STRAIGHT OUT
Forsaken Upon Nemesis
Blue Sky
Ketika
Forsaken Upon Nemesis datang ke tangan saya, saya masih belum bisa menyingkirkan stigma yang saya dapatkan dari album Straight Out sebelumnya. Tapi sudahlah, stigma bisa dinomorduakan, mari kita tengok seperti apa Straight Out berubah setelah beberapa tahun sibuk manggung dan memendam lagu. Di kuping saya,
Forsaken Upon Nemesis adalah potret sebuah band metalcore [?] Jakarta yang mencoba memberikan sebuah output yang lebih ganas dari album sebelumnya. Bahkan dalam sebuah majalah lifestyle ibukota, frontman band ini pernah sesumbar jika album ini adalah sintesis antara The Black Dahlia Murder dan Cradle of Filth. Well, jika anda mencari pembuktian klaim tersebut coba dengarkan
Nightbirth of Pregnant Skies, dibuka dengan sensasi death metal ala The Black Dahlia murder lalu melaju menjadi track yang bisa saya gambarkan sebagai blackened metalcore. Pada saat yang sama, album ini menyajikan musical influence yang lebih lebar. Jika dulu saya kerap membandingkan pipinx dkk dengan Dead Blue Sky [silahkan salahkan pendapat saya!], maka kini saya menemukan pesona melodic death metal, old school death metal, blackened dual vocal in the veins of The Black Dahlia Murder, angelic voices atau solo-solo old school heavy metal [kids, if you like Trivium, this is for you!]. Well, thanks for being humble, dude! Entahlah, apakah Straight Out masih layak dilabeli metalcore, yang jelas chugga-chugga breakdown memang hampir tidak ada, metal kekinian masih bisa terasa di beberapa riff dalam album ini. Jadi Straight Out meninggalkan pemuja metal kekinian?! Belum tentu, karena kaum hipster jaman sekarang toh sudah akrab dengan Abigail Williams atau [mungkin] Manngard! Lagipula, siapa peduli akan pelabelan jika yang mereka cari adalah musik ekstrem semata! metalcore? Fine! Blackened metalcore? Still fine!... Oke, sekarang mengenai stigma yang menghantui saya, beberapa tahun lalu ketika asyik mendengarkan
Undying Beauty and Symphony of Sadness, pendengaran saya terganggu dengan 'mendem'-nya kualitas output album mereka. Jengkel rasanya album pionir seperti itu masih dibayangi produksi kurang sempurna. Kali ini,
Forsaken Upon Nemesis terdengar sedikit lebih terangkat dari album sebelumnya. Bahkan track pertama album ini sempat sedikit memberi sedikit harapan. Tapi, apa boleh buat sejurus berikutnya saya sulit menikmati album ini. Ada yang tumpang tindih. Agak sulit menikmati detil album ini: Bass drum ditempatkan terlalu ke depan, layer gitar dan keyboard terdengar tumpang tindih satu sama lain. Mungkin saja ada yang salah dengan gendang telinga atau piranti stereo kamar saya yang busuk. Yang jelas, lagu sebagus apapun akan rusak jika dibungkus dengan produksi yang kurang maksimal. Saya mengerti musik yang disuguhkan band ini sangat demanding, tapi tolong jangan persulit kerja indera pendengar saya!...
[Innerciatic Manneken]