperti apa perayaan ulang tahun Roadrunner yang ke-50 nanti. Jika masih dengan konsep selebrasi yang sama, saya pikir sebuah konser seminggu penuh sangatlah wajar untuk mereka. Well, ini berarti pestanya masih akan terus berlanjut. Mereka layak berbahagia dan kita tetap masih bisa memuja... [samack]
Show/hide Bookmark tools...
|
Show/hide Article tools...
|
|
|
 |
 |
 |
 |
|
|
|
|
SIGUR ROS ; HEIMA
Sutradara : Dean Deblois
EMI
Jujur saja, sebenarnya saya sudah mulai bosan dengan Sigur Ros. Karena band ini sudah mulai terlalu 'pop' [baca ; umum] di antara komunitas indie pop itu sendiri. Apalagi album terakhir mereka, Med Sud I Eyrum Vid Spillum Endaulaust, yang terlalu menjemukan tanpa adanya progres yang berarti dari musik mereka. Tampaknya musik mereka cenderung gitu-gitu aja dari album pertama sampai terakhir. Hingga iseng-iseng saya membeli DVD ini secara online. Heima bercerita tentang kepulangan Sigur Ros dari tur internasional mereka. Bercerita mengenai kepulangan mereka dari kepopuleran, dan tetap menjadi band yang rendah hati dari negara indah bernama Islandia. Memang selain Bjork, negara Islandia memiliki Sigur Ros yang memainkan musik dengan bahasa ibu mereka. Sungguh menonton DVD ini membuka mata saya akan keindahan panorama alam Islandia, dengan diiringi musik Sigur Ros yang ambience, sungguh melenakan bagi mata dan telinga. Di Islandia, Sigur Ros tetaplah band yang relatif kecil jika dilihat dari jumlah penonton yang sedikit, tata panggung yang sederhana, dan tempat gigs yang tidak istimewa [bekas gudang, bekas pabrik, dsb]. Yang menarik dari Sigur Ros adalah di Islandia konser mereka ditonton oleh semua golongan masyarakat, bahkan anak-anak dan manula juga kerap menonton konser mereka. DVD ini telah membuat saya jatuh cinta kembali pada Sigur Ros. [rusl]
Show/hide Bookmark tools...
|
Show/hide Article tools...
|
|
|
 |
 |
 |
 |
|
|
|
|
IRON MAIDEN ; FLIGHT 666
Sutradara : Sam Dunn & Scot McFadyen
Sanctuary / Banger Films
Bagaimana bisa sebuah band heavy metal, tanpa dukungan radio dan media mainstream bisa berhasil dan memiliki sebuah pesawat jet penumpang? Sebuah manajemen yang bagus, tentunya. Film Iron Maiden ; Flight 666 memang tidak mendokumentasikan bagaimana sebuah manajemen yang dipimpin oleh Rod Smallwood, tapi setelah kalian menyaksikan film dokumenter ini, tidak mungkin kalian tidak berpikir bagaimana cerdasnya Rod Smallwood memutar uang dalam band tanpa harus kehilangan attitude dan image band-nya. Sinting. Iron Maiden ; Flight 666 adalah sebuah film dokumenter [rockumentary!] tentang perjalanan tour Iron Maiden yang bertajuk Somewhere Back In Time Tour ke 23 titik dan 13 negara sepanjang 50.000 mil dalam 45 hari, dengan Ed Force One, pesawat 757 pribadi mereka. Tidak hanya itu, Ed Force One juga dikendalikan langsung oleh vokalis Bruce Dickinson yang memang seorang pilot handal. Band heavy metal mana yang memiliki personil pilot profesional? Saya kira hanya Maiden. Disutradarai oleh fans Maiden juga, Sam Dunn dan Scot McFadyen, yang sudah dikenal dari karyanya Metal ; A Headbanger's Journey dan Global Metal, film ini memang cukup bombastis serta memiliki dasar cerita yang sangat menarik. Dibuka dari konser Iron Maiden yang sold out di Mumbai, India [kenapa, oh kenapa mereka tidak hadir di Indonesia?!], dokumentasi kemudian flashback ke hari pertama Maiden berangkat, dan berlanjut ke Australia, Jepang, Costa Rica, Chile, Brazil, dan seterusnya hingga total 13 negara. Laki-perempuan dari berbagai umur, fans yang selalu menyambut mereka, chanting "Maiden! Maiden!", juga selalu mengerubungi mereka di airport dan hotel. Ini menjadi sebuah bukti kalau Maiden memiliki die-hard fans di mana-mana dan jaminan show akan menjadi sebuah momen yang monumental terutama untuk hidup sang fans. Sebagai musisi senior dalam blantika musik rock dan heavy metal, tidak ada gila-gilaan setelah manggung di sini. Tidak seperti yang ada pada Pantera Home Video, misalnya. Tapi hal itu tidak mengurangi keseruan film ini. Beberapa dokumentasi menggambarkan bagaimana normalnya para personil Maiden ketika mereka memiliki waktu luang di antara jadwal tour yang padat. Profesionalitas Maiden sebagai entertainer sangat tinggi dan menginspirasi. Rutinitas mereka yang dilakukan dengan passionate memang menjadikan band ini pantas menyandang band papan atas dunia, dan tetap menjadi band yang menghindar dari selebritas. Cameo dari Ronnie James Dio, Vinny Appice, Kerry King, Lars Ulrich, Sepultura, Pat Cash [atlet tenis juara dunia Wimbledon], dan lainnya juga menghiasi film dokumenter ini. Somewhere Back In Time Tour 2008 sendiri sebenarnya adalah reinkarnasi dari World Slavery Tour 1985, hanya saja dengan setlist lebih banyak dan diambil dari album Somewhere In Time, Seventh Son of The Seventh Son, No Prayer For The Dying dan Fear of The Dark. Tujuan tour ini adalah memberi dengar para fans muda setlist yang belum pernah mereka saksikan sebelumnya. Di mana tour-tour terakhir Maiden biasanya menampilkan lebih banyak lagu-lagu dari album-album terbaru. Fans baru dapat menyaksikan lagu Rime Of The Ancient Mariner, misalnya. Bagaimana musik Maiden begitu menyentuh fans mereka. Seperti misalnya seorang fans yang mendapatkan stik drum Nicko McBrain menangis lama karena terharu karena akhirnya dapat menonton Maiden dan mendapatkan memorabilia yang tidak disangka. Ini membuat Maiden adalah The Beatles versi heavy metal - hanya saja media mainstream tidak pernah merekam hal ini. Sebagai film dokumenter, mungkin film ini tidak se-berkesan film Dunn dan McFadyen sebelumnya. Mungkin karena narasi di sini tidak banyak, karena toh cerita sudah mengalir langsung. Tapi tetap saja film ini dapat dinikmati oleh mereka yang bukan fans Maiden, dan juga memperlihatkan stamina band yang sangat besar. Terdapat DVD terpisah yang berisi setlist mereka, 17 lagu dalam 2 jam. Dan kembali lagi, kalian pasti akan kagum kepada Rod Smallwood, manajer mereka... [arian13]
Show/hide Bookmark tools...
|
Show/hide Article tools...
|
|
|
 |
 |
Halaman:
1 2 3 4 5 6 7 8
Selanjutnya
|
Ke atas..
|
 |
|
 |
|
|
 |
   |
 |
|
 |
 |
 |
|